NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. napas yang di pinjam dari dunia

Malam itu berakhir tanpa pelukan.

Tanpa janji.

Tanpa kata-kata manis yang biasanya mengawali kisah cinta.

Namun justru karena itu, rasanya lebih nyata.

Keesokan paginya, aku terbangun oleh suara batuk—keras, tertahan, lalu disusul hening panjang. Bukan batuk biasa. Ada jeda aneh di antaranya, seolah dadanya harus memilih apakah akan menarik napas lagi… atau menyerah.

Aku bangkit dari tempat tidur tanpa berpikir.

Suara itu datang dari balkon lantai tiga.

Aku menemukannya di balkon lantai tiga.

Saat aku membuka pintu perlahan, Aku menemukannya di balkon lantai tiga.

aku melihatnya berdiri membelakangiku. Kemeja hitamnya terbuka di bagian kerah. Satu tangannya mencengkeram pagar besi, tangan lainnya menutup mulut, mencoba meredam batuk yang jelas menyakitkan.

Hujan baru saja berhenti. Udara pagi masih basah, membawa bau tanah dan besi. Lampu-lampu kota berpendar jauh di bawah sana, tampak kecil—tidak berarti—dibanding sosok yang berdiri membelakangiku.

Haruka Sakura.

Di antara dua jarinya, sebatang rokok menyala redup. Asapnya naik perlahan, menyatu dengan gelap.

Aku berhenti di ambang pintu.

Entah kenapa, langkah kakiku terasa berat. Bukan karena takut padanya—melainkan karena perasaan aneh yang sejak beberapa hari terakhir tidak mau pergi. Perasaan ingin mendekat, tapi juga takut melihat sesuatu yang tidak siap kuterima.

Ia tidak menoleh. Tapi aku tahu ia sadar akan kehadiranku.

“Aku mengganggumu?” tanyaku pelan.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Aku melangkah mendekat. Angin membawa bau rokok itu ke arahku. Dadaku langsung terasa sesak—bukan karena asapnya, tapi karena satu fakta yang tiba-tiba menghantamku dengan keras.

Haruka… perokok berat.

“Sejak kapan kamu merokok?” tanyaku, tanpa sadar suaraku sedikit bergetar.

Ia menghela napas, bukan asap kali ini. Napas manusia yang terdengar berat.

“Sejak lama.”

“Kamu tahu kamu punya penyakit paru-paru,” kataku. Bukan bertanya. Menyatakan.

Ia tertawa kecil. Hampa. Tidak ada humor di sana.

“Aku tahu.”

Jawaban itu membuat jantungku mencelos.

“Kamu tahu… tapi tetap melakukannya?” Aku menatap punggungnya. Tegap, tapi kini terlihat berbeda—lebih rapuh.

Ia akhirnya menoleh. Mata gelap itu menatapku, tenang seperti biasa. Tapi ada sesuatu di sana yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Lelah.

“Kadang,” katanya pelan, “napas ini terasa bukan milikku.”

Aku terdiam.

“Setiap tarikan terasa seperti pinjaman,” lanjutnya. “Dari dunia yang tidak pernah menginginkanku hidup lama.”

Aku menelan ludah. Kata-katanya terlalu jujur. Terlalu dingin. Terlalu… nyata.

“Jadi kamu merokok untuk apa?” tanyaku lirih.

“Untuk membuktikan,” jawabnya tanpa ragu, “bahwa aku masih bisa memilih sesuatu. Bahkan jika itu salah.”

Dadaku terasa diremas.

Aku teringat artikel-artikel itu. Penyakit paru sejak lahir. Ayah yang meninggal saat ia belum genap setahun. Tragedi besar di usia tujuh tahun—tiga ratus delapan nyawa lenyap. Dan ia… satu-satunya yang bertahan. Pengasuh terakhirnya meninggal saat ia empat belas.

Dunia tidak pernah berhenti mengambil darinya.

“Haruka…” suaraku nyaris pecah. “Kalau kamu mati—”

Ia mematikan rokoknya di asbak, keras. Terlalu keras.

“Jangan bicara tentang kematian,” katanya dingin. “Aku hidup dengan itu setiap hari.”

Keheningan jatuh di antara kami.

Angin pagi kembali berhembus. Kali ini lebih dingin.

Aku melangkah lebih dekat. Terlalu dekat. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak peduli pada batas yang selama ini ia bangun.

“Kamu bukan sendirian sekarang,” kataku. “Setidaknya… tidak sepenuhnya.”

Ia menatapku lama.

“Alya,” ucapnya perlahan, “aku bukan pria baik.”

“Aku tahu.”

“Aku berbahaya.”

“Aku tahu.”

“Aku bisa kehilanganmu.”

Jantungku berdentum keras.

“Dan aku bisa kehilanganmu juga,” balasku. “Itu tidak membuatku ingin menjauh.”

Ada jeda panjang.

Untuk pertama kalinya, Haruka Sakura terlihat… goyah.

Tangannya sedikit gemetar saat menyelipkan tangan ke saku celana. Ia menoleh ke arah kota, seolah mencari alasan untuk tidak menatapku.

“Kau tidak seharusnya peduli sejauh ini,” katanya pelan.

“Dan kamu tidak seharusnya merokok dengan paru-paru yang nyaris runtuh,” jawabku.

Ia tersenyum tipis. Sangat tipis.

“Kita impas.”

Aku menghela napas, lalu berkata dengan suara yang bahkan mengejutkan diriku sendiri,

“Berhentilah. Setidaknya… di depanku.”

Ia menoleh.

“Kenapa?”

Karena aku takut kehilanganmu.

Karena aku mulai peduli.

Karena tanpa sadar, namamu sudah berakar di dadaku.

Tapi yang keluar dari bibirku hanya satu kalimat sederhana:

“Karena aku ingin kamu bertahan.”

pagi itu, Haruka Sakura tidak menyalakan rokok lagi.

Ia hanya berdiri di sana, di sampingku, menatap dunia yang selama ini ingin menghancurkannya—sementara untuk pertama kalinya, dunia memberinya satu alasan kecil untuk bernapas lebih lama.

Dan aku tahu.

Ini berbahaya.

Aku akhirnya mengerti.

Haruka Sakura bukan pria yang tidak ingin hidup.

Ia hanya terlalu sering diajari dunia bahwa hidup selalu diambil darinya—sedikit demi sedikit.

Dan jika napasnya adalah pinjaman,

maka mungkin…

aku ingin menjadi alasan ia terus memperpanjangnya.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!