Lea Michele wanita berusia ( 22 ) tahun, seorang wanita berdarah dingin, dan bekerja sebagai pembunuh bayaran, yang harus mengalami kecelakaan hebat. alih-alih pergi ke alam baka. jiwanya malah terperangah di dalam tubuh seorang gadis yang bernama Carlin Christine. seorang gadis yang sudah menikah. tapi yang tidak pernah di anggap sebagai istri oleh suaminya.
__________________________________________
lantas bagaimana kelanjutan kisahnya, mari kita bersama-sama untuk membacanya. mampukah Lea sang pembunuh bayaran, berperan sebagai Carlin Christine. atau malah sebaliknya...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ecly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di ajak kerja sama
Lea menatap datar ke arah Axel, yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam kamarnya, tanpa permisi, dan mengetuk pintu.
" Sepertinya, kuping mu, hanya untuk cadangan. ya? atau kamu mendadak amnesia, sampai kamu lupa apa yang sudah ku katakan tadi malam? "
" Yang lupa kamu Carlin, aku sudah menyuruh kelly, untuk membantu mu segera bersiap-siap? " Axel tidak terima.
" Dan aku sudah bilang, bahwa aku nggak mau! " sahut Lea dengan tatapan tajamnya.
" Aku tidak ingin berdebat, sekarang cepat bersiap! " Axel menarik tangan Lea.
Lea tidak terima, dia bersiap untuk berontak, akan tetapi Axel dengan cepat menggendongnya, ala bridal style.
" Bajingan ini, turunkan aku ata.---"
Lea menghentikan ucapannya, karena Axel malah mengambil ancang-ancang untuk menciumnya. Lea hanya bisa diam, dan memaki Axel dalam hatinya.
" Tidak akan ku biarkan, dirimu menyentuh bibir suci ku ini! " batin Lea, dia hanya pasrah. di gendong Axel.
Meskipun mereka sudah menikah, dan sah-sah saja jika mau melakukan itu semua.
akan tetapi jiwanya kan, bukan Carlin Christine, mana mungkin Lea mau hehehe.
" Apakah kamu masih tidak mau trun dari posisi ini? haruskah aku juga, yang akan mengganti pakaian mu? "
tak ada balasan.
" Baik lah kalau begitu, karna kamu diam saja itu artinya kamu setuju. aku akan segera mengganti, dan membuka pakaian mu! " Axel menaik sebelah alisnya.
" Kamu..."
Lea reflek melompat, sayang sekali Lea terlalu buru-buru, perempuan dengan kesabaran setipis tisu itu, tidak memperhitungkan akan mendarat di mana,
posisinya.
" Kamu baik-baik saja? "
Lea memalingkan wajahnya ke samping, menghindar terlalu menyedihkan untuk menjawab perkataan Axel.di tambah lagi dengan posisinya mereka yang saat ini cukup...hmm.
" Sial aku rasanya mau menghilang saja, detik ini juga? " batin Lea, wajahnya merah.
Kelly dan beberapa pelayan yang berniat untuk membantu sang nyonya, langsung mematung di tempatnya, dengan pipi yang merah merona, mereka tidak sengaja melihat posisi yang...hmm. di antara majikannya itu.
*****
Axel membenarkan letak dasinya, matanya menatap datar pada cermin di depannya.
" Apa dia sudah bersiap? " tanyanya.
" Sedikit lagi, tuan. nyonya sedang di bantu menata rambutnya! " Sahut Juan.
Axel bergumam tidak jelas, kemudian berbalik menatap Juan. yang sedang membereskan dokumen, di atas meja. yang sudah di tandatangani Axel tadi.
Itulah sebabnya kenapa Axel, selalu menolok undangan, makan malam dari kepala keluarga Jonathan. meskipun mereka memiliki hubungan yang cukup baik, pria paruh baya itu selalu ingin mencoba menjodohkan, Axel dengan putrinya. meskipun mereka tahu, bahwa Axel sudah menikah.
Malam ini Axel terpaksa untuk memenuhi undangan makan bersama. Tapi pergi bersama Carlin, Axel akan menunjukkan pada Jonathan dan putrinya. kalau dia dan Carlin menjalani hubungan pernikahan yang harmonis, dan penuh cinta. sehingga mereka akan berhenti, untuk menjodohkan Axel dan putrinya.
Melihat ada keraguan di mata tajam. tuannya, Juan kembali bersuara.
