Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumber Khayalan
Selama Nina hidup hingga usia tiga puluh dua tahun ini, dia baru menyadari seberapa kuat peran uang dalam memudahkan kehidupan. Karena yang Nina tau selama ini, Uang hanya dia gunakan untuk kebutuhan dasar manusia. Seperti Makan, tempat tinggal, pendidikan dan membeli pakaian atau liburan walau hanya ketika hari raya tiba saja.
Menabung?
Nina hanya membuka rekening, untuk pembayaran sekolah anaknya yang di pondok pesantren. Atau saat Nanik mengirimi uang, dengan dalih hadiah ulang tahun si kembar atau dirinya. Selebihnya tabungannya hanya berisi nominal untuk pemotongan biaya administrasi bank setiap bulannya.
Tapi sekarang, dengan uang segala hal yang diinginkan dipastikan akan terwujud. Walau untuk orang awam seperti mustahil dilakukan.
Saat ini, di depannya ada sosok penghulu sedang berjabat tangan dengan Ammar guna mengucapkan janji suci pernikahan.
Nina pikir, omongan Pria Timur Tengah itu hanya bualan demi merayunya agar mau mengandung sang pewaris. Tapi selang tiga jam dari kalimat tersebut keluar dari mulut Ammar, penghulu datang ke Penthouse untuk menikahkan mereka berdua.
Padahal setau Nina, akad nikah dilakukan pagi hingga siang. Tapi sekarang? Ini waktu mendekati senja.
Yang menjadi saksi dari pihaknya tentu saja Pak Sabar, suami dari Darmi sekaligus sopir dari Ammar. Lalu dari pihak Ammar, ada lelaki blasteran bermata hijau dan berambut cokelat. Entah siapa lelaki itu, yang jelas ini pertama kali Nina melihatnya.
Lalu soal wali, Nina sudah tak memiliki orang tua. Ayah adalah anak laki-laki satu-satunya dari kakeknya. Beliau telah berpulang sejak Nina masih kecil. Dengan kata lain, Nina menjadikan hakim sebagai wali.
Nina jadi ingat, pernikahan pertamanya dulu juga cukup sederhana. Hanya di KUA dan tak ada acara khusus menyambut hari bahagianya itu.
Apa mungkin memang ini sudah menjadi takdirnya? Menikah tanpa ada pesta perayaan seperti orang kebanyakan.
Bukan karena Nina iri. Bahkan sebenernya, Nina tak ada niatan menikah lagi. Karena masih trauma dengan pernikahannya yang pertama.
"Harap segera ajukan persyaratan administrasi ke KUA, ya Pak!" setelah akad selesai dan menandatangani selembar surat pertanda pernikahan telah dilangsungkan. Penghulu bangkit dan mengajak para lelaki itu bersalaman.
"Baik pak, saya akan bantu mengurus. Kebetulan bos saya akan ada perjalan bisnis esok hari." Ujar Damian sambil menyambut jabatan tangan yang terulur padanya.
Lalu kebaya pernikahan?
Tentu itu tidak ada. Bukan karena Ammar tidak mampu, tapi Nina yang menolak mentah-mentah. Jadi saat akad, Nina hanya mengenakan satu set gamis yang dibelikan Damian dari toko gamis milik istri Nando, salah satu saksi nikah yang merupakan kolega Ammar.
***
Jangan bayangkan malam pertama seperti orang yang menikah secara normal. Malam ini, Nina justru disodori satu map berisi perjanjian pernikahan kontrak antara Ammar dan dirinya. Intinya adalah Nina akan mengandung anak Ammar dengan metode inseminasi. Jadi pasangan pengantin baru itu, tak perlu untuk tidur bersama.
Lalu di dalam perjanjian itu, selama masa kontrak hingga Nina melahirkan nanti. Nina akan tinggal di Penthouse dan mendapatkan nominal uang bulanan yang cukup fantastis.
Ada banyak poin, tapi berhubung Nina sudah pusing seharian ini. Dia hanya mendengarkan poin penting yang dikatakan oleh Damian. Nina menandatangi perjanjian tersebut di atas materai.
Dengan kata lain, sekarang ini Nina adalah istri kontrak dari Tuhan Ammar hingga satu tahun kedepan atau sampai dirinya hamil dan melahirkan.
"Aku minta kabar baik, sepulang aku dari Paris." Kata Ammar, dia duduk dengan angkuhnya. Sangat berbeda tingkahnya ketika memberikan sarapan tadi pagi pada Nina.
Damian yang duduk berseberangan dengan Nina, melirik sekilas sang tuannya. "Waktunya terlalu singkat Tuan! Dokter Asha bilang, anda harus melakukan tes ulang untuk membuktikan kualitas sper**."
Besok malam, Ammar harus segera berangkat untuk perjalanan bisnisnya. Dan menurut dokter kenalannya, mereka tidak bisa segampang itu melakukan proses inseminasi. Itu butuh waktu dan tubuh yang sehat tentunya.
"Aku akan melakukannya besok siang dan apa kamu tak lihat. Tubuhku kuat." Ammar mendengus.
"Anda masih minum alkohol dan merokok, tuan!" Damian mengingatkan kejadian ketika mood tuannya berubah drastis.
"Hanya sedikit, Dami! Itu tidak akan mengurangi kesuburan ku." Ammar membantah.
Damian abai akan ucapan tuannya, dia lebih memilih membereskan dokumen yang sudah ditanda tangani pasangan baru itu, dia juga memberikan salinan pada Nina agar perempuan itu menyimpannya. "Ingat Nyonya, kalau anda melanggar atau kabur. Saya tidak segan menyakiti kedua anak anda dan saya akan mencari anda ke dalam lubang semut sekalipun. Tetaplah tenang dan ikuti alur yang hingga masa kontrak ini habis." Setiap kata yang diucapkan Damian, dia tekan agar perempuan bergamis putih itu mengerti.
"Tuan Ammar, dari pada membuang biaya untuk metode pembuahan yang akan menyiksa istri anda. Bagaimana kalau mencoba metode alami? Toh kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri." Damian bangkit dari duduknya. "Nyonya ... Anda pernah menikah sebelumnya, seharus anda tau bagaimana menggoda dan melayani suami anda di ranjang." Pesannya.
"Damian ..." Ammar meninggikan suaranya. "Apa kamu mau aku mutasi ke Afrika?" Ancamnya.
"Nyonya Nina, saya sudah siapkan gaun tidur baru. Silahkan kenakan di depan suami anda" Damian melirik ke arah paperbag berwarna maroon di samping sofa yang diduduki oleh Nina. "Saya akan datang lagi esok." Damian mengabaikan tuannya sendiri. Dia melangkah meninggalkan dua orang itu.
Sunyi hanya terdengar suara pendinginan ruangan dan samar keramaian lalulintas dari kejauhan.
Nina menunduk sambil memainkan jarinya, sedangkan Ammar memainkan ponselnya sambil sesekali melirik istri barunya.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Nina mendongak dan menatap lelaki beralis tebal di seberang sofa yang didudukinya. Tatapan keduanya bertemu.
"Begini Tuan ..." Kata-kata yang tadi ingin diungkapkan, nyatanya justru terasa tertahan. Lidahnya kelu.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menuntut kamu soal urusan ranjang." Ammar mengerti maksud wanita itu. Walau ada sisi dirinya yang menentang ucapannya. Mungkin sisi liar darinya.
Nina bernapas lega, masalah ciuman saja rasanya dia tidak nyaman. Apalagi sampai urusan kasur. Membayangkannya saja, membuat bulu kuduknya merinding.
"Terima kasih, Tuan!" Nina bangkit dari duduknya. "Kalau begitu saya akan istirahat terlebih dahulu, Tuan!" kamar Nina ada di lantai satu Penthouse. Dia melangkahkan kakinya kesana tanpa membawa paperbag yang dimaksud oleh Damian.
Sementara Ammar hanya bisa menatap punggung perempuan yang semenjak sore tadi sudah sah menjadi istrinya. Pikiran liarnya mulai muncul, apalagi rasa bibir manis perempuan asli Indonesia itu. "Bibirnya saja rasanya sudah luar biasa. Bagaimana dengan yang lain?" Monolognya.
Tapi detik berikutnya, Ammar tersadar. Dia menggelengkan kepalanya. Berharap pikiran kotornya segera enyah. Ingat, setelah urusan bisnisnya selesai. Dia bisa menemui Leticia. Jadi Ammar hanya perlu menahannya, dia bisa melampiaskan hasrat pada istri pertamanya. Bukankah Leticia sangat cocok sekali dengannya soal urusan ranjang? Leticia melayaninya dengan sangat baik.
Ammar mendongakkan kepalanya menatap lampu gantung di atasnya. Dia sedang berusaha membayangkan hubungan intim dengan Leticia terakhir kali. Tapi kapan itu? Apa mungkin dua atau tiga bulan lalu?
"Ternyata sudah lama sekali, ya?" Dia baru menyadari. "Mungkin ini yang membuat ku khilaf, kemarin." Ammar meraup wajahnya, tapi ketika jemarinya menyentuh bibirnya sendiri. Kembali bayangan ketika bibir dia dan Nina beradu. Matanya terpejam membayangkan benda kenyal ...
"Maaf Tuan ..."
"Shit ..." Ammar mengumpat, dia kesal karena khayalannya terganggu. Ammar hendak menatap ke arah sumber kekesalannya, karena telah menggangu kegiatan menyenangkannya. Tapi setelahnya, umpatannya justru lebih keras begitu melihat apa yang dikenakan oleh sumber khayalannya.