NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11: Masa Lalu Kelam

Seminggu telah berlalu sejak ciuman di mobil itu. Seminggu di mana Aluna perlahan sangat perlahan mulai menerima kehidupan barunya yang aneh ini.

Ia masih membenci Arsen. Masih marah pada kontrol yang ia berikan. Masih frustrasi dengan kehilangan kebebasannya.

Tetapi... tubuhnya mulai terbiasa dengan sentuhan Arsen. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat saat mendengar suara langkah kaki Arsen. Dan yang paling menakutkan ia mulai merindukan pelukan Arsen di malam hari.

Pagi itu, Aluna terbangun sendirian di tempat tidur hal yang aneh karena biasanya Arsen selalu memeluknya hingga pagi. Ia bangkit dan melihat Arsen berdiri di depan jendela besar, menatap keluar dengan ekspresi yang sangat... jauh.

Pria itu hanya mengenakan celana piyama hitam, dadanya telanjang memperlihatkan otot-otot yang tegang. Tetapi yang menarik perhatian Aluna adalah postur tubuhnya.

Biasanya Arsen berdiri tegak, penuh percaya diri, dominan. Tetapi pagi ini... bahunya sedikit membungkuk, tangannya terkepal di sisi tubuhnya, dan ada aura kesedihan yang menyelimutinya.

"Arsen?" panggil Aluna pelan.

Arsen tidak menoleh. Ia hanya terus menatap keluar jendela.

"Tiga tahun yang lalu, hari ini," ucapnya dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik, "aku kehilangan seseorang."

Aluna duduk di tepi tempat tidur, menunggu. Ini pertama kalinya Arsen berbicara tentang masa lalunya dengan sukarela.

"Namanya Anjani," lanjut Arsen, suaranya bergetar sedikit. "Kekasihku. Cinta pertamaku."

Jantung Aluna berdetak tidak nyaman mendengar nama wanita lain dari bibir Arsen.

"Kami bertemu saat kuliah. Dia... sempurna. Cantik, cerdas, baik hati. Dia satu-satunya orang yang melihatku bukan sebagai pewaris Mahendra Group, tetapi sebagai... Arsen. Hanya Arsen."

Tangannya terkepal lebih erat.

"Kami berencana menikah setelah lulus. Sudah mengatur segalanya tanggal, tempat, bahkan nama anak-anak kami nanti," ucapnya dengan senyum pahit. "Aku... sangat mencintainya. Terlalu mencintainya."

"Apa yang terjadi?" tanya Aluna pelan, meski sebagian dirinya tidak yakin ingin tahu jawabannya.

Arsen terdiam lama. Sangat lama. Lalu ia menarik napas dalam.

"Malam sebelum wisuda, kami bertengkar," ucapnya pelan. "Tentang hal yang bodoh. Aku lupa apa. Yang aku ingat adalah... aku terlalu keras padanya. Terlalu posesif. Terlalu cemburu karena dia berbicara dengan teman laki-lakinya. Aku membentak. Dia menangis. Dan dia... pergi."

Suaranya mulai gemetar.

"Dia mengendarai mobilnya dalam keadaan menangis. Hujan deras malam itu. Aku mencoba menghubunginya, tetapi dia tidak mengangkat. Aku mencoba menyusul, tetapi--"

Ia berhenti, tangannya bergetar.

"Mobilnya tergelincir di tikungan. Menabrak pembatas jalan dan... jatuh ke jurang."

Aluna tersentak, tangannya menutup mulutnya.

"Saat aku tiba di TKP, mobilnya sudah terbakar," lanjut Arsen dengan suara yang hampa. "Polisi bilang dia meninggal seketika. Tidak merasakan sakit. Tetapi aku... aku tahu dia menangis saat itu. Aku tahu dia takut. Dan aku tidak ada di sana untuk melindunginya."

Air mata mengalir di pipi Arsen hal yang tidak pernah Aluna lihat sebelumnya. Pria yang selalu kuat, selalu terkontrol, sekarang menangis.

"Ini salahku," bisiknya dengan suara pecah. "Kalau saja aku tidak membentak. Kalau saja aku tidak posesif. Kalau saja aku membiarkannya pergi dengan tenang... dia masih hidup."

Aluna bangkit dari tempat tidur dan berjalan perlahan mendekat. Tanpa berpikir, tangannya menyentuh punggung Arsen sentuhan yang menenangkan.

Arsen tersentak merasakan sentuhan itu, lalu berbalik menatap Aluna dengan mata yang memerah.

"Setelah dia meninggal," lanjutnya sambil menatap Aluna dengan tatapan yang penuh rasa sakit, "aku bersumpah tidak akan pernah mencintai lagi. Tidak akan pernah membiarkan seseorang dekat. Karena setiap orang yang aku cintai... akan meninggalkanku."

