Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: LANGIT SEBAGAI ATAP, DINGIN SEBAGAI SELIMUT
Urusan administrasi itu selesai tepat saat senja mulai melarutkan warna jingga menjadi abu-abu yang pekat di langit kota. Jonatan melangkah keluar dari gedung rektorat dengan selembar kertas berstempel "LUNAS" di tangannya. Kertas itu terasa begitu berat, seolah membawa beban moral dari uang pemberian Pak Johan. Namun, saat euforia keberhasilan mendaftar itu surut, sebuah kenyataan lain menghantam wajahnya dengan keras: ia tidak punya tempat untuk pulang malam ini.
Jonatan berdiri di trotoar kampus yang mulai sepi. Mahasiswa-mahasiswa lain sudah lama menghilang ke kos-kosan mereka yang nyaman atau pulang ke rumah dengan kendaraan masing-masing. Jonatan meraba kantongnya. Sisa uangnya benar-benar hanya cukup untuk makan beberapa kali. Membayar kos, bahkan untuk kamar paling kumuh sekalipun, adalah kemewahan yang tidak sanggup ia beli sekarang.
Ia mulai berjalan tak tentu arah, menggendong tas kainnya yang kini terasa berlipat-lipat lebih berat. Kakinya yang lecet mulai berdenyut sakit setiap kali bersentuhan dengan aspal. Ia menyusuri gang-gang kecil di sekitar kampus, berharap menemukan masjid atau teras toko yang cukup teduh untuk sekadar memejamkan mata. Namun, kota ini tampak sangat protektif terhadap ruang-ruang kosongnya. Pagar-pagar tinggi dengan kawat berduri seolah berbisik, "Jangan di sini, orang asing."
Malam semakin larut. Suhu udara turun drastis, jauh lebih dingin daripada malam di Oetimu. Dingin di sini tidak kering, melainkan lembap dan merayap masuk ke sela-sela pori-pori kulitnya. Jonatan menggigil. Ia menemukan sebuah masjid kecil di ujung gang, namun pintunya sudah digembok rapat, dan seorang penjaga dengan wajah masam menggelengkan kepala saat Jonatan mencoba mendekat.
"Hanya untuk salat, Mas. Kalau tidur, cari tempat lain," ujar penjaga itu tanpa perasaan.
Jonatan mundur dengan kepala tertunduk. Ia berjalan terus hingga sampai di sebuah taman kota yang dikelilingi pohon-pohon besar. Ada sebuah bangku semen panjang di bawah lampu jalan yang remang-remang. Di sana, ia melihat beberapa orang lain yang tampak serupa dengannya—tunawisma yang merapatkan jaket tipis mereka.
Ia memilih bangku yang paling pojok, di bawah naungan pohon beringin tua. Ia duduk perlahan, mencoba mengatur napasnya yang sesak karena hawa dingin. Perutnya mulai bernyanyi lagi, sebuah simfoni kelaparan yang memilukan. Ia merogoh tasnya, mencari sisa jagung titi dari rumah. Hanya tersisa segenggam kecil butiran yang sudah agak keras. Ia mengunyahnya satu per satu, sangat lambat, mencoba menikmati setiap butir itu seolah itu adalah hidangan terakhirnya.
Bapak, Mama... kalau kalian lihat aku sekarang, apa kalian akan menyesal mengirimku ke sini? batinnya.
Ia mengambil sarung tenunnya, membungkus seluruh tubuhnya hingga ke kepala. Bau rumah yang tersisa di kain itu perlahan mulai memudar, digantikan oleh bau debu jalanan. Jonatan berbaring menyamping di atas bangku semen yang dinginnya terasa seperti es yang menusuk tulang rusuknya. Ia menjadikan tas kainnya sebagai bantal, menjaga agar sertifikat dan buku-bukunya tidak terhimpit.
Dalam kegelapan, matanya sulit terpejam. Setiap suara langkah kaki atau deru motor yang lewat membuatnya waspada. Ia merasa seperti binatang buruan yang sedang bersembunyi di hutan beton. Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa dari kejauhan. Sekelompok anak muda sebayanya lewat dengan pakaian modis, baru saja keluar dari sebuah kafe tidak jauh dari taman. Mereka bicara tentang rencana liburan dan tugas kuliah yang membosankan.
Jonatan memejamkan mata kuat-kuat. Ada rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan—bukan karena dingin, bukan karena lapar, tapi karena kesadaran bahwa ia hidup di dunia yang sama dengan mereka, namun dipisahkan oleh jurang yang begitu dalam. Bagi mereka, malam ini adalah bagian dari masa muda yang indah; bagi Jonatan, malam ini adalah tentang bertahan hidup sampai matahari terbit.
