Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Malam Pertunangan Ghania
Perjalanan ke kota dimulai Hanin setelah Subuh keesokan harinya.
Langit masih berwarna abu-abu lembut ketika Hanin naik ke bus travel kecil yang sudah menunggu di pinggir jalan depan pesantren. Udara pagi terasa dingin dan segar, menyusup lewat sela kerudungnya. Ia duduk di dekat jendela.
Tas kecil berisi pakaian diletakkan di pangkuan. Tidak banyak yang ia bawa. Hanya keperluan seperlunya untuk tiga hari.
Mesin mobil menyala pelan, lalu perlahan bergerak meninggalkan jalan desa yang sempit. Pepohonan, sawah, dan rumah-rumah sederhana mulai tertinggal di belakang.
Hanin memandang ke luar. Biasanya perjalanan seperti ini terasa biasa saja. Bahkan kadang menyenangkan.
Namun kali ini ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak tenang. Bayangan tentang pertunangan Ghania terus muncul.
Entah kenapa dia merasa gelisah. Seharusnya ini kabar bahagia. Ghania adalah sahabatnya. Orang baik. Lembut. Tulus. Ia pantas bahagia.
Lalu kenapa jantungnya terus berdetak sedikit lebih cepat setiap kali memikirkan acara nanti malam?
“Ada apa sih sebenarnya …,” gumamnya pelan dalam hati. "Kenapa aku merasa akan ada sesuatu."
Ia mencoba mengusir perasaan itu. Mungkin hanya lelah. Mungkin hanya perasaan aneh yang muncul tanpa alasan.
Perjalanan berlangsung sekitar tiga jam. Jalanan mulai berubah. Sawah berganti dengan ruko. Rumah-rumah sederhana berubah menjadi bangunan yang lebih besar. Suara kendaraan semakin ramai.
Travel akhirnya berhenti di sebuah titik pemberhentian kecil. Mereka telah sampai di kota.
Hanin turun. Udara terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih padat.
Ia menarik napas panjang, lalu berjalan mengikuti alamat yang diberikan oleh Ghania sebelumnya. Tidak sulit menemukannya.
Namun ketika ia sampai di sebuah jalan besar dan melihat sebuah rumah yang berdiri megah di ujungnya, langkahnya melambat.
Rumah itu sangat besar. Pagar tinggi dengan ornamen besi. Halaman luas. Bangunan utama tampak elegan dengan desain modern.
Hanin berhenti di pinggir jalan. Ia menatap rumah itu beberapa detik.
“Inikah rumah ustaz Hamid …?”
Ia sempat ragu. Kebetulan seorang ibu-ibu lewat sambil membawa belanjaan.
Hanin mendekat dengan sopan. “Maaf, Bu … mau tanya. Rumah besar itu apakah benar milik Ustaz Hamid?”
Ibu itu tersenyum ramah. “Oh iya, betul, Nak. Itu rumah Pak Ustaz.”
Hanin terdiam sejenak. Ia mengucapkan terima kasih, lalu kembali menatap rumah itu.
Tak menyangka. Selama ini Ghania selalu tampil sederhana. Ustaz Hamid juga begitu. Kehidupan di pesantren tidak pernah menunjukkan kemewahan.
Dan sekarang rumah ini berdiri di hadapannya. Tenang. Elegan dan mewah.
Hanin menarik napas kecil sebelum melangkah mendekat.
Gerbang terbuka. Seorang petugas keamanan mempersilakannya masuk setelah ia menyebutkan namanya.
Begitu masuk, suasana terasa hangat. Banyak orang berlalu-lalang. Beberapa ibu-ibu tampak sibuk membawa bahan makanan. Aroma masakan mulai tercium dari arah belakang.
Seorang pelayan mendekatinya. “Silakan, Mbak Hanin? Nona Ghania sudah menunggu.”
Hanin mengangguk. Ia kemudian diantar masuk melewati ruang tamu yang luas menuju bagian dalam rumah.
Langkahnya berhenti di depan sebuah kamar. Hanin masih sedikit bingung, masih tak percaya jika ini rumah kediaman sahabatnya Ghania.
Pelayan itu mengetuk pelan. “Non, Mbak Hanin sudah datang.”
Dari dalam terdengar suara Ghania. “Masuk!”