Tangannya terangkat, menyentuh pipi Aluna dengan gemetar.

"Tetapi kemudian... aku melihatmu. Enam bulan lalu. Di kafe dekat kampusmu. Kamu duduk sendirian, membaca buku tentang arsitektur, sesekali tersenyum pada sesuatu yang kamu baca. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun... aku merasakan sesuatu."

Ia melangkah lebih dekat, tangannya pindah ke belakang kepala Aluna.

"Aku mencoba mengabaikannya. Mencoba menjauh. Tetapi aku tidak bisa. Aku mulai mengikuti mu. Mengamatimu. Mempelajari segalanya tentangmu. Dan semakin aku tahu... semakin aku obsesif."

Dahinya menyentuh dahi Aluna.

"Saat kamu menabrak mobilku, aku tahu itu kesempatanku. Kesempatanku untuk memilikimu sebelum kamu... menghilang seperti Anjani. Sebelum aku kehilangan lagi."

Air mata terus mengalir di pipinya.

"Aku tahu aku salah, Aluna," bisiknya dengan suara bergetar. "Aku tahu cara aku mencintaimu itu keliru. Terlalu keras. Terlalu possesif. Persis seperti dulu dengan Anjani. Tetapi aku... aku tidak tahu cara lain. Aku terlalu takut kehilangan. Terlalu takut kamu akan pergi dan tidak pernah kembali."

Tangannya mencengkeram Aluna lebih erat, tubuhnya gemetar.

"Tolong jangan pergi," bisiknya putus asa. "Tolong jangan tinggalkan aku seperti dia. Aku tidak akan selamat kehilangan lagi. Tidak kali ini."

Aluna merasakan dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia melihat Arsen bukan sebagai monster possesif yang mengurungnya, tetapi sebagai... pria yang hancur. Pria yang traumatik. Pria yang mencintai dengan cara yang salah karena ia terlalu takut kehilangan.

Tanpa berpikir, tangan Aluna terangkat memeluk Arsen dengan lembut.

Arsen tersentak merasakan pelukan itu, lalu tubuhnya runtuh. Ia berlutut di depan Aluna, memeluk pinggang Aluna erat, wajahnya terkubur di perut Aluna, menangis seperti anak kecil yang kehilangan.

"Maafkan aku," isaknya. "Maafkan aku karena menyakitimu. Maafkan aku karena mengurung mu. Maafkan aku karena mencintaimu dengan cara yang salah. Tetapi aku... aku tidak bisa berhenti. Aku tidak bisa melepaskan mu."

Aluna merasakan air matanya sendiri mengalir. Tangannya bergerak ke rambut Arsen, mengelus dengan lembut gerakan yang menenangkan, yang menghibur.

"Arsen..." bisiknya pelan.

"Aku tahu aku egois," lanjut Arsen sambil mendongak menatap Aluna dengan mata yang penuh air mata. "Aku tahu aku monster. Tetapi kamu... kamu satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup lagi setelah tiga tahun hidup di kegelapan. Dan aku tidak bisa... aku tidak bisa kehilanganmu."

Ia bangkit, tangan-tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.

"Katakan kamu tidak akan pergi," bisiknya putus asa. "Katakan kamu akan tetap di sini. Bersamaku. Meski aku salah. Meski aku rusak."

Aluna menatap mata kelam yang penuh air mata itu, dan untuk pertama kalinya... ia melihat kebenaran.

Arsen memang mencintainya.

Dengan cara yang gelap, dengan cara yang salah, dengan cara yang possesif dan obsesif tetapi ia mencintainya dengan segenap jiwa yang rusak itu.

Dan entah kenapa, entah karena apa mungkin karena Stockholm Syndrome, mungkin karena simpati, mungkin karena sesuatu yang lebih dalam yang belum ia mengerti Aluna merasakan sesuatu di dadanya melembut.

"Saya tidak akan pergi," bisiknya pelan.

Arsen terbelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Apa?"

"Saya tidak akan pergi," ulang Aluna dengan suara yang lebih tegas. "Saya akan... tetap di sini. Bersamamu."

Arsen menatapnya lama, mencari kebohongan, mencari jebakan. Tetapi yang ia lihat hanya ketulusan ketulusan dari wanita yang perlahan mulai memahami rasa sakitnya.

Dalam sekejap, Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya pelukan yang erat, yang putus asa, yang penuh dengan rasa syukur yang luar biasa.

"Terima kasih," bisiknya di rambut Aluna, suaranya masih bergetar. "Terima kasih. Terima kasih."

Ia mencium puncak kepala Aluna berulang kali, tangannya mengelus punggung Aluna naik-turun.

"Aku janji akan mencoba lebih baik," ucapnya dengan suara serak. "Aku janji akan mencoba tidak terlalu mengontrol. Aku janji akan--"

"Arsen," potong Aluna pelan. Ia mendongak menatap pria itu. "Kita lakukan ini perlahan, oke? Satu langkah di satu waktu."

