Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Turunkan aku bajingan!! Turunkann aku, mereka sudah tidak akan melihat kita lagi.." ucap Nabila memaksa Reynaldo melepaskan gendongannya.
Reynaldo langsung meletakkan Nabila di atas ranjang. Saat hendak menarik diri, tanpa sengaja dia kesandung karpet sehingga tubuhnya jatuh di atas Nabila. Mata mereka kini saling menatap dengan intens. Reynaldo merasakan getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat melihat wajah cantik Nabila – hidung mancung, pipi lembut, dan bibir merah yang sensual membuatnya terpana sejenak.
"Woiiii!! Berattt!!" teriak Nabila membuat Reynaldo segera tersadar dan menjauhkan dirinya.
"Kau berat sekali!" celoteh Reynaldo tanpa berpikir panjang.
Mata Nabila langsung menatap tajam ke arahnya.
"Kau bilang apaa?? Aku Beratt!!"
"Buggghhkk!! Baghhhkkkk!! Buuugghhhkk!!" Pukulan keras menyambar tubuh Reynaldo berulang kali.
"Kau saja yang tidak punya tenagaaa!!" ucap Nabila kesal.
"Cihhhh sia-sia saja aku menolongmu!!" ucapnya kemudian berniat pergi meninggalkan kamar.
Reynaldo dengan cepat menarik tangannya, membuat tubuh mereka berhadap-hadapan lagi. Mata mereka kembali saling bertemu.
"Apa kau menyetujui perjanjian itu??" ucap Reynaldo dengan suara lebih lembut.
"Tidakkk! Aku hanya kasihan melihatmu seperti orang bodoh tadi!" jawab Nabila lantang.
"Kauu--uu!!"
"Apa? Sudah aku katakan aku tidak ingin menikah!!" teriak Nabila dengan keras.
"Ingat Nabila kau sudah menjadi milikku dan aku tidak suka penolakan!!" umpat Reynaldo geram melihat sifat keras kepala Nabila.
"Yah.. yahh..yahhh terserah!!" ucap Nabila berjalan keluar kamar dengan cepat.
"Nabila Zahra Kusuma!!!!!" teriak Reynaldo dengan penuh frustrasi.
"Sayanggg!! Bagaimana ini kita sudah berjanji dengan keluarga Wijaya! Kasihan Sophia, dia sangat mengharapkan Reynaldo..! " ucap Alisha kepada suaminya Raden Wijaya.
"Aku juga tidak menyangka dia menikah! Siapa wanita itu? Darimana dia berasal? Dan seperti apa latar belakangnya!!" ucap Raden Wijaya bingung.
Raden Wijaya tahu betul bahwa Reynaldo sangat membenci wanita setelah kematian ibunya Dewi. Saat itu Reynaldo hanya memiliki kekasihnya Maya, tapi Maya akhirnya juga meninggalkannya. Kedatangan Alisha yang terlalu cepat menggantikan posisi sang ibu membuat Reynaldo menjadi pria yang sangat sulit mempercayai wanita.
"Sialann! Jika aku tidak memiliki keturunan dari si muda ini, bagaimana aku bisa menguasai seluruh kekayaan Wijaya Group!! Sedangkan Sophia saat ini tidak bisa membantuku mendapatkan apa yang aku inginkan!!" ucap Alisha dalam hati.
"Aku harus menghabisi wanita itu agar kekayaan Reynaldo jatuh ke tanganku, dan aku harus segera menggantikan posisi nyonya besar di Istana Mahkota Perak!!"
"Sayanggg... Kau harus mencari tahu informasi tentang dia. Bukankah malu jika keluarga kita dimasuki oleh wanita tidak jelas.." ucap Alisha dengan suara manja sambil memeluk tubuh suaminya.
"Kau benar sayang... aku harus mencari tahu siapa wanita itu sebenarnya.." ucap Raden Wijaya sambil memeluknya kembali.
Saat Nabila ingin pergi ke ruang makan untuk mengambil air minum, dia bertemu dengan Reynaldo yang sedang berjalan cepat tanpa melihatnya sama sekali.
"Mau kemana dia?? Mengapa dia terlihat sangat marahh.." gumam Nabila kemudian mengabaikannya dan melanjutkan jalan.
"Nyonyaa ingin apa..?" tanya kepala pelayan yang melihatnya.
"Aku hanya ingin minum.." jawab Nabila singkat.
"Nyonya bisa menyuruh kami untuk mengambilnya saja.."
"Tidak perlu, aku masih memiliki tangan dan kaki yang bisa bekerja.." ucap Nabila dengan nada datar.
Sambil duduk di kursi meja makan, dia bertanya lagi: "Heii Madam! Apa istana ini benar-benar milik Reynaldo??"
"Iya nyonya, istana ini adalah milik tuan Reynaldo Wijaya Mahkota.." jawab pelayan dengan hormat.
"Mengapa orang tuanya tidak tinggal disini??" tanya Nabila penasaran.
