NovelToon NovelToon
Cinta Gadis Jathayu

Cinta Gadis Jathayu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Terlarang / Romansa / Kekasih misterius / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Wilis

Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.

Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."

Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."

Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5. "Saling Solidaritas"

Shanaya mencoba menenangkan dirinya, lalu dia bangun dari tempat tidurnya dan mulai bersiap untuk ke kampus. Dia memasak sarapan sederhana, mandi, dan berpakaian dengan cepat.

Saat dia berjalan menuju gerbang kampus, dia belum sempat menikmati udara pagi yang segar. Zaneta dan gengnya tiba-tiba muncul, mengendarai mobil Zaneta dengan kecepatan tinggi.

"Hay, Shanaya..." teriak Zaneta sambil menginjak rem mobilnya, membuat genangan air di jalan berlubang menyiprat ke arah baju Shanaya yang berwarna biru muda

Shanaya tidak sempat menghindar, dan genangan air itu mengenai bajunya, membuatnya basah kuyup.

"Ah, Zaneta! Apa yang loe lakuin?!" teriak Shanaya dengan marah

Zaneta dan gengnya tertawa, "Hahaha, loe kelihatan lucu, Shanaya udah persis tikus kecemplung got..." ucap Zaneta sambil menertawakan Shanaya

Shanaya merasa dirinya merasa sangat marah, "Loe bener-bener kelewatan, Zaneta!" ucapnya dengan nada yang tegas.

Shanaya memutuskan untuk tidak melanjutkan konfrontasi dengan Zaneta, dia memilih untuk pergi ke toilet dan membersihkan diri terlebih dahulu.

"Gue gak akan membuang waktu gue untuk orang seperti loe, Zaneta," ucapnya sembari berjalan pergi

Zaneta masih tertawa, "Hahaha, loe terlalu sensitif, Shanaya..."ucapnya sedikit berteriak

Shanaya tidak menoleh lagi, dia langsung menuju ke toilet untuk membersihkan diri. Dia merasa dirinya sangat marah dan frustrasi, tapi dia tidak ingin membiarkan Zaneta membuatnya merasa lemah.

Shanaya mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Dia kemudian mengambil ponselnya dan menelepon Thalia, temannya yang paling dekat di kampus.

"Halo, Thalia, gue butuh bantuan," ucap Shanaya dengan suara yang sedikit terguncang

"Apa yang terjadi, Shan? Loe nggak papa kan?" tanya Thalia dengan nada yang penuh rasa peduli

"Gue kena ciprat air sama Zaneta, gue butuh baju ganti Thal," jawab Shanaya singkat

"Oh no! Wait, untung gue masih di kos, gue langsung bawain baju ganti buat loe ok ini gue otw bentar lagi masih nunggu Joe sampai," sahut Thalia dengan sigap

"Makasih, Thalia. Loe memang sahabat gue yang terbaik..." ucap Shanaya dengan rasa terima kasih

Thalia tertawa, "Nggak apa-apa, Shan. Ok ini Joe baru nyampe ok gue langsung berangkat ke kampus..."

Shanaya merasa dirinya merasa sedikit lebih baik, mengetahui bahwa dia memiliki teman seperti Thalia dan yang lainnya.

Thalia yang begitu tiba di kampus langsung turun dari boncengan motor sport milik Joe kekasihnya itu, Thalia langsung menuju ke toilet kampus, mencari Shanaya yang masih membersihkan diri. Saat dia menemukan Shanaya, dia langsung memberikan baju ganti yang dibawanya.

"Hay, Shan...Nih gue udah bawain baju ganti buat loe," ucap Thalia sambil menyerahkan baju itu

Shanaya tersenyum, "Makasih, Thalia. Loe emang penyelamat gue..."

Thalia tertawa, "Nggak apa-apa, Shan. Loe bisa pinjam baju gue dulu..."

Shanaya langsung mengganti baju, merasa lebih segar dan siap untuk menghadapi hari ini.

"Sekali lagi makasih ya, Thalia. Gue nggak tahu apa yang harus gue lakuin tanpa loe," ucapnya dengan rasa terima kasih

Thalia tersenyum, "Loe bisa mengandalkan gue, Shan. Gue ada buat loe ok..."

Zaneta, Olivia, dan Firly berdiri di depan mereka, menghalangi jalan menuju kelas. Zaneta tersenyum sinis.

