NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Predator Dingin

Obsesi Sang Predator Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Mafia / Enemy to Lovers / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: your grace

Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: JULIAN VANE

Di sebuah penthouse megah yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip distrik finansial yang dingin, suasana hening menyelimuti ruangan kerja yang hanya diterangi oleh temaram lampu meja dan barisan botol minuman keras yang berkilau. Di sana, duduk seorang pria dengan setelan jas mahal yang sudah berantakan—dasi sutranya tersampir di sandaran kursi, sementara kancing kemejanya terbuka tiga teratas.

Pria itu adalah Julian Vane, pewaris utama klan perdagangan senjata dari wilayah Barat yang dikenal sebagai pesaing dingin namun mematikan bagi kekaisaran Volkov. Tangannya yang ramping memegang cerutu Kuba yang asapnya meliuk-liuk di udara, menciptakan kabut tipis yang menyeramkan. Julian menyesap cerutu itu dalam-dalam, membiarkan nikotin dan tembakau membakar tenggorokannya, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada transaksi jutaan dolar yang baru saja ia selesaikan.

Pikirannya tertahan pada satu citra yang terus berputar seperti piringan hitam yang rusak: Alana.

"Sangat murni... terlalu murni untuk tangan berdarah seperti Dante," gumam Julian, suaranya parau oleh alkohol dan obsesi.

Ia menutup matanya perlahan, dan seketika ia bisa melihat kembali detail yang ia tangkap di pesta tadi. Ia melihat bagaimana gaun merah darah itu memeluk lekuk tubuh Alana yang ramping, bagaimana kulit pucat gadis itu tampak bersinar di bawah lampu kristal, dan yang paling membuatnya bergairah—ketakutan yang tersirat di balik mata bulat yang indah itu.

Julian teringat saat ia berpapasan dengan mereka di dekat bar. Ia sempat menangkap aroma mawar segar dari tubuh Alana sebelum aroma maskulin Dante yang mendominasi menghalau segalanya. Ia melihat bagaimana Dante mencengkeram pinggang gadis itu seolah-olah dunia akan kiamat jika ia melepaskannya satu detik saja.

"Dante Volkov... kau pikir kau bisa menyimpan permata seindah itu hanya untuk dirimu sendiri?" Julian menyeringai gelap, memperlihatkan barisan giginya yang rapi namun memberikan kesan predator yang berbeda dari Dante. Jika Dante adalah harimau yang menerkam dengan kekuatan kasar, maka Julian adalah ular yang menunggu saat yang tepat untuk menyuntikkan bisa.

Julian menuangkan wiski ke dalam gelas kristal, denting es batu terdengar nyaring di ruangan sunyi itu. Ia membayangkan betapa kontrasnya kepolosan Alana dengan kekejaman dunia mereka. Ia membayangkan jika tangan Alana yang mungil itu tidak menyentuh tato-tato kasar Dante, melainkan menyentuh telapak tangannya. Ia ingin melihat bagaimana mata ketakutan itu berubah menjadi mata yang memohon padanya.

"Pria kasar seperti Dante hanya tahu cara merusak," desis Julian. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. "Dia akan menghancurkan kepolosanmu, Mawar Kecil. Dia akan mengotori jiwamu sampai tidak ada yang tersisa."

Julian mengambil sebuah foto dari atas meja. Itu bukan foto biasa; itu adalah foto hasil tangkapan kamera jarak jauh saat Alana sedang berdiri di balkon mansion Volkov beberapa hari yang lalu. Di sana Alana tampak termenung, terlihat rapuh dan cantik secara bersamaan.

Ia mengusap permukaan foto itu, tepat di wajah Alana, dengan ibu jarinya yang bergetar karena hasrat yang tertahan. Baginya, Alana bukan sekadar wanita; Alana adalah trofi tertinggi yang bisa ia rebut dari Dante Volkov. Merebut wilayah Dante adalah bisnis, tapi merebut wanita yang dicintai sang Predator adalah sebuah kepuasan yang tak ternilai harganya.

"Tunggu aku, Alana," bisik Julian ke arah kegelapan kota. "Dante boleh memiliki tubuhmu sekarang, tapi aku akan menjadi orang yang meruntuhkan benteng yang ia bangun di sekelilingmu. Aku akan menunjukkan padamu bahwa ada kegelapan yang jauh lebih indah daripada apa yang ditawarkan oleh suamimu yang bengis itu."

