Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Catatan Berdarah(fix)
Dinding kayu penginapan itu tipis, membiarkan suara hiruk-pikuk kota sayup-sayup terdengar dari luar.
Namun bagi Fang Yuan, ruangan kecil yang pengap ini adalah benteng pertahanannya.
Ia duduk bersila di atas tempat tidur keras, mencoba mengabaikan bau apek kasur dan memfokuskan seluruh kesadarannya ke dalam tubuh.
"Dunia ini tidak akan memberiku waktu untuk bernapas," bisiknya pada kegelapan. "Masalah tidak akan datang mencariku; aku sendiri yang merupakan magnet bagi masalah."
Ia mulai menarik Qi dari udara. Prosesnya tetap terasa seperti menarik benang kawat berduri melalui pembuluh darahnya.
Perih dan panas. Namun, kali ini ada yang berbeda.
Di dalam Dantiannya—pusat energi di perut bawah—ia melihat dua pusaran energi yang saling mengejar. Satu berwarna putih bersih, satu lagi hitam pekat.
Yin dan Yang.
"Keseimbangan yang rapuh," gumam Fang Yuan. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.
Ia menyadari bahwa untuk naik ke ranah berikutnya, ia tidak hanya butuh jumlah Qi yang banyak, tapi juga kualitas energi yang murni.
Setiap kali ia mencoba memadatkan kedua energi ini, rasa sakit yang luar biasa menghantam sarafnya, memaksanya untuk berhenti sebelum Dantiannya retak.
Fang Yuan membuka matanya yang merah. Tubuhnya gemetar hebat, sisa-sisa energi liar masih berdenyut di ujung jarinya.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Lambat. Terlalu lambat." geramnya. Bakatnya yang rendah adalah rantai yang mengikat kakinya.
Untuk mengalihkan rasa frustrasinya, ia kembali mengambil buku "Tinju Penghancur Batu".
Ia membolak-balik halaman yang kumal itu dengan lebih teliti di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip.
Saat itulah, ia merasakan sesuatu yang mengganjal di sampul belakang yang tebal.
Dengan kuku jarinya, ia merobek lapisan kertas tambahan yang tersembunyi. Sebuah carik kertas tipis jatuh ke pangkuannya.
Tulisan di sana berantakan, seolah ditulis dengan darah yang sudah mengering dan tangan yang gemetar hebat.
"Jalan kultivasi telah merenggut semuanya dariku. Keluargaku dibantai, teman seperjuanganku mengkhianati ... Jika kau membaca ini, tolong, balaskan dendamku pada Bai Lie. Manusia bermuka dua itu tidak pantas melihat matahari esok."
Fang Yuan mendengus dingin. "Balas dendam? Kau meminta bantuan pada orang yang salah, kawan. Aku punya daftar dendamku sendiri yang harus diselesaikan."
Namun, kalimat berikutnya membuat mata Fang Yuan melebar.
"Dia mengkhianatiku demi Mutiara Petir yang legendaris. Aku berhasil melarikan diri dan menyembunyikannya di Gunung Awan, tepat di bawah akar pohon raksasa yang tersambar petir abadi. Jangan biarkan Bai Lie mendapatkannya."
"Mutiara Petir ..." Fang Yuan menjilat bibirnya yang kering. Senyum anehnya kembali muncul. "Sesuatu yang membuat seorang teman rela membantai temannya sendiri pastilah bukan barang sampah. Jika Bai Lie menginginkannya, maka aku akan memastikan dia hanya akan mendapatkan tanah kuburan saat sampai di sana."
Rencana mulai terbentuk di otaknya, namun ia tahu ia belum cukup kuat. Ia kembali memusatkan perhatian pada teknik tinjunya.
Ia mulai memahami bahwa "Penghancur Batu" bukan hanya tentang kekuatan otot, melainkan tentang frekuensi getaran energi.
Ia berdiri di tengah ruangan, melakukan gerakan pukulan perlahan.
Fokus: Menarik Qi ke sendi bahu.
Transmisi: Mengalirkan energi melalui meridian lengan dengan kecepatan tinggi.
Vibrasi: Saat tinju hampir mengenai target fiktif, ia menggetarkan Qi-nya—seperti riak air yang menabrak dinding batu.
"Jika aku bisa menyempurnakan getaran ini, aku tidak perlu menghancurkan kulit lawan. Aku bisa menghancurkan organ dalam mereka secara langsung." pikir Fang Yuan dengan kejam.
Sepanjang malam itu, di tengah kesunyian penginapan, suara deru angin dari ayunan tangan Fang Yuan terus terdengar.
Ia tidak akan berhenti sebelum ia merasa tinjunya cukup tajam untuk merobek langit.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.