"Wah, Shanaya, loe ganti baju juga, ya? Loe nggak bisa tampil cantik tanpa bantuan orang lain, kan ya baru tahu gue nih guys?" cibir Zaneta

Thalia langsung merespons, "Apa masalah loe, Zaneta?Loe udah cukup jahat hari ini ke sahabat gue..."

Olivia dan Firly tertawa, "Hahaha, Thalia, Loe selalu ngebela Shanaya, ya?"

Shanaya mencoba menenangkan Thalia, "Thalia, nggak apa-apa. Gue bisa handle ini..."

Tapi Thalia tidak mundur, "Nggak, Shan. Gue gak akan biarin mereka mengintimidasi loe lagi..."

Bintang dan beberapa teman lainnya dari geng mereka masuk ke kelas dan melihat situasi yang sedang berlangsung. Bintang langsung mendekati mereka.

"Hay, apa yang terjadi di sini?"

Thalia masih terlihat marah, "Zaneta dan gengnya lagi ngintimidasi Shanaya, Bin..."

Bintang langsung merespons, "Zaneta, cukup. Loe udah cukup jauh dalam bertindak, gue kasih paham ya sama loe jangan pernah loe ganggu Shanaya sehari aja kenapa emang apa segatal itu mulut loe itu buat gak ganggu dia mulu..."

Zaneta masih mencoba mempertahankan diri, "Kami cuma bercanda kok, Bin Shanaya nya aja yang terlalu lebay..."

Tapi Bintang tidak terpengaruh, "Bercanda? Bercanda loe itu gak lucu sama sekali, Zan. Gue gak mau ngelihat ini lagi paham!" ucapnya dengan nada meninggi

Geng Bintang dan beberapa teman lainnya membantu melerai mereka, dan akhirnya Zaneta, Olivia, dan Firly mundur.

Joe mendekati Thalia dan memastikan bahwa gadisnya tidak apa-apa, "Ayy, kamu nggak apa-apa kan sayang?"

Thalia masih terlihat marah, tapi dia mengangguk, "Aku nggak apa-apa kok, Ayy. Makasih ya sayang..."

Bintang juga mendekati Shanaya, "Shan, kamu nggak apa-apa?"

Shanaya tersenyum lemah, "Aku nggak apa-apa, Bin. Makasih ya..."

Joe kemudian menatap Bintang, "Loe tahu, Bin, mungkin loe bisa bicara sama Zaneta lebih keras lagi. Dia nggak bisa terus-terusan seperti ini ke Shanaya..."

Bintang mengangguk, "Gue tahu, Joe. Gue bakal bicara sama dia lagi nanti..."

Thalia kemudian menarik napas dalam-dalam, "Gue nggak tahan lagi sama Zaneta. Gue berharap dia bisa berubah..."

Kelas analisis puisi dimulai, dan Bu Widya, dosen mata kuliah tersebut, mulai mengajukan pertanyaan tentang puisi yang sedang mereka bahas dikelas saat ini. Bintang dan Shanaya langsung menunjukkan keunggulannya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lancar dan tepat.

Bu Widya tersenyum, "Wah, Bintang dan Shanaya, kalian berdua selalu unggul dalam mata kuliah ini. Bagaimana kalian bisa begitu fasih menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?"

Bintang tersenyum, "Saya hanya mencoba memahami puisi dengan lebih dalam, Bu. Dan Shanaya juga sangat membantu saya dalam memahami makna-makna yang tersembunyi..."

Shanaya tersenyum, "Terima kasih, Bu. Saya hanya mencoba mengasah kemampuan analisis saya..."

Thalia yang duduk di sebelah Joe, berbisik, "Wah, mereka berdua memang jago. Aku nggak bisa seperti itu deh kayaknya..."

Joe tersenyum, "Kamu juga bisa, Thalia. Kamu hanya perlu lebih percaya diri aja..."

Bu Widya kemudian melemparkan pertanyaan ke mahasiswa-mahasiswa lainnya, "Baik, sekarang saya ingin mendengar pendapat dari teman-teman lainnya. Apa yang kalian pikirkan tentang tema yang diangkat dalam puisi ini?"

Kelas menjadi hening sejenak, beberapa mahasiswa mulai membuka-buka catatan mereka. Thalia mengambil napas dalam-dalam dan mengangkat tangan, "Bu, saya ingin mencoba menjawab..."

Bu Widya tersenyum, "Ya, Thalia? Silakan..."

