Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setiap malam, rutinitas ini selalu berulang. Di depan orang lain, ia bersikap seolah-olah Zahra hanyalah masa lalu yang memalukan, sesuai dengan skenario Papa Hermawan. Namun di dalam kamar ini, ia adalah pria yang hancur karena rasa bersalah.
Ia teringat setiap jengkal penderitaan yang ia berikan pada istrinya.
Ia teringat dinginnya lantai gudang itu, dan ia teringat bagaimana ia meninggalkan Zahra terkunci di tengah kobaran api.
Penjelasan polisi tentang kecelakaan Gea yang murni musibah truk adalah belati yang terus menghujam jantungnya setiap hari.
Ia merasa bersalah karena telah menyiksa wanita yang tidak bersalah.
"Kenapa kamu tidak datang ke mimpiku, Ra? Apa kamu begitu membenciku hingga menampakkan wajahmu saja kamu tidak sudi?"
Akhsan memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata yang selama ini ia tahan jatuh membasahi pipinya.
Ia tidak mencintai Sisil karena menurutnya pertunangan itu hanyalah tameng untuk menutupi kehampaan jiwanya. Baginya, separuh nyawanya telah ikut terbakar bersama Zahra.
Ia tidak tahu bahwa "Zahra" yang ia tangisi sedang terbang membelah awan menuju arahnya. Bukan untuk membalas rindunya, melainkan untuk menghancurkan sisa-sisa hidupnya.
"Besok, aku harus menyambut Aruna Adrian," gumam Akhsan sambil menyeka air matanya dengan kasar.
"Aku harus kuat. Untuk perusahaan, dan untuk menebus dosa-dosaku pada namamu, Zahra." ucap Akhsan yang kemudian memejamkan matanya.
Sementara itu di udara di dalam jet pribadi itu terasa lebih tenang pagi ini.
Sinar matahari fajar menembus jendela kabin, menandakan bahwa tanah air sudah berada di bawah kepakan sayap pesawat.
Seorang pramugari dengan gerakan anggun menyajikan sarapan mewah di atas meja Aruna.
"Sarapan Anda, Nyonya Adrian. Kita akan mendarat di Jakarta dalam waktu empat puluh lima menit," ucap pramugari itu dengan sopan.
Aruna hanya menyesap sedikit kopi hitamnya. Selera makannya hilang, digantikan oleh debaran jantung yang ritmis bukan karena takut, melainkan karena adrenalin dendam yang mulai memuncak.
Ia melirik Christian yang masih tertidur lelap di kursi sebelah, lalu ia berdiri menuju kamar mandi pesawat.
Di dalam ruangan yang sempit namun mewah itu, Aruna menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, membiarkan butiran air mengalir di atas kulitnya yang kini halus dan sempurna. Namun, jemarinya terhenti tepat di atas tanda X tipis di pipinya.
"Zahra sudah lama mati. Dan hari ini, Aruna akan memastikan pemakaman mereka dimulai."
Aruna mulai mengganti pakaiannya. Ia memilih setelan blazer berwarna putih gading yang memberikan kesan berkuasa namun sangat elegan.
Rambutnya ditata rapi, memberikan kesan misterius yang mahal.
Terakhir, ia mengambil topeng renda hitamnya sebagai simbol dirinya.
Dengan tangan yang kini stabil tanpa getaran, ia mengikatkan tali sutra topeng itu di belakang kepalanya.
Renda hitam itu menutupi sebagian wajahnya, menyamarkan identitas lamanya, namun tetap menonjolkan sepasang mata yang kini berkilat tajam seperti sembilu.
Di luar sana, suasana Terminal VIP sudah dijaga ketat oleh pengamanan internal Hermawan Group.
Akhsan berdiri di barisan paling depan, mengenakan jas hitam yang sangat formal.
Di sampingnya, Sisil berdiri dengan gaun yang terlalu mencolok, berusaha tampak seperti nyonya besar di samping sang CEO.
"Mas, apa dia benar-benar sehebat itu sampai kita harus menunggu di sini?" keluh Sisil sambil merapikan riasannya yang tebal.
"Diamlah, Sil. Aruna Adrian adalah penolong kita dan ia juga bisa memutuskan aliran dana ke perusahaan kita. Jaga sikapmu," jawab Akhsan dingin.
Pintu terminal VIP terbuka. Suara langkah sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu tegas dan berirama.
Akhsan menegakkan posisinya, mencoba mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.
Sosok wanita itu muncul dengan langkah yang gemulai.
Aruna melangkah keluar dengan keanggunan seorang ratu, didampingi oleh Christian yang berjalan protektif di sampingnya.
Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, Akhsan terpaku.
