Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Ibu Yang Paling Peduli Padamu
"Leopold, dengar baik-baik. Mulai besok kau akan menjalani pendidikan sebagai calon penerus Raja. Persiapkan dirimu, dan fokus dengan pelajaranmu besok. Karena tak lama lagi kau akan menjadi putra Mahkota." Ucap Sylvaine dengan tegas.
"Bagaimana dengan ayah, dengan yang baru saja kulihat tentang ayah." Tanya Leopold yang masih sesenggukan.
"Apa kau tak mendengar ucapan ibu?" Tanya Sylvaine.
"Saya mendengar dan mengingatnya." Jawab Leopold.
"Bagus, fokuslah pada itu." Sylvaine sambil berjalan ke arah Leopold dan memeluknya.
Leopold pun mulai tenang. Ia membalas pelukan ibunya itu.
"Untuk hari ini, ibu mengijinkanmu istirahat lebih awal. Semua jadwal kelasmu hari ini akan ibu liburkan." Ucap Sylvaine.
"Terima kasih ibu." Kata Leopold.
Sylvaine mengelus lembut rambut Leopold, dan kemudian mengecupnya, "Nah sekarang kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Ibu akan menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin supaya kita bisa makan malam bersama."
Mendengar hal itu, Leopold sangat senang. Sudah lama sekali ia tak pernah menghabiskan waktu dengan ibunya. "Saya sangat menantikannya, ibu. Saya akan kembali ke kamar. Sampai bertemu saat makan malam nanti." Leopold berjalan keluar dari ruang kerja Sylvaine.
"Ini benar-benar di luar prediksi. Bagaimana bisa selir itu hamil. Kesehatannya kan semakin hari semakin memburuk. Jika dia melahirkan seorang anak laki-laki, jelas itu akan membahayakan posisi Leopold. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya." Gumam Sylvaine.
***
Di waktu yang sama, Maerin yang bahagia karena kehamilannya. Tiba-tiba ia merasa cemas. Theo menyadarinya, "Kenapa kau terlihat gelisah?"
"Saya mengkhawatirkan bayi dalam kandungan ini." Jawab Maerin.
"Aku akan melindungimu dan bayi kita ini." Kata Theo.
"Saya tahu anda pasti melakukannya dengan sangat baik, namun bukan itu yang saya khawatirkan." Ucap Maerin.
"Lantas, apa yang kau khawatirkan?" Tanya Theo.
"Bagaimana jika bayi ini terlahir laki-laki dan akan menjadi ancaman untuk Pangeran Leopold? Bagaimana jika..." Ucapan Maerin dipotong oleh Theo, "Hentikan memikirkan hal-hal yang tak perlu. Memang benar mungkin ini akan sedikit berpengaruh pada Leopold. Lagipula Leopold adalah anak yang baik, pasti dia akan senang jika memiliki seorang adik."
"Semoga saja seperti itu." Ucap Maerin.
"Untuk sekarang beristirahatlah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku hari ini agar selesai lebih awal supaya aku bisa langsung mendatangimu." Theo mencium kening Maerin dengan lembut. Tak lama kemudian ia keluar dan berjalan sambil bersenandung menuju ruang kerjanya. Setibanya di dekat ruang kerja, ia berpapasan dengan Sylvaine.
"Salam, Yang Mulia Raja." Sapa Sylvaine.
"Salam, Ratu. Sepertinya anda dari arah ruang kerjaku." Ucap Theo.
"Benar sekali, namun anda tak ada di ruang kerja anda. Pengawal anda mengatakan bahwa anda keluar. Ternyata anda sedang bersama tuan Silas." Ucap Maerin sambil melihat Silas yang berada di belakang Theo.
"Ah benar, jadi mari kembali ke ruang kerjaku. Jika anda tak ada agenda lain setelah ini." Ajak Theo.
"Saya memang ingin membicarakan hal penting dengan anda berdua saja." Jawab Sylvaine dengan anggun.
Mereka berjalan menuju ruang kerja Theo, sementara Silas menuju ruang kerjanya yang letaknya tak jauh dari ruang kerja Theo.
***
Di dalam ruang kerja Theo, Sylvaine duduk dengan anggun dan Theo duduk di seberangnya. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kudengar selirmu sedang hamil...." Sylvaine belum menyelesaikan ucapannya, Theo memotongnya, "Jangan kau coba-coba melakukan sesuatu pada Maerin."
"Entahlah, untuk sekarang aku menginginkan pengangkatan Leopold sebagai putra Mahkota dipercepat." Kata Sylvaine dengan aura mengintimidasi.
"Leopold masih terlalu kecil untuk itu. Bahkan hal itu bisa mengorbankan masa kecilnya." Ucap Theo dengan khawatir.
"Leopold cakap dan kompeten. Hal kekanakan semacam itu tak cocok untuknya. Aku ibunya, dan aku tahu apa yang terbaik untuk putraku." Kata Sylvaine.
