NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Menjalankan Keadilan

Matahari sudah mulai tinggi menyinari langit Bandung ketika Rania memasuki gedung perkantoran yang terletak di pusat kota. Gedung bertingkat itu rumah bagi kantor pengacara ternama yang telah ia pilih untuk menangani kasus perceraiannya dengan Arga—Kantor Pengacara Haryanto & Rekan. Jalan menuju lantai tiga terasa lebih panjang dari biasanya, tapi langkahnya tetap tegas dan mantap. Setiap langkah yang dia tempuh semakin memperkuat tekadnya untuk tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi mereka yang telah menghianatinya.

Setelah melalui prosedur pendaftaran di meja resepsionis, Rania diantar ke ruang tamu yang terletak di ujung koridor. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan sosok Pak Haryanto—pengacara berpengalaman yang telah ia kenal sejak awal mendirikan perusahaan—muncul dengan senyum yang ramah namun penuh keseriusan.

“Selamat pagi, Bu Rania,” ucap Pak Haryanto sambil memberikan jabat tangan yang erat. “Senang bisa bertemu dengan Anda kembali. Silakan masuk ke ruang kerja saya. Kita akan membahas semua hal yang perlu dipersiapkan dengan seksama.”

Rania mengikuti langkah Pak Haryanto ke dalam ruangan yang dihiasi dengan rak buku hukum yang tinggi dan lukisan-lukisan klasik di dinding. Ia duduk di kursi depan meja besar yang terbuat dari kayu jati berkualitas, sementara Pak Haryanto mengambil tempat di sisi lain.

“Terima kasih telah bersedia menangani kasus saya, Pak Haryanto,” ucap Rania dengan suara yang tenang tapi penuh dengan tekad. “Seperti yang saya sampaikan melalui telepon kemarin, saya ingin mengurus proses perceraian dengan Arga dengan secepat mungkin. Dan saya memiliki beberapa hal khusus yang ingin saya ajukan dalam proses ini.”

Pak Haryanto membuka berkas yang sudah disiapkan sebelumnya dan mengambil pulpennya. “Tentu saja, Bu Rania. Silakan ceritakan dengan rinci apa yang Anda inginkan. Saya akan mencoba membantu Anda semaksimal mungkin sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.”

Rania mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. “Pertama-tama, Pak Haryanto. Saya tidak ingin memberikan sepeserpun harta bersama kepada Arga. Selama lima tahun menikah, semua aset yang kita miliki—mulai dari rumah tempat tinggal kita, kendaraan, hingga sebagian besar saham perusahaan saya—semua diperoleh dari hasil kerja keras saya sendiri. Arga tidak pernah berkontribusi apa-apa dalam hal keuangan, bahkan seringkali menggunakan uang saya untuk keperluan pribadinya tanpa memberitahu saya terlebih dahulu.”

Pak Haryanto mengangguk perlahan sambil mencatat setiap kata yang keluar dari mulut Rania. “Baik, Bu Rania. Untuk itu, kita perlu mengumpulkan bukti-bukti yang jelas menunjukkan bahwa semua aset tersebut benar-benar merupakan hak milik Anda secara pribadi atau diperoleh dari usaha Anda sendiri sebelum atau selama perkawinan tanpa kontribusi dari pihak lain. Apakah Anda memiliki semua dokumen yang diperlukan?”

“Ya, Pak Haryanto,” jawab Rania sambil membuka tas kerja yang ia bawa. Ia mengeluarkan tumpukan dokumen yang telah diatur dengan rapi. “Ini adalah bukti pembelian tanah rumah tempat tinggal kita, yang saya beli satu tahun sebelum menikah dengan Arga menggunakan uang hasil usaha saya yang sudah berjalan saat itu. Ini juga bukti pembayaran cicilan rumah, semua dilakukan dari rekening pribadi saya dan dana perusahaan saya. Selain itu, ada juga bukti pembelian semua furnitur dan perlengkapan rumah yang semuanya dipesan dan dibayar oleh saya sendiri.”

Pak Haryanto mengambil dokumen tersebut dan melihatnya dengan cermat. “Bagus sekali, Bu Rania. Bukti-bukti ini akan sangat membantu dalam proses hukum nantinya. Sekarang, apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan?”

Rania mengangguk dan melanjutkan pembicaraannya. “Ada satu hal lagi yang sangat penting, Pak Haryanto. Seperti yang Anda tahu, beberapa waktu lalu Arga mengatakan ingin membuka usaha sendiri—rumah makan yang terletak di Jalan Sudirman. Pada saat itu, saya merasa senang karena dia akhirnya mau bekerja dan berkontribusi. Saya memberinya tanah untuk membangun rumah makan tersebut dari tanah saya yang sudah ada sebelum menikah, serta memberikan modal awal sebesar lima puluh juta rupiah untuk membeli peralatan dan bahan makanan awal.”

Ia mengambil selembar dokumen lain yang berisi denah tanah dan bukti transfer uang. “Namun, setelah mengetahui tentang pengkhianatannya bersama Maya, saya menemukan bahwa Arga tidak pernah benar-benar bekerja keras untuk usaha itu. Sebagian besar modal yang saya berikan digunakan untuk keperluan pribadinya dan untuk menghabiskan waktu bersama Maya. Bahkan, beberapa karyawan rumah makan datang kepada saya untuk memberitahu bahwa mereka sering tidak mendapatkan gaji tepat waktu karena Arga selalu mengatakan bahwa usaha tersebut mengalami kesulitan keuangan—padahal saya tahu bahwa rumah makan tersebut sebenarnya mendapatkan omzet yang cukup baik karena lokasinya yang strategis.”

Pak Haryanto mengerutkan kening mendengarnya. “Jadi Anda ingin mengambil alih usaha rumah makan tersebut, Bu Rania?”

“Tentu saja, Pak Haryanto,” jawab Rania dengan tegas. “Tanah tempat rumah makan berdiri adalah milik saya secara pribadi, dan modal awal yang digunakan juga berasal dari saya. Arga tidak memiliki hak apapun atas usaha tersebut. Saya akan mengambil alih seluruh pengelolaan rumah makan dan memastikan bahwa usaha tersebut bisa berjalan dengan baik lagi. Saya juga akan membayar semua utang yang mungkin ada dari usaha tersebut, tapi saya tidak akan memberikan apa-apa kepada Arga terkait dengan usaha ini.”

Pak Haryanto mencatat semua hal yang disampaikan Rania dan kemudian menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa hormat. “Saya mengerti keadaan Anda, Bu Rania. Khianatan yang Anda alami memang sangat menyakitkan hati, dan saya akan melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa Anda mendapatkan hak yang layak sesuai dengan hukum. Namun, saya perlu memberitahu Anda bahwa dalam proses perceraian, hak-hak harta bersama biasanya akan dibagi sesuai dengan kontribusi masing-masing pihak selama perkawinan.”

Ia menjelaskan dengan jelas. “Namun, berdasarkan bukti-bukti yang Anda berikan dan jika kita bisa membuktikan bahwa Arga telah melakukan tindakan yang tidak sesuai sebagai pasangan hidup—yaitu berselingkuh dengan pihak ketiga dan mungkin menggunakan harta untuk kepentingan pribadinya tanpa izin Anda—maka kita memiliki alasan yang kuat untuk meminta agar hak-hak harta tidak diberikan padanya. Bahkan, kita bisa meminta agar ia harus membayar ganti rugi jika terbukti telah merusak atau menggunakan harta Anda secara tidak benar.”

Rania merasa sedikit lega mendengar penjelasan dari Pak Haryanto. “Terima kasih banyak atas penjelasannya, Pak Haryanto. Saya hanya ingin keadilan ditegakkan. Saya tidak bisa menerima jika orang yang telah menghianati saya dengan cara yang begitu keji masih bisa mendapatkan keuntungan dari hasil kerja keras saya selama bertahun-tahun.”

“ Saya memahami perasaan Anda, Bu Rania,” ucap Pak Haryanto dengan lembut. “Sekarang, mari kita bahas langkah-langkah yang perlu kita lakukan selanjutnya. Pertama, kita akan mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan dengan dasar perselingkuhan dan perlakuan yang tidak adil dalam perkawinan. Kedua, kita akan mengumpulkan semua bukti yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa sebagian besar aset adalah milik Anda secara pribadi. Ketiga, kita akan mengajukan permohonan untuk mengambil alih seluruh hak atas usaha rumah makan tersebut karena tanah dan modal berasal dari Anda.”

Ia kemudian memberikan beberapa formulir kepada Rania. “Silakan isi formulir ini dengan jelas dan benar. Setelah itu, saya akan menyusun surat gugatan dan mengajukannya ke pengadilan sesegera mungkin. Saya juga akan mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Arga agar ia mengetahui tentang proses perceraian dan tuntutan yang Anda ajukan.”