Thalia mulai berbicara, "Saya pikir tema yang diangkat dalam puisi ini adalah tentang perjuangan hidup dan kekuatan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan..."

Bu Widya mengangguk, "Wah, bagus, Thalia. Kamu bisa menjelaskan lebih lanjut tentang itu..."

Bu Widya kemudian menunjuk mahasiswa lainnya, "Baik, sekarang saya ingin mendengar pendapat dari... Andi. Apa yang kamu pikirkan tentang tema puisi ini?"

Andi terlihat sedikit gugup, tapi dia mulai berbicara, "Saya setuju dengan Thalia, Bu. Puisi ini memang tentang perjuangan hidup. Tapi saya juga merasa ada tema tentang kehilangan dan nostalgia..."

Bu Widya mengangguk, "Wah, bagus, Andi. Kamu bisa menjelaskan lebih lanjut tentang itu..."

Sementara itu, Bintang berbisik kepada Shanaya, "Puisi yang lagi kita bahas ini adalah 'Kidung Rindu' karya Sapardi Djoko Damono, kan?"

Shanaya mengangguk, "Iya, Bin. Gue lagi memperhatikan analisis Bu Widya tentang struktur puisi ini..."

Kelas terus berlanjut dengan diskusi yang hangat tentang puisi "Kidung Rindu".

Andi melanjutkan penjelasannya, "Saya merasa bahwa kehilangan dan nostalgia dalam puisi ini terkait dengan pengalaman pribadi penyair yang mungkin telah kehilangan seseorang yang dicintai. Penggunaan kata-kata seperti 'rindu' dan 'kenangan' membuat saya merasa bahwa penyair sedang mencoba mengungkapkan perasaan kesepian dan kerinduan yang mendalam..."

Bu Widya mengangguk, "Wah, bagus, Andi. Kamu bisa menangkap nuansa yang ada dalam puisi ini dengan baik..."

Bintang kemudian mengangkat tangan, "Bu, saya ingin menambahkan sesuatu..."

Bu Widya tersenyum, "Ya, Bintang? Silakan..."

Bintang mulai berbicara, "Saya setuju dengan Andi, Bu. Tapi saya juga merasa bahwa puisi ini tidak hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang proses penyembuhan dan penerimaan. Penyair seolah-olah sedang mencoba menerima kehilangan itu dan melanjutkan hidupnya..."

Shanaya mengangguk setuju dengan Bintang, "Saya juga merasa bahwa tema penyembuhan itu sangat kuat dalam puisi ini, Bu. Penggunaan kata-kata yang lembut dan imajinatif membuat saya merasa bahwa penyair sedang mencoba mengobati luka hatinya..."

Bu Widya tersenyum, "Wah, bagus sekali. Kamu semua telah menganalisis puisi ini dengan sangat baik. Saya merasa bangga dengan kemampuan analisis kalian..."

Kelas menjadi hening sejenak, kemudian Bu Widya melanjutkan, "Baik, sekarang saya ingin kalian mencoba menganalisis struktur puisi ini. Bagaimana struktur puisi ini membantu menyampaikan tema yang ada?"

Zaneta yang duduk di pojok kelas, terlihat tidak terlalu memperhatikan. Namun, ketika Bu Widya meminta analisis tentang struktur puisi, Zaneta tiba-tiba mengangkat tangan.

"Bu, saya ingin mencoba," ucap Zaneta dengan nada yang agak santai

Bu Widya tersenyum, "Ya, Zaneta? Silakan..."

Zaneta mulai berbicara, "Saya merasa bahwa struktur puisi ini menggunakan banyak enjambemen, yang membuat pembaca merasa seperti sedang mengalir bersama perasaan penyair..."

Namun, Zaneta tiba-tiba terhenti, karena dia tidak terlalu yakin dengan apa yang dia katakan.

Bu Widya tersenyum lembut, "Enjambemen, ya? Itu adalah pengamatan yang bagus, Zaneta. Tapi, bisakah kamu menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana enjambemen itu membantu menyampaikan tema puisi?"

Zaneta terlihat sedikit gugup, "Ehm...saya...saya tidak terlalu yakin, Bu..."

Bu Widya tidak memaksa, "Tidak apa-apa, Zaneta. Mungkin lain kali kamu bisa mempersiapkan diri lebih baik. Bintang, kamu ingin mencoba melanjutkannya?"

