NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:187.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 35

Kevin menarik gerobak, sedangkan Ivano mendorongnya. Miranda berjalan di samping mereka. Baju mereka belum sepenuhnya kering karena terkena air hujan. Untuk mengusir rasa dingin, sesekali mereka meloncat-loncat sambil bernyanyi. Miranda beberapa kali tertawa melihat tingkah mereka. Dalam hati ia berkata, “Ah, seperti inikah rasanya punya adik sebenarnya.”

Akhirnya mereka sampai di tenda Apip.

“Wah, bawa pasukan, nih!” seru Apip dengan senyum sumringah.

“Ipin, Upin, kenalan sama Paman Apip,” kata Miranda.

Kevin dan Ivano saling pandang. “Sejak kapan aku berubah nama?” tanya Kevin heran.

“Oh, maaf, aku lagi melamun,” sahut Miranda cepat. “Mas, ini Kevin dan Ivan.”

“Sekarang kamu sudah punya adik, rupanya,” ujar Apip ramah.

“Iya, Mas… mereka mau jadi adikku, katanya,” jawab Miranda.

“Wah, kalau begitu harus dirayakan! Kalian bisa makan pecel ayam gratis malam ini,” tambah Apip antusias.

Miranda merasa senang. Awalnya ia berprasangka akan mendapatkan penolakan dari Apip, tetapi ternyata tidak.

Kehadiran Kevin dan Ivano sangat membantu. Ivano berteriak-teriak menawarkan pecel lele, sedangkan Kevin membantu melayani pelanggan. Pukul 22.00 semua dagangan sudah habis.

Apip memandang Miranda dengan raut tidak enak hati.

“Mir,” ujar Apip pelan, “maaf ya, Mir, untuk malam ini aku hanya bisa memberi kamu saja, Mir.”

“Paman, jangan sungkan. Kami dapat makan saja sudah puas,” kata Kevin menenangkan.

“Iya, Paman, jangan merasa tidak enak hati. Bisa belajar jualan dari Mas saja kami sudah senang,” timpal Ivano.

“Maaf sekali, ya. Aku janji kalau anakku sudah lahir, aku pasti membayar kalian,” balas Apip dengan nada bersalah.

“Santai saja, Mas,” ujar Miranda lembut.

“Kalian anak-anak baik,” puji Apip tulus.

Kemudian Apip memberi Miranda uang Rp50.000,00.

“Maaf ya, Mas, dan terima kasih sudah memberi adik-adikku makan,” ucap Miranda penuh rasa syukur.

“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku harus rajin menabung. Rencananya istriku mau melahirkan di kampung,” jelas Apip.

Miranda berpamitan kepada Apip, lalu melanjutkan perjalanan menuju ruko tempat biasa ia tidur.

Miranda menggelar kardus. Tanpa banyak mengeluh, Ivano dan Kevin langsung tidur. Setelah melihat mereka terlelap, Miranda memandang bintang-bintang di langit.

“Semoga kami diberi kesuksesan, Tuhan. Terima kasih sudah memberikanku orang-orang yang menyayangiku,” bisik Miranda lirih sebelum akhirnya memejamkan mata dan tertidur.

Azan subuh berkumandang.

“Kak, bangun, Kak,” panggil Kevin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Miranda.

Miranda mengerjapkan mata. “Ada apa, Vin?” tanya Miranda masih mengantuk.

“Sudah subuh, Kak. Kakak harus salat subuh tepat waktu,” ingat Kevin lembut.

Miranda tersenyum senang. Ada yang mengingatkannya salat, padahal jelas Kevin beragama Kristen.

“Oke, makasih,” balas Miranda.

Miranda melaksanakan salat subuh, kemudian dengan tergesa-gesa berangkat ke rumah Bu Salamah.

“Astaga, kita kesiangan!” seru Miranda panik.

Setengah berlari, Miranda menuju rumah Bu Salamah, Kevin dan Ivano mengikuti dari belakang.

Miranda langsung menuju pintu belakang rumah Bu Salamah.

