NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Lari Saat Hamil / Teen Angst / Mafia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:42.5k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.

Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh

Setelah puas bermain air, mereka kembali ke kamar masing-masing. Revan tertidur lebih dulu, kelelahan setelah terlalu banyak berlari dan tertawa. Alana keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah, mengenakan pakaian sederhana yang ia bawa sendiri. Arka berdiri di dekat meja, mengganti jam tangannya, ekspresinya kembali dingin seperti biasa, seolah pagi di pantai tadi tak pernah meninggalkan bekas apa pun.

“Siap?” tanya Arka singkat.

“Iya, Tuan,” jawab Alana sambil mengangguk.

Mereka meninggalkan penginapan menjelang siang. Mobil melaju tenang di jalanan pesisir, sinar matahari memantul di kaca depan. Revan duduk di belakang, memeluk mainan kecil yang dibelinya semalam, sesekali bertanya ini-itu dengan suara ceria. Alana menemaninya, menjawab dengan sabar. Arka mengemudi, sesekali melirik ke spion tengah, memastikan keduanya baik-baik saja.

Tujuan mereka adalah sebuah restoran yang berdiri megah di pinggir kota. Bangunannya tinggi, bergaya modern dengan kaca-kaca besar dan pintu masuk yang dijaga pelayan berseragam rapi. Begitu mobil berhenti, seorang petugas langsung membukakan pintu, menyapa dengan senyum profesional.

Alana melangkah masuk dengan sedikit ragu. Matanya berkeliling, menatap langit-langit tinggi, lampu kristal yang menggantung anggun, meja-meja dengan taplak putih bersih, dan peralatan makan yang berkilau. Semua terasa asing. Terlalu mewah. Terlalu jauh dari dunia yang biasa ia kenal.

Mereka duduk di meja yang menghadap jendela besar. Dari sana, laut terlihat berkilau, tapi perhatian Alana lebih tertarik pada daftar menu di tangannya. Tulisan-tulisan asing, nama makanan yang bahkan sulit ia ucapkan dalam hati.

Pelayan datang dan mencatat pesanan. Arka memesan beberapa hidangan tanpa banyak berpikir, makanan Eropa, hidangan laut dengan saus mahal, minuman yang namanya panjang dan rumit. Revan ikut memesan dengan semangat, menunjuk gambar di menu anak-anak. Alana hanya diam.

Saat makanan tersaji, meja mereka penuh dengan piring-piring cantik berisi hidangan yang tampilannya nyaris seperti karya seni. Aroma harum memenuhi udara. Revan langsung menyantap makanannya dengan lahap. Arka mulai makan dengan tenang, gerakannya rapi dan terbiasa.

Alana hanya menatap. Tangannya berada di pangkuan, matanya mengikuti gerak sendok Arka, lalu beralih ke makanan di depannya. Ia tak menyentuh apa pun.

Arka menyadarinya setelah beberapa menit. Ia berhenti makan, menatap Alana dari seberang meja.

“Kamu kenapa tidak makan?” tanya Arka dengan suara datar.

Alana tersentak kecil. “Ah … saya .…”

“Kamu tidak lapar?”

“Lapar, Tuan,” jawab Alana jujur, lalu tersenyum kecil, agak malu. “Hanya saja … saya tidak biasa dengan makanan seperti ini.”

Arka mengerutkan dahi. “Tidak biasa?”

Alana mengangguk pelan. “Saya … biasanya makan nasi. Kalau tidak ada nasi, rasanya belum makan.”

Revan berhenti mengunyah dan menoleh ke Alana. “Mbak nggak suka ini?” tanyanya polos sambil menunjuk makanannya sendiri.

“Bukan nggak suka,” jawab Alana lembut. “Cuma … belum terbiasa.”

Arka terdiam sejenak. Tatapannya kembali ke piring-piring mahal itu, lalu ke wajah Alana yang tampak sungguh-sungguh, tanpa kepura-puraan. Ada sesuatu yang mengusik dadanya, perasaan yang sulit ia beri nama. Dia memberi isyarat pada pelayan.

“Tambahkan satu pesanan,” kata Arka singkat. “Nasi goreng spesial. Seafood.” Pelayan mengangguk cepat dan berlalu.

Alana menatap Arka, sedikit terkejut. “Tuan … tidak perlu.”

“Perlu,” jawab Arka singkat. “Kamu harus makan.”

Beberapa menit kemudian, sepiring nasi goreng tersaji. Aromanya sederhana, familiar. Alana menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. Senyum yang kali ini benar-benar sampai ke matanya.

“Terima kasih, Tuan,” ucapnya tulus.

Alana mulai makan. Gerakannya sederhana, tapi terlihat menikmati setiap suap. Arka tanpa sadar memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya. Ada kepuasan aneh melihat gadis itu makan dengan lahap, seolah keputusan kecilnya barusan adalah hal besar bagi Alana.

Setelah makan siang selesai, Arka membayar tanpa banyak bicara. Mereka kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan. Kali ini, Arka tidak langsung mengarahkan mobil ke rumah.

Mobil berhenti di depan sebuah butik besar. Etalase kacanya memajang gaun-gaun mahal, pakaian dengan potongan elegan, dan aksesori yang terlihat seperti milik dunia lain bagi Alana.

“Tuan …?” Alana menatap bangunan itu dengan ragu.

“Turun,” perintah Arka singkat.

Mereka masuk. Seorang pegawai butik langsung menyambut dengan ramah, jelas mengenali Arka. Matanya sempat melirik Alana dari ujung kepala sampai kaki, bukan dengan merendahkan, melainkan menilai, seperti seorang profesional yang melihat kanvas kosong.

“Silakan, Pak Arka,” ucapnya sopan. “Ada yang bisa kami bantu?”

Arka menoleh ke Alana. “Pilih baju.”

Alana terkejut. “Apa?”

“Ambil beberapa pakaian,” ulang Arka. “Yang kamu perlukan.”

Alana langsung menggeleng. “Tidak, Tuan. Saya tidak bisa.”

“Kamu butuh.”

“Saya … saya masih punya baju,” jawab Alana cepat. “Ini tidak perlu. Lagi pula ....”

“Ini perintah,” potong Arka, nadanya tegas.

Alana terdiam. Jarinya saling meremas. Dia menatap Arka, lalu ke deretan pakaian mahal di sekelilingnya.

“Tuan,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Ini bukan termasuk hutang saya, kan?”

Arka menatapnya, ekspresinya tak berubah.

“Bisa-bisa hutang saya bertambah terus,” lanjut Alana, suaranya jujur, tanpa nada menyalahkan. “Mobil ringsek saja belum bisa saya ganti dengan uang. Kalau ini ditambahkan … saya tidak tahu kapan lunasnya.”

Kata-kata itu menggantung di udara. Pegawai butik pura-pura sibuk, tapi jelas mendengar. Revan berdiri di samping Alana, memegang ujung bajunya, menatap Arka dengan wajah bingung.

Arka menarik napas pelan. “Ini bukan hutang,” ujar pria itu akhirnya. Alana menatapnya, ragu.

“Anggap saja bonus,” lanjut Arka. “Karena kamu bisa membuat Revan bahagia.”

Revan langsung tersenyum lebar. “Mbak bikin aku bahagia!” serunya tanpa beban.

Alana terdiam lama. Dadanya terasa penuh. Dia menunduk sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Baik, Tuan,” ucap Alana akhirnya.

“Sepuluh pasang,” kata Arka tanpa ragu. “Pilih sendiri.”

Alana terkejut lagi. “Sepuluh?”

“Iya.”

Alana menelan ludah. Dia berjalan perlahan menyusuri butik, memilih dengan hati-hati. Bukan yang paling mahal. Bukan yang paling mencolok. Dia memilih pakaian sederhana, nyaman, pantas dipakai sehari-hari. Gaun panjang dengan warna lembut, blus polos, celana kain yang rapi, dan beberapa pakaian rumah.

Arka mengawasinya dari jauh. Cara Alana memilih begitu tenang, penuh pertimbangan, membuatnya kembali menyadari betapa berbeda gadis itu dari perempuan-perempuan yang biasa ia temui. Tidak serakah. Tidak manja. Tidak menuntut.

Setelah selesai, pegawai butik membungkus semua pilihan Alana. Arka membayar tanpa melihat jumlahnya.

Dalam perjalanan pulang, mobil terasa lebih sunyi. Revan tertidur lagi, memeluk kantong kecil berisi mainan. Alana memandang keluar jendela, memeluk tas belanja di pangkuannya, seolah takut benda-benda itu menghilang jika ia lengah.

“Tuan,” ucap Alana pelan tanpa menoleh. “Terima kasih.”

Arka mengangguk singkat. “Istirahatlah.”

Mobil melaju menembus sore. Saat rumah Arka akhirnya terlihat di kejauhan, matahari mulai condong ke barat. Alana menarik napas panjang. Ada rasa aman yang kembali mengisi dadanya, tapi juga kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.

Ia tidak tahu sampai kapan perlindungan ini akan bertahan. Dan Arka, tidak tahu sampai kapan ia bisa menjaga jarak dari sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

1
vj'z tri
kelakuahan kanjeng ratu 😡😡😡😡
Naufal Affiq
bik marni,alana sudah di usir dari rumah arka,jadi jangan di cari lagi,biar tau rasa si arka itu
ElHi
semogaaa si Revan tantrum sampe sakit mikirin Alana biar keluarga sombong itu tau rasa!!! cerai aja Alana...sama Rafael ajaah...*)ngarep mode on
Aditya hp/ bunda Lia: aku dukung 👍
total 1 replies
Tiara Bella
si Arkan kemana dia sampe gk tw klu Alana diusir sm mmhnya dia.....
Patrick Khan
emak arka jahat bgt . 🔥
muhammad ihsan
jangan pisahkan alana dan arka thor
Maria Kibtiyah
semoga si arka tau alana di usir emaknya
Suanti
semoga aja berjodoh sm rafael
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭
astr.id_est 🌻
mewek 😢
astr.id_est 🌻
alana yang malang
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ida Nur Hidayati
semoga Alana ditolong orang baik dan iklas
Cindy
lanjut kak
Radya Arynda
Dasar wanita somboh,angkuh dan jahat,,,,saat revan sudah mulai bahagia malah alana di usir,,,,si pecu dang arka juga habis merkosa peegi dasar iblis,,,,semogah revan sakit parah biar nenek sihir tau rasa....
dyah EkaPratiwi
ditunggu tantrumnya Revan biar arka n mama Ratna pusing
Oma Gavin
rasakan kamu arka dan ratna Revan tantrum ditinggal alana
Salim ah
semoga yg menolong Alana Rafael dan dibawa kerumahnya🙄
Patrick Khan
pasti Rafael itu..
Ilfa Yarni
siapa yg menolong Alana apakah rafael
Radya Arynda
semogah kamu di tolong orang baik,,dan mau merubah mu lebih kuat dan berani jangan lembek lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!