NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 Hak yang Tidak Akan Ia Lepaskan

Malam turun perlahan di kota Bandung, membawa hawa dingin yang merayap ke sela-sela jendela apartemen Rania. Lampu-lampu gedung di seberang tampak berkilau seperti deretan saksi bisu atas kehidupan yang terus berjalan, seolah tak peduli pada badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

Rania duduk di ruang kerja kecil di sudut apartemennya. Di hadapannya, terbentang tumpukan dokumen: laporan keuangan, akta kepemilikan, salinan sertifikat tanah, rekening koran, hingga catatan transfer yang selama ini tak pernah benar-benar ia periksa dengan teliti. Semua itu adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun—hasil dari malam-malam tanpa tidur, keputusan-keputusan berat, dan keberanian untuk berdiri sendiri ketika orang lain memilih jalan pintas.

Dan kini, semua itu hampir saja jatuh ke tangan orang-orang yang bahkan tidak pernah berkeringat untuk memperolehnya.

Rania menarik napas panjang, lalu membuka satu map berlabel Aset Keluarga Arga. Jari-jarinya berhenti sejenak di atas kertas pertama. Di sana tertulis jelas: rumah di kawasan elit yang ditempati orang tua Arga, mobil mewah atas nama adik Arga, rekening tabungan yang dibuka atas nama adik iparnya, serta modal usaha Rumah Makan yang awalnya berasal dari perusahaan milik Rania.

Dulu, ia memberikannya dengan ikhlas.

Dulu, ia percaya itu bagian dari membangun keluarga.

Kini, ia sadar, keikhlasan tanpa batas sering kali disalahartikan sebagai kelemahan.

“Tidak,” gumamnya pelan. “Aku tidak akan membiarkan mereka menikmati semua ini.”

Ponselnya bergetar. Nama Pak Haryanto muncul di layar.

“Bu Rania,” suara pengacaranya terdengar tenang namun tegas, “saya sudah menelaah ulang seluruh dokumen yang Anda kirimkan. Secara hukum, posisi Anda sangat kuat.”

Rania menggeser kursinya, duduk lebih tegak. “Bagaimana dengan aset yang selama ini dinikmati keluarga Arga, Pak? Rumah orang tuanya, mobil kakaknya, dan semua investasi itu?”

“Sebagian besar bisa kita tuntut untuk dikembalikan,” jawab Pak Haryanto. “Terutama karena sumber dananya jelas berasal dari perusahaan Anda, dan tidak ada perjanjian hibah yang sah. Secara hukum, itu bukan pemberian mutlak.”

Rania memejamkan mata sejenak. Ada rasa perih yang menekan dadanya. Ia teringat wajah ibu Arga yang dulu sering menggenggam tangannya sambil berkata, Kamu sudah seperti anak kandung kami, Rania. Ia teringat senyum kakak Arga ketika menerima kunci mobil baru. Semua kenangan itu kini terasa pahit.

“Aku tidak ingin balas dendam, Pak,” ucap Rania akhirnya. “Aku hanya ingin keadilan. Aku tidak ingin Arga—atau keluarganya—menikmati hasil kerja kerasku setelah semua pengkhianatan ini.”

“Itu sikap yang tepat,” kata Pak Haryanto. “Keadilan, bukan dendam. Dan hukum ada untuk itu.”

Setelah panggilan berakhir, Rania bangkit dan berjalan menuju jendela. Hujan rintik mulai turun, membasahi kaca dan menciptakan garis-garis air yang jatuh tak beraturan. Pemandangan itu mengingatkannya pada hidupnya sendiri—berantakan, namun masih bergerak.

Ingatan Rania melayang ke masa-masa awal pernikahannya dengan Arga. Saat itu, Arga tampak begitu mendukung kariernya. Ia memuji kecerdasan Rania, mengagumi keberaniannya sebagai perempuan yang memimpin perusahaan besar. Rania merasa menemukan pasangan yang setara.

Namun pelan-pelan, dukungan itu berubah menjadi tuntutan.

“Kamu kan sudah punya banyak,” kata Arga suatu malam. “Masa bantu keluarga aku saja perhitungan?”