"Maaf nyonya, aku tidak bisa memberitahu hal itu. Jika nyonya ingin tahu, sebaiknya tanyakan langsung pada tuan Reynaldo.." ucap kepala pelayan dengan sopan.
"Aku hanya ingin tahu saja, tenanglah aku tidak akan memberi tahu siapapun jika kau mau berbicara..!" rayunya Nabila.
"Tidak nyonya, kami telah berjanji tidak akan membicarakan apapun tentang keluarga tuan Reynaldo kepada siapapun.." jawab pelayan tetap tegas.
"Baiklah jika kau tidak mau memberitahu tidak apa-apa.." ucap Nabila lalu pergi meninggalkan ruangan dan kembali ke kamarnya.
"Ahhhkk membosankan sekali tinggal disini.." ucapnya menghempaskan tubuh ke ranjang yang empuk. Nabila menatap langit-langit kamar sambil memikirkan jalan hidupnya yang penuh lika-liku. Ingin rasanya dia pergi jauh dari Kota Perak.
Padahal dulu Nabila adalah orang yang sangat mudah menangis, tapi sejak kepergian ibunya, dia memutuskan untuk tidak menunjukkan kelemahan itu. Namun hati seorang perempuan tidak pernah bisa benar-benar keras – terutama ketika dia harus melihat ayahnya menghabiskan waktu dengan wanita-wanita yang tidak pantas sejak dia masih kecil. Pemandangan itu yang membuat luka dalam hatinya semakin dalam, dan dia tidak pernah merasakan kasih sayang yang sesungguhnya.
"Hidupku memang sudah hancur, seharusnya aku mati saja.." ucap Nabila dengan penuh frustasi.
Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi, menatap wajahnya di cermin sambil berbicara dengan dirinya sendiri. Nabila sadar bahwa kehidupannya saat ini tidak memiliki makna lagi, terutama setelah sang ayah tidak menginginkannya lagi. Dia menghidupkan pancuran air dan duduk di bawahnya, menangis sambil merasakan dinginnya air yang mengalir. Tubuhnya mulai bergetar hebat karena kedinginan.
"Aku lelah jika harus terus seperti ini.." ucapnya sambil menangis. Hampir dua jam dia berada di bawah pancuran air yang terus mengalir – terkadang menangis, terkadang tertawa melihat bagaimana kehidupannya berantakan. Lambat laun tubuhnya semakin lemah, pandangannya mulai memudar, hingga akhirnya dia pingsan di lantai kamar mandi.
Sementara itu, Reynaldo sedang berada di gudang rahasia di pinggiran Kota Perak untuk melakukan transaksi penjualan barang-barang tertentu. Penyeludupan barang tersebut menjadi salah satu sumber kekayaannya yang paling besar. Reynaldo akan membunuh siapa saja yang berusaha menghancurkan bisnisnya, bahkan dia tidak segan membayar mahal kepada beberapa pejabat agar mereka tetap diam tentang aktivitasnya.
Reynaldo terlibat dalam berbagai bidang bisnis yang tidak tercatat resmi, termasuk perdagangan barang terlarang yang menjadi sumber pendapatan utama Wijaya Group selain bisnis yang sah. Banyak pemimpin organisasi gelap lain yang ingin menjatuhkannya dan mengambil alih kekuasaan di Kota Perak.
Hari ini Reynaldo harus menghadapi beberapa kelompok yang berusaha mengganggu jalannya bisnis. Dia tidak pernah memberikan ampun kepada siapapun yang berani mengganggunya.
"Tuan, apakah nona Nabila sudah menyetujui perjanjian itu..?" tanya asisten pribadinya.
"Tidak, dia masih bersikeras menolak! Ini pertama kalinya aku ditolak secara langsung oleh seorang wanita!!" ucap Reynaldo dengan sedikit marah.
"Dia sangat cocok menjadi nyonya besar, tuan. Dia memiliki sifat yang sama dengan Nyonya Besar Dewi – bahkan nama mereka hanya berbeda satu huruf saja, D dan R.." ucap asisten pribadi itu.
"Kau benar, aku baru menyadari hal itu. Hanya saja untuk membuatnya setuju, aku harus bekerja keras seperti dulu ketika meminta sesuatu pada ibu ku – harus membujuknya dengan sangat ekstra!" ucap Reynaldo terdiam sejenak.
"Tapi tuan, aku rasa tuan besar akan segera mencari informasi tentang pernikahan kalian. Kalian harus segera menyelesaikannya agar posisi nona Nabila tetap aman.."
"Kau betul!! Aku harus segera membuat gadis tengil itu mau! Dan jangan lupa berikan dia pengawal khusus – jika dunia tahu dia adalah nyonya besar Wijaya, dia akan menjadi incaran para musuh kita.." ucap Reynaldo dengan wajah serius.
"Baik tuan, aku akan memilih orang-orang terbaik untuk melindungi nyonya.." jawab asistennya.
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan – Reynaldo harus menandatangani berbagai surat penting dan menangani beberapa pengacau yang berani mengganggu wilayahnya.