NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa percobaan?

Ting tong...

"Jen... pengganggu hatimu datang!"

Kemudian aku melihat kak Erick menoyor kepala Belva.

"Erick!", protes Belva.

"Pagi kak, kak Erick ga bawa tas kesini?", tanya Arnold.

"Aku udah check out tadi, jadi barangku sudah ada di mobil."

"Kalian udah siap untuk check out?", tanyanya entah kesiapa.

"Iya aku kesini sekalian mau bantu bawa barang Belva", jawab Arnold.

"Oooo...", jawabnya kemudian duduk disampingku.

"Kamu cuma sarapan buah Jen?"

"Iya kak", jawabku singkat.

"Yuk kita check out", ajak Belva.

"Aku bantu bawa Jen", kak Erick mengambil koperku.

"Makasih kak."

Setelah proses chek out selesai, aku dan Belva menunggu di lobby sedangkan kak Arnold dan kak Erick mengambil mobil masing-masing. Tidak lama kulihat mobil mereka berjalan beriringan. Kak Arnold dengan sigap memasukkan koper Belva kedalam mobil.

"Jeny bareng aku Nold", ucapnya saat turun dari mobil.

"Sampai ketemu nanti di rumah Jen."

"Sampai bertemu lagi Jen", pamit Belva dan kak Arnold.

Sambil tersenyum melambaikan tangan, aku masuk ke dalam mobil kak Erick.

"Kita makan dulu Jen, tadi aku nemu cafe yang menarik dekat sini."

"Ya kak."

Kak Erick membawaku ke cafe hutan pinus, selain tempat makan, area ini juga menyediakan area foto dan jalan untuk berkeliling sekitar hutan pinus, aku bisa menebak nasibku setelah makan nanti.

Tebakanku benar, selama makan, kak Erick hanya menanyakan tentang pertanyaan umum dan tidak menyinggung kejadian semalam. Kemudian kami berjalan-jalan di sekitar hutan pinus lalu duduk di salah satu kursi yang tersedia disana. Kuakui kak Erick pandai mencari tempat, tidak banyak orang disekitar kami, cukup nyaman untuk pembicaraan kami ke depan.

"Apa kamu sudah memikirkan kejadian semalam? Kamu ga semabuk itu untuk melupakan soal ciuman itu kan Jen?"

"Hmmmm.... ya", jawabku sambil menunduk.

"Ok baiklah, aku permudah pembicaraan ini. Jen lihat aku.", aku mendongakkan kepalaku menatapnya.

"Hanya jawab ya dan tidak, ga ada kata lain selain ya dan tidak, mengerti Jen?"

Aku menganggukkan kepalaku.

"Kamu ingat kita berciuman kan?"

"Ya", jawabku pelan.

"Kemarin malam aku menciummu 2x".

"Ya", jawabku pelan lagi.

"Diciuman yang kedua, kamu membalas ciumanku."

Ada jeda sesaat, kemudian aku menjawab dengan pelan, "ya."

"Itu artinya kamu juga menyukaiku kan Jen?"

"Ya... tapi..."

"Hanya ya dan tidak Jen, aku tau kamu punya banyak alasan untuk kata ya dan tidak kamu."

Aku menunduk lagi, tidak bisa membantahnya.

"Tatap aku Jen, aku butuh melihat matamu saat kamu menjawab pertanyaanku."

"Untuk alasan ya yang tadi, aku tebak ini mengenai seniormu?".

"Mmm... ya...", jawabku ragu.

"Kamu ragu menjawabnya, ok kalau begitu, apapun alasannya setidaknya saat ini aku lebih unggul dari seniormu?"

"Mungkin".

"Ya dan tidak Jen."

"Kalau kemarin malam yang menciummu adalah seniormu, apa kamu akan membalas ciumannya?"

"Tidak", jawabku sepelan mungkin sambil menunduk.

"Kamu akan menolak ciumannya? Tatap aku Jen."

"Ya...", jawabku canggung.

Ia diam sesaat kemudian berkata lagi.

"Aku cinta kamu Jen, ga hanya sekedar suka, meski aku tau kamu belum bisa balas perasaanku seperti yang aku mau tapi saat ini, pengakuan kamu sekarang sudah cukup. Masalah lainnya, aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi saja, aku yakin suatu saat kamu jadi milikku, jadi ayo kita pacaran Jen."

"Hah?..."

"Aku ngajak pacaran Jen, bukan nikah. Aku tau aku belum bisa buat kamu jawab kata ya dengan tegas. Aku akan tunggu kamu sampai kamu bisa yakin dan menjawab tanpa keraguan."

"Kakak ga dengar kata mungkin tadi? Ga mau tau alasan yang tadi?"

"Bukannya ga mau tau, tapi udah tau secara garis besarnya, kamu kan udah pernah bilang sama aku di beberapa kesempatan, termasuk tadi malam Jen."

"Oh iya...", aku berusaha mengingat kata-kataku kemarin.

"Aku ga masalah dengan alasan lainnya, saat ini aku hanya mau fokus sama perasaan kamu ke aku, yah meski baru sedikit. Nyatanya saat ini kita saling menyukai kan, buktinya kamu membalas ciumanku. Jadi Jen... mau jadi pacarku?"

Aku diam sejenak...

"Kak bisa jadi kemarin itu nafsu sesaat."

"Bukankah itu berita baik untukku, kamu... punya nafsu sama aku?", ucapnya tersenyum.

"Kalau kakak cuma pelarian bagaimana?"

"Ga masalah, itu berarti aku orang yang kamu butuhkan saat ini kan?"

"Jen kamu tau kalau kamu kerja ada masa percobaan kan? Bagaimana kalau kita juga seperti itu."

"Kak... !"

"Apa salahnya? Manfaatkan aku Jen, bukankah dari sisi manapun penawaran ini ga merugikan kamu?"

"Pacaran percobaan, setuju?"

Setelah jeda beberapa saat, akhirnya aku mengangguk pelan, tidak yakin ini keputusan yang tepat.

"Terrima kasih Jen", ia memelukku dan berkata lagi, "Akan kubuktikan aku pria yang tepat untukmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!