Ia merogoh kalung tenun di lehernya, mencengkeramnya erat. Ia teringat sumur kering di Oetimu, teringat punggung ayahnya yang membungkuk di bawah terik matahari.
"Aku tidak boleh menyerah," bisiknya pada kegelapan. "Dingin ini hanya sementara. Lapar ini hanya sementara."
Tiba-tiba, rintik hujan mulai turun. Awalnya hanya sedikit, namun lama-kelamaan menjadi deras. Jonatan tersentak. Pohon beringin itu tidak lagi mampu melindunginya dari air yang mulai merembes masuk. Ia segera bangun, mendekap tasnya di dalam sarung agar tidak basah. Ia harus mencari tempat berteduh lain.
Ia berlari menyusuri jalanan yang basah, mencari emperan toko yang memiliki atap agak panjang. Akhirnya ia menemukan sebuah toko kelontong yang sudah tutup. Ada ruang kecil di depan pintunya yang terlindung dari hujan. Di sana sudah ada seorang lelaki tua pemulung yang sedang meringkuk di atas tumpukan kardus.
Lelaki itu membuka matanya sedikit saat Jonatan datang. Ia tidak mengusir, hanya menggeser badannya sedikit untuk memberi ruang. "Duduklah, Nak. Hujannya lama ini," suara lelaki itu parau dan pelan.
Jonatan duduk di sampingnya, memeluk lututnya. Mereka berdua terdiam, hanya ditemani suara hujan yang menghantam atap seng dengan berisik.
"Mau kuliah ya?" tanya lelaki pemulung itu tiba-tiba, matanya menatap tas kain Jonatan.
"Iya, Kek," jawab Jonatan singkat.
Lelaki itu terkekeh pelan, sebuah tawa yang berakhir dengan batuk kecil. "Dulu, saya juga punya mimpi seperti itu. Tapi kota ini tidak suka pada orang yang hanya punya mimpi tanpa punya pelindung. Kamu harus kuat-kuat, Nak. Jangan biarkan hujan ini menghapus rencanamu."
Lelaki itu kemudian menarik sebuah kardus kering dari balik badannya dan memberikannya pada Jonatan. "Alas ini. Semen itu bisa membuat paru-parumu basah kalau kau langsung duduk di sana."
Jonatan menerima kardus itu. Sederhana, tapi itu adalah kebaikan paling mewah yang ia terima malam itu. Ia meletakkan kardus itu di lantai, lalu duduk di atasnya. Ia merasa sedikit lebih hangat.
Dalam sisa malam yang panjang itu, Jonatan akhirnya tertidur karena kelelahan yang luar biasa. Ia bermimpi tentang Oetimu yang mendadak hijau, tentang air yang mengalir deras dari celah-celah batu, dan tentang ayahnya yang tersenyum sambil melambaikan tangan. Namun di tengah mimpi itu, wajah Pak Johan muncul, menunjuk ke arah tumpukan buku dan berkata, "Jangan minta maaf atas kemiskinanmu."
Saat fajar mulai menyingsing dan lampu jalan perlahan padam, Jonatan terbangun. Tubuhnya kaku, sendi-sendinya terasa seperti terkunci. Lelaki pemulung di sampingnya sudah tidak ada, meninggalkan selembar koran bekas untuk menutupi kaki Jonatan.
Jonatan berdiri, meregangkan tubuhnya yang sakit. Ia melihat ke arah langit yang mulai terang. Hujan sudah berhenti, menyisakan bau tanah basah yang segar—satu-satunya hal yang terasa mirip dengan rumah. Ia mengambil botol airnya, membasuh mukanya sedikit agar terlihat lebih segar.
Hari ini adalah hari pertama ospek. Ia harus tampil tegak. Tidak ada yang boleh tahu bahwa semalam ia tidur di atas kardus bekas bersama seorang pemulung. Tidak ada yang boleh tahu bahwa perutnya hanya berisi segenggam jagung keras.
Ia merapikan bajunya, menyisir rambut ikalnya dengan jari-jari tangan, dan mulai berjalan kembali menuju gerbang kampus. Setiap langkahnya kini terasa lebih bermakna. Malam tadi telah mengajarinya satu hal: ia sudah melewati titik terendahnya. Jika ia bisa bertahan di trotoar yang dingin dan basah, maka ia bisa bertahan di mana saja.
Dunia boleh memberinya sebelah mata, tapi Jonatan akan menatap dunia dengan mata yang penuh api. Langkahnya tidak lagi ragu. Ia adalah Jonatan dari Oetimu, dan ia baru saja memenangkan satu malam lagi melawan nasibnya sendiri.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian