Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Saya tidak sudi mengakuinya!
Setelah pesawat landing, Archio tidak langsung menuju rumah sakit. Dia memilih pergi menemui seseorang lebih dulu. Bersama asistennya, mobilnya melaju menuju suatu tempat. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area apartemen mewah dari kalangan atas. Archio turun dari mobil.
Langkahnya tegap, tatapannya lurus ke depan. Namun jauh di dalam hatinya, ada harapan kecil yang ia bawa, harapan yang sama seperti sebelumnya.
Di depan unit apartemen tersebut, Archio mondar-mandir tanpa arah yang jelas. Sesekali tangannya menekan bel. Waktu terasa berjalan lambat. Setelah cukup lama menunggu, pintu itu akhirnya terbuka.
Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan bagian atas tubuh telanjang.
Archio menatap malas. Pandangannya bahkan sempat tertahan saat melihat bercak kemerahan seperti ruam yang memenuhi tubuh pria itu.
“Sia—”
“Mana Gracia?” todongnya cepat. Tatapannya datar, tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun pada pria di hadapannya.
“Sayang siapa?”
Dari dalam apartemen terdengar suara seorang wanita yang mendayu.
Tak lama kemudian, wanita itu muncul ke depan. Tatapannya langsung tertuju pada Archio.
“Archio, ngapain lagi kamu ke sini!”
Wanita cantik itu langsung menarik pria yang tadi membuka pintu ke belakang, lalu berdiri tepat di hadapan Archio. Kedua tangannya berkacak pinggang, jelas tidak suka dengan kehadiran pria itu.
Archio menarik napas kasar. Rahangnya mengeras saat ia berusaha menormalkan emosinya yang nyaris naik pitam. Amarah itu harus ia pendam. Tujuannya datang ke sini bukan untuk ribut, melainkan memohon pada wanita itu, untuk kesekian kalinya.
“Gracia, bisa kita ngobrol sebentar?” pintanya dengan nada rendah, meminta baik-baik.
“Ngobrol apa lagi?” suara Gracia meninggi. “Kamu itu mengganggu banget, tahu nggak? Sudah saya tegaskan, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Archio Bimantara.” Tatapannya tajam, penuh ketidaksukaan. “Kamu sama saya sudah bercerai. Jadi stop. Stop datang menemui saya lagi!”
Archio mengepal tangannya kuat. Dadanya naik turun. Lagi dan lagi, dia harus menurunkan harga dirinya di hadapan wanita ini. Jika bukan karena Leonel, dia tidak akan pernah sudi melihatnya sekali lagi.
“Ini bukan lagi tentang hubungan kita, Gracia. Jangan terlalu percaya diri!” ujarnya akhirnya, berusaha menahan geram yang sejak tadi ia tekan.
Siapa juga yang mau berharap pada hubungan sampah seperti itu? Jika waktu bisa diputar ulang, Archio tidak pernah berharap dirinya pernah jatuh cinta pada wanita seperti yang berdiri di hadapannya sekarang.
“Ini tentang anak kita,” lanjutnya, suaranya menurun. “Tolong, untuk kali ini saya datang kembali memohon padamu, Gracia.”
Nada bicaranya berubah. Tidak lagi keras, tidak lagi penuh tuntutan.
“Saya sangat-sangat meminta tolong. Tolong luangkan sedikit waktu kamu untuk datang menemui putra kita. Dia sedang sakit, Gracia.”
Kedua tangan Archio terkatup di depan dadanya. Gerakan yang begitu kontras dengan sosoknya selama ini. Ia berdiri di sana, berharap, menunggu, berharap lagi. Berharap kali ini wanita itu mau sedikit tersentuh.
Bimo yang menyaksikan semua itu memilih memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak.Ia tidak sanggup terus melihat pemandangan seperti ini. Sang bos yang biasanya begitu dominan terhadap siapa pun. Baik kepada rekan kerja, klien, maupun orang-orang di sekitarnya. Archio Bimantara tidak pernah menunduk, apalagi memohon.
Namun di depan wanita itu, Bimo sudah melihatnya berkali-kali.
Memohon.
Merendahkan diri.
Semua demi satu alasan yang sama.
Putranya.
“Bukan anakku. Itu anakmu!”
