NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Aroma Melati

Aroma antiseptik yang tajam biasanya menjadi penanda sterilitas dan ketenangan di sebuah rumah sakit, namun di Lantai Dasar 4 RSU Cakra Buana, bau itu bercampur dengan aroma amis logam dan lembap tanah yang mengganggu.

Elara Senja merapatkan jaket denimnya, mencoba menghalau hawa dingin yang seolah merayap keluar dari dinding-dinding beton yang mengelupas. Langkah kakinya menggema sendirian di lorong panjang yang diterangi lampu neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang seolah melompat-lompat setiap kali listrik tidak stabil.

Gadis itu berhenti tepat di depan sebuah pintu ganda berbahan baja tebal dengan tulisan 'UNIT KEDOKTERAN FORENSIK DAN PEMULASARAAN' yang catnya mulai memudar.

Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu bukan karena takut, melainkan karena beban keputusan yang baru saja diambilnya. Honorarium yang ditawarkan untuk shift malam di bangsal ini tiga kali lipat lebih besar dari standar upah minimum kota Arcapura, sebuah angka yang cukup untuk melunasi tunggakan semester adiknya tanpa perlu berdebat dengan pihak administrasi kampus.

"Kau datang lebih awal dari jadwal, Nak," sebuah suara serak tiba-tiba muncul dari balik pos jaga kecil di sudut ruangan, membuat Elara tersentak kaget.

Seorang pria tua dengan seragam keamanan yang kebesaran melangkah keluar dari kegelapan, wajahnya keriput dengan kantung mata hitam yang menggantung berat. Itu adalah Pak Darto, kepala penjaga kamar jenazah yang namanya sudah menjadi legenda urban di kalangan mahasiswa kedokteran.

Pria itu menatap Elara bukan dengan pandangan menyelidik, melainkan dengan tatapan iba yang aneh, seolah-olah dia sedang melihat seseorang yang divonis penyakit mematikan.

"Saya Elara, Pak. Mahasiswa tingkat akhir yang melamar untuk asisten malam," jawab Elara dengan nada yang diusahakan tetap tegas, mengulurkan tangannya yang diabaikan oleh pria tua itu.

Pak Darto berbalik badan, memberi isyarat agar Elara mengikutinya masuk ke dalam ruang utama penyimpanan jenazah. Ruangan itu luas, didominasi oleh dinding keramik putih yang kusam dan deretan laci pendingin berbahan stainless steel yang berkilau suram di bawah cahaya lampu operasi.

Suara mendengung dari kompresor pendingin mengisi keheningan, terdengar seperti napas raksasa yang sedang tidur lelap. Suhu di ruangan itu turun drastis, membuat uap napas Elara terlihat tipis di udara.

"Dengar baik-baik karena saya tidak akan mengulanginya," ucap Pak Darto sambil menunjuk papan tulis putih yang penuh dengan jadwal piket. "Tugasmu sederhana. Terima jenazah baru, catat waktu kedatangan, masukkan ke laci kosong, dan pastikan suhu tetap di angka 4 derajat Celsius. Tapi ada aturan tambahan yang tidak tertulis di kontrak kerjamu."

Pria tua itu berjalan mendekati Laci Nomor 13, satu-satunya laci yang ditempeli segel kertas kuning usang dan rantai gembok kecil. Dia menepuk permukaan logam itu pelan, seolah sedang menenangkan binatang buas yang tertidur di dalamnya. Elara memperhatikan dengan kening berkerut, insting ilmiahnya menolak pemandangan irasional di depannya, namun atmosfer ruangan itu memaksanya untuk tetap diam dan mendengarkan.

"Pertama, jangan pernah membuka Laci 13, apapun suara yang kau dengar dari dalamnya. Kedua, jika kau mencium wangi melati padahal tidak ada kiriman bunga, segera masuk ke ruang administrasi dan kunci pintu sampai pagi. Ketiga," Pak Darto berhenti sejenak, menatap mata Elara lekat-lekat, "...jika ada yang mengetuk pintu kaca dari luar lewat tengah malam, jangan menoleh. Manusia tidak mengetuk pintu di jam segitu, mereka langsung masuk atau menelepon."

Elara menahan senyum sinis yang hampir terbentuk di bibirnya, menganggap semua itu hanyalah taktik senioritas untuk menakuti pegawai baru. "Saya mengerti, Pak. Prosedur keamanan standar dan... kearifan lokal. Saya akan bekerja profesional," jawabnya diplomatis, mencoba tidak menyinggung keyakinan pria tua itu.

Pak Darto hanya mendengus pelan, seolah sudah menduga respon skeptis tersebut. Dia menyerahkan serenceng kunci berat ke telapak tangan Elara, dingin logamnya sebanding dengan suhu ruangan.

Tanpa kata-kata perpisahan yang hangat, pria tua itu melangkah keluar, meninggalkan Elara sendirian di tengah kepungan puluhan jenazah yang membeku. Suara langkah kaki Pak Darto menghilang di kejauhan, digantikan oleh sunyi yang begitu pekat hingga Elara bisa mendengar desiran darah di telinganya sendiri.

Satu jam berlalu tanpa kejadian berarti. Elara menyibukkan diri dengan menata berkas visum di meja administrasi yang dibatasi kaca transparan menghadap ke ruang pendingin. Dia baru saja akan menyeduh kopi instan ketika hidungnya menangkap aroma yang sangat halus namun jelas.

Wangi itu manis, menusuk, dan sangat familiar. Aroma bunga melati segar, seolah-olah ada seseorang yang baru saja meletakkan ronce bunga pengantin tepat di belakang tengkuknya.

"Sirkulasi udara di sini buruk sekali," gumam Elara pada dirinya sendiri, berusaha merasionalisasi situasi sambil memutar kursi kerjanya.

Namun, rasionalitasnya goyah ketika matanya menangkap pantulan di kaca jendela gelap. Di sana, di antara deretan laci pendingin yang bisu, Laci Nomor 13 terlihat sedikit terbuka. Gembok yang tadi terpasang kuat kini tergeletak di lantai ubin.

Dan dari celah laci yang gelap itu, sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku panjang yang menghitam perlahan merayap keluar, mencengkeram pinggiran logam dengan gerakan patah-patah yang menyakitkan.

1
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!