NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 - Karina, Antono, Arga

Delapan tahun lalu, aula utama Akademi Kepolisian berdiri megah dengan deretan kursi yang tersusun rapi. Udara di dalam ruangan itu terasa hangat oleh sorot lampu dan tepuk tangan yang tidak kunjung reda. Di tengah keramaian itu, satu nama kembali disebut—bukan untuk pertama kali, tapi kali ini dengan nada yang berbeda.

Nama yang akan diingat.

Karina Intan.

Ia berdiri dari kursinya, langkahnya mantap meski telapak tangannya sedikit basah oleh keringat. Seragam akademi melekat sempurna di tubuhnya, seolah hari itu memang ditakdirkan untuknya. Saat piagam prestasi tertinggi diserahkan, kilatan kamera memenuhi pandangannya. Senyum Karina mengembang—senyum yang lahir dari keyakinan bahwa ia telah memilih jalan yang benar.

Namun di antara para perwira tinggi yang bertepuk tangan, ada satu sosok yang hanya mengangguk pelan.

Antono Wijaya.

Tatapan pria itu tidak penuh kebanggaan, juga tidak meremehkan. Tatapannya seperti seseorang yang sedang melihat awal dari sebuah perjalanan panjang—dan berbahaya.

Setelah acara selesai, Karina berdiri sendiri di lorong aula. Piagam itu masih ia genggam erat, seolah takut prestasi itu akan menguap begitu saja. Langkah kaki berat terdengar mendekat.

“Kamu tahu apa kesalahan paling umum orang pintar?” tanya suara itu.

Karina menoleh. “Terlalu percaya diri, Pak?”

Antono menggeleng pelan. “Terlalu ingin cepat sampai.”

“Nilai setinggi itu,” ujar Antono tanpa basa-basi, “bisa jadi anugerah. Bisa juga kutukan.”

Karina menoleh, sedikit terkejut. “Kenapa, Pak?”

“Karena orang yang terlalu yakin pada kemampuannya,” lanjut Antono, “sering lupa bahwa pelaku kejahatan juga berpikir.”

Kalimat itu membekas.

...----------------...

Tak lama setelah resmi bergabung sebagai detektif muda, Karina ditempatkan langsung di bawah bimbingan Antono Wijaya. Tidak ada masa adaptasi panjang. Kasus demi kasus langsung menghantamnya.

Kasus besar pertama datang di tahun awal kariernya—sebuah pembunuhan berantai yang membuat publik panik. Karina, dengan kecermatan dan naluri tajamnya, berhasil menemukan keterkaitan waktu dan lokasi yang terlewat oleh tim lain. Kasus itu terselesaikan. Nama Karina naik. Media mulai menulisnya sebagai “detektif muda berbakat”.

Namun Antono hanya berkata satu hal saat semuanya usai.

“Jangan biasakan dirimu menang karena pujian,” katanya. “Biasakan menang karena kamu memahami lawanmu.”

...****************...

Malam ini, delapan tahun kemudian, Karina berdiri di rumahnya dalam keheningan yang menyesakkan.

Lampu redup. Hujan tipis mengetuk jendela. Di tangannya, sebuah foto lama—dirinya dalam seragam akademi, tersenyum penuh keyakinan, mata yang belum mengenal terlalu banyak kematian.

Ia menatap foto itu lama.

“Kalau aku gagal kali ini…” gumamnya lirih, kalimat itu menggantung tanpa akhir.

“Apa aku masih orang yang sama?” gumamnya pelan.

Pikirannya kembali ke bangunan tua, ke tubuh yang tergantung, ke bau darah yang masih seolah menempel di inderanya. Kasus demi kasus muncul tanpa jeda. Tidak ada pesan. Tidak ada kesalahan. Tidak ada jejak.

Kasus demi kasus muncul beruntun. Keluarga dibantai. Tubuh digantung. Semua terjadi cepat—terlalu cepat.

Karina duduk di meja kerjanya. Berkas-berkas terbuka. Catatan ditumpuk. Foto TKP ditempel sembarangan. Ia mencari celah, apa pun—kesalahan kecil, ketidakkonsistenan, sesuatu yang manusiawi.

Namun pelaku ini terasa… berbeda.

Malam berganti pagi tanpa ia sadari. Kepalanya tertunduk di meja. Saat terbangun, cahaya matahari menerobos jendela.

Jam menunjukkan pukul tujuh pagi.

“Tidak…” napasnya tercekat.

Karina bangkit dengan panik, meraih jaketnya, dan bergegas keluar rumah.

 

Ruang rapat pagi itu terasa berat, seolah udara pun enggan bergerak.

Semua sudah ada di sana. Wajah-wajah letih. Mata yang merah. Tidak ada suara selain desahan napas yang tertahan. Antono duduk di ujung meja, tenang seperti biasa, namun kerutan di dahinya lebih dalam dari biasanya.

