NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga belas

Sudah lebih dari dua puluh menit Giani bertahan di posisinya tanpa ada niatan meninggalkan Meira di UKS. Ia mengamati dalam diam wajah Meira yang sedang tertidur.

"Kenapa lo nyuri gelangnya?" tanya Rey tiba-tiba.

"Maksud lo?"

Rey mendekati Giani. Ia menatap sinis pada Giani. "Jangan pikir gue gak tau semuanya."

Cowok itu mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, lalu menunjukkannya pada Giani. Giani melebarkan matanya ketika melihat sebuah rekaman video tampil di layar ponsel Rey. Di dalam rekaman itu, Giani tampak sedang membuka tas milik Anita lalu mengambil gelang dari pouch kecil yang ada di dalam tas cewek itu.

"Gue gak bego, yang bisa dibodohi sama orang bodoh kayak lo!" ucap Rey tanpa mengalihkan sedikit pun tatapannya dari Giani, wajah cewek itu mulai pucat.

Rey teringat dengan kamera yang sengaja di pasang Gean satu bulan lalu. Gean sangat tergila-gila dengan penampakan dan hal-hal mistis. Saat mendengar cerita dari teman-temannya dan juga dari siswa lain, yang katanya di sekolah itu, terutama di kelas IPA 1-5, terdapat penampakan sosok wanita berbaju putih di jam-jam tertentu, Gean nekat memasang kamera kecil yang tersembunyi di sudut kelas mereka.

Kamera itu tersambung dengan aplikasi bawaan yang ada di ponsel Gean. Rey mengetahuinya karena cowok itu sempat meminta izin dahulu padanya sebelum melakukan aksinya, berhubung juga Rey adalah ketua kelas. Waktu itu Rey hanya mengangguk saja karena menurutnya itu hanyalah hobi konyol yang tidak akan membuahkan hasil. Namun, siapa sangka kamera yang awalnya bertujuan menangkap makhluk astral, justru menangkap setan dalam bentuk yang lain.

"Rey, sejak kapan lo pasang..." Giani tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Cewek itu menatap Rey dengan tatapan tidak percaya bahwa cowok itu memiliki bukti dari kelakuannya.

Giani mematung, keringat dingin membasahi pelipisnya. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat kini berada di tangan orang yang paling tidak ingin ia hadapi, Rey, sang ketua kelas yang dingin dan tak kenal ampun.

Giani hendak meraih ponsel itu dengan gerakan cepat, tetapi rupanya gerakan tangan Rey lebih cepat menjauhkannya dari jangkauan Giani.

"Rey, gue mohon..." suara Giani bergetar. "Jangan kasih tahu Bu Resma dan kepsek. Gue bakal balikin gelangnya, gue janji. Ada alasan kenapa gue lakuin itu."

Rey membalas tatapan takut Giani dengan seringai kecil. "Apa alasannya? Kasih gue alasan yang kuat atau gue kirim rekaman ini ke grup kelas." ancam Rey.

Giani kembali membeku di tempatnya. Ia tidak tahu harus menjelaskannya dari mana. "Gue jelasin pun, lo pasti gak akan peduli."

Lagi-lagi, Rey menampilkan seringainya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menyilangkan tangannya di dada.

"Jadi, apa alasannya?" kata Rey berubah serius.

Giani menghela napas berat. "Gue butuh uang buat biaya operasi Ayah gue." cewek itu kembali menghela napasnya kasar. "Ayah gue kena kanker otak stadium akhir dan harus segera di operasi. Gaji kerja paruh waktu yang gue kumpulin dari 6 bulan lalu belum cukup buat bayar biaya operasinya. Gue bingung harus cari uang kemana lagi, pinjam pun percuma, gak bakalan ada yang percaya sama orang miskin kayak gue!" jelas Giani lirih. Air mata yang sempat menetes dari kelopak matanya langsung di hapus kasar.

"Terserah lo mau percaya atau nggak. Gue udah sangat jujur sama lo. Dan kalau lo masih mau laporin gue, silahkan." Giani menelan ludahnya dengan susah payah. "Gue udah siap nerima konsekuensinya. Meski beasiswa gue dicabut atau bahkan dikeluarin dari sekolah sekalipun. Lagian gue niatnya juga mau langsung ganti gelang itu dan jelasin ke Anita kalau gue terpaksa nyuri gelangnya. Tapi dia udah keburu lapor ke Bu Resma."