" Anda tidak perlu khawatir tuan. nyonya Carlin sudah banyak berubah, dan mereka tidak akan bisa lagi menindas nyonya. "
Tapi, bukan itu yang Axel khawatir kan. dia justru khawatir dengan Carlin. yang nggak bisa di ajak kerja sama. mengingat istrinya itu benar-benar sangat membenci, dan memusuhinya. Axel diam saja tanpa menjawab perkataan dari Juan, pria tampan itu segera menuju ke kamar istrinya.
Lea menatap rumit ke arah cermin di depannya. pikirannya masih menari-nari tentang Carlin Christine. yang katanya bodoh tapi bisa bekerja, yang belum tentu orang lain bisa dapatkan. kan aneh sekali jika dia bodoh lantas kenapa bisa menjadi guru private anak-anak konglomerat. sedangkan kita tahu sendiri bahwa orang-orang konglomerat, Punya standar yang tinggi, dan juga ketat.
" Nyonya semuanya sudah selesai? "
Lamunan Lea buyar, dia mengerjap beberapa kali matanya, saat Kelly berbicara. matanya menatap datar penampilannya di kaca.
" Aku tidak suka sama modelnya? " ucapnya, karena kelly malah mengepang rambutnya, dengan model menyamping. menurutnya tidaklah cocok dengan tema baju dan juga meka up nya, yang bold apa lagi dia menggunakan dress Line.
" Kalau begitu bisa kah nyonya, memberi tahu kami model rambut seperti apa yang nyonya inginkan? " ucap Kelly, dengan sopan.
" Ponytail. tapi aku mau model rambut bagian bawahnya, di buat sedikit bergelombang. dan di beri sedikit, hairspray. "
" Baik nyonya! "
Kelly dan pelayan lainnya segera menata ulang rambut sang nyonya, seperti yang Lea inginkan.
Lea kembali hanyut dalam pikirannya kali ini dia heran karena Axel yang tiba-tiba mengajaknya pergi bersamanya, untuk menghadiri undangan makan malam bersama keluarga Jonathan.
" Apakah seperti ini nyonya? " tanya kelly sambil meletakan separuh rambut lea, ke depan.
Lea memperhatikan model rambutnya, tidak lama kemudian dia segera mengangguk.
" Tolong pasangkan ini? " Lea menyerahkan kalung berlian, ke tangan kelly, kelly hanya mengangguk, lalu memasangkan kalungnya.
" Anda cantik sekali nyonya. dan saya yakin tuan Alexander, tidak akan bisa berpaling dari anda.! " ucap kelly dengan senyum manisnya.
" Terimakasih banyak, ini semua karena berkat kalian juga? " ucap lea dengan tulus.
Kelly dan para pelayan dengan cepat mengangguk kepalanya, mereka tersenyum manis di saat sang nyonya mengucapkan terimakasih kepada mereka.
Klik~
Lea tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa, yang datang ke kamarnya. karena dia sudah bisa melihat sesosok Axel, dan bau parfumnya, yang menyengat dari pantulan kaca di depannya.
Kelly dan para pelayan yang melihat kedatangan Axel, segera membungkukkan badannya, lalu pamit undur diri.
Lea menghela nafas dalam-dalam, dia jadi teringat momen beberapa jam yang lalu di mana dia melompat dan jatuh ke lantai, wajahnya bersemu merah saat dia tadi tidak sengaja menyentuh dan mencengkram masa depannya Axel, sedang Axel malah tersenyum manis, mengingat itu semua Lea benar-benar malu.
" Astaga bisa-bisanya aku teringat dengan hal seperti itu! " batinnya dia Menggelengkan kepalanya, untuk mengusir pikiran kotornya.
Axel terpaku saat melihat kecantikan Lea. yang nampak sexi dan menggoda, ternyata istri galaknya itu benar-benar seperti bidadari yang turun dari langit. Saat berdandan seperti itu. dia tidak bisa memutuskan pengelihatannya, sampai suara seseorang membuyarkan lamunannya.
" Berhenti menatap ku seperti itu tuan Axel Alexander? mau aku colok mata mu! " teriak Lea, dia benar-benar tidak nyaman saat pria dewasa itu terus-menerus menatapnya tanpa berkedip, pikirannya jadi melayang ke mana-mana.
" Kenapa? fungsi mata kan untuk melihat! "
sahut Axel dengan nada nyebelin.
" Benar sih, tapi nggak segitunya kali! "
kesal Lea. Axel melangkah mendekat. Lea dengan refleks mundur selangkah, untuk jaga-jaga siapa tau pria itu bertingkat yang aneh-aneh kepadanya.