Begitu pintu dibuka, Hanin langsung disambut pemandangan yang membuatnya tersenyum.
Ghania sedang duduk di kursi dengan balutan lulur di tangan dan lehernya. Beberapa peralatan perawatan tersusun di meja.
“Haninnn!” serunya senang. Wajahnya langsung berbinar.
Hanin tertawa kecil. “Aku datang di waktu yang tepat ya?”
“Iya! Lagi dilulur buat nanti malam,” jawab Ghania ceria. Hanin duduk di dekatnya.
“Terima kasih sudah datang,” kata Ghania tulus.
“Harus dong. Hari bahagia sahabat sendiri tak boleh dilewati.”
Setelah beberapa saat, perawatan selesai dan para perempuan yang membantu pamit keluar.
Ghania langsung menarik tangan Hanin. “Temani aku di kamar aja ya,” ucapnya.
“Biarkan ibu-ibu tetangga yang masak di dapur. Aku nggak mau ribet.”
Hanin mengangguk. Ia tahu Ghania memang tidak suka keramaian berlebihan.
Kamar itu nyaman. Tidak terlalu mewah seperti ruang tamu, tapi tetap terasa rapi dan hangat. Mereka duduk di atas karpet.
“Deg-degan?” tanya Hanin.
Ghania tersenyum kecil. “Iya … sedikit.”
Hanin menggenggam tangannya. "Wajar deh, kan kamu baru sekali bertemu.”
Ada jeda beberapa saat. Lalu Ghania berkata pelan, “Tapi dalam sekali pertemuan aku sudah menyukainya. Namanya Fahmi.”
Hanin yang sedang menuangkan air minum langsung berhenti. Jantungnya berdetak sedikit lebih keras.
“… Fahmi?”
“Iya,” jawab Ghania santai. “Namanya Fahmi.”
Hanin memaksakan senyum. “Oh.”
Dalam hatinya, sesuatu bergejolak. Fahmi. Nama itu seperti membuka pintu kenangan yang sudah lama ia tutup.
Namun ia segera menepisnya. Tidak mungkin. Nama Fahmi di dunia ini bukan hanya satu. Ini pasti hanya kebetulan. Pikir Hanin.
“Dia baik?” tanya Hanin, berusaha terdengar normal.
“Baik,” jawab Ghania. “Tenang. Tidak banyak bicara.”
Hanin mengangguk pelan. Mereka lalu berbincang ringan. Tentang persiapan. Hanin berusaha menepis pikirannya. Menegaskan dalam hati kalau itu pasti orang yang berbeda.
Waktu berlalu tanpa terasa. Hingga sore berganti malam. Persiapan semakin sibuk. Lampu-lampu dinyalakan. Suasana rumah berubah menjadi hangat dan meriah.
Ghania kemudian bersiap mengenakan busana muslim untuk pertunangannya. Ketika gadis itu telah berpakaian secara sempurna, Hanin terpaku.Sahabatnya itu terlihat sangat cantik.
Busana sederhana namun elegan membingkai sosok Ghania dengan anggun.
“Apa terlalu berlebihan?” tanya Ghania.
Hanin menggeleng. “Kamu cantik sekali.”
Ghania tersenyum malu. Tak lama kemudian, suara pembawa acara terdengar dari ruang utama.
“Keluarga calon tunangan telah tiba.”
Jantung Hanin kembali berdetak lebih cepat.
Ghania menarik napas panjang. “Ayo.”
Hanin berdiri di sampingnya. Ia memeluk lengan sahabatnya, berjalan bersama menuju ruang acara.
Langkah mereka pelan dan tenang. Namun entah kenapa dunia terasa sedikit melambat bagi Hanin.
Mereka duduk di tempat yang telah disediakan. Ghania menunduk sopan. Hanin duduk di sampingnya.
Lalu perlahan ia mengangkat wajahnya. Ingin melihat calon suami sahabatnya. Dan dunia seolah berhenti.
Fahmi. Duduk di sana. Dengan pakaian rapi. Wajah yang sangat ia kenal. Wajah yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Mata mereka bertemu. Fahmi juga tampak terkejut. Hanin pun sama.
Tatapan itu bertahan beberapa detik. Tanpa kata dan suara.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??