NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lantai 10 dan Bayang Kael

Raito berdiri di depan lift Heavens Arena yang menuju lantai 10, tangan mengepal erat kartu peserta yang sudah bertambah noda keringat. Dua hari terakhir dia naik cepat: lantai 1 sampai 9, menang enam dari delapan pertarungan. Hadiah kecil dari setiap kemenangan—total sekitar 300.000 jenny—sudah cukup untuk bayar penginapan dua minggu dan makan layak. Tapi sekarang, lantai 10 terasa berbeda. Mira bilang: “Di sini mulai ada yang pakai Nen dasar. Bukan lagi cuma otot.”

Lift berhenti dengan denting lembut. Pintu terbuka ke koridor yang lebih lebar, lampu lebih terang, dan suara sorak-sorai dari arena lebih keras. Udara terasa lebih tebal—seperti ada energi tak terlihat yang menekan dada.

Mira berjalan di sampingnya, mata menyapu sekitar. “Lawanmu hari ini nomor #3921. Namanya Lena. Wanita, usia sekitar 25. Gaya bertarungnya cepat, pakai aura untuk percepat gerakan. Bukan Enhancement kuat, tapi Transmutation ringan—auranya seperti angin tajam. Jangan biarkan dia dekat.”

Raito mengangguk. “Aku ingat. Fokus Ten dan jaga jarak.”

Mereka masuk ke Arena D-4. Ringnya lebih besar dari lantai bawah, tribun hampir penuh dengan penonton yang kelihatan lebih serius—bukan cuma penjudi biasa, tapi petarung lain yang mengamati calon lawan. Di tengah ring, Lena sudah menunggu: rambut pendek hitam, baju ketat hitam-merah, mata hijau tajam seperti pisau. Dia tersenyum tipis saat melihat Raito.

“Anak baru yang naik cepat ya? Lucu. Aku suka lawan yang masih polos.”

Wasit meniup peluit. “Mulai!”

Lena langsung bergerak—cepat sekali. Tubuhnya seperti kabur, meninggalkan jejak angin kecil di belakang. Tinju kanannya meluncur ke arah leher Raito seperti cambuk.

Raito mundur, tapi angin dari pukulan itu menggores pipinya—luka tipis, tapi perih. Dia langsung aktifkan Ten: aura tipis membungkus tubuh seperti selimut hangat. Gerakannya terasa lebih ringan, lebih tahan.

Lena tertawa kecil. “Ten dasar? Bagus. Tapi cukupkah?”

Dia berputar, tendangan melingkar mengarah ke pinggang Raito. Raito menangkis dengan lengan, tapi kekuatan tendangan itu membuatnya terdorong mundur dua langkah. Aura Lena bukan cuma cepat—ada elemen tajam, seperti pisau angin yang mengiris kulit.

Raito fokus. Dia ingat latihan dengan Mira: “Kalau lawan lebih cepat, pakai pertahanan dan tunggu celah. Jangan ikut kecepatannya.”

Dia tarik napas dalam, biarkan Inner Light mengalir ke kaki. Bukan untuk serang, tapi untuk stabilkan posisi. Saat Lena maju lagi, Raito tidak mundur. Dia maju setengah langkah, angkat tangan kanan seperti perisai.

Pukulan Lena bertemu telapak tangan Raito. Ada suara crack kecil—bukan tulang patah, tapi aura yang bertabrakan. Cahaya kecil muncul di telapak Raito, mendorong Lena mundur selangkah. Matanya melebar.

“Apa itu? Transmutation cahaya?”

Raito tidak jawab. Dia maju, pukulan lurus ke perut Lena. Lena menghindar, tapi Raito sudah ikuti dengan tendangan rendah ke lutut. Lena terhuyung, tapi cepat pulih—dia balas dengan serangkaian pukulan cepat seperti hujan.

Raito menangkis sebisa mungkin, tapi beberapa pukulan mengenai bahu dan rusuk. Setiap benturan terasa seperti ditusuk jarum panas. Tubuhnya mulai lelah, aura mulai tipis.

Penonton berteriak. “Ayo, Lena! Habisi dia!”

Mira dari pinggir ring berteriak. “Jangan bertahan terus! Serang balik! Gunakan cahaya untuk ganggu penglihatan!”

Raito mengerti. Dia tarik aura lebih banyak ke tangan kanan—bukan untuk pukul, tapi untuk ledak kecil. Saat Lena maju lagi, Raito angkat tangan seperti menyerah—tapi tiba-tiba cahaya meledak pelan di telapaknya.

Flash cahaya putih keemasan menyilaukan. Lena menutup mata sejenak, gerakannya terhenti. Raito manfaatkan momen itu: maju cepat, pukul perut Lena dengan tinju biasa tapi dibungkus aura Enhancement kecil.

Lena terpental ke pagar kawat, napas tersengal. Dia bangun lagi, tapi mata sudah berkaca-kaca karena silau.

“Dasar… curang!” desisnya.

Wasit angkat tangan. “Pemenang: Raito!”

Sorak sorai pecah. Raito berdiri di tengah ring, napas berat, tapi senyum kecil muncul di bibirnya. Dia menang—bukan cuma bertahan, tapi menyerang balik dengan Nen-nya sendiri.

Mira naik ke ring, menepuk punggungnya. “Bagus! Itu sudah Hatsu sederhana: ‘Light Burst’. Ledakan cahaya kecil untuk ganggu musuh. Kamu mulai mengendalikan.”

Raito mengangguk lelah. “Aku hampir kehabisan aura tadi.”

“Normal. Aura butuh latihan seperti otot. Besok istirahat dulu. Lalu naik lagi ke lantai 20.”

Mereka turun dari arena. Di koridor, Raito melihat Kael lagi—kali ini lebih dekat. Kael bersandar di dinding, tangan disilang, mata memandang tajam.

“Selamat,” kata Kael datar. “Kamu naik cepat. Tapi lantai 20 mulai beda. Ada yang pakai Nen sungguhan. Kalau kamu terus pakai cahaya itu tanpa kontrol, kamu bakal jadi target.”

Raito menatapnya balik. “Kamu juga naik ke sana?”

Kael tersenyum tipis. “Mungkin. Kita lihat nanti.”

Dia berbalik pergi, menghilang di kerumunan.

Mira memandang punggung Kael. “Dia mengawasi kamu sejak awal. Jangan anggap remeh.”

Raito mengangguk. Dia tahu. Tapi sekarang, dia tidak lagi merasa kecil. Setiap kemenangan membuat cahaya di dadanya terasa lebih kuat, lebih nyata.

Malam itu, di penginapan, Raito duduk bersila di lantai. Dia latihan lagi—Inner Light sekarang bisa bertahan lebih lama, bola cahaya lebih besar. Mira duduk di tempat tidur, mengawasi.

“Kamu mulai terlihat seperti petarung,” katanya pelan. “Tapi ingat: kekuatan bukan cuma menang. Kekuatan adalah tahu kapan berhenti, kapan melindungi.”

Raito membuka mata. Cahaya di telapak tangannya berpendar hangat.

“Aku tahu. Aku nggak mau jadi monster. Aku cuma… mau jadi cahaya yang bisa bantu orang lain.”

Mira tersenyum kecil—senyum langka yang tulus.

“Kalau gitu, lanjut. Lantai berikutnya menunggu.”

Di luar jendela, lampu Yorknew berkedip seperti bintang jatuh yang tak pernah padam.

Dan Raito, untuk pertama kalinya, merasa dia mulai bersinar di kegelapan itu.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!