"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikrar di Balik Jeruji Emas
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan gerimis yang membuat suasana terasa semakin melankolis. Alana berdiri di depan cermin besar di walk-in closet, mengenakan gaun putih sederhana berbahan lace yang jatuh dengan cantik di tubuhnya. Tidak ada tiara, tidak ada kerudung panjang, bahkan tidak ada buket bunga. Hanya sebuah gaun yang melambangkan kemurnian, meskipun Alana merasa dirinya jauh dari kata itu.
Ia terus memikirkan pesan dari "M" tadi malam. Marco. Pria itu adalah parasit yang hampir menghancurkan Elena, dan kini ia mengarahkan taringnya pada Alana. Namun, saat ini, Alana tidak punya pilihan selain melangkah maju. Mundur berarti membiarkan ibunya kembali ke ambang maut.
"Sudah siap?"
Suara Arkan terdengar dari ambang pintu. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas hitam custom-made. Tidak ada raut bahagia di wajahnya, hanya ketegasan yang mutlak. Ia berjalan mendekati Alana dan memberikan sebuah kotak kecil berisi kalung mutiara yang sangat indah.
"Pakai ini. Mutiara melambangkan kesetiaan. Aku ingin kakekku melihat bahwa aku benar-benar menghargaimu," ucap Arkan.
Alana mencoba memasang kalung itu, namun tangannya yang gemetar membuat pengaitnya sulit dipasang. Arkan menghela napas pendek, lalu mengambil alih kalung itu. Ia berdiri di belakang Alana, jemarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Alana, membuat gadis itu merinding.
"Jangan gemetar, Alana. Kamu hanya perlu menandatangani kertas, bukan menuju tiang gantungan," bisik Arkan tepat di telinganya.
"Bagimu ini mungkin hanya kertas, Arkan. Tapi bagiku, ini adalah akhir dari diriku," jawab Alana pelan.
Arkan tidak membalas. Setelah kalung terpasang, ia memutar tubuh Alana agar menghadapnya. "Jadilah istri yang baik di depan umum, dan aku akan menjadi pelindung yang baik untukmu. Itu kesepakatan kita."
Pernikahan itu berlangsung di sebuah kantor catatan sipil yang sudah dikosongkan khusus untuk mereka. Hanya ada seorang petugas, dua orang saksi dari pihak Arkan, dan pengacara keluarga. Tidak ada musik, tidak ada tawa. Suara pulpen yang menggores kertas adalah satu-satunya melodi di ruangan itu.
"Dengan ini, saya nyatakan kalian resmi sebagai suami istri menurut hukum," ucap petugas tersebut datar.
Arkan mengecup kening Alana singkat—sebuah formalitas yang terasa sangat dingin. Alana kini resmi menyandang nama Alana Arkananta. Saat mereka keluar dari gedung, kilatan kamera wartawan tiba-tiba menyambar. Arkan dengan sigap merangkul bahu Alana, menyembunyikan wajah istrinya di balik dadanya yang bidang.
"Arkan! Apakah benar ini adalah pernikahan mendadak untuk menutupi skandal keluarga?"
"Nona Alana, benarkah Anda adalah putri bangsawan yang selama ini dirahasiakan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu menghujani mereka. Arkan tidak menjawab satu pun. Pengawalnya segera membuka jalan menuju mobil. Begitu pintu mobil tertutup, suasana kembali hening.
"Siapa yang membocorkan ini?" tanya Alana dengan napas terengah karena panik.
"Kevin, atau mungkin Marco," jawab Arkan sambil menatap ponselnya. "Mereka ingin menguji seberapa kuat posisimu. Tapi jangan khawatir, tim humasku akan segera merilis pernyataan resmi."
Mobil mereka tidak kembali ke penthouse. Sebaliknya, mobil itu melaju menuju sebuah hotel mewah di pusat kota. "Kita harus menghadiri makan siang kecil dengan beberapa kolega penting. Ini adalah bagian dari 'perayaan' yang diinginkan kakekku," jelas Arkan.
Di restoran hotel yang sangat privat, Alana dipaksa tersenyum dan menyapa orang-orang yang hanya peduli pada kekuasaan suaminya. Di tengah acara, Alana pamit ke toilet untuk sekadar mencuci mukanya yang terasa kaku karena senyum palsu.
Saat ia sedang mengeringkan tangannya, pintu toilet terbuka dan seorang pria masuk—pria yang paling tidak ingin ia temui. Marco.
"Selamat atas status barumu, Nyonya Arkananta," ucap Marco dengan senyum menjijikkan. Ia mengunci pintu toilet dari dalam.
"Marco, keluar! Apa yang kamu lakukan di sini?" seru Alana.
"Hanya ingin memberikan kado pernikahan," Marco mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparnya ke wastafel. "Di dalamnya ada foto-foto Elena saat dia melakukan transaksi ilegal dengan uang perusahaan Arkananta dua bulan lalu. Dan ada juga hasil tes kehamilan yang membuktikan bahwa 'putri bangsawan' pilihan Arkan sebenarnya hanyalah saudara dari seorang kriminal."
Alana membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Foto-foto itu sangat jelas. Elena benar-benar mencuri uang perusahaan demi Marco.
"Apa maumu?" tanya Alana dengan nada rendah.
"Sederhana. Aku butuh dua miliar untuk melunasi utang judiku. Jika tidak, foto-foto ini akan mendarat di meja Kakek Arkananta sore ini juga. Bayangkan apa yang akan dilakukan pria tua itu pada ibumu dan kakakmu yang malang jika dia tahu keluargamu adalah pencuri."
Alana merasa dunianya gelap. Dua miliar. Ia tidak punya uang sebanyak itu. Semua uang yang ia miliki berasal dari Arkan, dan Arkan pasti akan tahu jika ada aliran dana sebesar itu keluar.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Marco. Beri aku waktu," mohon Alana.
"Dua hari, Alana. Hanya dua hari. Jika tidak, tamatlah riwayatmu."
Marco membuka kunci pintu dan keluar dengan perasaan menang. Alana jatuh terduduk di lantai toilet, air matanya tumpah. Ia baru saja menikah beberapa jam yang lalu, dan sekarang ia sudah diperas oleh masa lalu yang bukan miliknya.
Ia keluar dari toilet dengan wajah pucat. Arkan sudah menunggunya di lorong dengan tatapan curiga. "Kenapa lama sekali? Dan kenapa matamu merah?"
Alana menggeleng. "Hanya... sedikit pusing. Mungkin karena kelelahan."
Arkan menyipitkan mata. Ia melihat Marco yang berjalan menjauh di ujung koridor yang lain. Tanpa berkata apa-apa, Arkan menarik tangan Alana menuju mobil. Sepanjang perjalanan pulang, Arkan hanya diam, namun aura di sekelilingnya terasa sangat berbahaya.
Begitu sampai di penthouse, Arkan langsung menyeret Alana ke dalam ruang kerja. Ia menghempaskan amplop cokelat yang tadi dibawa Alana (ternyata Arkan menyadarinya) ke atas meja.
"Kamu pikir aku tidak tahu Marco menemuimu di toilet?" suara Arkan menggelegar. "Buka amplop itu, Alana! Katakan padaku apa yang dia inginkan!"
Alana tidak bisa lagi menahannya. Ia menceritakan semuanya—tentang pencurian Elena dan pemerasan Marco.
Arkan tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. "Dua miliar? Dia pikir aku akan memberikan uang pada tikus seperti dia?"
"Arkan, tolong... jika kakekmu tahu Elena mencuri uang perusahaan, dia akan membunuh kita semua!"
Arkan berjalan mendekati Alana, mencengkeram bahunya dengan kuat. "Dengar, Alana. Kamu adalah istriku sekarang. Masalahmu adalah masalahku. Tapi jangan pernah sekali lagi mencoba menyembunyikan sesuatu dariku atau mencoba bernegosiasi dengan musuh di belakangku!"
Arkan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Dimas, temukan Marco. Bawa dia ke tempat biasa. Pastikan dia tidak membawa salinan foto apa pun. Dan... buat dia mengerti apa konsekuensinya jika mengusik Nyonya Arkananta."
Alana menatap Arkan dengan ngeri. "Apa yang akan kamu lakukan padanya?"
"Memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan," jawab Arkan dingin. Ia mematikan ponselnya, lalu menatap Alana. "Malam ini, kita akan pindah ke rumah baru yang diberikan kakekku sebagai hadiah pernikahan. Kamu tidak akan bisa keluar dari sana tanpa izinku. Kamu aman di sana, tapi kamu juga harus patuh sepenuhnya padaku."
Malam itu, mereka pindah ke sebuah rumah mewah di kawasan elit yang lebih mirip benteng daripada tempat tinggal. Di kamar pengantin mereka yang baru, Arkan duduk di tepi ranjang, memperhatikan Alana yang sedang melepaskan kalung mutiaranya.
"Mulai malam ini, Alana, tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi Elena. Kamu adalah milikku sepenuhnya," Arkan berdiri dan berjalan ke arahnya, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Alana dari belakang. "Pernikahan ini mungkin berawal dari kontrak, tapi aku tidak berniat membiarkanmu pergi dengan mudah."
Arkan mencium leher Alana, sebuah ciuman yang menandai kepemilikannya. Alana hanya bisa memejamkan mata, menyadari bahwa ia baru saja keluar dari satu masalah, namun masuk ke dalam pelukan seorang pria yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada Marco. Ia telah menjadi istri sang Iblis, dan malam pertama mereka di rumah baru ini hanyalah awal dari pengabdian panjangnya dalam jeruji emas ini.