“Astaga, Mir, kamu kok telat?” tegur Bu Salamah ketus sambil menanak nasi.

“Iya, saya ketiduran,” jawab Miranda pelan.

“Ya sudah, ayo cepat bungkus,” perintah Bu Salamah singkat.

“Aku bawa adik-adikku, ya, Bu,” ujar Miranda hati-hati.

Bu Salamah terdiam tanpa jawaban. Miranda merasa takut kalau Bu Salamah akan menolak keberadaan Kevin dan Ivano.

“Ya sudah, cepat ajarkan mereka cara membungkusnya. Untung saja kamu bawa adik-adikmu,” kata Bu Salamah akhirnya.

Miranda mengajarkan Kevin dan Ivano cara membungkus nasi uduk. Rupanya mereka anak-anak yang pintar. Dengan cepat mereka menguasai teknik membungkus nasi uduk.

“Akhirnya selesai,” embus Miranda. Keringat dingin mengucur di dahinya.

Miranda memasukkan nasi uduk ke gerobak. Ivano menarik gerobak dan Kevin mendorongnya, sementara Miranda menunjukkan jalan.

“Makín hari makin banyak gelandangan masuk ke kampung kita ini,” ujar Narti.

“Benar. Enak sekali mereka usaha, sedangkan kita menganggur. Ini tidak bisa dibiarkan,” timpal Mirna.

“Iya, si Salamah itu sudah banyak mengambil keuntungan dari kita. Aku beberapa kali dimarahi suamiku gara-gara sering meminjam motornya untuk mengambil sayuran di pasar,” keluh Narti.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Mirna.

“Sini, aku ada ide,” bisik Narti.

Kemudian mereka berdua saling berbisik, menyusun sebuah rencana untuk memberi pelajaran kepada Bu Salamah.

“Bagus sekali idemu. Kalau Bu Salamah tidak ada, nanti nasi uduk kakakku, Marni, akan laris. Tidak ada saingan lagi,” ucap Mirna puas.

“Kalau begitu, minta Marni untuk bekerja sama. Suaminya, kan, RT,” saran Narti.

“Benar, nanti aku bilang sama Marni,” jawab Mirna mantap.

Mereka pun terus membicarakan rencana untuk membuat Bu Salamah jera.

“Besok pesan 80 bungkus, ya,” kata pria berhelm merah itu.

Miranda tercengang. Delapan puluh bungkus berarti ia akan mendapat untung Rp240.000,00 dan pundi-pundi uangnya akan terus bertambah. Belum dua minggu, tetapi uangnya sudah lebih dari satu juta rupiah. Bagi Miranda, ini adalah prestasi yang luar biasa.

“Baik, Pak. Saya sanggup,” jawab Miranda mantap.

“Oke, kalau begitu,” balas pria berhelm merah itu singkat.

Dengan hati riang, Miranda melangkah menghampiri gerobak. Pagi itu matahari belum tinggi, tetapi kesibukan sudah lebih dulu menyapa.

“Kak, muka Kakak pucat sekali,” tanya Kevin, menatap wajah Miranda dengan cemas.

Miranda menyentuh pipinya. Ia memang merasa mual sejak tadi. Perutnya tidak nyaman, kepalanya sedikit pening. Namun bayangan tentang pesanan yang harus diantarkan membuatnya menepis rasa itu. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya pelan, berusaha tersenyum.

“Aku mau ke rumah Bu Salamah. Aku mau belajar memasak selama empat jam. Kalian bermain saja dulu. Atau mau cari rongsokan juga tidak masalah. Nanti jam dua siang kita bertemu di depan ruko tempat kita tidur kemarin,” lanjut Miranda mengatur rencana.

“Oke, Kak. Tapi kami harus memastikan dulu Kakak sampai di rumah Bu Salamah,” sahut Ivano cepat.

“Astaga, aku ini sudah besar. Bukan anak kecil. Tidak usah terlalu mengkhawatirkanku,” balas Miranda, sedikit tertawa. Ia tidak ingin merepotkan mereka. Namun jauh di dalam hatinya ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Sudah lama sekali tidak ada yang mencemaskannya seperti ini.

