NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menara yang Menelan Harapan

Trick Tower menjulang seperti jarum raksasa yang menusuk langit malam. Permukaannya kasar, terbuat dari batu gelap yang tampak menyerap cahaya bulan daripada memantulkannya. Di depan pintu masuk utama—lubang gelap selebar gerbang kastil—ratusan peserta yang lolos fase pertama berkumpul. Beberapa duduk di tanah, memeriksa peralatan; yang lain berdiri tegang, mata memindai wajah-wajah asing. Udara terasa lebih dingin di sini, meski angin tidak bertiup.

Raito berdiri agak ke belakang, dekat Mira. Napasnya masih tersengal setelah maraton panjang tadi. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah, tapi dia tidak berani duduk. Takut kalau duduk, dia tidak akan bisa bangun lagi.

“Berapa lama waktu yang diberikan?” tanya Raito pelan.

“72 jam untuk keluar dari bawah menara,” jawab Mira sambil memeriksa tali pengikat pisau di pinggangnya. “Bukan cuma keluar. Harus keluar dari pintu bawah. Di dalam ada jebakan, ruangan tertutup, monster, dan peserta lain yang siap membunuh demi lolos lebih cepat.”

Raito menelan ludah. “Membunuh?”

“Ini Hunter Exam. Bukan ujian masuk sekolah.” Mira meliriknya sekilas. “Kalau kamu cuma mau bertahan hidup, ikut kelompok besar. Kalau mau cepat, cari jalan pintas—tapi jalan pintas biasanya berarti darah.”

Raito tidak menjawab. Dia memandang ke arah Gon yang duduk santai di batu besar, sedang mengobrol dengan seorang anak laki-laki berambut putih dan mata dingin. Anak putih itu—Killua, kata seseorang di dekatnya—tampak bosan, tapi gerakannya lincah seperti kucing liar. Gon tertawa kecil, seolah tidak ada ancaman di sekitar.

“Anak itu… Gon… dia kelihatan terlalu polos untuk tempat ini,” gumam Raito.

“Jangan tertipu penampilan,” balas Mira. “Aku dengar dia lolos fase pertama tanpa keringat. Ada rumor dia anak pemburu terkenal.”

Sebelum Raito bisa bertanya lebih lanjut, suara keras bergema dari speaker tersembunyi di menara.

“Peserta Hunter Exam! Fase kedua dimulai sekarang! Masuklah ke Trick Tower dan temukan jalan keluar di lantai dasar dalam waktu 72 jam! Tidak ada aturan lain—lakukan apa saja yang kalian bisa!”

Gerbang batu besar terbuka pelan dengan suara gemuruh. Cahaya kuning redup dari dalam menara menyembur keluar, menerangi wajah-wajah tegang.

Peserta mulai bergerak. Beberapa langsung berlari masuk, yang lain berhati-hati. Mira menarik lengan Raito.

“Ayo. Kita ikut kelompok yang masuk dulu. Lebih aman.”

Mereka masuk bersama sekitar tiga puluh orang lainnya. Lorong pertama lebar, dindingnya polos, tapi setelah berjalan sepuluh meter, lantai tiba-tiba bergeser. Raito hampir jatuh ke depan saat seluruh kelompok terdorong ke samping.

“Jebakan gravitasi!” teriak seseorang.

Dinding sebelah kiri terbuka, memperlihatkan ruangan kosong dengan lubang di lantai. Beberapa peserta yang lambat terjatuh ke dalam—jeritan mereka terpotong tiba-tiba saat lubang menutup lagi.

Raito memegang dinding erat-erat. Jantungnya berdegup kencang.

“Ini baru permulaan,” kata Mira tenang. “Ikuti aku. Aku pernah dengar cerita tentang menara ini.”

Mereka terus maju. Setelah beberapa menit, lorong bercabang menjadi tiga pintu: kiri, tengah, kanan. Tidak ada tanda, tidak ada petunjuk.

Kelompok terpecah. Beberapa pergi ke kiri, yang lain ke kanan. Mira berhenti sejenak, mendengarkan.

“Yang mana?” tanya Raito.

Mira menutup mata. “Dengar anginnya. Pintu tengah anginnya lebih kencang—mungkin ventilasi palsu. Pintu kiri terlalu diam. Pintu kanan… ada suara gesekan kecil. Mungkin mekanisme.”

Dia memilih kanan. Raito mengikuti.

Di dalam pintu kanan adalah ruangan persegi panjang dengan lima pintu kecil di dinding berlawanan. Di tengah ruangan ada meja kayu sederhana dan lima kursi. Di atas meja tertulis dengan cat merah:

“Aturan: Pilih satu pintu dan keluar. Hanya lima orang yang boleh keluar dari ruangan ini. Sisanya akan mati.”

Raito merasa darahnya membeku.

Peserta di ruangan ini—sekitar dua puluh orang—mulai saling pandang dengan tatapan curiga. Beberapa langsung menarik senjata: pisau, tongkat, bahkan ada yang mengeluarkan pistol kecil.

“Apa-apaan ini?” gumam Raito.

“Ini tes psikologi sekaligus kekuatan,” bisik Mira. “Mereka ingin lihat siapa yang mau berkorban, siapa yang egois, siapa yang bisa bernegosiasi.”

Seorang pria besar bertato di lengan maju. “Aku duluan! Kalian mundur atau kubantai!”

Dia langsung menyerang peserta terdekat. Pisau besarnya berayun cepat. Darah muncrat. Jeritan memenuhi ruangan.

Raito mundur ke belakang, punggung menempel dinding. Dia tidak punya senjata selain pisau lipat kecilnya—dan dia tidak yakin bisa menggunakannya untuk membunuh.

Mira menariknya ke sudut. “Jangan ikut campur dulu. Biar mereka saling habis.”

Pertarungan berlangsung singkat tapi brutal. Pria bertato itu membunuh tiga orang sebelum akhirnya ditusuk dari belakang oleh seorang wanita kurus berambut panjang. Wanita itu kemudian dibunuh oleh dua orang lain yang bekerja sama.

Sekarang tersisa sepuluh orang—termasuk Raito dan Mira.

“Masih terlalu banyak,” kata seorang pemuda berambut hitam panjang, suaranya dingin. “Kita perlu kurangi lagi.”

Dia menatap Raito. “Kamu kelihatan lemah. Mundur aja.”

Raito menelan ludah. “Aku nggak mau mati di sini.”

Pemuda itu tersenyum tipis. “Semua orang di sini nggak mau mati. Tapi hanya lima yang keluar.”

Mira maju selangkah. “Kita bisa negosiasi. Bagi ruangan ini jadi kelompok. Lima kelompok, masing-masing satu pintu.”

Ide itu langsung ditolak. “Ngaco! Pintu mana yang aman? Kalau salah pilih, mati semua!”

Kekacauan hampir pecah lagi. Tiba-tiba, suara klik kecil terdengar. Salah satu pintu kecil terbuka sendiri.

Di dalamnya berdiri seorang anak laki-laki berambut putih—Killua. Matanya dingin, tangan di saku celana.

“Ruangan ini punya timer tersembunyi,” katanya datar. “Kalau kalian nggak keluar dalam 30 menit, gas beracun akan keluar. Aku sudah cek mekanismenya. Lima pintu ini semuanya aman—tapi hanya satu pintu yang langsung menuju lantai bawah. Sisanya jebakan memutar balik ke atas.”

Semua orang terdiam.

Killua melanjutkan, “Jadi, kalian punya pilihan: bunuh sampai tersisa lima, atau cari cara lain. Aku nggak peduli. Aku sudah pilih pintu.”

Dia berjalan ke pintu paling kanan dan masuk tanpa menoleh.

Ruangan hening sejenak.

Lalu pecah lagi. Kali ini lebih ganas. Orang-orang saling serang tanpa ampun. Raito melihat seseorang menusuk orang lain tepat di depannya. Darah menyembur ke bajunya.

Mira menarik Raito ke belakang. “Kita ikut anak itu. Dia tahu sesuatu.”

Mereka berlari ke pintu yang sama dengan Killua. Tapi sebelum masuk, seorang pria gempal menghalangi.

“Kalian nggak lolos!” bentaknya.

Mira langsung menendang lutut pria itu. Pria itu jatuh berlutut. Raito, tanpa berpikir panjang, menendang kepala pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu ambruk.

Mereka masuk ke pintu.

Di dalam adalah lorong sempit dengan tangga spiral menurun. Killua sudah jauh di depan, berjalan santai.

Mira berbisik, “Jangan dekati anak itu terlalu dekat. Dia berbahaya.”

Raito mengangguk. Tapi dia tidak bisa menahan rasa penasaran. Anak itu—Killua—terlihat sangat muda, tapi auranya… dingin dan tajam seperti pisau.

Mereka terus turun. Lorong mulai bercabang lagi. Kali ini Killua berhenti di persimpangan.

Dia menoleh ke belakang—pertama kalinya sejak masuk. Matanya bertemu dengan Raito.

“Kamu,” katanya. “Kelihatan nggak tahu apa-apa. Kenapa ikut ujian ini?”

Raito terkejut. “Aku… tersesat. Aku nggak tahu ini ujian.”

Killua mengangkat alis. “Lucu. Dunia ini penuh orang gila, tapi kamu kelihatan… normal.”

Dia berbalik lagi. “Ikut kalau mau. Tapi jangan harap aku lindungi kalian.”

Mira menarik Raito. “Abaikan. Kita pakai dia sebagai panduan.”

Mereka mengikuti Killua dari jarak aman. Lorong semakin gelap, hanya diterangi lampu redup di dinding. Tiba-tiba, Killua berhenti lagi.

“Jebakan depan,” katanya tanpa menoleh. “Lantai palsu. Lompat ke sisi kanan.”

Raito dan Mira langsung melompat. Benar saja—lantai di depan runtuh, memperlihatkan jurang dalam dengan paku-paku besi di bawah.

Mereka terus maju. Setelah beberapa jebakan lagi—panah dari dinding, gas, lantai bergerak—mereka sampai di ruangan besar dengan pintu keluar di ujung.

Di sana sudah ada beberapa peserta lain, termasuk Gon yang duduk santai sambil makan apel.

Gon melambai. “Hei! Kalian juga lolos!”

Killua mendengus. “Kamu cepat sekali.”

Gon tertawa. “Aku nemu jalan pintas!”

Raito memandang Gon dengan kagum. Anak itu tampak tidak terganggu sama sekali oleh kekacauan di sekitar.

Mira menepuk bahu Raito. “Kita hampir keluar. Tapi ingat—ini baru fase kedua. Masih ada fase lain.”

Raito mengangguk pelan. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Tapi di dalam dadanya, aliran hangat itu muncul lagi—lebih kuat dari sebelumnya. Seperti ada cahaya kecil yang mulai menyala di kegelapan.

Dia tidak tahu apa itu.

Tapi untuk pertama kalinya sejak terbangun di hutan, Raito merasa… bukan hanya bertahan hidup.

Dia merasa mulai memahami dunia ini—sedikit demi sedikit.

Dan cahaya itu, meski masih samar, mulai memberinya harapan.

Di luar Trick Tower, langit mulai terang. Fase kedua hampir selesai.

Tapi bagi Raito, perjalanan baru saja dimulai.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!