Saat itu, Rania mengalah. Bukan karena ia tak mengerti risiko, tetapi karena ia percaya pada cinta. Ia tak pernah membayangkan bahwa kebaikannya akan menjadi pintu masuk bagi keserakahan.

Pagi berikutnya, Rania menemui Pak Haryanto di kantor hukumnya. Ruangan itu berbau kopi dan kertas lama—aroma yang entah mengapa selalu membuat Rania merasa lebih tenang.

“Kita akan menyusun gugatan tambahan,” jelas Pak Haryanto sambil menunjuk papan tulis kecil. “Selain gugatan perceraian dan pembagian harta gono-gini, kita akan ajukan gugatan perdata terpisah untuk pengembalian aset.”

Rania mengangguk. “Saya ingin semuanya jelas dan transparan.”

“Kita akan mulai dari rumah orang tua Arga,” lanjut Pak Haryanto. “Bukti transfer, bukti pembelian, semuanya atas nama perusahaan Anda. Kita bisa minta pengadilan menetapkan bahwa rumah itu bukan milik pribadi mereka.”

“Bagaimana reaksi mereka nanti?” tanya Rania pelan.

Pak Haryanto menatapnya dengan serius. “Kemungkinan besar mereka akan marah. Menyalahkan Anda. Mungkin menyebut Anda kejam.”

Rania tersenyum tipis, senyum yang pahit namun tegar. “Biarlah. Aku sudah terlalu lama berusaha menjadi baik sampai melupakan diriku sendiri.”

Hari-hari berikutnya diisi dengan pertemuan, penandatanganan dokumen, dan pengumpulan bukti tambahan. Rania bekerja dengan ketelitian yang luar biasa. Ia memeriksa setiap transaksi, mencocokkan setiap angka. Tidak ada lagi ruang untuk kelengahan.

Di sela-sela kesibukan itu, Arga beberapa kali mencoba menghubunginya. Panggilan tak terjawab. Pesan-pesan panjang yang berisi tuduhan dan pembelaan diri hanya dibaca sekilas sebelum diarsipkan oleh Rania. Ia tahu, membuka ruang dialog di saat seperti ini hanya akan melemahkan posisinya.

Suatu sore, seorang teman lama Rania, Dina, datang berkunjung. Dina menatap tumpukan dokumen di meja dengan ekspresi khawatir.

“Kamu yakin sanggup menjalani semua ini, Ran?” tanyanya. “Melawan Arga, melawan keluarganya… itu tidak mudah.”

Rania menatap sahabatnya itu dengan mata yang jernih. “Aku tidak pernah bilang ini mudah. Tapi aku tidak punya pilihan lain.”

“Bagaimana kalau mereka bilang kamu serakah?” lanjut Dina.

Rania tertawa kecil, tanpa humor. “Lucu ya. Ketika perempuan memperjuangkan haknya, selalu dibilang serakah. Padahal yang aku minta hanya apa yang memang milikku.”

Dina terdiam, lalu memeluk Rania erat. “Aku bangga sama kamu.”

Malamnya, Rania kembali sendiri di apartemennya. Ia duduk di sofa, menatap langit-langit, membiarkan kelelahan mengalir tanpa perlawanan. Ada saat-saat ketika ia merasa sangat lelah—bukan secara fisik, melainkan emosional. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tak pernah goyah: tekadnya.

Ia teringat kalimat yang pernah ia baca entah di mana: Perempuan yang tahu nilainya tidak akan bernegosiasi dengan ketidakadilan.

Rania bangkit, berjalan menuju ruang kerja, dan menutup map terakhir dengan mantap.

“Apa pun yang terjadi,” bisiknya pada dirinya sendiri, “aku tidak akan mundur. Aku akan mempertahankan hakku. Semua yang pernah kuperjuangkan, semua yang pernah kubangun—tidak akan kubiarkan dinikmati oleh pengkhianatan.”

Di luar, hujan mulai reda. Udara terasa lebih segar. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rania merasa sedikit lebih ringan—bukan karena masalahnya selesai, melainkan karena ia akhirnya berdiri sepenuhnya di pihak dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!