NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:19
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Manis yang Asing

Minggu malam selalu memiliki atmosfer yang berbeda. Udara terasa lebih berat, seolah-olah waktu sedang menarik napas panjang sebelum menghembuskan kesibukan hari Senin. Bagi kebanyakan orang, ini adalah waktu untuk menyetrika seragam, menyiapkan bekal, atau sekadar menonton televisi bersama keluarga. Bagi Raka, Minggu malam adalah puncak dari keheningan apartemennya.

Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima belas. Raka duduk di sofa ruang tengah yang terasa terlalu empuk untuk punggungnya yang kaku. Televisi menyala, menampilkan berita tentang kemacetan arus balik liburan pendek yang tidak ia pedulikan, suaranya dikecilkan hingga nyaris seperti gumaman.

Perutnya berbunyi pelan. Ia belum makan malam. Rasa malas untuk keluar apartemen mengalahkan rasa laparnya. Di luar gerimis mulai turun lagi, mengetuk jendela kaca dengan irama yang tidak beraturan.

Raka bangkit dan berjalan menuju dapur. Langkah kakinya yang bertelanjang tidak menimbulkan suara di atas lantai vinil. Ia membuka pintu kulkas. Cahaya kuning pucat dari dalam lemari pendingin itu menerangi wajahnya yang lelah.

Matanya langsung tertuju pada kotak susu stroberi berukuran satu liter yang ia beli kemarin. Benda itu berdiri mencolok di antara botol air mineral dan sisa makanan kaleng, warnanya merah muda cerah dengan gambar sapi kartun yang tersenyum lebar. Pilihan impulsif yang bodoh.

Raka meraih kotak itu. Dingin menyengat telapak tangannya. Ia ingat betul, dulu ia sering memarahi—bukan, lebih tepatnya menggodanya—karena selalu membeli susu rasa ini.

*"Ini gula semua, nggak ada gizinya,"* kata Raka dulu, di sebuah lorong minimarket beberapa tahun lalu.

*"Biarin. Hidup udah pahit, Raka. Butuh yang manis-manis,"* jawab wanita itu sambil memasukkan dua kotak sekaligus ke keranjang belanja. Lalu dia akan tertawa, tawa yang membuat mata Raka menyipit karena ikut tersenyum.

Sekarang, di dapur yang sunyi ini, Raka menuangkan cairan merah muda itu ke dalam gelas kaca polos. Baunya langsung menguar. Aroma stroberi sintetik yang tajam dan terlalu manis. Bukan bau buah asli, melainkan bau permen murah.

Raka mengangkat gelas itu, menatapnya sejenak seolah sedang memeriksa racun, lalu meneguknya.

Cairan dingin itu membasahi kerongkongannya. Raka menahan napas.

Rasanya mengerikan.

Terlalu manis. Teksturnya sedikit kental dan meninggalkan jejak rasa susu bubuk yang kurang larut di lidah. Raka meletakkan gelas itu kembali ke meja dapur dengan sedikit kasar. Bunyi *tak* yang nyaring memecah keheningan.

Ia tidak suka susu stroberi. Ia tidak pernah suka. Ia membelinya kemarin hanya karena alam bawah sadarnya rindu melihat benda itu ada di dalam kulkasnya. Ia rindu melihat seseorang meminumnya dengan lahap sampai meninggalkan bekas kumis susu di bibir atas, lalu menjulurkan lidah mengejek Raka yang minum kopi hitam.

Realitas menghantamnya telak. Tanpa kehadiran orang itu, susu ini hanyalah minuman bergula yang tidak enak. Benda ini tidak memiliki makna magis. Kenangan tidak bisa mengubah rasa di lidah.

Raka baru saja akan membuang sisa susu di gelas ke wastafel ketika ponselnya di meja makan bergetar panjang.

Nama 'Ibu' tertera di layar.

Raka berdehem dua kali, memastikan suaranya tidak terdengar serak karena seharian hampir tidak berbicara dengan siapa pun. Ia menggeser tombol hijau.

"Halo, Bu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Le. Ganggu nggak?" Suara ibunya terdengar jernih, diiringi suara samar sinetron di latar belakang.

"Enggak, Bu. Lagi santai aja di apartemen. Kenapa?" Raka bersandar pada pinggiran meja dapur, menatap gelas susu stroberi yang kini mulai berembun.

"Nggak apa-apa. Cuma perasaan Ibu kok nggak enak dari sore. Kamu sehat kan? Makanmu bener?"

Pertanyaan klasik. Raka tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. Insting seorang ibu kadang menakutkan, meski seringkali Raka menganggapnya hanya kebetulan.

"Sehat, Bu. Makan aman. Ini baru mau makan malam," bohongnya. Susu stroberi itu bukan makan malam.

"Jangan makan mie instan terus," tegur ibunya lembut. "Oiya, tadi Tante Ratna main ke rumah. Anaknya yang seumuran kamu, si Dimas, bulan depan mau nikah. Ibu dikasih seragam."

