NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2 nyawa yang di pinjam

Saka jatuh tersungkur di aspal dingin setelah geng motor itu kocar-kacir. Napasnya pendek dan tersengal. Meskipun ia berhasil memenangkan perkelahian dengan insting pria dewasa, tubuh remajanya yang ringkih tidak mampu menahan beban adrenalin yang berlebihan.

"Saka! Bangun, Saka!" teriak Anita histeris. Ia memangku kepala Saka, air matanya jatuh mengenai pipi Saka yang lebam.

Pandangan Saka mulai memudar lagi. Rasa sakit di perutnya—bekas pukulan benda tumpul saat tawuran tadi—terasa sangat mirip dengan luka tusuk di masa depannya. Apakah aku akan mati lagi? pikirnya getir. Dunia di sekitarnya perlahan menjadi gelap saat suara sirine ambulans mulai meraung mendekat.

Bau karbol dan suara ritmis detak jantung dari mesin EKG menyambut kesadaran Saka. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit putih yang silau.

"Dia sudah sadar! Suster!" suara Anita terdengar serak, seperti orang yang sudah menangis berjam-jam.

Saka menoleh lemah. Di samping tempat tidurnya, Anita duduk dengan mata sembab. Di belakangnya, berdiri kedua orang tua Saka dengan wajah yang merupakan campuran antara amarah dan kelegaan luar biasa.

"Saka... apa yang kamu pikirkan?" ibunya terisak. "Kenapa kamu terlibat perkelahian seperti itu? Kamu hampir saja mengalami pendarahan dalam!"

Saka terdiam. Ia ingin menjelaskan bahwa ia justru sedang mencoba menghentikan takdir buruk, tapi ia tahu itu terdengar gila. Ia melirik ke arah jendela rumah sakit. Di luar, hujan turun deras, persis seperti malam kematiannya yang asli.

"Maaf, Bu... Saka cuma... ingin melindungi Anita," bisiknya parau.

Ayahnya menghela napas panjang, menepuk bahu Saka dengan berat. "Kita akan bicara soal sanksi sekolah nanti setelah kamu pulih. Sekarang, istirahatlah."

Malam itu, setelah orang tuanya pulang untuk mengambil pakaian, tinggal Anita yang menjaga Saka di bangsal kelas dua tersebut. Suasana hening, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kaca.

"Nit," panggil Saka memecah keheningan.

Anita yang sedang mengupas apel menoleh. "Kenapa? Ada yang sakit?"

"Kenapa kamu tetap di sini? Harusnya kamu benci sama aku. Gara-gara aku, kamu tadi hampir celaka."

Anita meletakkan pisaunya, menatap Saka dalam-dalam. "Aku juga nggak tahu, Saka. Tapi pas kamu pingsan tadi... aku merasa kalau kamu itu bukan Saka yang biasanya. Kamu kelihatan... jauh lebih tua, lebih sedih. Seperti kamu baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga."

Saka tertegun. Insting wanita memang tajam, batinnya.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu kamar rawat Saka terbuka perlahan. Seorang pria paruh baya dengan jas putih dokter masuk ke dalam. Ia membawa papan jalan dan tersenyum ramah, namun ada sesuatu yang janggal pada tatapannya.

"Selamat malam, Saka. Saya Dokter Aris, yang akan memantau perkembanganmu malam ini," ucap dokter itu.

Saka mendadak waspada. Nama itu. Aris. Nama yang sama dengan profesor yang ia temui di visi masa depannya yang belum terjadi.

Dokter Aris mendekat untuk memeriksa infus Saka. Sambil membelakangi Anita, ia berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar, tepat di telinga Saka.

"Selamat datang kembali ke titik balik, Saka. Tapi ingat, setiap kali kamu masuk ke rumah sakit ini di masa lalu, seseorang di masa depan harus menggantikan tempatmu di liang lahat."

Saka membelalak. Jantungnya berpacu cepat, membuat mesin EKG berbunyi beeping dengan frekuensi tinggi. Dokter Aris hanya tersenyum dingin dan menyuntikkan sesuatu ke botol infus Saka.

"Tidur yang nyenyak, Saka. Kita lihat siapa yang akan 'pergi' besok pagi."

Kesadaran Saka kembali ditarik paksa. Ia mencoba meraih tangan Anita, mencoba memperingatkannya, tapi tubuhnya menjadi lumpuh dalam sekejap. Sebelum matanya tertutup sepenuhnya, ia melihat bayangan hitam berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah jam saku yang berdetak terbalik.

Saka menyadari satu hal yang mengerikan: Rumah sakit ini bukan tempat untuk sembuh, melainkan arena di mana takdir mulai menagih nyawa yang ia pinjam.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!