NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Mobil hitam itu berhenti perlahan di halaman mension yang tampak sunyi itu.

Lampu taman menyala tamaram, memantulkan bayang pepohonan tinggi yang berdiri kaku seperti penjaga malam.

Begitu pintu mobil terbuka, Gibran melangkah turun dengan raut wajah lelah namun sorot matanya tetap tajam.

Luka-luka di tubuhnya akibat perkelahian dengan badjingan seperti Aldo memang belum sepenuhnya pulih, tetapi beban pikirannya belum berkurang sedikit pun.

Pintu utama mension terbuka sebelum ia sempat melangkah jauh. Rangga, sudah berdiri disana, kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajah pria itu jelas menunjukkan kekhawatiran----bukan karna Gibran pergi terlalu lama, tapi karna ancaman yang terus mengintai.

"Akhirnya kamu pulang juga," suaranya terdengar lega, namun tertahan. "Aku sudah menunggumu cukup lama."

Gibran mengangguk tipis."Maaf, aku harus memastikan semuanya aman."

Rangga melangkah mendekat."Bagaimana kondisi, Nadia?"tanyanya langsung, nada suaranya serius."Aku dengar keadannya cukup parah."

"Dia sudah sadar," jawab Gibran pelan.

"Masih lemah, tapi Dokter bilang kondisinya sudah stabil. Trauma itu yang lebih sulit di sembuhkan."

Rangga menghembuskan napas panjang. "Syukurlah." Ia terdiam sejenak, lalu sorot matanya berubah lebih tajam.

"Gibran, ada satu hal yang harus kamu dengar."

Gibran menoleh, penasaran. "Apa?"

"Aku curiga Arya tidak tinggal diam,"kata Rangga. "Anak buahnya bergerak. Mereka terus mencari keberadaanmu."

Langkah Gibran terhenti. "Kau yakin?"

"Instingku jarang meleset," jawab Rangga tegas. "Menurut orang suruhanku, beberapa orang mencurigakan terlihat mondar-mandir di Kota. Polanya terlalu rapi untuk di sebut kebetulan."

Gibran mengepalkan tangannya perlahan. "Jadi dia ingin benar-benar memastikan aku tidak muncul ke permukaan."

"Karna itu, aku minta satu hal," lanjut Rangga, nadanya lebih rendah namun penuh penekanan. "Jangan terlalu sering keluar rumah. Sekali saja mereka mengenali wajahmu, keselamatanmu bisa terancam."

Gibran terdiam cukup lama. Pandangannya kosong, seolah menimbang resiko di setiap keputusan.

"Akuntidak suka bersembunyi," katanya akhirnya.

"Aku tahu," sahut Rangga cepat. "Tapi ini bukan soal keberanian. Ini soal bertahan hidup. Kalau sesuatu terjadi padamu, semuanya akan sia-sia."

Gibran menatap Rangga, lalu mengangguk perlahan. "Baik, untuk sementara aku akan mengikuti saranmu."

Rangga menepuk bahu Gibran pelan.

"Aku hanya ingin memastikan kamu tetap hidup, sampai waktunya kamu benar-benar siap untuk menghadapi Arya."

Gibran menarik napas dalam-dalam. Di balik ketenangan wajahnya, badai amarah dan tekad sedang berkecamuk.... dan ia tahu, hari perhitungan itu tinggal menunggu waktu.

Rangga melangkah lebih dekat, menurunkan suaranya seolah dinding-dinding mension pun bisa menguping. "Aku sudah menanam beberapa orang di lingkaran dalam perusahaan. Gerakan Arya mulai terlihat."

Gibran menatapnya tajam,"Sejauh apa?"

"Dia mempercepat proses pengambil alihan perusahaan, bahkan kata beberapa karyawan, mereka sempat mendengar, bahwa Arya memaksa nyonya Tina menandatangi pengesahan tersebut secara paksa," jawab Rangga. "Dokumen lama mulai di munculkan kembali. Dia ingin menutup celah sebelum kau kembali."

Sudut bibir Gibran terangkat tipis, senyum dingin yang tak mecapai matanya." Itu berarti dia takut?"

"Atau panik," sahut Rangga. "Dan orang yang panik biasanya ceroboh."

Gibran melangkah menuju jendela besar, menatap keluar, langit sore yang hampir mendekati senja. "Berapa lama lagi sampai dia melakukan langkah ekstrem?"

"Tak lama," jawab Rangga jujur. "Paling tinggal beberapa minggu. Bisa lebih cepat, jika dia mencium keberadaanmu."

Gibran mengehal napas panjang. "Kalau begitu, kita harus membuatnya yakin bahwa aku benar-benar lenyap."

Rangga mengernyit. "Kamu mau memalsukan jejak lagi?"

"Bukan memalsukan," koreksi Gibran pelan. "Memperdalam. Biarkan dia percaya, bahwa Gibran yang dia cari tidak akan pernah kembali."

Rangga terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Berbahaya, tapi masuk akal."

"Aku butuh waktumu sepenuhnya," lanjut Gibran. "Dan aku ingin semua laporan pergerakan Arya masuk langsung ke tanganku."

"Sudah pasti," kata Rangga. "Tapi ada satu hal yang harus kamu janjikan padaku."

Gibran menoleh. "Apa?"

"Jangan bergerak sendirian," ucap Rangga tegas. "Sekali saja kamu bergerak tanpa rencana, semuanya bisa runtuh."

