Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katak Jelek
“Vernox bisa mengatasinya. Hanya beberapa lembar dokumen, bukan masalah besar,” jawab Estevan enteng, seolah-olah pekerjaan itu tak lebih dari sekadar angin yang berlalu.
Tapi Vernox yang berdiri di belakangnya tampak menggigil. Ia memaksakan senyum sambil mengangguk kecil. Jelas sekali ada amarah yang sedang ia telan bulat-bulat.
Beberapa lembar dokumen? Ha. Ha. Ha.
Dokumen itu sudah menumpuk seperti bukit kecil. Bahkan mungkin bisa menjadi pilar meja kerja.
Namun karena Estevan sedang sibuk mengurus pertunangan hari ini, Vernox tidak bisa protes. Lagipula … gunung es yang biasanya dingin dan tak tersentuh itu akhirnya mulai “mencair” sedikit.
Melihat lirikan peringatan dari Estevan, Vernox langsung tegak dan menimpali cepat, “Jangan khawatir. Saya asisten yang andal.”
Leonidas tidak punya alasan lain untuk menolak. “Kalau begitu, tolong jaga Bee. Anak ini sedikit nakal, Yang Mulia.”
“Tidak masalah,” jawab Estevan sambil mengangguk tipis. Memang cukup nakal. Gadis itu berani hingga berhasil membuatnya kalah dalam hal mengontrol diri tadi malam.
Karena akan keluar, Beatrice kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kecil dan meminta sedikit uang pada ibunya untuk belanja.
Sementara itu, Estevan menunggu di halaman kastil. Kereta kuda khusus Grand Duke Carlitos berdiri megah, besar, mewah dan ditarik empat kuda jantan tinggi berotot.
Beatrice berlari kecil menghampirinya. “Yang Mulia, apakah Anda menunggu lama?”
“Tidak. Kemarilah dan masuk.”
Beatrice menerima uluran tangannya saat memasuki kereta kuda. Vernox, di sisi lain, memilih pergi menggunakan kereta lain menuju Istana Adipati Agung—mungkin sambil menangisi nasibnya.
“Ke mana kamu ingin pergi?” tanya Estevan setelah duduk berseberangan dengannya.
“Pergi ke tempat yang menyenangkan. Tanganku sudah lama gatal,” jawab Beatrice, menyiratkan sesuatu yang membuat matanya berbinar penuh niat.
“Tempat yang menyenangkan?” Estevan menaikkan sebelah alisnya. Tatapannya turun ke tangan gadis itu—kecil, halus, dan … ia langsung teringat adegan semalam. Panas merayap ke daun telinganya.
“Yang Mulia? Anda baik-baik saja?” tanya Beatrice melihat wajahnya memerah.
“Tidak apa-apa.” Estevan meredakan napas, menata kembali ekspresinya.
“Hari ini saya ingin menonton opera,” kata Beatrice.
“Opera?”
“Ya. Bisa kita melihatnya hari ini?”
“Tentu. Tapi pertunjukan opera biasanya dimulai siang hari.”
“Tidak masalah. Kita lihat-lihat yang lain dulu.” Beatrice menggelengkan kepala.
Dalam pikirannya, ia harus menemukan Charls dan Paula yang berkencan hari ini. Terakhir kali ia memukul pria itu dengan sandal rumah. Kali ini mungkin menggunakan tangan atau kakinya.
Sejak Marquis Kyron meninggal karena sakit, Charls tidak menjalankan tugasnya dengan benar. Ia hanya sibuk makan, minum dan bermalas-malasan. Ibunya bahkan lebih parah—menghamburkan uang, menyewa pria muda dan bertingkah sombong. Dalam beberapa tahun, kekayaan keluarga Kyron hampir habis, membuat mereka mulai terlilit utang ke mana-mana.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, kereta kuda berhenti. Suara hiruk-pikuk di luar langsung terdengar.
“Kita tiba di jantung perbelanjaan kota pusat,” kata Estevan sambil melihat keluar jendela. “Mau melihat-lihat dulu?”
“Ya. Aku membawa cukup uang hari ini.”
“Tidak perlu,” jawab Estevan cepat. “Beli saja apa pun yang kamu inginkan. Aku yang akan membayar.”
Keduanya turun dari kereta kuda dan langsung menarik sejumlah perhatian. Banyak warga kota mengenali Estevan—Grand Duke muda dengan reputasi luar biasa. Namun gadis cantik bergaun kuning angsa yang berjalan di sampingnya? Tidak ada yang tahu siapa dia, meski semua mata mengikuti setiap langkahnya.
Beatrice tak memedulikan itu. Ia sibuk mengamati sekitar, kios-kios penuh pelanggan, jalanan ramai oleh para pedagang dan pembeli serta aroma roti panggang bercampur wangi bunga segar di pinggir jalan. Gadis itu berjalan menghampiri kedai yang menjual roti.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu lebih dulu? Roti di sini juga enak. Rasanya sedikit berbeda dengan roti di Duchy Vassal," kata Estevan.