" Kamu nervous ya kalau aku menatap mu seperti itu? " Axel mengedipkan matanya.
" Nervous apanya? tatapan mu, membuat ku takut! dan tatapan mu itu seperti pedofil. " sahut Lea dengan mata melebar.
Axel kembali ke posisi awal, dengan tatapan yang semakin dingin. Axel memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
" Setelah mengatai aku banci sejati, bajingan dan brengsek. sekarang kamu mengatai aku pedofil, bukankah sekarang kamu semakin berani Carlin Christine? "
Axel menatapnya sinis, biasanya yang mengatai dirinya bajingan dan brengsek itu yah cuma musuhnya, tidak ada yang pernah berani mengatainya pedofil. just Carlin!
" Apa yang aku katakan adalah kebenarannya!
kamu juga mengatai aku wanita bodoh, menyedihkan, jorok dan babi. aku tetap diam
bahkan orang lain jadi semena-mena, kepada ku, karena mereka melihat bagaimana kamu. memperlakukan aku! Selama ini. "
Axel menghela nafas berat. lagi dan lagi ia di tampar kenyataan oleh mulut yang super tajam itu, dia tidak akan mampu berdebat dengan istrinya itu.
" Sudah lah aku tidak mau berdebat lagi, waktu kita semakin mepet, dan jaraknya juga lumayan jauh! ayo kita pergi sekarang? " ucap Axel. dia tidak mau emosinya meledak-ledak lagi, kalau terus seperti itu dengan istrinya.
dan perdebatan sengit pasti akan terjadi lagi, lebih baik kalau ia mengalah saja.
Lea hanya diam dan menyambar tasnya, di atas meja. lalu mengikuti langkah Axel dari belakangnya, sambil bersedekap tangannya di dada, tidak lupa tatapan datarnya.
" Sebenarnya kamu mau ngajak aku ke mana?" tanya Lea, dia hanya berpura-pura tidak tahu, meskipun kelly tadi sudah mengatakan bahwa Axel akan mengajaknya makan malam.
" Makan malam! " sahut Axel singkat.
Lea mendengus, dingin. dia kemudian dengan cepat, melangkahkan kakinya dan mendahului langkah kaki Axel, sehingga Axel berjalan di belakangnya.
" CK wanita itu. " gumam Axel.
*****
Semua orang nampak sangat terkejut melihat penampilan sang nyonya, yang benar-benar sangat memukau. melihat mata anak buahnya dan juga Juan tidak berkedip melihat ke arah lea, Axel yang melihat itu entah kenapa dia merasa kesal.
" Apa yang kalian lihat? mau keluarkan biji mata kalian! " teriak Axel.
Anak buahnya langsung tersentak kaget' mereka dengan cepat, membungkukkan tubuhnya. Juan juga dengan cepat mengalihkan pandangannya, dia bisa melihat wajah Axel yang seperti sudah siap untuk membunuh mereka.
" Kenapa dia bersikap seperti itu, jangan bilang dia mulai jatuh cinta dengan istrinya, yang tak pernah di anggap itu? " batin Lea.
" Masuk " ucapnya.
" Hmm "
Lea dengan cepat masuk ke dalam mobilnya.
mereka pergi dengan menggunakan mobil Porsche Panamera warna hitam, dengan Juan yang menyetir mobil. dan di ikuti pasukan Alexander, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada musuh yang tiba-tiba menyerang.
Di dalam perjalanan hanya ada keheningan menyelimuti, mereka semua sibuk dengan isi pikirannya masing-masing, tiba-tiba Axel membuka suaranya.
" Aku harap kamu tidak bertingkah, dan bisa bekerja sama dengan baik! " ucap Axel.
Lea tidak menggubris perkataan dari Axel. dan itu membuat Axel heran, dia menoleh ke sampingnya, dan mendapati Lea yang tengah cosplay jadi robot.
" Apa yang sedang dia pikirkan, sampai ekspresinya begitu? di panggil pun tidak ada menoleh, atau menyahut? " batin Axel.
" Carlin. "
Lea menoleh, dan menatap malas pada Axel.
" Kamu tau apa yang sudah aku katakan tadi?"
" Nggak memangnya kamu bicara apa? "
Axel mendengus, dia pun dengan terpaksa mengulangi perkataannya tadi. Lea yang mendengar hanya manggut-manggut, akan tetapi beberapa menit kemudian wajahnya berubah marah.
yaaahhh mungkin cuma kebetulan sama aja kali yAA