Bintang mengangguk dan mulai berbicara, "Bu, saya merasa bahwa enjambemen dalam puisi ini membantu menciptakan efek aliran kesadaran yang membuat pembaca merasa lebih dekat dengan perasaan penyair. Ini juga membantu menekankan tema tentang kehilangan dan kerinduan yang ada dalam puisi..."

Bu Widya mengangguk, "Wah, bagus sekali, Bintang. Kamu bisa menangkap fungsi enjambemen dengan baik..."

Shanaya menambahkan, "Saya juga merasa bahwa enjambemen itu membuat puisi terasa lebih dinamis dan emosional, Bu..."

Kelas kembali menjadi hening sejenak, kemudian Bu Widya melanjutkan, "Baik, sekarang kita lanjutkan ke analisis tentang penggunaan bahasa dalam puisi ini..."

Bu Widya melanjutkan, "Baik, sekarang kita lanjutkan ke analisis tentang penggunaan bahasa dalam puisi ini. Bagaimana penggunaan bahasa dalam puisi 'Kidung Rindu' membantu menyampaikan tema yang ada?"

Kelas kembali berdiskusi dengan hangat, dengan Bintang, Shanaya, dan beberapa mahasiswa lainnya yang aktif memberikan pendapat. Zaneta terlihat lebih tenang, tapi tidak terlalu aktif dalam diskusi.

Setelah 2 jam pertemuan, Bu Widya menutup kelas, "Baik, waktu kita sudah habis. Terima kasih atas diskusi yang hangat hari ini. Sampai jumpa minggu depan..."

Mahasiswa-mahasiswa mulai membereskan barang-barang mereka dan keluar dari kelas, berdiskusi tentang puisi yang telah mereka analisis.

Bintang mengajak Shanaya ke perpustakaan sembari menunggu jam mata kuliah berikutnya, "Hey, Shan, mau ke perpus dulu nggak? Gue mau cari buku untuk mata kuliah sejarah sastra Indonesia nanti..."

Shanaya mengangguk, "Mau, Bin. Gue juga perlu cari referensi..."

Thalia, Joe, Felix, dan Nathaniel yang sedang berjalan di koridor, mendengar ajakan Bintang dan memutuskan untuk ikut, "Kita juga mau ikut, Bin. Nunggu jam mata kuliah Pak Apriantoni kan..."

Di perpustakaan, mereka berenam mencari buku-buku yang dibutuhkan. Bintang dan Shanaya sibuk mencari buku tentang sejarah sastra Indonesia, sementara Thalia dan Joe mencari novel terbaru. Felix dan Nathaniel asyik ngegame di komputer perpus. Begitulah kelakuan duo jomblo sejati itu tiada hari tanpa ngegame.

Setelah beberapa lama, mereka berkumpul kembali,

"Udah siap semua?" tanya Bintang.

Shanaya mengangguk, "Udah, Bin. Gue juga udah dapat buku yang gue butuh..."

Mereka kemudian memutuskan untuk istirahat sejenak di kantin dekat perpus, sambil nunggu jam mata kuliah berikutnya.

Di kantin dekat perpus, Bintang, Joe, Felix, dan Nathaniel mulai membahas tentang acara geng motor tahunan yang akan diadakan beberapa hari kedepan.

"Good, acara tahun ini bakalan seru abis!" ujar Felix dengan antusias.

Nathaniel menambahkan, "Iya, gue udah siap motor. Loe udah siap, Joe, Fel, Bin?"

Joe mengangguk, "Sudah, gue udah modif motor gue juga tuh lihat sendiri diparkiran nanti. Loe, Bin?"

Bintang tersenyum usai menyeruput orange jusnya, "Gue juga sudah siap. Tapi, kita harus pastikan Shanaya dan Thalia juga ikut, ya?"

Shanaya yang sedang minum ice Capuchino, mendengar pembicaraan mereka, "Hmm, acara geng motor? Gue mau aja sih ikut, tapi gue harus tanya ayah dulu apalagi gue disini ngekos dan gue anak yatim..."

Thalia juga terlihat tertarik, "Iya, gue mau ikut. Tapi, kita harus pastikan acaranya aman, ya?"

Mereka semua langsung antusias ketika mendengar bahwa acara geng motor tahunan akan diadakan tiga hari lagi.