Karina masuk dan langsung merasakan kejanggalan itu.

“Ada apa?” tanyanya.

Arga berdiri, menyalakan layar. Berita terpampang besar.

PEMBUNUHAN KEMBALI TERJADI — KORBAN DITEMUKAN DI HUTAN PINGGIRAN KOTA

Karina terdiam. Dadanya terasa kosong.

"....l-lagi?"

“Berapa lama?” suaranya bergetar.

“Kurang dari dua belas jam setelah TKP sebelumnya disegel,” jawab Arga.

Frustrasi meledak pelan di ruangan itu. Beberapa anggota tim memukul meja. Yang lain hanya menunduk.

“Ini semakin gila,” gumam salah satu anggota tim.

“Kita seperti berjalan di tempat,” sahut yang lain.

Frustrasi menggantung di udara, menekan dada semua orang.

“Kita selalu terlambat,” seseorang berbisik.

Antono akhirnya berdiri.

“Kita tidak terlambat,” katanya tenang. “Kita sedang diuji.”

Semua mata tertuju padanya.

“Pelaku ini tidak cepat,” lanjut Antono. “Dia sabar. Dan kesabaran seperti itu bukan muncul karena kebetulan.”

Karina menatapnya. “Maksud Bapak?”

Antono tidak langsung menjawab. “Dia memilih waktu. Dia memilih tempat. Dan dia memilih bagaimana kita akan bereaksi.”

...----------------...

Hutan di pinggiran kota itu tidak gelap, namun terasa jauh lebih sunyi daripada seharusnya. Cahaya pagi menembus sela-sela pepohonan tinggi, jatuh membentuk garis-garis pucat di atas tanah lembap. Namun tidak ada kicau burung, tidak ada suara serangga. Seolah alam sendiri memilih diam.

Karina melangkah melewati garis polisi dengan hati-hati. Sepatu botnya menekan dedaunan basah yang langsung mengeluarkan bunyi lirih—bunyi kecil yang terasa terlalu keras di tengah keheningan.

“Tidak seharusnya sesunyi ini,” gumamnya.

Arga mengangguk pelan. “Biasanya masih ada suara. Entah burung, entah apa. Tapi ini… kosong.”

Antono tidak menjawab. Ia berjalan sedikit lebih lambat dari yang lain, matanya tidak pernah berhenti bergerak. Ia tidak langsung melihat korban. Pandangannya justru menyapu pohon-pohon di sekeliling, jarak antar batang, arah tanah yang sedikit miring, dan jalur alami yang terbentuk dari langkah kaki manusia selama bertahun-tahun.

Korban tergeletak di tengah area yang relatif terbuka. Tubuhnya dalam kondisi mengenaskan—terluka parah, posisi tidak wajar, seperti ditinggalkan dengan sengaja untuk ditemukan. Darah telah mengering di sebagian tanah, membentuk warna cokelat kehitaman yang kontras dengan hijau daun di sekitarnya.

Karina berhenti beberapa langkah dari tubuh itu.

Dadanya terasa sesak.

“Dia bahkan tidak mencoba menyembunyikan korban,” ucap Karina pelan. “Seolah ingin kita menemukannya.”

“Bukan ingin,” sahut Antono tenang. “Dia memastikan.”

Arga menoleh. “Memastikan apa?”

“Memastikan kita datang ke sini,” jawab Antono. “Dan berdiri tepat di titik ini.”

Karina menoleh cepat ke arahnya. “Maksud Bapak?”

Antono mendekat beberapa langkah, berhenti di sisi korban tanpa menyentuh apa pun. Ia berlutut perlahan, jaraknya cukup aman, lalu menunjuk tanah di sekitar tubuh.

“Lihat area ini,” katanya. “Tidak ada bekas seret. Tidak ada tanda tubuh dipindahkan dengan tergesa. Artinya korban kemungkinan besar sudah tak bernyawa saat diletakkan di sini.”

“Pelaku kuat?” tanya Arga.

“Atau pelaku sabar,” jawab Antono singkat.

Tim forensik bergerak di belakang mereka, bekerja dalam diam. Kamera berbunyi sesekali, namun bahkan bunyi rana terdengar seperti gangguan di tempat itu.

Karina menatap luka-luka pada tubuh korban, matanya berusaha tetap fokus meski perutnya terasa mual. “Kenapa di hutan?” tanyanya. “Kasus sebelumnya di bangunan tua. Sebelumnya lagi di rumah. Sekarang di sini.”

Antono berdiri, menepuk lututnya pelan. “Karena hutan ini bukan tempat persembunyian.”

Karina mengerutkan dahi. “Lalu apa?”

“Panggung yang lebih besar,” jawab Antono. “Di kota, semuanya terukur. Kamera, saksi, rutinitas. Di hutan, manusia merasa sendirian—dan rasa aman itu palsu.”

Arga menyilangkan tangan. “Jadi dia ingin menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman.”

Antono mengangguk tipis.

Karina melangkah mengitari lokasi, memperhatikan radius sekeliling korban. “Tapi tetap saja,” katanya, “tidak ada jejak. Tidak ada bekas sepatu. Tidak ada bekas kendaraan.”

“Karena dia tidak datang seperti orang yang sedang melakukan kejahatan,” jawab Antono. “Dia datang seperti seseorang yang sudah mengenal tempat ini.”

Kalimat itu membuat Karina berhenti melangkah.

“Mengenal… bagaimana?”

Antono menoleh ke arah jalan setapak kecil yang hampir tertutup semak. “Hutan ini dekat pemukiman lama. Dulu sering dipakai warga untuk lewat. Pelaku tahu jam-jam sepi. Tahu kapan orang berhenti melintas.”

“Jadi ini bukan lokasi acak,” gumam Karina.

“Tidak ada yang acak,” sahut Antono. “Hanya terlihat begitu bagi orang yang datang terlambat.”

Kata terlambat menghantam Karina lebih keras dari yang ia akui. Ia mengepalkan tangannya, mencoba menahan rasa bersalah yang merambat.

Arga menghela napas panjang. “Kita seperti mengejar bayangan.”

Antono menatap korban sekali lagi. “Bayangan selalu punya sumber cahaya,” katanya. “Kita hanya belum tahu dari mana.”

Karina menatap wajah korban. Di benaknya, gambaran tubuh tergantung dari kasus sebelumnya muncul—posisi simetris, ketenangan yang mengerikan. Ia membandingkan keduanya.

“Pak,” katanya akhirnya, “menurut Bapak… apa yang berubah dari kasus sebelumnya ke yang ini?”

Antono terdiam cukup lama. Ia berjalan beberapa langkah menjauh, berdiri di balik batang pohon besar, memandang kembali ke arah tubuh korban seolah melihatnya dari sudut lain.

“Yang berubah bukan metodenya,” katanya pelan. “Tapi jaraknya.”

“Jarak?” ulang Arga.

“Jarak emosional,” jawab Antono. “Kasus pertama membuat kita terkejut. Kasus kedua membuat kita marah. Yang ini…” ia berhenti sejenak, “…yang ini ingin membuat kita lelah.”

Karina menelan ludah. “Dan orang yang lelah—”

“—membuat kesalahan,” sambung Antono tanpa menoleh.

Angin tipis akhirnya berembus, menggerakkan dedaunan di atas mereka. Namun itu tidak mengusir rasa dingin yang menyelinap ke tulang.

Karina memejamkan mata sesaat. Dalam pikirannya, ia membayangkan pelaku berdiri di tempat ini. Tenang. Menunggu. Mengamati mereka sekarang, entah dari mana.

“Apa dia masih dekat?” tanya Karina lirih.

Antono membuka matanya, menatap sekeliling. “Mungkin. Mungkin juga tidak.”

Jawaban itu tidak menenangkan—dan memang tidak dimaksudkan untuk itu.

“Yang jelas,” lanjut Antono, “dia tidak terburu-buru pergi. Orang yang terburu-buru meninggalkan sesuatu. Dan dia tidak.”

Karina mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan perbedaan cara berpikir mereka. Ia ingin berlari, menutup semua kemungkinan. Antono justru berdiri diam, membiarkan gambaran besar perlahan muncul.

“Pak,” kata Karina akhirnya, suaranya lebih tenang dari sebelumnya, “kalau dia sabar… berarti kita harus lebih sabar lagi.”

Antono menoleh ke arahnya. Tatapannya tajam, namun ada kilat pengakuan di sana.

“Bukan hanya sabar,” katanya. “Kita harus lebih keras kepala dari dia.”

Arga menghela napas, lalu mengangguk. “Baik. Kita kumpulkan semuanya. Sekecil apa pun.”

Karina menatap hutan itu sekali lagi sebelum berbalik. Ia tahu—di tempat seperti ini, jawabannya tidak akan berteriak. Jawaban itu bersembunyi dalam keheningan, menunggu orang yang cukup tenang untuk mendengarnya.

Dan saat mereka meninggalkan TKP, satu kesadaran tumbuh jelas di benak Karina:

Pelaku ini tidak bermain cepat.

Ia bermain panjang.

Dan untuk menghentikannya, mereka harus siap berjalan lebih jauh dari yang pernah mereka bayangkan.

...----------------...

Mereka meninggalkan hutan itu tanpa banyak bicara.