"Kau lupa bahwa aku ayahnya?" Kata Theo, "Lagipula posisi Leopold sebagai pewarisku tak akan berubah. Jadi dilantik nanti atau secepatnya tak berpengaruh apapun." Imbuhnya.
"Jika begitu, tak ada salahnya Leopold dilantik lebih cepat. Lagipula mulai besok Leopold akan memulai pendidikan sebagai pewaris. Lagipula jika lebih cepat Leopold menjadi putra Mahkota, kehamilan selirmu hingga kelahiran bayinya jadi tak mencolok. Bukankah itu hal bagus untuk selirmu?" Ucap Sylvaine dengan percaya diri sambil tersenyum sinis tipis nyaris tak kentara.
"Baiklah, namun aku memberi syarat." Kata Theo.
"Katakan." Ucap Sylvaine dengan singkat.
"Setelah Leopold menjadi putra Mahkota. Berikan waktu untuk beristirahat lebih sering di sela-sela jadwalnya yang padat." Kata Theo.
"Baiklah." Jawab Sylvaine.
"Kalau begitu, kau bisa memulai untuk mengatur dan mempersiapkan pengangkatan Leopold menjadi putra Mahkota." Perintah Theo pada Sylvaine.
Sylvaine mengangguk dan berpamitan untuk kembali ke istana Ratu. Ia langsung memulai persiapan pengangkatan putranya itu.
***
Malam pun tiba, Leopold telah berada di ruang makan istana Ratu sambil melihat pelayan-pelayan menyajikan makanan. Ia tak sabar menantikan makan malam bersama ibunya, sambil sesekali melihat ke arah pintu untuk mengecek ibunya sudah datang atau belum.
Saat Sylvaine telah selesai dengan pekerjaannya hari ini, ia hendak berjalan ke kamarnya untuk mempersiapkan diri karena akan makan malam dengan putranya. Ketika melewati ruang makan, ia menoleh ternyata putranya terlihat sudah menunggunya. Akhirnya Sylvaine langsung masuk ke ruang makan. Ia berjalan ke arah meja makan dan menyapa Leopold, "Kau sudah di sini sejak kapan?"
"Belum lama, saya hanya tak sabar menantikannya saja. Jadi saya menunggu di sini." Ucap Leopold.
"Kau ini. Lihatlah, sepertinya para pelayan telah selesai menyajikan makan malam untuk kita. Kalau begitu ayo memakannya." Ajak Sylvaine.
Mereka makan dengan tenang, selama makan mereka hanya diam menyantap makanan tanpa mengobrol. Setelah selesai makan, Sylvaine bertanya pada Leopold, "Untuk malam ini, apa kau mau tidur bersama ibu? Ibu juga akan membacakan buku dongeng padamu."
Leopold terlihat tersenyum tanpa sadar dan menjawab, "Saya sangat menantikannya, ibu." Padahal Leopold tak lagi membaca buku dongeng sejak berusia lima tahun. Namun ia benar-benar menantikan menghabiskan waktu bersama ibunya.
***
Di dalam kamar Sylvaine, ia dan Leopold berbaring bersama di atas ranjang. Sylvaine membelai lembut rambut Leopold, "Kau tumbuh dengan cepat tanpa ibu sadari. Maafkan ibu yang selalu bersikap keras padamu. Ibu melakukannya demi kebaikanmu. Kau harus tahu bahwa kaulah satu-satunya yang paling berharga untuk ibu. Ibu sangat mencintai dan menyayangimu, Leo." Sylvaine mengecup kening Leopold.
"Bagaimana dengan ayah?" Tanya Leopold.
Sylvaine terdiam sejenak saat mendengarkan pertanyaan putranya itu, "Ayahmu? Ibu hanya menghormatinya."
"Jadi ibu tak mencintai ayah?" Tanya Leopold lagi.
"Dengarkan ibu baik-baik, Leo. Di dalam hati ayahmu hanya terisi seseorang, ya wanita yang kau sebutkan namanya tadi siang. Dan lagi wanita itu sebentar lagi akan melahirkan seorang anak. Jadi ayahmu akan mempunyai seorang anak lagi." Ucap Sylvaine.
"Jadi aku akan memiliki seorang adik?" Tanya Leopold.
"Ya. Dan mungkin ayahmu hanya akan mempedulikan anak barunya itu dan mulai mengabaikanmu dengan perlahan. Ingat ini, hanya ibu yang paling peduli padamu." Kata Sylvaine.
"Jadi aku akan diabaikan ayah?" Leopold bertanya dengan ekspresi sedih.
"Kemungkinan itu ada. Kau tak perlu memikirkan hal itu. Jadi mulai sekarang kau harus fokus pada dirimu sendiri dan menjadi kuat." Ucap Leopold.
Ucapan Sylvaine itu berputar-putar di pikiran Leopold.
***
Beberapa minggu berlalu, seperti yang telah diucapkan Sylvaine sebelumnya. Leopold mulai merasakan perubahan ayahnya sedikit demi sedikit. Perhatian ayahnyapun mulai berkurang. Dan perlahan hubungannya dengan ayahnya mulai merenggang.
Bersambung...