Ia seperti dihantam oleh gelombang yang sangat kuat
Aroma parfum lily of the valley bercampur sandalwood dimana ini adalah aroma yang sangat ia kenal. Aroma yang selalu digunakan Zahra.
Namun, yang membuat jantung Akhsan berhenti berdetak sesaat adalah saat ia menatap balik topeng renda hitam itu.
Di sana, di balik jaring-jaring renda yang halus, ia melihat samar-samar tanda X di pipi Aruna.
"Selamat datang di Jakarta, Nyonya Aruna Adrian," ucap Akhsan dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan profesionalitasnya.
Aruna menghentikan langkahnya tepat di depan Akhsan.
Ia menatap pria di hadapannya dari balik topeng, menatap pria yang dulu ia cintai namun juga yang menghancurkannya.
"Terima kasih, Tuan Akhsan Hermawan, bukan?" suara Aruna terdengar sangat asing, berat namun merdu, hasil dari latihan vokal selama di Korea.
Aruna tersenyum tipis di balik topengnya, senyum yang tidak sampai ke mata. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan pria yang menjadi pembicaraan hangat di Paris."
Akhsan menjulurkan tangannya, mencoba menyambut Aruna dengan sopan santun formal seorang rekan bisnis. Namun, Aruna sama sekali tidak menyambut tangan itu.
Ia justru dengan sengaja mengeratkan genggamannya pada lengan Christian, seolah menegaskan batasan yang tidak boleh dilalui oleh Akhsan.
"Mari kita menuju rumah makan yang sudah saya siapkan, Nona Aruna," ucap Akhsan sambil menarik kembali tangannya dengan canggung.
Aruna menghentikan langkahnya sejenak, matanya yang tajam menatap Sisil dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
"Kita akan makan siang bertiga dengan wanita ini?" tanya Aruna, nadanya dingin dan penuh penekanan pada kata 'wanita ini'.
Sisil yang merasa tersinggung langsung membusungkan dada.
"Wanita ini? Heh, asal Anda tahu, saya ini—"
"Sisil, diam!" bentak Akhsan keras, membuat Sisil tersentak dan nyaris menjatuhkan tas mahalnya.
Akhsan menoleh ke arah Aruna dengan wajah penuh permohonan maaf.
"Maafkan ketidaksopanannya, Nona Aruna. Dia hanya asisten saya hari ini. Dia akan berada di mobil lainnya bersama staf yang lain."
Sisil membelalak tak percaya. "Tapi Mas, aku kan tunangan—"
"Masuk ke mobil belakang, Sisil. Sekarang," perintah Akhsan tanpa bantahan sedikit pun.
Aruna tersenyum sinis di balik topeng rendanya. Tanpa menunggu ajakan kedua, ia melangkah anggun menuju mobil mewah milik Akhsan.
Christian sempat memberikan tatapan peringatan kepada Akhsan sebelum ia sendiri melangkah menuju mobil lainnya, membiarkan Aruna berada dalam satu ruang tertutup dengan mantan suaminya.
Suasana di dalam mobil itu begitu mencekam. Harum parfum lily of the valley milik Aruna memenuhi kabin, membuat paru-paru Akhsan terasa sesak karena memori yang tiba-tiba menyerang.
Ia melirik wanita di sampingnya. Aruna duduk dengan tenang, menatap ke arah jendela, sangat asing namun terasa begitu dekat.
"Nona Aruna, topeng itu sangat unik. Maaf jika saya lancang, tapi tanda di pipi Anda itu..."
Aruna menoleh perlahan. Mata mereka bertemu.
"Tanda X ini? Ini adalah hadiah dari seseorang di masa lalu, Tuan Akhsan. Sebuah pengingat tentang pengkhianatan dan kebiadaban."
Akhsan tertegun. Suara Aruna bergetar dengan nada yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Setiap kali saya melihat tanda ini di cermin, saya teringat bahwa ada orang yang harus membayar setiap inci rasa sakit yang pernah saya rasakan."
Akhsan mencengkeram kemudi dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Siapa yang tega melakukannya pada Anda?"
Aruna tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat pedih.
"Orang yang sangat saya cintai, Tuan Akhsan. Lucu, bukan? Terkadang orang yang kita anggap sebagai pelindung, justru adalah iblis yang paling nyata."
Akhsan langsung terdiam seribu bahasa. Entah mengapa, ia merasa Aruna sedang membicarakan dirinya.
Setiap kata yang keluar dari bibir Aruna terasa seperti tamparan telak di wajahnya.
Ia ingin bertanya lebih jauh, namun aura dingin yang dipancarkan Aruna seolah membangun benteng tinggi yang tak mungkin ditembus.
Sementara itu, di mobil belakang, Sisil terus menggerutu saat tunangannya hanya berdua dengan Aruna.