Asap cerutu memenuhi ruangan, dan di tengah kegelapan itu, sebuah rencana mulai tersusun. Julian tahu titik lemah Dante sekarang. Dante telah melakukan kesalahan terbesar bagi seorang penguasa mafia: dia telah jatuh cinta, dan dia telah menunjukkan pada dunia siapa kelemahannya.

Julian tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan ambisi gila. Malam ini, bukan hanya Dante yang memikirkan Alana. Di seberang kota, seorang musuh baru telah lahir, dan dia tidak akan berhenti sebelum mawar merah milik Volkov itu jatuh ke dalam genggamannya, meski harus membakar seluruh kota untuk mendapatkannya.

***

Semburat cahaya matahari pagi yang dingin mengintip dari celah gorden, namun suasana di dalam kamar utama masih terasa hangat dan sarat akan aroma percintaan semalam. Dante Volkov sudah terjaga sepenuhnya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang yang megah, membiarkan punggungnya yang lebar dan dipenuhi tato bersentuhan dengan kain sutra. Matanya yang sebiru es menatap tajam ke samping, pada sosok mungil yang meringkuk seperti bayi di bawah selimut tebal.

Alana tampak sangat rapuh sekaligus mempesona dalam tidurnya. Dante mendengus kecil, sebuah suara yang jarang keluar dari tenggorokannya. Ia merenung sejenak, bertanya-tanya pada dirinya sendiri bagaimana bisa gadis sekecil ini—yang awalnya hanya dianggap sebagai alat penebus hutang—kini benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat dan tergila-gila hanya dengan satu tarikan napas.

Dante menjangkau cerutu di atas meja nakas, menyalakannya dengan pemantik emas yang berdenting elegan. Ia menghisap nikotin itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asap abu-abu ke udara kamar. Ia tidak peduli bahwa ini masih terlalu pagi; baginya, setiap detik adalah miliknya untuk dikendalikan.

Namun, kepulan asap itu ternyata mengusik ketenangan tidur Alana. Gadis itu mengerutkan kening, hidung mungilnya kembang kempis sebelum akhirnya ia terbatuk kecil. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampakkan binar mata yang masih kabur oleh kantuk. Secara instingtif, Alana langsung merapatkan selimut ke dadanya, menyadari sepenuhnya bahwa di balik kain tebal itu, kulitnya bersentuhan langsung dengan udara †åñþå sehelai ßêñåñg pun.

Alana melirik Dante yang masih asyik dengan cerutunya. Dadanya terasa sedikit sesak karena asap, namun ia memilih bungkam. Ia terlalu lelah untuk memicu amarah pria itu di pagi buta. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati agar selimut tetap menutupi †µßµhñɏå, Alana mulai bergeser ke pinggir ranjang, berniat untuk segera membersihkan diri.

"Mau ke mana kau?" suara bariton Dante menggema, dalam dan berwibawa, membuat Alana tersentak di tempatnya.

Alana menoleh dengan ragu, rambut panjangnya yang berantakan menutupi bahunya yang putih. "M-mandi, Tuan."

Dante mendengus kasar, ia meletakkan cerutu yang baru setengah terhisap itu ke dalam asbak kristal dengan gerakan yang sengaja dipertegas. "Ck. Aku suamimu, bukan tuanmu. Bukankah sudah berkali-kali kubilang untuk memanggilku Dante? Apa untuk hal semudah itu saja kau tidak mengerti, huh?"

Alana menggigit bibir bawahnya. Ia tidak ingin berdebat pagi ini, apalagi saat tenaganya masih terkuras habis akibat "hµkµmåñ" semalam. "Aku mau mandi, Dante. Tubuhku... lengket," jawabnya lirih, wajahnya memerah saat teringat jejak-jejak gåïråh Dante yang masih tertinggal di kµlï†ñɏå.

Dante bangkit dari ranjang tanpa ragu. Ia berdiri tegak tanpa mengenakan apa pun, menampilkan tubuhnya yang menjulang tinggi—hampir 195 cm otot murni yang dipahat dengan sempurna. Cahaya pagi menonjolkan setiap guratan otot perutnya dan bagian kêjåñ†åñåññɏå yang besar, panjang, dan ßêrµrå† yang masih tampak perkasa meskipun baru saja digunakan semalam.