Langkah kaki terdengar berat di atas tanah yang mulai mengering, seolah setiap jejak yang mereka tinggalkan adalah pengingat bahwa mereka telah datang terlambat—lagi. Mobil-mobil polisi menyala satu per satu, sirene tidak digunakan. Tidak ada kebutuhan untuk kebisingan. Kota sudah cukup ribut tanpa mereka menambahkannya.

Di dalam mobil, Karina menatap lurus ke depan. Tangannya menggenggam setir sedikit lebih kuat dari biasanya. Bayangan tubuh korban masih tertinggal di kepalanya, bercampur dengan suara Antono yang tenang namun menghantam.

Dia sabar.

Kata itu berulang-ulang seperti dentuman kecil di pelipisnya.

Sesampainya di kantor, mereka tidak langsung menuju ruang rapat. Antono justru berhenti di lorong, menoleh ke arah Karina dan Arga.

“Kita tidak lanjut seperti biasa,” katanya.

Arga mengerutkan kening. “Maksud Bapak?”

“Biasanya,” lanjut Antono, “kita kumpulkan bukti, susun kronologi, rilis imbauan, lalu menunggu pelaku terpancing.”

Karina menoleh perlahan. “Dan sekarang?”

“Sekarang,” Antono menatap mereka satu per satu, “kita berhenti mengejar.”

Kalimat itu menggantung di udara.

“Berhenti?” ulang Arga, jelas tidak nyaman. “Kalau kita berhenti, dia akan—”

“—tidak,” potong Antono. “Dia akan terus berjalan. Dan di situlah kita mengamatinya.”

Mereka akhirnya masuk ke ruang rapat kecil—bukan ruang utama. Pintu ditutup. Tirai ditarik. Tidak semua anggota tim dipanggil. Hanya mereka yang benar-benar dibutuhkan.

Antono berdiri di depan papan tulis kosong. Tidak langsung menulis apa pun.

“Pelaku ini tidak bereaksi terhadap tekanan,” katanya. “Dia bereaksi terhadap rutinitas.”

Karina mengingat jam-jam kematian. Pola waktu. Tempat yang terasa ‘aman’.

“Dia memilih ruang,” ujar Karina pelan. “Dan waktu.”

Antono mengangguk. “Dan kita terlalu sibuk bereaksi di ruang yang dia pilih.”

Arga menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jadi apa yang kita ubah?”

Antono akhirnya menulis satu kata besar di papan:

DIAM

“Tidak ada konferensi pers,” katanya. “Tidak ada bocoran. Tidak ada pengerahan besar-besaran yang bisa dia amati.”

Karina terdiam. “Media akan menyerang.”

“Biarkan,” jawab Antono singkat. “Pelaku ini bukan tipe yang menikmati sorotan. Dia menikmati kontrol.”

Antono lalu menulis kata kedua:

PECAH

“Kita bagi tim,” lanjutnya. “Kecil. Tidak mencolok. Tidak mengikuti pola jam kerja.”

Arga mulai mengerti. “Supaya dia tidak bisa membaca pergerakan kita.”

“Betul,” jawab Antono. “Kita berhenti jadi jam yang bisa dia hafal.”

Karina menarik napas dalam. “Dan aku?”

Antono menatapnya cukup lama sebelum menjawab. “Kamu tetap di garis depan. Tapi bukan sebagai pemburu.”

Karina mengangkat kepala. “Lalu sebagai apa?”

“Sebagai umpan yang tidak bergerak,” jawab Antono tenang.

Ruangan kembali sunyi.

“Aku tidak bilang kamu akan sendirian,” tambah Antono. “Aku bilang kamu akan terlihat sendirian.”

Karina tidak langsung menjawab. Ada ketakutan, tentu saja. Namun lebih besar dari itu—ada tekad yang kembali menyala. Ia teringat foto dirinya di akademi. Keyakinan lama itu.

“Kalau dia sabar,” kata Karina akhirnya, “aku juga bisa.”

Antono mengangguk kecil. “Itu sebabnya aku masih di sini.”

Arga menghela napas panjang. “Kapan kita mulai?”

Antono menutup spidolnya. “Sekarang.”

Ia melirik jam dinding. Detiknya berdetak pelan.

“Karena orang yang sabar,” lanjutnya, “selalu mengira dunia akan menunggu dia.”

Antono menatap mereka berdua. “Dan untuk pertama kalinya… kita yang akan menunggu.”

Di luar ruangan rapat kecil itu, kantor polisi kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kesunyian yang disengaja, strategi telah bergeser.

Bukan lagi tentang kecepatan.

Bukan lagi tentang tekanan.

Melainkan tentang siapa yang mampu duduk paling lama—tanpa bergerak, tanpa panik, tanpa membuat kesalahan.

Dan entah di mana, seseorang yang sangat sabar mungkin belum menyadari satu hal kecil:

Ritme yang ia ciptakan…

baru saja berubah.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!