NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Misi Gila sang Ratu Jalanan

​Malam di Jakarta belum berakhir, dan bagi Clarissa, adrenalin adalah satu-satunya bahan bakar yang membuatnya tetap tegak. Di garasi bawah safe house, sebuah motor Ducati Panigale berwarna merah darah berkilau di bawah lampu neon.

​"Kau yakin bisa mengendarai ini? Tubuh Lestari jauh lebih kecil dari tubuh aslimu dulu," Devan menatap ragu saat Clarissa menyambar helm full-face hitam.

​Clarissa menyeringai di balik kaca helm yang ia buka sedikit. "Jangan meremehkan memori otot, Devan. Sebelum aku menjadi CEO Wijaya, aku adalah ratu balap liar di London. Dan tubuh Lestari? Dia jauh lebih lincah dari yang kau duga."

​Vroom!

​Suara raungan mesin motor itu memecah kesunyian. Clarissa memutar gas, dan dalam sekejap, ia melesat keluar dari garasi, meninggalkan Devan yang masih terpaku dengan ekspresi antara kagum dan cemas setengah mati.

​"Wanita itu... benar-benar akan membuatku jantungan sebelum kami sempat menikah," gumam Devan. Ia segera masuk ke mobilnya, menghubungi tim IT-nya melalui headset. "Blokir semua akses keluar-masuk gedung K-Corp. Pastikan tidak ada satu pun orang Hendrawan yang menyadari kehadiran 'hantu' malam ini!"

​Clarissa membelah kemacetan dini hari dengan kecepatan gila. Di balik helmnya, otaknya bekerja secepat prosesor terbaru. Ia tahu gedung K-Corp seperti punggung tangannya sendiri. Hendrawan mungkin sudah mengganti semua kode akses pintu utama, tapi ada satu jalur yang tidak akan pernah ia duga: jalur pembuangan udara di lantai dasar yang terhubung langsung ke ruang server bawah tanah.

​Ia memarkir motornya di gang gelap di samping gedung. Dengan gerakan lincah, ia memanjat pagar kawat dan menyelinap masuk melalui celah ventilasi. Tubuh Lestari yang ramping terbukti sangat berguna di sini.

​"Maaf ya, Lestari, bajumu jadi kotor semua," bisiknya saat ia merangkak di dalam pipa besi yang sempit dan berdebu.

​Sepuluh menit kemudian, ia berhasil melompat turun tepat di depan pintu baja ruang server. Tiba-tiba, lampu sensor menyala.

​"Siapa di sana?!" seorang penjaga keamanan berteriak sambil mengarahkan senter.

​Clarissa tidak panik. Ia segera bersembunyi di balik rak server yang besar. Saat penjaga itu mendekat, Clarissa menggunakan keahlian bela diri yang pernah ia pelajari dulu. Ia menjegal kaki si penjaga, memutar tangannya, dan menekan titik syaraf di lehernya hingga pria itu pingsan seketika.

​"Terlalu mudah," gumam Clarissa sambil mengambil kartu akses milik si penjaga.

​Ia segera duduk di depan komputer pusat. Jarinya menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa. Layar monitor menampilkan bilah kemajuan penghapusan data Mahendra Group: 85% Selesai.

​"Sial, sedikit lagi!"

​Clarissa memasukkan kode rahasia yang hanya diketahui oleh pendiri Wijaya—sebuah protokol darurat bernama “The Phoenix”.

​[ACCESS GRANTED. ENTER BIOMETRIC ENCRYPTION.]

​Clarissa terhenti. Biometrik? Tubuhnya sekarang adalah Lestari, bukan Clarissa. Sidik jarinya tidak akan cocok.

​"Berpikir, Clarissa, berpikir!" ia memutar otak. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ayahnya dulu pernah bercerita bahwa protokol The Phoenix bisa dibuka dengan irama detak jantung tertentu jika biometrik gagal. Sebuah lagu pengantar tidur yang dulu sering dinyanyikan ayahnya.

​Ia meletakkan tangannya di atas sensor denyut nadi. Ia mulai mengatur napasnya, membayangkan melodi lagu itu, mencoba menyelaraskan detak jantungnya dengan kode ritme yang tertanam di sistem.

​Deg... deg-deg... deg...

​Layar monitor berkedip hijau. [SYSTEM OVERRIDE SUCCESSFUL. STOPPING DATA DELETION.]

​"Hah... berhasil," Clarissa menyandarkan punggungnya, napasnya tersengal.

​Namun, kegembiraannya tidak bertahan lama. Pintu ruang server terbuka lebar. Hendrawan berdiri di sana, dikelilingi oleh lima orang pria berjas hitam yang menodongkan senjata.

​"Lestari... atau Clarissa? Aku harus memujimu. Kau benar-benar memiliki sembilan nyawa," Hendrawan bertepuk tangan pelan, suaranya menggema dingin di ruangan berpendingin itu.

​Clarissa berdiri pelan, menatap pamannya dengan kebencian yang murni. "Permainanmu sudah berakhir, Paman. Aku sudah menghentikan virusnya. Dan semua bukti pencucian uangmu sudah kukirim ke server Mahendra Group sebagai cadangan."

​Hendrawan tertawa, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kau pikir aku peduli dengan data itu? Clarissa, sayang... kau selalu terlalu fokus pada angka dan dokumen. Kau lupa bahwa di dunia ini, kekuatan fisik dan peluru jauh lebih menentukan."

​Hendrawan memberi isyarat pada anak buahnya. "Ambil flashdisk itu darinya. Dan pastikan dia tidak bisa bicara lagi... selamanya."

​Saat para pria itu mendekat, tiba-tiba suara ledakan terdengar dari langit-langit. Kaca ruang server pecah berkeping-keping. Seseorang meluncur turun dengan tali rappelling dari atas.

​DOR! DOR!

​Dua orang anak buah Hendrawan tumbang seketika. Devan Mahendra mendarat dengan sempurna di depan Clarissa, menodongkan senjata ke arah Hendrawan dengan tatapan iblis yang haus darah.

​"Aku sudah bilang padamu, Hendrawan," suara Devan terdengar sangat rendah dan mematikan. "Jangan pernah menyentuh milikku."

​"Devan!" Clarissa berseru lega, namun ia segera menyadari sesuatu. "Hati-hati, dia punya detonator!"

​Hendrawan mengangkat sebuah pemantik kecil. "Jika aku jatuh, gedung ini akan ikut jatuh bersamaku! Seluruh bukti, seluruh rahasia Wijaya, dan kalian berdua akan terkubur di sini!"

​Suasana menjadi sangat tegang. Devan tidak bergerak, matanya terkunci pada tangan Hendrawan.

​"Lakukanlah," tantang Devan tenang. "Tapi kau harus tahu satu hal. Putri kandungmu, Angelica, sedang berada di lobi gedung ini sekarang. Dia datang untuk menyusulmu. Jika kau menekan tombol itu, kau akan membunuh satu-satunya darah dagingmu sendiri."

​Hendrawan membeku. "Bohong! Angelica sedang di rumah sakit!"

​"Periksa ponselmu, Paman," Clarissa menimpali dengan senyum licik. "Aku yang mengiriminya pesan atas namamu agar dia datang ke sini untuk 'merayakan kemenangan'. Bukankah itu yang biasa kau lakukan? Menggunakan orang lain sebagai pion?"

​Hendrawan gemetar. Ketamakannya bertarung dengan sedikit rasa kemanusiaan yang tersisa untuk putrinya. Dalam momen keraguan itu, Devan bergerak secepat kilat. Ia menendang tangan Hendrawan hingga detonator itu terlepas, lalu melayangkan pukulan keras ke rahang pria tua itu.

​BUGH!

​Hendrawan tersungkur pingsan. Pasukan khusus Devan segera merangsek masuk dan mengamankan situasi.

​Devan berbalik, menatap Clarissa yang masih berdiri di depan komputer. Ia mendekat, memegang bahu Clarissa dan memeriksanya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

​"Kau terluka? Ada yang sakit?" tanya Devan, suaranya yang tadi dingin kini penuh dengan kecemasan.

​Clarissa menggeleng, lalu tiba-tiba ia tertawa kecil. "Aku baik-baik saja, Devan. Hanya sedikit berdebu karena pipa ventilasimu sangat kotor. Kau harus memecat petugas kebersihanmu."

​Devan menghela napas panjang, lalu ia menarik Clarissa ke dalam pelukannya. Ia mencium puncak kepala Clarissa berkali-kali. "Jangan pernah lakukan misi gila seperti ini lagi. Aku hampir mati terkena serangan jantung saat melihatmu balapan di CCTV kota."

​"Tapi aku keren, kan?" Clarissa mendongak, menatap Devan dengan mata berbinar jahil.

​"Ya, kau sangat keren. Dan sangat merepotkan," Devan menjewer pelan telinga Clarissa, membuat gadis itu memekik kecil. "Sekarang, mari kita selesaikan ini. Dunia harus tahu siapa pemilik asli Wijaya Group."

​Namun, saat mereka hendak keluar, ponsel Clarissa berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang sama dengan sebelumnya. Kali ini isinya adalah sebuah foto.

​Foto itu adalah foto Lestari yang asli saat masih kecil, sedang digandeng oleh seorang pria yang wajahnya tidak terlihat, namun di pergelangan tangannya terdapat tato berbentuk Naga Hitam.

​Di bawah foto itu tertulis: “Selamat atas kemenangan kecilmu, Clarissa. Tapi ingat, tubuh yang kau tempati memiliki hutang darah pada organisasi kami. Sampai jumpa di babak selanjutnya.”

​Clarissa membeku. Hutang darah? Organisasi Naga Hitam?

​"Ada apa?" Devan menyadari perubahan wajah Clarissa.

​Clarissa segera menyembunyikan ponselnya. "Tidak ada. Hanya... aku lapar. Bisakah kita makan steak yang benar-benar bisa dimakan kali ini?"

​Devan tersenyum, merangkul pinggang Clarissa dengan posesif. "Tentu, Ratu. Apapun untukmu."

​Mereka berjalan keluar gedung K-Corp di bawah sorot lampu sirine polisi dan kilatan kamera wartawan. Clarissa tahu, kemenangan ini hanyalah awal dari misteri yang lebih besar. Siapakah sebenarnya Lestari? Dan apa hubungannya dengan organisasi gelap itu?

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!