Suara Gracia terdengar keras dan dingin. “Sampai kapan pun saya tidak pernah menganggapnya. Kamu camkan itu.”
Tatapannya tajam, tanpa ragu sedikit pun.
“Jadi berhentilah datang-datang memohon seperti itu, Archio. Sampai kapan pun saya tidak sudi. Sama sekali tidak sudi mengakui anak itu. Sungguh.”
Ia mendengus pelan. “Berdirilah. Malu dengan image-mu, Archio. Sampai memohon-mohon seperti ini.” Tidak ada belas kasih di wajahnya. Tidak juga keraguan.
.
.
Gracia hanya tertawa remeh. Tawa yang merendahkan, menusuk tanpa peduli. Ya, sejujurnya, Gracia memang tega berkata seperti itu. Amarah lama masih bersarang di dadanya.
Sejak dulu, sejak menikah dengan pria di hadapannya, cita-cita Gracia hanya satu. Hidup bebas. Tanpa anak. Tanpa ikatan yang membatasi langkah dan mimpinya.
Namun entah mengapa, setelah Lima tahun ia menikmati kebebasan dalam kemewahan dan kariernya, kehamilan yang tak pernah ada dalam bayangannya justru datang. Sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan.
Beberapa kali ia mencoba menggugurkan kandungannya. Namun anak yang ia kandung terlampau kuat. Bertahan. Memaksa.
Hingga akhirnya Gracia terpaksa melepaskan kebebasan yang ia banggakan. Melepaskan kariernya sebagai Aktris dan model. Di masa-masa itu, ia terpuruk. Bukan karena kehilangan cinta, melainkan karena ia tidak pernah terbiasa dengan hidup baru yang dipaksakan padanya.
Hingga saat anak itu lahir, Gracia tetap tidak sudi melihatnya. Sedikit pun tidak. Ia langsung mengajukan perceraian. Meninggalkan kekayaan Archio tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Baby Leonel. Semua itu ia lepaskan demi satu hal yang sejak awal selalu ia kejar. Kebebasan dan karier yang hingga kini masih ia banggakan.
“Gracia… dia darah daging kita. Darah daging kamu. Tega kamu bicara seperti itu?” geram Archio tertahan. Suaranya bergetar, antara marah dan tidak percaya.
“Darah dagingmu saja,” balas Gracia tanpa ragu. “Anggap saja benihmu yang titip di rahimku.” Ucapannya dingin. Sangat tega.
Kali ini Archio benar-benar tidak mampu menahan diri. Ia melangkah mendekat, tangannya terangkat, berniat menampar wanita itu. Namun sebelum niat itu terwujud, Bimo lebih dulu mendekat dan memperlihatkan sesuatu pada sang bos. Sebuah video yang sedang diputar di layar ponselnya.
Wajah Archio berubah seketika. Ketegangan di rahangnya mengendur. Sorot matanya menghangat, lalu berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata pun, tanpa pamit, ia berbalik dan berlari meninggalkan depan unit apartemen, menuju mobilnya.
Bimo hendak menyusul, namun lebih dulu mencengkeram tangan Gracia saat wanita itu hendak kembali masuk.
“Ingat baik-baik, Gracia,” ucap Bimo dingin. Ia mengangkat ponselnya. “Semua omongan kamu sudah saya abadikan di sini.” Layar itu menampilkan rekaman Gracia yang berteriak lantang, menyangkal dan tidak mengakui putranya sendiri.
“Kalau di masa depan kamu kesusahan,” lanjut Bimo, tatapannya tajam, “kalau di masa depan kamu tiba-tiba mengakui putramu, jangan lupa hari ini.”
Ia menarik napas pendek.
“Dan kalau kamu lupa, saya bersedia mengingatkanmu kembali. Seperti katamu sendiri, anak itu benar-benar bukan anakmu. Jadi begitu juga di masa depan. Dia bukan darah dagingmu.”
Tanpa menunggu jawaban, Bimo melepaskan cengkeramannya dan melangkah cepat menyusul tuannya ke area parkiran.
.
.
“Hancurkan karier yang dia banggakan itu. Hancur sampai tidak tersisa apa-apa untuknya. Buat hidupnya jauh lebih menderita, buat kebebasannya terenggut. Hingga dia datang memohon kepadaku. Di saat itu, saya yang akan menertawakan kehancurannya.”
Tbc...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian