desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Kenangan yang Tak Terlupakan
Kepergian seseorang meninggalkan luka. Tapi luka itu, seiring waktu, akan berubah menjadi kenangan. Kenangan yang kadang membuat kita tersenyum, kadang membuat kita menangis, tapi selalu mengingatkan bahwa kita pernah mencintai dan dicintai.
Seminggu sudah pemakaman Sumadi. Apartemen The Rosewood kembali pada rutinitasnya. Raka ke kantor, Arka sekolah, Pelangi bermain, Aira ke butik, Ibu Rosmini sibuk di dapur. Tapi ada yang berbeda. Ada keheningan yang sebelumnya tak ada. Ada kursi kosong di ruang tamu, tempat Sumadi biasa duduk sambil membaca koran—kegiatan baru yang ia pelajari di akhir hidupnya.
Aira duduk di kursi itu suatu pagi. Matanya menerawang. Pelangi merangkak mendekat, merengek minta digendong.
"Mama... Mama..."
Aira menggendongnya. "Iya, Sayang. Mama di sini."
Pelangi menunjuk ke kursi. "Kek... Kek..."
Aira terharu. Pelangi masih ingat kakeknya. Meski hanya tiga bulan bersama, ikatan itu terbentuk.
"Iya, Nak. Kakek sudah pergi. Tapi Kakek sayang Pelangi."
Pelangi mengangguk, meski mungkin tak paham. Ia menyender di dada Aira, nyaman.
---
Malam harinya, Raka pulang lebih awal. Ia melihat Aira termenung di balkon.
"Masih mikirin ayahmu?"
Aira mengangguk. "Iya. Aku tak menyangka akan sesedih ini."
"Kau sayang dia?"
Aira berpikir. "Aku tak tahu, Raka. Mungkin bukan sayang. Tapi ada rasa kehilangan. Dia baru masuk ke hidupku sebentar, lalu pergi."
Raka memeluknya. "Itu wajar, Sayang. Dia ayahmu. Darah dagingmu."
Aira menghela nafas. "Aku cuma... menyesal. Menyesal tak punya waktu lebih lama. Menyesal tak bisa mengenalnya lebih baik."
"Dia tahu kau sayang dia. Di akhir hidupnya, dia punya kau. Itu yang penting."
Aira tersenyum tipis. "Makasih, Raka. Kamu selalu tahu cara menenangkanku."
---
Keesokan harinya, Aira mendapat kiriman dari kampung. Sebuah kotak kayu tua dari rumah ibunya. Di dalamnya, ada foto-foto usang, surat-surat, dan sebuah buku catatan kecil.
Ibunya menelepon.
"Neng, itu barang-barang almarhum ayahmu. Ibu simpan selama ini. Mungkin Neng mau lihat."
Aira membuka kotak itu dengan hati-hati. Foto pertama: seorang pria muda dengan wanita muda—ayah dan ibunya—di hari pernikahan. Ayahnya tampak tampan, tersenyum lebar. Ibunya cantik dengan kebaya sederhana.
"Lihat, Raka. Ini ayahku waktu muda."
Raka mendekat. "Tampan. Kau mirip dia."
Aira tersenyum. "Kata orang, aku mirip ibu."
Foto berikutnya: bayi mungil dalam gendongan. Di belakang foto, tulisan tangan: "Aira, 6 bulan. Anakku tersayang."
Aira menangis. Ayahnya menulis itu. Ayahnya sayang padanya.
Ia membuka buku catatan kecil. Itu semacam diary, ditulis tangan dengan tinta luntur. Beberapa halaman rusak. Tapi cukup banyak yang bisa dibaca.
"Hari ini Aira lahir. Aku gendong dia. Kecil sekali. Aku janji akan jadi ayah baik. Tapi aku takut. Takut gagal."
"Aira sudah bisa tersenyum. Senyumnya seperti ibunya. Aku bahagia."
"Aku kalah judi lagi. Ibu marah. Aku benci diriku sendiri."
"Aku pukul Ibu. Lagi. Aku jahat. Aku mabuk. Aku minta maaf tapi tak cukup."
"Aku tak pantas jadi ayah. Mungkin lebih baik aku pergi."
Halaman-halaman berikutnya gelap. Penuh penyesalan. Tapi di halaman terakhir, tulisan yang lebih baru—tinta berbeda, mungkin ditulis di penjara.
"Aira, Nak, jika suatu saat kau baca ini, maafkan Ayah. Ayah tahu Ayah jahat. Tapi Ayah selalu sayang kau. Setiap malam Ayah ingat senyummu. Setiap malam Ayah menyesal. Ayah tak pernah berhenti berdoa, semoga kau baik-baik saja. Semoga kau bahagia. Ayah sayang Aira. Sampai mati."
Aira menutup buku itu. Menangis sesenggukan. Raka memeluknya erat.
"Dia sayang aku, Raka. Sepanjang hidupnya, dia sayang aku."
Raka mengusap air matanya. "Iya, Sayang. Dia sayang kamu."
---
Arka pulang sekolah, melihat Aira menangis. Ia berlari.
"Mama kenapa nangis? Siapa nakalin Mama? Arka lawan!"
Aira tertawa di tengah tangis. "Tidak ada, Nak. Mama cuma... Mama baca surat dari Kakek."
"Kakek? Kakek yang udah pergi?"
"Iya."
Arka duduk di pangkuan Aira. "Kakek nulis apa?"
Aira membacakan beberapa baris untuk Arka. Tentang ayah yang sayang anaknya. Tentang penyesalan dan doa.
Arka diam. Lalu berkata, "Kakek sayang Mama ya?"
"Sangat sayang."
"Kakek juga sayang Arka?"
"Tentu. Kakek bilang, Arka cucu yang baik."
Arka tersenyum. "Arka juga sayang Kakek. Meskipun Kakek udah pergi."
Malam itu, Aira membaca semua surat dan catatan ayahnya. Setiap kata, setiap kalimat, ia serap. Ia ingin mengenal ayahnya, meski hanya lewat tulisan.
Ia menemukan banyak hal. Ayahnya bukan orang jahat sepenuhnya. Ia korban keadaan. Terjebak lingkaran setan yang tak bisa ia putuskan. Tapi di dalam hatinya, selalu ada cinta untuk Aira.
---
Keesokan harinya, Aira pergi ke makam ayahnya. Sendiri. Ia duduk di pusara, membawa bunga dan doa.
"Ayah, Aira baca semua surat Ayah. Aira tahu Ayah sayang Aira. Maafkan Aira yang tak sempat kenal Ayah lebih lama. Tapi Aira bersyukur, Allah pertemukan kita di akhir hayat Ayah. Itu hadiah terbesar buat Aira."
Ia meletakkan bunga di pusara.
"Ayah, tenang di sana. Doakan Aira, doakan keluarga Aira. Aira sayang Ayah. Sampai jumpa di surga nanti."
Aira pulang dengan hati lebih ringan. Beban yang selama ini tak ia sadari, akhirnya lepas. Pengampunan sejati telah ia berikan.
---
Di rumah, Pelangi menyambutnya dengan lari kecil.
"Mama! Mama!"
Aira menggendongnya. Pelangi mencium pipinya.
"Mama, nangis?" tanyanya polos, melihat mata Aira yang sedikit merah.
Aira tersenyum. "Mama nggak nangis, Sayang. Mama cuma... kena debu."
Pelangi mengangguk, percaya.
Arka berlari dari kamar. "Mama, Arka dapat nilai bagus! Seratus!"
Aira mengelus rambutnya. "Wah, hebat! Mama bangga."
Raka keluar dari kamar mandi, baru ganti baju. "Aira, kau ke makam?"
Aira mengangguk. "Iya. Aku bawa bunga."
Raka mendekat. "Baiklah. Ayahmu pasti senang."
Ibu Rosmini keluar dari dapur. "Neng, makan siang udah siap. Ayo makan bareng."
Mereka duduk di meja makan. Keluarga kecil itu utuh. Hangat.
Aira memandangi mereka satu per satu. Raka, suami yang selalu setia. Arka, anak yang penuh kasih. Pelangi, pelangi kecilnya. Ibu Rosmini, mertua yang jadi ibu kedua.
Dan di pusara, ayahnya beristirahat tenang.
Hidup ini, pikir Aira, seperti roda. Kadang di atas, kadang di bawah. Tapi yang penting, kita punya orang-orang yang mencintai kita di setiap fase.
Ia tersenyum. Menyendok nasi untuk Pelangi.
"Makan yang banyak, Sayang. Biar besar."
Pelangi membuka mulut lebar. "Aaa..."
Semua tertawa.
Keluarga itu terus berputar. Dengan cinta sebagai porosnya.
Dan kenangan tentang Sumadi, akan selalu hidup di hati mereka. Sebagai pengingat bahwa cinta sejati tak pernah mati. Bahkan setelah kematian.
---
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu