NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DELAPAN: PERJANJIAN

Orion Maximus Valentinus masih berada di posisi yang sangat intim, menindih tubuh mungil Seraphina yang bergetar hebat. Miliknya yang besar dan perkasa masih tertanam dalam di dalam diri gadis itu, menciptakan sebuah gambaran penaklukan yang brutal sekaligus indah. Namun, kehadiran Giselle Valentinus di samping ranjang benar-benar merusak suasana yang telah Orion bangun dengan penuh gairah. Ibunya berdiri di sana dengan mata yang berbinar-binar, seolah sedang menyaksikan sebuah adegan dari film romantis kelas dunia, bukannya sebuah adegan yang seharusnya memicu kemarahan.

Pemandangan itu sungguh di luar logika. Seorang ibu yang melihat putranya sedang merampas kesucian seorang gadis perawan, namun justru menatapnya dengan rasa haus akan kasih sayang yang aneh.

"MAMA! APA YANG MAMA LAKUKAN DI SINI?! KELUAR SEKARANG JUGA!" raung Orion dengan suara yang menggelegar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas itu.

Amarahnya sudah mencapai puncak. Ia mencoba bangkit untuk mengusir ibunya, namun Giselle dengan gerakan yang sangat santai dan tidak terduga, justru menekan bahu Orion kembali ke bawah. Tenaganya tidak seberapa, namun otoritas seorang ibu membuat Orion tertegun sejenak.

"Hus! Jangan berteriak pada Mama, Orion! Kau ini tidak sopan sekali," tegur Giselle dengan nada ceria yang sangat kontras dengan situasi tersebut. Ia kemudian menundukkan wajahnya yang tetap cantik tanpa kerutan sedikit pun, mendekat ke arah Seraphina yang masih terisak. "Sayangku, jangan takut. Mama ada di sini sekarang. Mama akan menjadi pelindungmu. Mama tidak akan membiarkan anak serigala yang nakal dan tidak tahu aturan ini menyakitimu lagi dengan cara yang sangat kasar!"

Seraphina yang masih terengah-engah, dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya yang sembab, menatap Giselle dengan tatapan penuh harapan yang tersiksa. Ia merasa sangat kecil, sangat kotor, dan sangat hancur. Namun, wanita di depannya ini seolah tidak melihat semua itu sebagai sesuatu yang memuakkan.

"Ta-tapi... hiks... dia..." Seraphina mencoba bicara, namun suaranya tercekat oleh rasa perih yang masih berdenyut di pusat tubuhnya. Ia melirik ke bawah, di mana tubuhnya masih menyatu dengan Orion, sebuah pemandangan yang membuatnya ingin menghilang dari muka bumi karena rasa malu yang teramat sangat.

Giselle mengikuti arah pandang Seraphina. Ia menatap miliknya Orion yang masih tertanam dalam di diri Seraphina tanpa ada ekspresi jijik atau terkejut sedikit pun. Baginya, itu hanyalah sebuah aktivitas biologis yang wajar bagi pria-pria Valentinus.

"Oh, itu? Sayang, itu hanya cara Orion mengekspresikan betapa dia sangat menginginkanmu," ucap Giselle santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Dia memang selalu bersemangat jika menemukan sesuatu yang berharga. Tapi Mama tahu kau merasa tidak nyaman, kan? Tenang saja, nanti Mama akan belikan kau semua barang indah yang ada di dunia ini sebagai kompensasi. Kamu suka perhiasan? Atau mungkin gaun rancangan desainer Paris? Mama akan berikan semuanya!"

Orion nyaris meledak karena frustrasi. Gairahnya yang tadi membara kini terasa seperti dipadamkan dengan paksa oleh kegilaan ibunya. Otot-otot di seluruh tubuhnya menegang, dan miliknya yang berada di dalam diri Seraphina terasa berdenyut nyeri karena kontraksi otot gadis itu yang sedang ketakutan.

"MAMA! DIA BUKAN MAINAN! BERHENTILAH BERTINGKAH SEPERTI INI!" teriak Orion lagi.

"DIAM, ORION!" kali ini Giselle membalas dengan nada yang lebih tajam, meskipun senyumnya tetap merekah. "Mama sedang bicara dengan putri Mama! Kau ini benar-benar tidak punya tata krama. Kau lihat betapa pucatnya wajah dia? Kau telah memperlakukannya dengan sangat tidak lembut!"

Giselle kembali beralih pada Seraphina, jemarinya yang lentik mengelus rambut hitam Seraphina yang berantakan. "Jangan menangis lagi. Mama sudah memutuskan bahwa kau adalah anak perempuan yang selama ini Mama impikan. Mulai sekarang, kau adalah bagian dari hati Mama. Orion, kenapa itu masih ada di dalam sana? Cepat lepaskan dia! Kau membuatnya merasa kesakitan, dasar anak ceroboh!"

Orion memejamkan matanya rapat-rapat, mengutuk takdirnya yang memiliki ibu dengan kepribadian seajaib ini. Hasratnya yang belum tuntas kini harus ia telan kembali dalam-dalam. Dengan geraman rendah yang sarat akan kekecewaan, Orion mulai menarik tubuhnya menjauh.

"Ah!" Seraphina merintih pelan saat Orion menarik miliknya keluar dari dalam tubuhnya.

Sebuah sensasi hampa dan dingin seketika menggantikan kehangatan yang tadi memenuhi dirinya. Ada suara basah yang sangat intim saat penyatuan itu terlepas, meninggalkan rasa perih yang luar biasa di bibir kewanitaan Seraphina yang kini terluka dan membengkak. Darah segar yang bercampur dengan cairan lain mengalir pelan di paha mulusnya, sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan.

Orion segera memalingkan wajahnya, merasa sangat terhina karena dipergoki dalam kondisi paling lemah oleh ibunya. Ia meraih celananya yang tergeletak di lantai marmer, lalu mengenakannya kembali dengan gerakan kasar yang menunjukkan betapa besar amarah yang masih ia simpan.

Giselle sama sekali tidak mempedulikan kemarahan putranya. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada Seraphina. Ia membantu gadis itu untuk duduk bersandar di kepala ranjang, lalu dengan sangat telaten ia merangkul bahu Seraphina yang masih bergetar hebat.

"Nah, lihatlah dirimu. Kau sangat cantik bahkan saat menangis sekalipun," bisik Giselle dengan suara yang kini terdengar lebih lembut dan keibuan. Ia mengambil sapu tangan sutra dari saku gaunnya dan mulai mengusap air mata Seraphina. "Jangan khawatir soal noda di sprei itu. Itu adalah tanda bahwa kau telah memberikan sesuatu yang paling berharga kepada seorang Valentinus. Mama akan memastikan kau mendapatkan balasan yang setimpal."

Seraphina hanya bisa terdiam, tubuhnya dibungkus oleh rasa malu yang tak terlukiskan. Ia merasa seperti sebuah objek yang sedang diperebutkan oleh dua predator dengan cara yang berbeda.

"Orion, ambilkan selimut paling lembut untuk putriku sekarang!" perintah Giselle tanpa menoleh.

Orion berdiri dengan rahang yang mengeras. "Mama, dia bukan putrimu. Dia adalah tawanan yang aku bawa dari pesta!"

"DIAM! Jangan membuat Mama marah, Orion! Kau tahu apa yang akan terjadi jika Papa tahu kau bersikap kasar pada tamu istimewa Mama ini?" ancam Giselle dengan mata biru yang berkilat menantang.

Mendengar nama 'Papa', Orion terpaksa harus menelan harga dirinya. Ayahnya, sang kepala dinasti Valentinus, adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan kegilaan ibunya, namun di sisi lain, ayahnya juga sangat protektif terhadap keinginan Giselle. Dengan langkah berat, Orion mengambil selimut tebal berbahan kasmir dan melemparkannya ke arah ranjang.

Giselle menangkapnya dengan tangkas dan segera membungkus tubuh Seraphina yang setengah telanjang itu hingga ke leher. "Nah, sekarang kau hangat, kan, Sayang? Jangan takut lagi. Mama di sini."

Seraphina merasakan kehangatan selimut itu, namun hatinya masih terasa sangat dingin. Ia menatap Giselle dengan mata yang sayu. Wanita ini... meskipun terlihat tidak waras, namun di pelukannya, Seraphina merasa memiliki secercah harapan untuk bertahan hidup di mansion yang mengerikan ini.

"Siapa namamu, peri kecil?" tanya Giselle dengan nada yang sangat manis.

"S-Seraphina... Elara..." jawabnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Seraphina? Oh, nama yang terlalu panjang untuk disebut setiap saat. Mama akan memanggilmu Nana! Nama itu terdengar sangat manis dan imut, persis seperti dirimu yang seperti kelinci kecil," Giselle terkikik senang, seolah baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya.

"Nana..." Seraphina mengulangi nama itu dalam hati. Rasanya asing, namun entah kenapa memberikan identitas baru yang jauh dari penderitaannya sebagai Seraphina yang hancur.

"Baiklah, sekarang Orion, pergilah mandi dan bersihkan dirimu. Kau bau keringat dan nafsu yang tidak tuntas," ucap Giselle dengan nada meremehkan pada putranya. "Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan putri baruku. Aku ingin mendengar bagaimana bisa seekor kelinci sepertinya terjebak di tangan serigala kasar sepertimu."

Orion mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin sekali menyeret Seraphina kembali ke bawah kekuasaannya dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai—untuk mengklaim setiap inci tubuh gadis itu hingga Seraphina tidak bisa lagi membedakan antara nikmat dan sakit. Namun, tatapan Giselle yang kini terlihat sangat serius di balik keceriaannya memberi peringatan bahwa permainan malam ini sudah berakhir.

Dengan wajah yang sangat masai dan mata yang memancarkan janji akan balas dendam yang lebih kejam, Orion berbalik dan melangkah menuju kamar mandi. Ia membanting pintu kamar mandi dengan kekuatan yang sanggup menggetarkan dinding kamar, meninggalkan dua wanita itu dalam keheningan yang penuh dengan misteri.

Giselle tersenyum penuh kemenangan. Ia memeluk Seraphina lebih erat, mencium kening gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Sudah, Nana. Sekarang tidak ada yang akan menyakitimu. Kau aman bersama Mama."

Namun di balik pelukan itu, Seraphina tahu, bahwa keamanan yang ditawarkan Giselle hanyalah jenis penjara lain dengan dinding yang dilapisi oleh kain sutra dan permata.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!