"WOI, TIGA HARI LAGI?! KITA HARUS SIAP!" seru Felix dengan suara keras

Nathaniel menambahkan, "Gue udah mulai siapin motor, baju, dan semua yang dibutuhkan pokoknya semua beres..."

Joe mengangguk, "Gue juga, kita harus tunjukin skill kita di acara ini pokoknya..."

Obrolan mereka berakhir saat melihat Pak Apriantoni berjalan menuju ruang kelas sastra.

"Wah, Pak Apri udah lewat. Ayo, kita ke kelas..." ujar Bintang sambil berdiri

Mereka semua beranjak dari kantin dekat perpus dan menuju ruang kelas sastra, masih membicarakan tentang acara geng motor tahunan.

"Gue bakal kasih tahu loe semua, gue bakal ikut balapan lagi tahun ini!" ucap Felix dengan percaya diri

Shanaya tersenyum, "Semoga kamu menang, Felix!"

Mereka semua kemudian memasuki ruang kelas, siap untuk mata kuliah sejarah sastra Indonesia dengan Pak Apriantoni.

...Author juga mau ke kampus dulu ya guys ya, mau nyelesaiin urusan akhir untuk persiapan wisuda. Btw terimakasih banyak yg sudah mampir, love sekebon sebunga2nya sama kalian... 🙏😍🥰🤗🌻🌷🌹🌸🌺...

1
gina altira
Zaneta knp nih anak, kurang se ons kali otaknya 🤭
Mutiara Wilis 🌹: Wkwkwk...kurang kerjaan dia pnasan tapi tetep ngikutin shanaya mulu gak mau tersaingi 😆🤭
total 1 replies
Desti31
Lanjut Nyi🤣
Mutiara Wilis 🌹: Ok nyi 😆🙃🤭🌹
total 1 replies
Selly Susilawaty
lanjut thor, makin hari makin seru aja nih😍
Mutiara Wilis 🌹: Ok kak, terimakasih sudah selalu hadir 🙏🤭🌹
total 1 replies
Anonymous
lanjut terus ya thor💪
Mutiara Wilis 🌹: Ok kak lagi mikir episode berikutnya ini hehehe... 🙏🙃🌹
total 1 replies
Anonymous
widih makin seru nih😍
Mutiara Wilis 🌹: Hai kak, makasih ya hadirnya 🙏😍🌹
total 1 replies
Anonymous
seru banget ceritanya, kalian wajib baca💙😍
Anonymous
semangat ya thor, aku mulai suka sama kisahnya Shanay💙
Mutiara Wilis 🌹: Terimakasih banyak readers ku sudah selalu hadir dan menyukai kisah Shanaya... 🙏😅🌹
total 1 replies
Anonymous
wah makin seru aja nih thor😍
Mutiara Wilis 🌹: Hehehe...iya kak tapi kehilangan ide ini sudahan 🙏😅🙃
total 1 replies
Destianita
Hadir💐😍
Mutiara Wilis 🌹: Selalu hadir nyai destiny 😍👌😆
total 1 replies
Anonymous
semangat thor💪
Mutiara Wilis 🌹: Ok kak terimakasih hadirnya... 🙏😆🙃
total 1 replies
Destianita
Lanjut terus Nyi😍 aku sawer bunga🤗
Mutiara Wilis 🌹: Makasih sawerannya 😍👌😆🙃
total 1 replies
Anonymous
lanjut thor👍
Mutiara Wilis 🌹: Ok masih ngumpulin ide 🙏😆🙃
total 1 replies
Destianita
Semangat terus Thor💐
Mutiara Wilis 🌹: Ok thor dirimu juga semangat
total 1 replies
Destianita
Cihuy, makin seru nih😍
Mutiara Wilis 🌹: Wkwkwk iya idemu berguna juga 🤣🙃
total 1 replies
Destianita
Lanjut Nyai Thor😍
Mutiara Wilis 🌹: Woke nyai queen horor 🤣👌😍
total 1 replies
Mutiara Wilis 🌹
Ok nyai welang 😆
Mutiara Wilis 🌹
Ok nyai, aduh kok hadiroh kan ngeri 🤣🙃
Mutiara Wilis 🌹
apaan lekong?
Selly Susilawaty
lnjut tros thor😍
Mutiara Wilis 🌹: Ok thor, besok paling saya lanjut ini lagi perjalanan jauh mungkin hilang sinyal 🙏😅
total 1 replies
Destianita
Bening semua itu lekongnya🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!