"Kenapa lo gak coba ngomong baik-baik ke Anita, kalau kayak gitu lo sama aja gali lubang kuburan lo sendiri. Dan lo tega ngeliat orang lain yang gak bersalah harus nanggung hukuman dikeluarkan?"

Giani menghapus air matanya kasar. "Lo gak akan pernah ngerti, Rey. Semua orang suka sama dia dari awal masuk ke sini. Saat dia dituduh pun semua orang belain dia. Sedangkan gue? Gue udah hampir dua tahun sekolah di sini, gak ada yang mau temenan sama gue. Jangankan jadi temen, mereka ngeliat gue aja gak pernah. Lo gak akan pernah tahu rasanya jadi bukan siapa-siapa!" Cewek berambut sebahu itu tersenyum getir. "Bahkan, hampir dua tahun gue sekelas sama lo, baru kali ini lo mau ngomong sama gue. Itu pun karena lo lagi ngebela dia, yang baru masuk seminggu yang lalu." tunjuknya pada Meira yang berbaring di kasur UKS.

Rey menatap berlalunya Giani hingga cewek itu keluar dari UKS. Alasan yang Giani berikan sudah cukup jelas untuk menjawab tujuannya mencuri gelang itu. Muncul perasaan empati dalam dirinya, tapi yang dilakukan Giani masih tetap salah besar.

Rey mengusap wajahnya dengan kasar. Masalah ini membuatnya sedikit frustasi. Sebagai ketua kelas, kali ini Rey tidak tahu harus berbuat apa. Kalau ia memberikan rekaman itu kepada kepala sekolah, Giani pasti menganggapnya sebagai orang jahat yang tidak punya rasa belas kasihan. Tapi, lebih jahat lagi kalau ia membiarkan Meira, orang yang bahkan tidak bersalah sama sekali, harus dihukum oleh pihak sekolah.

"Lo udah sadar?" tanya Rey ketika melihat Meira mulai membuka matanya.

Meira tidak langsung merespons pertanyaan Rey.

"Gimana keadaan lo?" tanya Rey lagi.

"Kamu khawatir?" ucap Meira. Ia menatap bingung ke arah Rey, wajah cowok itu terlihat sangat kusut.

"Gue—" Rey terbata. "Gue disuruh Bu Resma buat nungguin lo. Jangan ge-er."

Meira tersenyum kaku. "Fine." ucapnya singkat, menjawab pertanyaan dari Rey. "Oh, ya. Bu Resma dimana?"

"Ada di ruangannya. Lo mau kemana?" Rey mencegah Meira yang hendak bangkit dari ranjang.

"Ketemu Bu Resma. Aku kan disuruh ke ruangan kepala sekolah sama beliau."

"Gue tau lo nggak salah."

Meira mendengus lalu menampilkan senyum kecil pada Rey. "Aku boleh pinjem hp kamu gak?" seketika ia meralat ucapannya melihat perubahan ekspresi Rey. "Maksudnya, aku mau kirim pesan ke Ayara pake hp kamu. Hp aku ketinggalan di kelas."

Meira menghela napas lega saat Rey akhirnya mengangguk. Ia langsung menyambut uluran ponsel dari tangan Rey. Meira menatap Rey sekilas kemudian beralih kembali pada layar ponsel milik Rey. Tak berselang lama, Meira mengembalikan ponsel Rey setelah mengirim beberapa pesan pada Ayara.

"Udah?"

"Udah, makasih, ya."

Meira turun perlahan dari ranjangnya dan memakaikan kembali sepatu pada kakinya. "Kamu balik ke kelas aja, sebentar lagi jam kedua dimulai." perintah Meira pada Rey yang masih terdiam, sama sekali tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

"Lo yakin mau—"

"Yakin, udah kamu ke kelas aja."

"Tapi itu bukan salah lo." Rey lagi-lagi mencegah Meira yang hendak berjalan dengan menghadang langkah cewek itu.

Meira menghela napasnya, ia membuang muka dari tatapan Rey.

"Emangnya kamu punya bukti?" pandangan Meira kembali pada Rey yang tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wajah Meira.

Meira buru-buru berjalan menjauh dari Rey sebelum cowok itu kembali menghentikannya. Sementara Rey harus mengurungkan keinginannya untuk mencegah Meira ketika seseorang datang menemuinya. Ia segera memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.

"Gimana keadaan Meira?" tanya Ilham yang baru saja datang. Cowok itu celingukan ke dalam ruangan UKS dari ambang pintu.

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!