NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 9

Malam itu, ruang kerja utama di mansion terasa lebih berat dari biasanya. Dinding kayu gelap, lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan, dan meja panjang dari kayu mahoni menjadi saksi audit yang tidak pernah sederhana.

Jackman duduk di kursi utamanya.

Jay berdiri di seberang meja, menyerahkan berkas laporan tebal yang telah ia siapkan sejak pagi. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi. Hanya suara kertas yang dibuka dan lembar demi lembar yang dibalik dengan presisi.

Ruangan itu hening.

Hanya terdengar detik jam dinding dan napas teratur dua pria dengan darah yang sama namun cara berpikir yang berbeda.

“Volume ekspor kuartal ini meningkat delapan belas persen,” ucap Jackman akhirnya, matanya masih menelusuri angka-angka. “Margin bersihnya?”

“Naik enam persen dari proyeksi awal,” jawab Jay tanpa ragu. “Distribusi senjata ringan stabil. Jalur baru di wilayah timur memberi kontribusi signifikan.”

Jackman mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tajam, menekan.

“Risiko?”

“Sudah dipetakan. Saya memutus dua mitra yang mencurigakan sebelum mereka sempat menimbulkan masalah.”

Hening lagi.

Jackman menutup berkas itu pelan. Bunyi ‘tap’ lembut terdengar ketika map diletakkan kembali di atas meja.

“Kau mengambil keputusan sepihak untuk memutus kontrak,” katanya dingin.

Jay tidak menunduk. “Ya.”

“Tanpa menungguku.”

“Waktu tidak memberi ruang untuk menunggu. Dan anda tidak suka jika di hubungi melalui ponsel.”

Tatapan keduanya saling bertemu. Tegang. Tidak ada yang mengalah. Masing-masing memiliki Pikiran yang sama kuat.

Beberapa detik berlalu sebelum Jackman bersandar di kursinya.

“Kau tahu konsekuensinya jika keputusanmu salah?”

“Saya siap menanggungnya.”

Satu sudut bibir Jackman bergerak tipis—bukan senyum, tetapi sesuatu yang mendekati pengakuan.

“Kau tidak lagi bertindak seperti anak yang menunggu perintah,” ujarnya. “Kau bertindak seperti pemimpin.”

Jay tetap diam, namun sorot matanya sedikit berubah.

“Angka-angka ini bersih. Tidak ada celah yang bisa kugunakan untuk menegurmu,” lanjut Jackman. “Itu jarang terjadi.”

Sebuah kalimat sederhana. Namun bagi Jay, itu adalah bentuk apresiasi tertinggi yang pernah ia dengar dari ayahnya.

“Terima kasih,” jawabnya singkat.

Jackman berdiri. Aura kekuasaannya kembali memenuhi ruangan. Ia berjalan mendekati jendela besar yang menghadap taman gelap di luar.

“Kegiatan Amal lima tahunan akan menjadi sorotan,” katanya tanpa menoleh. “Bukan hanya soal donasi. Ini tentang posisi kita. Kegiatan Amal hanyalah pijakan untuk mendeklarasikan kekuasaan kita.”

Jay mendengarkan dengan saksama.

“Tahun ini berbeda. Banyak mata yang menunggu celah. Banyak pihak yang ingin melihat kita goyah.”

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh setengah badan ke arah Jay.

“Dan banyak dari mereka yang menunggu… siapa yang pantas menggantikanku kelak.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

“Karena mereka bukan hanya tamu,” lanjutnya dingin. “Mereka terlibat bisnis dengan kita. Mereka menanam uang, kekuasaan, dan loyalitas. Mereka akan menghitung ulang segalanya setelah melihat siapa kandidat penggantiku.”

Ruangan terasa semakin berat.

“Mereka akan bertanya,” ucap Jackman lagi, tatapannya kini menembus Jay, “apakah tetap berpihak pada kita… atau mulai mencari perlindungan lain.”

Jay tidak menyela. Ia tahu ini bukan sekadar pernyataan. Ini ujian.

“Seorang pemimpin bukan hanya mengelola bisnis,” kata Jackman. “Ia mengelola persepsi. Ketika aku berdiri di sana selama ini, tidak ada yang berani meragukan stabilitas kita. Tapi ketika aku mulai memberi ruang…”

Ia membiarkan kalimat itu menggantung.

“Mereka akan menguji yang berdiri di sampingku.”

Helena berdiri diam, napasnya tertahan tipis.

Jackman akhirnya menoleh.

“Kau akan mendampingiku.”

Jay terdiam sejenak.

“Sebagai perwakilan resmi keluarga,” lanjut Jackman tegas. “Kau yang akan berdiri di sisiku. Kau yang akan menandatangani beberapa kesepakatan malam itu.”

Helena, yang sejak tadi berdiri anggun di sudut ruangan, sedikit mengerutkan kening. Namun ia tidak menyela.

“Itu berarti…” Jay memulai.

“Itu berarti,” potong Jackman, “aku memberimu sebagian kuasaku di hadapan publik.”

Suasana berubah.

Bukan lagi sekadar audit.

Melainkan penyerahan simbolis.

“Jangan buat aku menyesal,” tambah Jackman dengan nada rendah namun penuh tekanan.

Jay menegakkan tubuhnya.

“Saya tidak akan.”

Tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini bukan sebagai ayah dan anak.

Melainkan sebagai dua pria yang berdiri di jalur kekuasaan yang sama.

Dan di luar sana, kabar kepulangan Zavier terus berembus.

Namun malam itu, satu hal menjadi jelas—

Jackman telah memilih siapa yang berdiri di sisinya.

Helena tidak mengatakan apa pun.

Sejak awal percakapan, ia berdiri dengan postur sempurna—dagu terangkat, bahu tegap, ekspresi terlatih yang selalu terlihat anggun dan tak tergoyahkan. Namun saat kalimat terakhir Jackman menggantung di udara—

Aku memberimu sebagian kuasaku di hadapan publik.

—ada sesuatu yang berubah.

Sangat halus.

Sangat tipis.

Namun cukup untuk dirasakan.

Tatapan Helena yang semula tenang menjadi sedikit lebih tajam. Bukan kepada Jackman. Melainkan kepada Jay.

Bukan Zavier.

Bukan anak kandungnya.

Nama itu bahkan tidak disebut malam ini.

Tangannya yang sejak tadi terlipat rapi di depan tubuh perlahan turun ke samping. Jari-jarinya mengerat, kuku yang terawat menekan telapak tangan sendiri hingga memucat.

Ia tahu aturan permainan.

Di hadapan Jackman, tidak ada ruang untuk protes emosional. Tidak ada ruang untuk mempertanyakan keputusan yang sudah diucapkan. Jackman tidak pernah menyukai perdebatan yang dilandasi perasaan.

Namun sebagai seorang ibu, dadanya tidak sepenuhnya setenang wajahnya.

Zavier telah kembali.

Zavier telah mempersiapkan dirinya bertahun-tahun.

Dan kini, ketika kesempatan simbolis sebesar ini datang—justru Jay yang dipilih untuk berdiri di sisi sang pemimpin.

Helena menarik napas perlahan, menjaga agar suaranya tetap stabil ketika akhirnya ia berbicara.

“Keputusan yang besar,” ujarnya lembut, nyaris seperti pujian. “Semoga tidak menjadi beban yang terlalu berat.”

Kalimat itu terdengar netral.

Namun maknanya tidak sepenuhnya demikian.

Jay menatapnya sekilas. Tidak ada senyum kemenangan. Tidak ada sindiran balasan. Hanya ketenangan yang sulit dibaca.

“Saya terbiasa memikul beban,” jawabnya singkat.

Genggaman tangan Helena semakin mengerat sesaat.

Jackman melangkah kembali ke meja, menutup pembicaraan dengan satu kalimat tegas.

“Acara ini bukan tentang siapa anak siapa. Ini tentang siapa yang paling siap.”

Hening.

Helena menundukkan wajahnya tipis, menyembunyikan gejolak yang ia pendam. Ia memahami satu hal dengan sangat jelas—

Di rumah ini, kasih sayang tidak pernah menjadi penentu.

Hanya kesiapan dan kekuatan.

Dan malam itu, Jay telah dianggap lebih siap.

Sementara di tempat lain, Zavier mungkin belum mengetahui bahwa panggung yang ia harapkan… telah lebih dulu diberikan kepada orang lain.

Malam belum benar-benar larut ketika Jackman meminta satu berkas tambahan.

“Anak perusahaan,” ucapnya singkat.

Jay mengangguk. Ia memberi isyarat pada Drew untuk membawa map berbeda—lebih tipis, namun dengan segel resmi perusahaan yang dikenal publik sebagai perusahaan logistik dan distribusi internasional. Di atas permukaan, perusahaan itu bersih. Terdaftar resmi. Diaudit negara. Memiliki reputasi baik.

Tidak ada yang melihat bayangan gelap yang berdiri di belakangnya.

Jackman membuka berkas itu dengan ketelitian yang sama seperti sebelumnya. Laporan keuangan, arus kas, investasi, hingga laporan internal manajemen tertata rapi. Ia berhenti di satu halaman.

Alisnya sedikit terangkat.

“Kerugian triwulan lalu,” ucapnya pelan. “Lima persen. Lalu tiba-tiba stabil dan naik sepuluh persen bulan berikutnya.”

Jay tidak menjawab langsung. Ingatannya kembali pada saat ia menugaskan Drew untuk membereskan kekacauan tersebut.

Bersambung

1
@emak aisyah
tidak tau lagi mau berkata apa,di tunggu pertempurannya Thor pastikan Jay tak terkalahkan
wiwied
next
@emak aisyah
ya ampun,bang NEWBE update bersamaan tapi kenapa aku lebih milih Jay,Jay aku padamu 😍😍
daniez
upp
daniez
ok
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!