Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setengah kebenaran
Rumah Surya Pradana selalu terasa sunyi.
Malam gelap yang sepi……
Aurora duduk di ruang kerja Surya.
Tangannya masih memegang ponsel berisi foto kecelakaan itu.
Foto seorang pria yang tergeletak di jalan.
Anak kecil menangis di sampingnya.
Dadanya terasa sesak.
“Ayah…”
"Apa benar dia ayahku...?"
Kata itu terucap lirih.
Surya yang sedang berdiri membelakanginya mendengar.
Ia tidak langsung menoleh.
“Apa katamu?”
Aurora memejamkan mata, kepalanya berdenyut.
“Ayah saya…”
Suara itu gemetar.
“Bernama… Adiyaksa…?”
Ruangan terasa membeku.
Itu pertama kalinya Aurora menyebut nama itu dengan sadar.
Surya perlahan berbalik.
Wajahnya tetap tenang.
Tapi matanya berubah.
“Siapa yang memberitahumu nama itu?”
Arka mengenal laki-laki di foto ini
“Dia bilang laki-laki ini adalah Tuan Adiyaksa sahabat ayahnya”
“Dan saya tiba-tiba mengingat potongan-potongan masa kecil saya”
Tangannya gemetar memegang kepala.
“Ayah saya… menggendong saya… lalu ada cahaya… suara rem…”
Air mata mulai jatuh tanpa ia sadari.
“Dia… tertabrak…”
Surya berjalan mendekat.
Duduk di hadapannya.
Tangannya terangkat… hampir menyentuh kepala Aurora.
Namun bukan untuk menenangkan.
Untuk memastikan.
“Lalu siapa yang menabraknya, Aurora?”
Pertanyaan itu halus.
Terlalu halus.
Aurora menggeleng cepat. “Saya tidak tahu…”
Surya tersenyum tipis.
Bagus….pikirnya.
Ingatan itu bangkit.
Tapi belum lengkap.
Waktunya ia melengkapi cerita itu.
Bukankah kebenaran yang setengah itu lebih mematikan dari pada kebohongan!!!
Di Gedung Wiryamanta Group !!!
Arka duduk sendirian di ruang kerjanya.
Pikiran dan hatinya sedang bertarung tidak sinkron
Foto kecelakaan itu tergeletak di mejanya.
Ia sudah menyelidiki diam-diam.
Dan menemukan fakta bahwa :
Kasus itu dihentikan secara mendadak.
Dan benar.
Ada tanda tangan pejabat yang dulu bekerja sama dengan Wiryamanta Group.
Tapi….
Tidak ada bukti ayahnya menabrak siapa pun.
Arka memejamkan mata.
Yang mengganggunya bukan dokumen itu.
Tapi satu hal.
Bayangan Aurora yang menangis di bawah hujan.
Dan perasaan yang tidak bisa ia abaikan lagi.
Ia mencintainya.
Bukan hanya sekedar penasaran.
Tapi benar-benar takut kehilangan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Arka Wiryamanta takut.
Takut kalau wanita itu menjauh.
Takut kalau kebenaran menghancurkan semuanya.
Takut kalau ia harus memilih antara nama keluarga… atau Aurora.
Ia tertawa getir.
“Sudah terlambat.”
Ia sudah jatuh terlalu dalam.
Beberapa hari kemudian.......
Surya memanggil Aurora ke ruangannya.
Ia meletakkan sebuah map di atas meja.
“Kalau kamu ingin tahu tentang orang tua mu… baca ini.”
Aurora menatapnya ragu.
Tangannya gemetar saat membuka map itu.
Di dalamnya ada :
Salinan laporan kecelakaan.
Foto mobil yang rusak.
Dan satu lembar keterangan saksi.
Di sana tertulis :
Mobil milik Wiryamanta Group terlihat di lokasi.
Aurora menatap Surya dengan napas tercekat.
“Ayah Arka…?”
Surya tidak langsung menjawab.
Ia berjalan ke jendela.
Suara hujan terdengar samar.
“Aku tidak pernah ingin kamu tahu dengan cara seperti ini.”
Nada suaranya terdengar… terluka.
Pura-pura.
“Tapi kebenaran tetaplah kebenaran.”
Aurora menggeleng.
“Tidak mungkin…”
Surya menoleh pelan.
“Kenapa tidak mungkin?”
Aurora menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Karena ayah Arka adalah sahabat tuan Adiyaksa....Ayahku …”
"Mana mungkin..."
Surya memotong pelan.
“Kamu mencintai Arka?”
Aurora membeku.
Mulutnya terasa kaku tidak bisa berkata ya...maupun...Tidak...!
Hening.
Air matanya jatuh.
Surya tersenyum samar.
Dalam hati, bukan marah.
Justru puas.
Semakin tinggi cinta itu,
semakin hancur ketika kebenaran versi dirinya ia tanamkan.
“Kadang,” lanjut Surya pelan,
“anak tidak tahu dosa orang tuanya.”
Kalimat itu sengaja.
Menusuk.
Menanam benih.
Aurora merasa dunianya retak.
Jika benar…
Maka ia mencintai putra dari pembunuh ayahnya.
Malam itu juga…
Arka berdiri di depan rumah Surya.
Ia memutuskan.
Ia tidak peduli masa lalu siapa pun.
Ia hanya ingin memastikan satu hal.
Ia ingin mengatakan perasaannya.
Ia melangkah masuk.
Dan tepat ketika ia melihat Aurora keluar dari ruang kerja Surya
Wajah Aurora pucat.
Matanya sembab.
Tatapannya padanya bukan lagi hangat.
Tapi penuh kebingungan.
Dan sedikit… luka.
Arka berhenti.
Jantungnya berdegup cepat.
Surya berdiri di belakang Aurora.
Tatapannya bertemu dengan Arka.
Tenang.
Menang.
Perang baru saja dimulai.
😭😭😭