Raka memejamkan mata sejenak. Ia tahu arah pembicaraan ini.

"Oh, baguslah. Titip salam buat Dimas," jawab Raka datar.

Ada jeda sejenak di ujung telepon. Suara sinetron di rumah ibunya terdengar lebih keras dari sebelumnya.

"Kamu... belum ada yang dekat lagi, Ka?" tanya ibunya hati-hati. Nada suaranya bukan menuntut, melainkan khawatir. Kekhawatiran yang justru membuat dada Raka terasa lebih sesak daripada jika ia dimarahi. "Udah dua tahun lho, Ka. Yang lalu biar berlalu."

Raka menelan ludah. Rasa manis susu stroberi yang tertinggal di tenggorokannya kini berubah menjadi pahit.

"Belum sempat mikir ke sana, Bu. Kerja lagi padat banget. Proyek akhir tahun sudah mulai masuk."

Alasan klise. Tameng andalan. Pekerjaan selalu menjadi kambing hitam yang efektif.

"Ya sudah. Ibu cuma mau denger suaramu. Jangan terlalu diporsir kerjanya. Kalau capek, pulang ke rumah. Bapakmu kemarin nanyain kapan kamu bisa benerin genteng garasi lagi, padahal cuma alasan biar kamu pulang."

Raka tertawa kecil, kali ini sedikit lebih tulus. "Iya, Bu. Nanti kalau ada libur panjang Raka pulang. Salam buat Bapak."

"Ya wis. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Sambungan terputus. Keheningan kembali menyergap, kali ini terasa dua kali lipat lebih sunyi. Raka meletakkan ponselnya. Percakapan singkat itu menyadarkannya pada satu hal: semua orang bergerak maju. Dimas menikah. Orang tuanya menua. Sepupu-sepupunya punya anak. Waktu berjalan linear dan kejam.

Hanya dia yang berjalan di tempat, terjebak dalam lingkaran membeli susu stroberi yang tidak dia sukai.

Raka mengambil gelas itu lagi. Alih-alih meminumnya, ia menuangkan isinya ke lubang pembuangan wastafel. Cairan merah muda itu berputar, lalu lenyap ditelan pipa hitam, menyisakan gelas kosong yang lengket.

Ia mengambil spons cuci piring. Di sinilah keputusan keduanya kemarin diuji. Ia menuangkan sabun cuci piring aroma jeruk nipis—merek yang biasa dipakai mantannya, bukan aroma lemon pilihannya.

Begitu ia meremas spons, aroma jeruk nipis yang segar dan tajam menyeruak.

Raka terdiam, tangannya yang berbusa berhenti bergerak di dalam gelas.

Baunya begitu spesifik. Bau ini membawanya kembali ke dapur kontrakan lamanya yang sempit. Saat itu mereka baru selesai masak besar di hari Minggu. Raka yang mencuci piring, wanita itu yang mengelapnya. Bau jeruk nipis bercampur dengan bau masakan dan parfum wanita itu. Itu adalah momen domestik yang sederhana, tidak ada yang istimewa, tapi entah kenapa terasa begitu utuh.

Sekarang, aroma jeruk nipis ini hanya mengingatkannya bahwa ia sendirian mencuci gelas bekas susu yang ia benci.

Raka menggosok gelas itu dengan gerakan cepat, lebih keras dari yang seharusnya, seolah ingin menghapus noda yang tak kasat mata. Ia membilasnya di bawah kucuran air keran yang deras, menghilangkan semua busa dan aroma jeruk nipis itu secepat mungkin.

Ia menaruh gelas itu di rak pengering dengan bunyi berdentig.

Cukup.

Besok Senin. Ia harus kembali menjadi Raka yang profesional. Raka yang teliti. Raka yang tidak membeli barang-barang bodoh hanya karena rindu.

Ia berjalan ke kamar mandi untuk gosok gigi, berusaha menghilangkan sisa rasa manis artifisial yang masih menempel di lidahnya. Ia menyikat giginya lama sekali, sampai gusinya sedikit perih.

Saat ia keluar dari kamar mandi, ia mematikan semua lampu kecuali lampu tidur di kamar. Ia menarik selimut sampai sebatas dada, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Di luar, hujan sudah berhenti. Sayup-sayup terdengar suara kereta api melintas di kejauhan. Bunyi itu ritmis dan konstan. Raka menutup matanya, membiarkan suara kereta itu menjadi pengantar tidur, berharap malam ini ia tidak bermimpi tentang aroma jeruk nipis atau senyum dengan kumis susu.

Ia harus tidur. Alarm akan berbunyi pukul enam pagi, dan dunia tidak akan peduli apakah ia sudah melupakan masa lalu atau belum. Dunia akan tetap menuntutnya bekerja. Dan mungkin, itu satu-satunya hal yang menyelamatkannya agar tidak gila.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!