Alana langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, memejamkan mata rapat-rapat. Meskipun frekuensi hubungan mereka meningkat drastis dalam beberapa minggu terakhir, ia tetap merasa terintimidasi. Perbedaan ukuran tubuh mereka sangat mencolok; Alana yang hanya 160 cm merasa seperti kancil yang terjebak di bawah cengkeraman beruang raksasa.

Dante terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh kemenangan melihat reaksi malu-malu istrinya. Ia melangkah mendekat, membuat lantai marmer itu seolah bergetar di bawah kakinya yang berat.

"Kenapa menutup mata? Kau sudah melihat semuanya semalam, bahkan merasakannya di Ðålåm dirimu," gðÐå Dante dengan nada serak yang berbahaya.

Sebelum Alana sempat memprotes, tangan kekar Dante sudah menyusup ke bawah selimut dan tubuhnya. Dengan satu gerakan bridal style yang sangat mudah, Dante mengangkat tubuh mungil Alana ke dalam gendongannya.

"Tidak! Dante, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" Alana menggeleng panik, tangannya mencoba menutupi †µßµhñɏå sendiri meski itu sia-sia karena selimutnya tertinggal di atas ranjang.

"Mari kita mandi bersama, Mawar Kecil. Aku ingin memastikan setiap inci tubuhmu bersih dari jejak pria lain... oh tunggu, hanya ada jejakku di sini, bukan?" Dante mêñɏêrïñgåï gelap sambil menatap lêhêr Alana yang dipenuhi tanda mêråh buatannya.

Dante tidak memberi celah untuk penolakan. Ia melangkah lebar menuju kamar mandi mewah yang luasnya hampir seukuran kamar apartemen biasa. Sesampainya di sana, ia menurunkan Alana di bawah rain shower yang besar dan langsung menyalakan air hangat.

"Dante, kumohon—" Ucapan Alana terhenti saat air hangat mulai mengguyur mereka berdua.

Dante merapat, mêmðjðkkåñ Alana ke dinding marmer yang basah. Ia mêñgµrµñg tubuh istrinya dengan kedua tangan besarnya, membiarkan air mengalir di antara sela-sela tubuh mereka yang. Tatapan Dante kini berubah, tidak lagi sekadar mêñggðÐå, melainkan kembali dipenuhi oleh rasa låþår yang tak pernah terpuaskan.

"Aku akan membantumu mandi, Alana... tapi aku tidak menjamin kita akan keluar dari ruangan ini dengan cepat," bisik Dante tepat di depan bibir Alana yang gemetar, sebelum ia kembali mêlµmå† ßïßïr itu dengan ¢ïµmåñ yang þåñå§ di bawah guyuran air.

1
Fitria Syafei
remuk deh ntuh badan 🙄KK cantik kereen 😍😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas
Fitria Syafei
hadeh kejam juga yaa si Dante 🙄 KK cantik semangat 😍😍
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😍😍
Mia Camelia
sadis😂😂😂😂
Mia Camelia
sweet banget pasangan inii🥰🥰🥰
lanjut thor👍😄
Fitria Syafei
yang sabar ya Alana 😔 KK cantik kereen 😘😘
Rani Saraswaty
knp gk cara instan dg jebakan2 spt yg laim😄😄😄😄
Rani Saraswaty
🤣🤣🤣🤣🤣 ngakak berjamaah🤣🤣🤣
Rani Saraswaty
gpp mbk, kmu sah dinikahi drpd dicoba dl sblm dipake
Rani Saraswaty
sage grèen kn td?
Mia Camelia
dante lapaaar terus🤣🤣🤣
Fitria Syafei
KK cantik terimakasih 😘😘 kereeeen😍
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
resmi sudah Alana menjadi Nyonya Dante 😊 KK cantik kereen 😍😍
Bedjho
Counternya Dante cuman ada satu istrinya sendiri🤧
+39 🔕
JANGAN ADA PELAKOR YA 🦖
+39 🔕
merinding 🖕😭
Mia Camelia
akhir nya dante dapet jatah🤣🤣🤣🤣
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍😍 terimakasih 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!