“Tidak bisa. Kami harus memastikan Kakak sampai di rumah Bu Salamah,” kata Kevin tegas. Nada suaranya lembut, tetapi tidak bisa dibantah.

Miranda menghela napas panjang. “Baiklah kalau begitu.”

Kevin menarik gerobak dan Ivano mendorongnya. Miranda berjalan di samping mereka. Beberapa langkah kemudian, perutnya mulai terasa melilit. Rasa mual itu datang lebih kuat. Keringat dingin merayap di pelipisnya.

“Kak, naik saja ke gerobak kalau tidak kuat,” ujar Ivano, menoleh cemas.

“Seperti anak kecil saja naik gerobak. Sudah, tenang saja. Aku sehat, kok,” jawab Miranda, meski suaranya melemah.

Perjalanan yang biasanya terasa singkat kini seolah memanjang. Setiap langkah seperti menembus kabut. Kepalanya berat, tenggorokannya terasa pahit. Tubuhnya seperti ditusuk ribuan jarum halus. Pandangannya mulai berkunang.

Akhirnya mereka tiba di depan rumah Bu Salamah.

Miranda mencoba bertahan. Ia menarik napas, tetapi dunia terasa berputar. Suara Kevin dan Ivano terdengar jauh.

Dan tepat di depan rumah itu, tubuh Miranda roboh tanpa daya.

1
Allea
si ningsih ibu yang super bodoh y ( btw lupa knp dikembar pisah ma emaknya
Astuti Tuti
lanjut kk
Anonim
penjara doang, bunuh dong
sunaryati jarum
Dengan tertangkapnya Ronald ibu kembar selamat
Dede Bleher
kok sama ya.
aku jg ingin punya mushola yg bisa orang mampir untuk para musafir.
kesel aku tu ya.
thn 2017 aku lebaran di Indonesia.
ikut sama ponakan ngunjungi tantenya.
ada mushola di gembok!
pdhl aku ingin solat zuhur!
Junita Gardini
klau bisa selesai kan donggg novelnya , jangan di gantung , pengen tau akhir ceritanya.

hampir semua cerita novel nya di gantung , akhirnya cerita nya engga enak
di tunggu
Anonim
mmQ GOBLOK
Suanti
ibu nya, kelvin dan ivano jg bodoh mau aja di tipu sm Ronald
ronald cuma mau manfaatin harta kekayaan ibu kelvin dan ivano aja 🤣🤭
sunaryati jarum
Ronald kena jebakan bagaimana ya perasaan ibu Kevin dan Ivano saat tahu suaminya membayar orang untuk membunuh kedua putranya
Anonim
BUNUH SEMUA MUSUHMU MIRANDA.. TATAKAE
nunik rahyuni
suruan bapak tiri mu...usut sampe habis kasus nya buat bapak tirimu.mendekam di penjara
sunaryati jarum
Ayah tiri kalian
Suanti
pasti papa tiri nya kelvin dan ivano 🤭
nunik rahyuni
ya..tak tau diri klo lg perlu ngaku anak saya..makananya mau orangnya dibenci
sama kan dg anakmya 11/12 yuni lisa..jd ke 2 nya masukkan sj ke rumah sakit jiwa
Allea
santoso jadi suami lembek bsnget sih
sunaryati jarum
Orang suruhan ayah tiri Kevin dan Ivano, cepat telpon polisi,Mir
Anonim
JALAN NYA BUNUH LISA DAN YUNI
nunik rahyuni
masukan saja ke RSJ....sudah sakit jiwa dia...sama yuni sekalian...
sunaryati jarum
Biarkan Lisa keluar tapi tetap dalam pengawasan,atau masukkan rumah sakit jiwa.Jiwa Lisa sejak kecil sudah dibentuk ibunya jadi buruk.
Batara Kresno
duhh miranda tololnya kebangetan biar aj ngapain mesti dikeluarin biar dihajar diipenjara ama napii lain begoo lhoo mir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!