Rania mulai mengisi formulir dengan tangan yang mantap. Setiap huruf yang dia tulis semakin memperkuat tekadnya untuk melindungi apa yang telah dia bangun dengan susah payah. “Pak Haryanto, saya juga ingin memastikan bahwa Maya tidak akan mendapatkan hak apapun terkait dengan usaha atau aset saya. Saya telah mengetahui bahwa dia tidak hanya berselingkuh dengan Arga, tapi juga telah melakukan tindakan kriminal seperti mencuri perhiasan dan mencoba menjual tanah orang lain tanpa izin. Apakah ada cara untuk memastikan bahwa dia tidak bisa mengganggu saya atau usaha saya di masa depan?”

Pak Haryanto mengangguk. “Tentu saja, Bu Rania. Kita bisa menyertakan klausul khusus dalam putusan perceraian yang melarang Arga dan pihak ketiga terkait—yaitu Maya—untuk mengganggu Anda atau bisnis Anda dengan cara apa pun. Selain itu, jika ada bukti yang cukup tentang tindakan kriminal Maya, kita bisa memberikan informasi tersebut kepada pihak berwajib agar mereka bisa mengambil tindakan yang sesuai.”

Setelah selesai mengisi formulir dan membahas semua hal yang perlu diperhatikan, Rania berdiri untuk pergi. Pak Haryanto juga berdiri dan memberikan jabat tangan padanya. “Saya akan segera mengurus semua ini, Bu Rania. Anda tidak perlu khawatir karena saya akan memastikan bahwa semua proses berjalan dengan lancar dan adil bagi Anda. Jika ada sesuatu yang perlu Anda tanyakan atau ada informasi tambahan yang ingin Anda berikan, silakan hubungi saya kapan saja.”

“Terima kasih banyak atas bantuan Anda, Pak Haryanto,” ucap Rania dengan suara yang penuh rasa hormat. “Saya sangat berterima kasih karena Anda bersedia membantu saya dalam situasi yang sulit ini.”

Saat keluar dari kantor pengacara, Rania melihat ke arah langit yang cerah. Rasanya seperti beban besar yang telah berada di pundaknya selama beberapa hari terakhir mulai sedikit terangkat. Ia tahu bahwa proses hukum akan memakan waktu dan mungkin akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi di jalan, tapi dia merasa siap.

Ia mengambil telepon dan menghubungi manajer operasional perusahaan rumah makan milik Arga. “Halo, Pak Budi. Saya adalah Rania, istri Arga. Saya ingin memberitahu Anda bahwa mulai hari ini, saya akan mengambil alih seluruh pengelolaan rumah makan tersebut. Saya akan datang ke lokasi besok pagi untuk bertemu dengan semua karyawan dan membahas perubahan yang akan dilakukan. Mohon untuk memberitahu semua orang agar tetap tenang dan terus menjalankan pekerjaan mereka seperti biasa. Semua gaji yang tertunda akan saya bayarkan secara lengkap besok sore.”

Setelah mengakhiri panggilan, Rania masuk ke dalam mobilnya dan memulai mesin. Ia mengemudi dengan tenang menuju arah rumah makan tersebut. Meskipun hatinya masih merasa sakit karena khianatan yang telah dialaminya, tapi dia tahu bahwa dia harus kuat. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk semua karyawan yang bekerja di perusahaan dan rumah makan tersebut—mereka tidak pantas menderita karena kesalahan orang lain.

Ketika tiba di lokasi rumah makan, Rania melihat bahwa usaha tersebut sebenarnya memiliki potensi yang besar. Dekorasi yang menarik, lokasi yang strategis, dan aroma makanan yang lezat yang keluar dari dapur menunjukkan bahwa usaha ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang besar jika dikelola dengan baik. Ia bertekad bahwa dia akan mengubah rumah makan ini menjadi salah satu usaha yang paling sukses di kota Bandung—bukan untuk membuktikan sesuatu kepada Arga atau Maya, tapi untuk menunjukkan bahwa dia bisa bangkit dari kedalaman kesusahan dan membangun sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Di dalam mobilnya, Rania mengambil foto kecil yang ada di dasbor—foto dirinya yang sedang tersenyum bahagia saat meresmikan perusahaan pertamanya beberapa tahun yang lalu. Ia menyentuh foto tersebut dengan lembut dan berbisik, “Saya akan membuktikan bahwa saya bisa melakukan ini. Saya tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain merusak apa yang telah saya bangun dengan susah payah.”

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!