Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
saat aku berhenti menunggu
Pagi itu aku pulang ke rumah dengan langkah yang terasa berat. Tubuhku lelah, tapi pikiranku jauh lebih lelah dari itu. Seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar hilang, hal pertama yang kulakukan adalah membuka ponsel. Aku tahu seharusnya aku tidak berharap apa-apa, tapi tetap saja ada bagian kecil dalam diriku yang menunggu. Mungkin sebuah pesan singkat, mungkin sekadar “kamu sudah sampai rumah?” Namun layar itu tetap kosong. Tidak ada namanya. Tidak ada tanda bahwa dia menyadari aku pergi, atau peduli ke mana aku pulang.
Aku duduk lama di tepi tempat tidur, menatap ponsel di tanganku. Di titik itu aku mulai benar-benar memahami bahwa aku tidak sedang dikejar, tidak juga sedang dicari. Semua ketakutanku selama ini—tentang dia akan marah, tentang dia akan meninggalkanku—ternyata tidak sepenting itu baginya. Kepergianku tidak mengubah apa pun.
Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, aku membuka kembali sebuah aplikasi yang sudah lama tidak kugunakan. Tinder. Awalnya hanya iseng, hanya untuk mengisi kekosongan pagi itu. Aku tidak berniat mencari cinta, tidak juga mencari pengganti. Aku hanya ingin mengalihkan pikiranku dari rasa hampa yang terlalu sunyi.
Aku menggeser layar tanpa banyak memperhatikan wajah-wajah yang muncul. Sampai akhirnya aku berhenti di satu profil. Seorang laki-laki bernama Moses. Tidak ada kemiripan yang mencolok dengan Yeye, tidak juga aura yang membuat jantungku berdebar. Hanya terasa biasa. Netral. Aman. Satu-satunya kesamaan yang terpikir olehku hanyalah warna kulit mereka yang sama-sama gelap. Selain itu, semuanya terasa baru.
Kami match.
Percakapan pun dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti percakapan dua orang asing yang tidak saling berharap apa-apa. “Hey, where are you from?” tanyanya. Aku menjawab dengan jujur. Dia bertanya tentang pekerjaanku, aku bertanya balik tentang kesehariannya. Semua dalam bahasa Inggris, tanpa emosi yang berat, tanpa cerita masa lalu. Justru karena itu aku merasa lebih lega. Tidak ada keharusan untuk menjelaskan luka, tidak ada kewajiban untuk terlihat kuat atau setia.
Dari obrolan itu, aku tahu bahwa Moses suka dugem. Dia suka musik keras, lampu gelap, dan suasana klub. Anehnya, itu tidak membuatku mundur. Mungkin karena aku sendiri sedang berada di fase ingin keluar, ingin bergerak, ingin merasa hidup lagi. Kami pun membicarakan kemungkinan untuk pergi dugem bersama suatu malam. Tidak terdengar seperti rencana besar. Lebih seperti kesepakatan ringan, tanpa janji apa pun.
Aku menutup aplikasi itu dengan perasaan yang campur aduk. Bukan senang, bukan juga bersalah. Lebih seperti sadar bahwa hidupku masih berjalan, meski seseorang yang kuharapkan tidak lagi berjalan bersamaku.
Hari itu aku kembali mengecek ponselku. Masih tidak ada pesan darinya. Aku tidak mengirim apa pun juga. Untuk pertama kalinya, aku memilih diam bukan karena menunggu, tapi karena aku lelah berbicara pada seseorang yang tidak mendengarkan.
Aku mulai memahami bahwa pertemuanku dengan Moses bukan tentang cinta baru. Itu tentang keberanianku membuka pintu yang selama ini kututup sendiri. Tentang mengizinkan diriku melihat dunia di luar satu nama yang terlalu lama kupeluk.
Dan di pagi yang sunyi itu, aku akhirnya mengakui satu hal pada diriku sendiri: aku tidak lagi ingin hidup dalam bayang-bayang seseorang yang hanya hadir lewat janji, tapi absen lewat tindakan. Jika aku harus melangkah, maka kali ini aku akan melangkah untuk diriku sendiri.