"Baiklah. Tapi bantu aku memakannya. Aku khawatir tidak bisa menghabiskannya."
"Tidak masalah."
Keduanya memasuki toko roti dan disambut hormat oleh pemilik kedai saat melihat Estevan datang. Bukan hanya membeli roti tetapi pemilik kedai memberi beberapa roti paling populer di tokonya secara gratis.
Setelah menikmati beberapa roti yang masih hangat, keduanya lanjut membeli barang yang lain. Setidaknya, Estevan menemani Beatrice membeli beberapa barang. Baik perhiasan atau pun bros.
Estevan membayar semuanya tanpa ragu, bahkan tanpa melihat jumlahnya. Hingga tak terasa, matahari sudah condong dan pertunjukan opera siang hari hampir dimulai. Keduanya segera menuju gedung opera yang megah di kota pusat.
Setibanya di sana, Estevan mengajak Beatrice masuk, membawa gadis itu menuju tempat duduk terbaik. Lalu pertunjukan opera pun dimulai. Musik, drama dan sorakan penonton mengisi ruangan. Ketika opera berakhir, Beatrice bertepuk tangan bersama kerumunan dengan mata berbinar.
“Apakah pertunjukannya menyenangkan?” tanya Estevan—meski dirinya sama sekali tak pernah peduli pada opera.
“Ya, sangat menyenangkan! Tapi sayangnya—” Beatrice berhenti mendadak. Matanya membelalak. “Ha!! Itu dia!”
Estevan mengerutkan kening. Siapa?
Namun sebelum ia sempat bertanya, Beatrice sudah bangkit dan berjalan cepat, hampir berlari keluar dari gedung opera.
“Beatrice!” panggilnya. Tapi gadis itu sudah menghilang di lautan manusia.
Niall mendekat dengan langkah mantap. “Yang Mulia Grand Duke, apakah kami harus mencari Lady Beatrice?”
“Tidak perlu,” jawab Estevan tenang. “Aku akan mencarinya sendiri.”
Ia sama sekali tidak panik. Gaun kuning angsa Beatrice cukup mencolok—ia bisa menemukannya dengan cepat.
Beatrice sudah jauh lebih dulu menemukan orang yang dicarinya. Siapa lagi kalau bukan Charls dan Paula yang berjalan berdampingan, jelas baru saja menonton pertunjukan opera.
“Siapa ini? Bukankah ini katak jelek?!” serunya seraya berjalan mendekat.
Charls yang sedang membual di depan Paula, langsung membeku. Ia menoleh dengan wajah tak percaya. Sosok yang dikenal tapi tampak berbeda … dan masih berani memanggilnya katak jelek.
“Siapa kamu?! Siapa yang kamu panggil katak jelek?!” suaranya naik satu oktaf, penuh kejengkelan.
Beatrice menyilangkan tangan di dada. “Ho! Lupa padaku? Tapi tampaknya Nona Paula tidak lupa. Ingatannya lebih baik daripada kamu.”
Paula tersentak kecil. Ia memang mengenali suara itu. Ia berbisik pada Charls dan berkata hati-hati, “Dia Nona Beatrice. Putri kesayangan Duke Vassal.”
Paula sendiri berpenampilan anggun, rambut cokelat keemasannya jatuh bergelombang, kulitnya putih bersih dan tubuhnya lebih tinggi tapi tak seramping Alicia yang terkenal penuh pesona. Wajah Paula memang biasa saja, tapi dengan sedikit riasan sudah cukup membuatnya menikah dengan seorang pria kaya.
“Oh, kamu rupanya gadis sakit-sakitan yang melukaiku semalam!” Charls akhirnya ingat, suaranya penuh dramatisasi seperti biasa.
Paula segera menunduk sopan di hadapan Beatrice, mengangkat sedikit gaunnya. “Salam, Lady Tricia.”
Beatrice terkejut. “Dari mana kamu tahu aku dipanggil Lady Tricia?”
“Saya—” Paula terdiam sepersekian detik. Ia hampir lupa jika dirinya terlahir kembali.
Di kehidupan sebelumnya, ia mendengar rumor tentang putri Duke Vassal yang sakit parah dan hidup-matinya tidak jelas. Ia tidak pernah melihatnya, hanya mendengar nama panggilan Tricia ketika para nona bangsawan bergosip di pesta minum teh. Waktu itu, Paula terlalu sibuk bertahan hidup di keluarga Marquis yang kacau, sehingga tidak peduli dengannya.
Namun kini, melihat Beatrice yang sehat dan cantik, insting lamanya muncul tanpa sadar.
“Saya hanya … mendengar beberapa nona bangsawan menyebut nama panggilan Anda,” jelas Paula akhirnya, mencoba terdengar selembut mungkin.
Beatrice menatapnya lama. Tidak sulit memang bagi para bangsawan mengetahui nama panggilannya. Tapi … benarkah hanya karena itu?