"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 17
Pagi ini dimulai dengan keheningan yang mencekam di meja makan kediaman Baskoro. Tidak ada suara denting sendok atau obrolan ringan tentang kampus. Baskoro duduk dengan wajah pucat, menatap sebuah amplop cokelat yang baru saja diletakkan di atas meja.
Keyla, yang baru saja turun dengan ransel kuliahnya, mengernyit bingung. "Papa kenapa? Kok nggak sarapan?"
Baskoro tidak menjawab. Ia hanya mendorong amplop itu ke arah Keyla. Dengan perlahan, Keyla membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto—foto dirinya dan Arlan di dalam mobil tadi malam. Sudut pengambilan gambarnya sangat provokatif, membuat mereka seolah-olah sedang melakukan hal yang jauh melampaui batas di pinggir jalan yang sepi.
"Pa... ini nggak kayak yang Papa pikirkan. Ini... kita cuma pelukan, Om Arlan lagi sedih, aku cuma—"
"CUKUP!" sentak Baskoro, menggebrak meja dengan keras.
"Papa sudah percaya sama dia! Papa pikir dia pria terhormat yang bisa jaga kamu! Tapi apa ini?! Di pinggir jalan, Keyla? Kamu masih pakai atribut mahasiswi baru!"
"Papa, ini fitnah! Foto ini diambil dari sudut yang salah! Siapa yang kirim ini?!"
"Nggak penting siapa yang kirim! Yang penting adalah apa yang kalian lakukan! Papa bakal telepon Arlan sekarang. Papa mau dia jauhin kamu!"
"Nggak boleh! Papa nggak bisa mutusin sepihak!"
Tanpa mempedulikan teriakan putrinya, Baskoro menyambar ponselnya. Namun, sebelum ia sempat menekan nomor Arlan, pintu depan rumah mereka terbuka. Bi Ijah masuk dengan wajah pucat.
"Anu... Tuan, ada tamu. Katanya... Ibu Siska?"
Mata Keyla membelalak. Siska? Siapa lagi kalau bukan dia dalangnya? Pikir Keyla.
Siska melangkah masuk dengan keanggunan yang memuakkan. Ia mengenakan dress pendek berwarna krem, dengan wajahnya yang menunjukkan simpati yang sangat palsu.
"Mas Baskoro, maaf saya lancang datang sepagi ini. Saya hanya... merasa bersalah jika tidak memberitau Anda soal watak asli mantan suami saya."
Keyla berlari menghampiri Siska, "Tante! Tante yang foto kami, kan?! Tante mau apa sih sebenarnya?!"
"Keyla, sopan dikit!" tegur Baskoro.
Siska menghela napas panjang, lalu ia duduk di sofa tanpa dipersilakan. "Mas Baskoro, Arlan itu pria yang manipulatif. Dulu dia juga begini pada saya. Dia menggunakan kekuasaannya untuk membuat wanita merasa butuh padanya, lalu dia akan merusak reputasi mereka agar tidak ada pria lain yang mau. Saya tidak mau Keyla berakhir seperti saya, kehilangan masa muda dan kehormatannya hanya karena terobsesi pada pria dingin seperti Arlan."
"Bohoooong!" teriak Keyla histeris.
"Pa, jangan dengerin dia! Dia cuma mau Om Arlan balik, atau dia cuma mau hancurin hidup Om Arlan!"
"Mas Baskoro bisa lihat sendiri foto-fotonya," lanjut Siska dengan suara tenang. "Apakah itu perilaku pria yang berniat serius? Itu perilaku pria yang hanya ingin bersenang-senang dengan gadis di bawah umur."
Baskoro menatap foto-foto itu lagi, lalu menatap Keyla. Kekecewaan di matanya kini jauh lebih menyakitkan bagi Keyla daripada kemarahan.
"Keyla, masuk kamar sekarang. Jangan keluar sampai Papa panggil," perintah Baskoro dengan nada dingin yang tak terbantahkan.
"Tapi Pa—"
"MASUK!"
Keyla berlari ke kamarnya, membanting pintu, dan langsung meraih ponselnya. Ia mencoba menelepon Arlan, namun nomornya sibuk. Alhasil, ia mengirim pesan untuk Arlan.
Keyla: Om! Tante Siska ke rumah! Dia kirim foto-foto kita semalam ke Papa! Papa marah besar, Om! Tolong jelasin ke Papa...
Satu jam kemudian, sebuah balasan masuk.
Arlan: Aku sudah tau. Papamu baru saja menelepon sekretarisku. Dia meminta pertemuan di kantor siang ini. Keyla... mungkin untuk sementara kita tidak boleh bertemu dulu. Biarkan aku selesaikan ini dengan caraku.
Keyla: Nggak mau! Kalau Om menjauh, Tante Siska bakal makin seneng! Om jangan nyerah!
Arlan: Ini bukan soal menyerah. Ini soal menjaga reputasimu di depan Papamu. Fokuslah pada kuliahmu hari ini. Jangan bolos.
Keyla melempar ponselnya ke dinding. "Bego! Om Arlan bego!" gerutu Keyla sembari menangis.
Ia tau Arlan mencoba menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, tapi baginya, cara Arlan yang menjauh untuk melindunginya, justru membuat Keyla seperti ditinggalkan di tengah badai.
Keyla menyeka air matanya. Ia tidak bisa diam saja. Jika Arlan ingin bermain secara formal, maka Keyla akan bermain secara nekat. Ia teringat pada Vino. Vino pasti tau soal seluk-beluk kampus, termasuk jika ada orang asing yang berkeliaran mengambil foto di sekitar gedung fakultas kemarin.
"Lo mau main licik, Tante Siska? Oke, kita lihat siapa yang bakal malu pada akhirnya," gumam Keyla dengan mata yang menyala penuh dendam.
Dengan cepat Keyla mengambil ponselnya lagi dan mencari nomor yang baru saja ia simpan kemarin.
Keyla: Kak Vino, lo bilang lo mau bantu gue kan? Gue butuh rekaman CCTV gerbang kampus jam 7 malem kemarin. Bisa bantu lewat koneksi lo di BEM?