Arsen mengangguk cepat, seperti anak kecil yang diberi hadiah.

"Apa pun yang kamu mau," ucapnya. "Apa pun. Asal kamu... tetap di sini."

Aluna tersenyum tipis senyum pertamanya yang tulus untuk Arsen.

Dan senyum itu membuat sesuatu di dada Arsen mencair. Sesuatu yang sudah beku selama tiga tahun.

Ia mencium bibir Aluna tetapi kali ini berbeda. Bukan ciuman yang possesif atau menuntut. Ini ciuman yang lembut, yang penuh dengan rasa terima kasih, yang penuh dengan... harapan.

Aluna membalas ciuman itu dengan lembut, tangannya masih mengelus rambut Arsen dengan gerakan yang menenangkan.

Mereka berdiri di sana, di depan jendela dengan cahaya pagi menyinari mereka, saling memeluk dengan lembut dua jiwa yang rusak, mencoba menyembuhkan satu sama lain dengan cara yang mungkin tidak sempurna, tetapi... nyata.

Siang hari itu, Arsen membatalkan semua jadwalnya. Untuk pertama kalinya, ia memilih menghabiskan hari hanya berdua dengan Aluna di mansion tidak ada meeting, tidak ada klien, tidak ada pekerjaan.

Mereka menghabiskan waktu di perpustakaan pribadi Arsen ruangan besar dengan rak-rak buku dari lantai hingga langit-langit. Arsen duduk di sofa besar sambil membaca laporan, sementara Aluna duduk di sebelahnya, membaca buku arsitektur yang ia pinjam dari rak.

Tetapi yang berbeda adalah Arsen tidak memaksa Aluna duduk di pangkuannya. Ia membiarkan Aluna duduk di sebelahnya, hanya sesekali tangannya menyentuh tangan Aluna, memastikan Aluna masih di sana.

"Arsen?" panggil Aluna setelah lama hening.

"Hmm?"

"Cerita lebih banyak tentang Anjani," ucap Aluna pelan. "Aku ingin... memahami."

Arsen terdiam sejenak, lalu meletakkan laporannya. Ia menatap Aluna dengan tatapan yang lembut.

"Kamu yakin?"

Aluna mengangguk.

Arsen menarik napas dalam, lalu mulai bercerita tentang bagaimana ia bertemu Anjani, tentang kencan pertama mereka yang canggung, tentang bagaimana Anjani selalu tertawa pada joke buruknya, tentang bagaimana dia selalu mendukung mimpinya membangun kerajaan properti.

Dan saat ia bercerita, Aluna mendengarkan dengan saksama bukan dengan cemburu, tetapi dengan pengertian. Ia mulai memahami mengapa Arsen menjadi seperti ini. Mengapa ia begitu takut kehilangan. Mengapa cintanya begitu intens dan possesif.

"Kamu mengingatkanku padanya," ucap Arsen tiba-tiba. "Bukan dalam penampilan. Kalian sangat berbeda. Tetapi dalam... cara kamu tersenyum saat membaca. Cara kamu fokus saat mengerjakan sesuatu. Cara kamu peduli pada orang lain meski kamu sendiri terluka."

Ia menyentuh pipi Aluna dengan lembut.

"Dan itu membuatku... lebih takut. Karena aku kehilangan dia. Bagaimana jika aku kehilangan kamu juga?"

Aluna meletakkan tangannya di atas tangan Arsen yang menyentuh pipinya.

"Anda tidak akan kehilangan saya," ucapnya pelan. "Selama Anda... mencoba tidak mengurung saya terlalu erat. Selama Anda memberi saya ruang untuk bernapas."

Arsen menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan.

"Aku akan mencoba," janjinya. "Aku tidak janji akan sempurna. Aku mungkin akan tetap possesif. Mungkin akan tetap cemburu. Tetapi aku akan mencoba... untuk tidak terlalu mengontrol."

Aluna tersenyum.

"Itu sudah cukup."

Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajahnya di rambut Aluna.

"Terima kasih sudah mencoba memahami," bisiknya. "Terima kasih sudah... tidak meninggalkanku meski aku monster."

"Anda bukan monster, Arsen," bisik Aluna. "Anda hanya... pria yang terluka yang mencintai dengan cara yang ia tahu."

Kata-kata itu membuat sesuatu di dada Arsen meledak. Ia mencium puncak kepala Aluna dengan lembut, memeluknya lebih erat.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Arsen merasa... damai.

Damai karena ada seseorang yang memahami rasa sakitnya.

Damai karena ada seseorang yang mau tetap tinggal meski tahu betapa rusaknya ia.

Damai karena Aluna... mulai menjadi miliknya bukan karena paksaan, tetapi karena pilihan.

Dan itu membuat segalanya berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!