"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 4
Malam hari di kamar Keyla. Ia hanya terdiam menatap layar ponsel yang tergeletak di atas bantal. Sudah empat jam sejak jam kantor berakhir, dan taruhannya dengan Rena terasa semakin nyata. Tidak ada notifikasi, tidak ada panggilan tak dikenal, bahkan tidak ada centang biru jika seandainya ia punya nomor pribadi pria itu.
Keyla berguling ke kanan dan ke kiri. Ia mulai meragukan strateginya. Apakah benar Arlan membuang makanan itu? Ataukah pria itu terlalu sibuk hingga lupa bahwa ada seorang gadis yang mempertaruhkan harga diri demi sebungkus salmon saus tiram?
"Nggak mungkin dia nggak luluh dikit," gumam Keyla pada boneka beruangnya. "Gue kan cantik. Semua cowok di sekolah aja ngantri, masa Om-om satu itu imunnya kuat banget sih?"
Tak lama, tiba-tiba, ponselnya bergetar. Keyla melompat, nyaris terjatuh dari tempat tidur. Dengan cepat, ia menyambar benda pipih itu.
Rena: Gimana? Udah ada tanda-tanda kehidupan dari Om Duda? Seblak level 5 menanti lo, Key. Siap-siap belajar UN besok!
Keyla mendengus kesal. Ia mengetik balasan dengan cepat.
Keyla: Sabar, Re! Orang sukses itu sibuk. Mungkin dia lagi baca pesan gue sambil senyum-senyum sendirian. Jangan sombong dulu lo!
Setelah mengirim pesan itu, Keyla melempar ponselnya ke ujung kasur. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan. Namun, hanya semenit kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan WhatsApp, melainkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo? Dengan Keyla di sini..."
"Kamu sengaja menaruh ini di dalam kotak makanku?" Suara itu. Dingin, dan sangat berwibawa. Itu Arlan.
Keyla nyaris memekik kegirangan, namun ia menahannya. "Oh, Om Arlan? Syukurlah Om telepon. Gimana? Makanannya enak, kan? Itu bumbunya spesial, lho."
"Aku tanya, kenapa kamu menaruh kartu nama yang digambar tangan dengan tulisan Masa Depanmu di bawah tumpukan nasi?" tanya Arlan. Nada suaranya terdengar antara jengkel dan tidak percaya.
Keyla tertawa kecil, "Ya biar Om ingat terus sama aku. Kalau cuma kartu nama biasa, pasti Om buang. Tapi kalau di bawah nasi, Om harus makan dulu baru bisa lihat. Gimana? Jenius kan?"
"Itu menjijikkan, Keyla. Kertas itu terkena minyak," sahut Arlan datar.
"Tapi dibaca, kan? Berarti misinya berhasil! Jadi... kenapa Om telepon? Kangen ya?"
"Jangan percaya diri berlebihan," potong Arlan cepat. "Aku menelpon hanya untuk memperingatkan kamu. Jangan pernah datang ke kantorku lagi dengan pakaian seperti itu. Kamu terlihat konyol."
Senyum Keyla sedikit memudar. "Konyol? Padahal aku dandan dua jam lho, Om. Aku cuma pengen kelihatan dewasa biar Om nggak anggap aku anak kecil terus."
"Dengar, Keyla. Kamu memang masih anak kecil. Kamu punya ujian yang harus dihadapi, punya masa depan yang panjang. Berhenti membuang waktu untuk mengejar pria yang umurnya sepuluh tahun lebih tua darimu."
"Usia itu cuma angka, Om! Cinta itu soal rasa," balas Keyla keras kepala. "Om duda, aku jomblo. Apa salahnya?"
"Saya tidak punya waktu untuk permainan ini," ucap Arlan lagi.
"Ini bukan permainan buat aku, Om Arlan Abraham yang terhormat," suara Keyla mendadak serius, menghilangkan kesan centilnya sejenak. "Aku tau apa yang aku mau. Dan saat ini, yang aku mau itu Om. Kenapa Om takut banget sih aku deketin? Apa karena istri lama Om dulu juga keras kepala sepertiku?"
Keheningan seketika mencekam menyelimuti sambungan telepon itu. Keyla menggigit bibirnya, merasa telah melewati batas. Ia tau dari info Dio bahwa Arlan adalah seorang duda, tapi ia tidak tau apa yang menyebabkan perceraian itu.
"Jangan pernah bawa-bawa masa laluku." suara Arlan berubah menjadi lebih rendah dan sangat dingin.
"Maaf... Aku nggak bermaksud..."
"Jangan telepon nomor ini lagi. Aku menghubungimu lewat ponsel asistenku yang tertinggal, agar kamu tau kalau aku tidak suka diganggu. Selamat malam."
Sambungan terputus. Keyla terpaku menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Dadanya terasa sesak. Ini pertama kalinya ia merasa benar-benar ditolak secara kasar. Biasanya, ia adalah ratu yang memegang kendali, tapi di depan Arlan, ia merasa hanya seperti butiran debu yang mengganggu penglihatan pria itu.
"Galak banget sih jadi orang," ucap Keyla, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi... kalau nggak sayang, ngapain dia repot-repot telepon cuma buat marah? Berarti gue emang ganggu pikirannya, kan?"
Keyla menghapus air mata yang nyaris jatuh. Sifat keras kepalanya kembali muncul. "Oke, Om Arlan. Om baru aja mulai perang. Dan Keyla nggak pernah kalah dalam perang apa pun."
Ia segera mengambil ponselnya lagi, bukan untuk menelepon Arlan, melainkan mengirim pesan pada Dio.
Keyla: Yo, Dio. Gue butuh info lebih dalam. Cari tahu jadwal rutin Arlan Abraham. Gym, kafe favorit, atau tempat dia biasa nongkrong kalau weekend. Sekarang!
Keyla merebahkan tubuhnya kembali. Ia tau jalan menuju hati Arlan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi justru itu yang membuatnya bersemangat. Pria dingin seperti Arlan pasti memiliki hati yang sangat hangat jika sudah mencintai seseorang, dan Keyla bersumpah, seseorang itu haruslah dirinya.
Di tempat lain, di sebuah penthouse mewah, Arlan melempar ponsel asistennya ke atas meja kerja. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengusir bayangan wajah ceria gadis SMA itu.
"Keyla..." gumamnya pelan. "Anak itu... benar-benar merepotkan."