NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Berkuda Dengan Xiao Lu yang Jelita.

[PoV Ling Feng]

Fajar ketiga di perkemahan Sekte Cang Huo Zong turun seperti napas yang ditahan terlalu lama.

Kabut tipis menggantung di antara tenda-tenda. Tanah masih menyimpan dingin malam, retaknya dipenuhi embun yang belum jatuh. Udara terasa berat, seolah langit sedang mempertimbangkan sesuatu.

Aku duduk di depan tenda, lutut kupeluk. Abu berbaring di sampingku. Dadanya naik turun perlahan. Bulu kelabunya basah oleh embun, berkilau pucat. Matanya sudah terbuka, lurus ke depan.

Ke arah tenda biru itu.

“Kau masih di sini.”

Suara itu lebih dulu menyibakkan pagi sebelum kain tenda bergerak.

Aku menoleh.

Xiao Lu berdiri di ambang tenda seperti garis tinta yang baru saja ditarik di atas kertas fajar.

Kabut tipis memeluk siluetnya, membuat tubuhnya tampak setengah nyata, setengah mimpi. Rambut hitamnya terurai tanpa ikatan, jatuh lurus melewati bahu. Satu helai menyentuh mata kirinya, menggantung di sana dengan anggun, namun ia tak berniat menyingkirkannya, selama ia tetap melihat yang ingin ia lihat.

Angin pagi menyentuh kain biru yang dikenakannya. Kain itu longgar dan ringan, mengalir mengikuti napas udara, membentuk lekuk yang lembut lalu kembali rata, seperti permukaan danau yang disentuh riak kecil. Warna birunya tidak mencolok, namun dalam cahaya fajar ia menyimpan kedalaman, antara langit sebelum siang dan laut sebelum badai.

Tidak ada lambang sekte di dadanya. Hanya lipatan kain yang sederhana, jatuh dengan tenang, seolah keanggunan tak membutuhkan pengakuan apa pun untuk berdiri tegak.

Untuk sesaat, pagi terasa berhenti di ambang bersamanya.

“Kau bilang kita akan berangkat setelah sarapan,” jawabku. “Aku menunggu.”

Ia mendengus pelan, seperti mengingat sesuatu yang hampir terlupa. Lalu ia melangkah mendekat. Tanpa suara langkah yang berlebihan. Tanpa isyarat. Napas yang tadi tenang mendadak terasa sempit di dadaku.

Abu bangkit. Tidak menggeram. Tubuhnya hanya bergeser, memanjang di antara kami. Ekornya diam, telinganya tegak.

Xiao Lu berhenti satu langkah sebelum bayangannya menyentuhku. Ia menatap Abu. Sudut bibirnya terangkat tipis, tidak simetris.

“Kau menjaganya,” katanya. Bukan pertanyaan. “Bahkan dari sesuatu yang belum tentu berbahaya.”

Angin menyentuh ujung kain birunya.

“Kau berbahaya?” tanyaku.

Ia menatapku. Lama.

Cahaya pagi tersangkut di kedalaman matanya, berkilat sebentar seperti rahasia yang enggan pecah. Sulit dibaca, bukan karena kosong, tapi terlalu tenang. Lalu garis di bibirnya bergeser perlahan, membentuk senyum yang rapi dan terukur, seolah setiap lengkungnya telah diputuskan jauh sebelum fajar turun.

“Hanya kepada orang yang salah,” jawabnya. “Kau merasa termasuk orang yang salah, Ling ... Feng?”

Namaku keluar perlahan dari bibirnya. Setiap suku kata jatuh satu per satu.

Ling.

Feng.

Di Jinglan, namaku dipanggil tanpa jeda. Di sini, bunyinya berputar sebentar di udara sebelum sampai ke telingaku.

Aku tidak menjawab.

Ia sudah berbalik.

“Shifu setuju kau ikut,” katanya sambil berjalan ke arah tenda persediaan. “Tapi kau tidak akan bergerak sendiri. Aku yang akan mengawasi.”

“Pengawas atau penjaga?”

“Tergantung kebutuhan.”

Tali-tali ditarik kencang. Peta digulung dengan gerakan ringkas. Logam kecil beradu pelan ketika perbekalan diikat.

Dua kuda berdiri menunggu, uap tipis keluar dari lubang hidungnya.

Aku berdiri di samping pelana, memandangi sanggurdi seperti teka-teki.

“Kau bercanda,” katanya.

“Aku petani. Kami berjalan kaki.”

Ia menghela napas panjang.

Lalu turun. Mendekat.

Tangannya meraih tanganku tanpa aba-aba. Telapaknya kasar, kulitnya hangat. Jemarinya menutup pergelanganku dengan tekanan yang pasti.

“Kaki kiri dulu di sanggurdi,” katanya, suara datar. “Tarik badan. Jangan mencengkeram surai kuda seperti itu, dia akan mengira kau musuh.”

Aku mencoba. Pelana terasa lebih tinggi dari yang terlihat.

Tangannya berpindah ke pinggangku, menahan ketika tubuhku hampir condong terlalu jauh. Jari-jarinya kuat. Stabil. Beberapa detik. Lalu dilepaskan.

Kami bergerak ke utara.

Punggung Xiao Lu menjadi satu-satunya garis pasti di antara batang-batang pohon yang rapat. Jubah birunya mengayun pelan setiap kali kudanya melangkah, kadang menghilang di balik kabut tipis, lalu muncul lagi seperti bayangan yang menunggu.

Aku menahan napas, menyesuaikan tubuhku dengan gerak pelana. Kuda di bawahku berayun naik-turun, setiap langkahnya mengirim getar pendek ke tulang punggungku. Tali kekang terasa lembap di telapak tangan.

Abu berlari di sisi kiri. Kaki belakangnya menyentuh tanah lebih pelan dari yang lain, sekali, dua kali, tiga, lalu ia melonjak sedikit lebih cepat, seolah menolak dikasihani. Embun beterbangan dari rerumputan yang disibakkannya.

Hutan tidak benar-benar membuka jalan, ia hanya menggeser dirinya sejengkal demi sejengkal. Dahan rendah menggores bahuku. Daun-daun basah menjatuhkan titik-titik dingin ke leherku. Setiap beberapa langkah, terdengar retakan kecil, ranting yang tak sempat menghindar dari tapak kuda.

Udara berbau tanah lembap dan getah yang baru pecah.

Dan di antara bunyi itu semua, hanya ada ritme langkah, empat ketukan pelan, berulang, tak pernah tergesa.

“Lihat. Bekas roda. Beratnya tidak normal, mereka membawa sesuatu yang besar.”

Aku mengikuti arah jarinya. Di antara jejak tapak kuda kami, tanah di sisi kiri tampak lebih dalam—retaknya melebar, rumputnya rebah tak wajar, seolah sesuatu yang berat pernah diseret melintasinya.

Aku memicingkan mata. Hanya tanah, bagiku.

Xiao Lu turun dari pelana tanpa suara. Lututnya menyentuh tanah lembap. Ia menyibakkan lapisan daun kering, memperlihatkan cekungan yang nyaris tertutup embun. Dua jarinya menekan tepi bekas itu, merasakan kedalamannya. Tanahnya masih padat di bagian bawah.

Ia menggosokkan butiran cokelat itu di antara ibu jari dan telunjuknya. Serbuknya menggumpal, lengket, lalu ia mendekatkannya ke hidung.

Hening.

Angin lewat, menggerakkan ujung rambutnya.

Kelopak matanya menyempit sedikit. Bukan terkejut, lebih seperti mengenali sesuatu yang sudah lama ia hafal.

“Bau ini. Darah kering. Tiga hari lalu, mungkin empat."

Aku ikut berlutut tadi, menarik napas panjang seperti yang ia lakukan. Hidungku dipenuhi bau tanah basah dan getah pecah. Tidak ada yang lain. Tidak ada jejak yang bisa kupanggil sebagai petunjuk.

Ia sudah lebih dulu naik ke pelana ketika aku masih mencoba memahami apa yang tak mampu kucium.

Perjalanan berlanjut tanpa penjelasan. Empat tapak kuda memukul tanah dalam irama pelan. Di sela desir daun dan ranting yang patah, kepalanya sedikit berpaling, pada bayangan kelabu yang berlari di sisi kami.

“Hewan itu,” Katanya. “Kau memberinya nama?”

“Abu.”

Anggukannya kecil, hampir tertelan langkah kuda.

Angin mengangkat rambutnya, dan untuk satu tarikan napas, wajahnya tidak lagi bersembunyi. Cahaya menelusuri pipinya. Sesuatu yang rapuh melintas di sana, sebelum ia kembali menurunkannya.

“Aku dulu punya kucing.”

Tangannya pada tali kekang berhenti sepersekian detik. Lalu kuda itu kembali melangkah.

Aku menunggu.

Hutan menjawab dengan sunyi.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!