Gibran menatap Rangga lama, lalu mengangguk. "Aku janji."

Rangga menghela napas lega. "Baik. Mulai besok, kamu tidak perlu keluar mension. Aku yang akan mengurus semuanya."

"Dan Nadia...?" tanya Gibran, jujur ia masih sangat mengkhawatirkan keadaan Nadia. Apalagi setelah kejadian semalam.

"Aku akan memastikan dia aman," jawab Rangga mantap. "Dengan atau tanpa sepengetahuan Arya."

Gibran mengepalkan tangan sekali lagi, kali ini bukan karna amarah, melainkan tekad. "Suatu hari nanti. Ranggga.... aku akan mengakhiri semua ini."

Rangga menatapnya balik penuh keyakinan. "Dan hari itu, aku akan berdiri di sisimu."

Rangga menyandarkan tubuhnya ke kursi sofa. Wajahnya kembali serius, "Kalau begitu apa recana kita selanjutnya?"

Gibran menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. "Kita harus mengakhiri pengejaran Arya. Sekali untuk selamanya."

Rangga menghela napas pelan. "Kamu ingin menghilang lebih dalam lagi?"

Rangga mengangguk. "Bukan sekedar menghilang, kan aku sudah bilang. Aku harus mati di mata semua orang."

Rangga terdiam, alisnya berkerut, "Bagaimana maksudmu?"

"Kita atur kematian palsuku. Polisi harus menemukan mayat....dan itu harus di yakini sebagai aku."

"Kamu sudah gila?" Rangga menatapnya tidak percaya.

Gibran menggeleng. "Dengarkan aku dulu. Bukan aku yang sebenarnya mati. Kita siapkan identitas palsu. Mayat tanpa identitas jelas, sudah membusuk, sulit di kenali. Tapi dengan barang-barang pribadiku, dan polisi akan menyimpulkan jika mayat itu adalah benar-benar diriku."

"Aku tahu ini berat.dengan hanya dengan cara ini, Arya akan percaya. Selama aku masih hidup di kepalanya, dia tidak akan berhenti, " lanjut Gibran.

Rangga terdiam lama, sebelum akhirnya tertawa kecil, pahit. "Kau benar-benar nekat."

"Arya lebih nekat," jawab Gibran dingin. "Kalau dia yakin aku sudah mati, dia akan lengah. Dan disaat itulah.... aku akan kembali."

"Kau yakin rencana ini akan berhasil?"tanya Rangga tampak ragu.

" Aku yakin rencana kita akan berhasil."

"Kalau gagal, bagaimana?"

Gibran tersenyum tipis, "Kalau gagal.... memang seharusnya aku mati sejak awal."

Rangga berdecak pelan. "Kau tahu? sejak dulu aku selalu mengikuti rencanamu."

"Dan kali ini?" tanya Gibran.

Rangga menghela napas dan mengangguk mantap. "Kali ini juga. Tapi pastikan satu hal, Bran."

"Apa?"

"Setelah Arya percaya kamu mati.... jangan ragu saat waktunya membalas."

"Aku tidak akan ragu!"

********

Pintu ruang inap itu diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka. Nadia yang sedang menatap jendela menoleh, sedikit terkejut melihat seorang gadis berambut sebahu masuk dengan senyum canggung.

“Permisi…” ucap gadis itu ragu.

“Iya?” Nadia menegakkan tubuhnya.

“Silakan masuk.”

Gadis itu melangkah mendekat, membawa buket bunga kecil di tangannya. “Aku Tita,” katanya sambil tersenyum. “Teman kuliahnya Gibran.”

Nama itu membuat Nadia terdiam sejenak. “Oh… Gibran,” gumamnya, lalu tersenyum sopan. “Aku Nadia.”

Tita mengangguk antusias. “Aku tahu. Gibran sering menyebut namamu.” Ia meletakkan bunga di meja kecil di samping ranjang. “Katanya kamu harus dijenguk.”

Nadia tertawa kecil. “Dia memang suka berlebihan.”

“Ah, tidak juga,” sahut Tita cepat. “Dia jarang peduli pada orang, tapi kalau sudah peduli… biasanya serius.”

Ucapan itu membuat pipi Nadia menghangat. “Kalian terlihat dekat.”

“Dulu,” jawab Tita sambil menarik kursi dan duduk. “Kami satu jurusan. Gibran itu pendiam, tapi kalau sudah nyaman, suka melontarkan candaan aneh.”

Nadia tersenyum, merasa menemukan sisi lain dari sosok Gibran. “Aku baru mengenalnya, tapi… dia baik.”

“Iya,” Tita mengangguk setuju. “Dan keras kepala.”

Mereka tertawa bersamaan. Suasana yang semula canggung perlahan mencair.

“Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Tita lembut.

“Sudah jauh lebih baik,” jawab Nadia jujur. “Terima kasih sudah datang.”

“Tentu,” kata Tita tulus. “Mulai sekarang, anggap saja aku temanmu juga.”

Nadia menatap Tita sejenak, lalu mengangguk. “Aku senang mendengarnya.”

Percakapan pun berlanjut—tentang masa kuliah, hal-hal kecil yang mengundang tawa, hingga cerita ringan yang membuat waktu berjalan tanpa terasa. Di ruang inap itu, dua orang asing perlahan berubah menjadi sahabat.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!