NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup Blonde

Minggu pagi di kosan Nana seharusnya menjadi waktu suci untuk bermalas-malasan. Sesuai rencana, siang nanti dia mau ke salon self-reward setelah tiga hari menghadapi tekanan batin dari Bos.

Nana baru saja kembali dari depan kosan membawa sebungkus bubur ayam langganannya. Dengan rambut dicepol asal dan daster Bali oleh-oleh kemarin, dia duduk manis di depan teras kamarnya, siap menyantap sarapan.

"Duh, enaknya. Minggu tanpa omelan Pak Abian itu surga dunia," gumam Nana sambil mengaduk bubur.

Namun, baru satu suapan masuk ke mulutnya...

"Nana! Nana!"

Nana membeku. Suara itu. Suara yang paling tidak ingin dia dengar di hari liburnya. Suara si mantan parasit, Rian.

Nana menggeram kuat, tangannya sampai meremas sendok plastik di genggamannya. "Apalagi sih ini orang? Nggak tahu apa ya gue udah mau move on?!"

Dengan langkah berat dan wajah ditekuk, Nana membuka pagar kosannya. Di sana berdiri Rian dengan tampang tanpa dosa, memegang sebuah kotak kardus kecil.

"Ngapain lagi kamu ke sini, Rian? Belum cukup kemarin bikin saya emosi?" semprot Nana galak.

Rian tampak sedikit ciut, tapi dia tetap menyodorkan kotak itu. "Nih, paket Lo."

"Loh, paket apa?" tanya Nana lagi, memastikan sekali lagi kotak kardus yang dipegang Rian.

"Mana gue tau. Cepat. Masih banyak paket yang harus gua antar," ucap Rian ketus sambil mengelap keringat di dahinya. Sepertinya si mantan ini sekarang kerja serabutan jadi kurir logistik.

Nana berpikir sejenak, memutar otaknya yang masih agak loading karena baru bangun tidur. Tiba-tiba dia teringat pesanan di aplikasi belanja onlinenya minggu lalu sebelum berangkat ke Bali.

"Ohh, bentar ya aku ambil uangnya. Berapa?" tanya Nana.

"Sesuai di aplikasi, seratus dua puluh ribu. Buruan, Na!" jawab Rian tidak sabaran.

Nana segera masuk ke dalam kamar kosnya untuk mengambil dompet. Sambil berjalan, dia menggerutu dalam hati. "Duh, kenapa sih kurirnya harus si Rian? Dunia sempit banget apa gimana?"

Dia mengambil beberapa lembar uang, lalu kembali ke pagar dengan wajah yang masih ditekuk.

Nana menyodorkan uang pas ke tangan Rian. "Nih. Pas ya. Nggak usah pakai kembalian, anggap saja tips buat kamu yang sudah mau tobat jadi kurir."

Rian mendengus, menerima uang itu lalu memberikan paketnya dengan kasar ke tangan Nana. "Nggak usah sok baik. Gue kerja juga buat hidup."

Begitu Rian memacu motornya pergi, Nana mengembuskan napas lega. "Hih, ngerusak mood pagi saja!"

Nana masuk ke kamarnya dan meletakkan paket itu di atas lantai. Dengan semangat, dia mengambil gunting dan mulai membuka kardusnya. "Asyik! Panci elektrik baru! Akhirnya bisa masak mie instan tanpa harus ke dapur umum kosan yang kotor itu."

Nana akhirnya sampai di salon langganannya yang letaknya tak jauh dari kosan. Setelah drama bertemu mantan yang jadi kurir dadakan, dia butuh relaksasi.

"Silakan, Mbak," sambut salah satu karyawan salon dengan ramah.

Nana tersenyum tipis sambil melepas tas rotannya. "Saya mau keramas, Mbak."

"Cuma itu, Mbak?" tanya si kapster sambil menuntun Nana ke kursi keramas. "Kebetulan kita lagi ada promo besar-besaran buat pewarna rambut, lho. Mumpung lagi diskon 50%, warnanya bagus-bagus dan nggak bikin rambut rusak."

Nana terdiam sejenak. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar.

"Warnanya ada apa saja, Mbak?" tanya Nana mulai tertarik.

Si karyawan menunjukkan katalog warna. Jari Nana berhenti pada satu warna yang sangat kontras dengan kepribadiannya yang biasanya kalem.

"Blonde, Mbak. Saya mau ambil warna blonde ini," ucap Nana mantap.

"Wah, berani ya Mbak? Tapi bakal cocok kok sama kulit Mbak yang bersih," puji si karyawan.

Proses pun dimulai. Selama rambutnya diolesi bahan kimia dan menunggu warna meresap. Nana tampak menikmati prosesnya.

......................

Senin pagi, Suasana masih cukup tenang sampai sebuah pintu lift terbuka dan memunculkan sosok yang membuat semua staf menoleh dua kali. Nana melangkah dengan percaya diri, rambut blondenya yang baru berkilau terkena lampu kantor.

Nana berjalan menuju ruangan Abian, membawa beberapa berkas dan kopi pesanan bosnya itu. Tanpa mengetuk dengan ragu seperti biasanya, dia langsung masuk.

"Selamat pagi, Pak Abian!" sapa Nana dengan suara riang.

Abian yang sedang fokus pada layar laptopnya hanya menjawab tanpa menoleh, "Taruh kopinya di sana, Haruna. Dan tolong siapkan laporan yang—"

Kalimat Abian terputus saat dia mendongak. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Dia terpaku menatap asistennya yang kini terlihat sangat berbeda.

"Haruna? Kamu... kenapa rambut kamu jadi warna... pirang begitu?" tanya Abian dengan nada syok.

Nana memutar tubuhnya sedikit, memamerkan gaya rambut barunya. "Bagus kan, Pak? Biar nggak bosan. Gimana? Saya sudah kayak artis Hollywood belum?"

Abian berdehem, mencoba mengendalikan ekspresi terkejutnya yang terlalu kentara. "Kamu ini niat kerja atau mau ikut audisi girlband? Warnanya terlalu mencolok, Haruna. Ini kantor, bukan panggung konser."

Nana langsung berkacak pinggang, menatap Abian tanpa rasa takut. "Kan nggak ada aturan perusahaan, Pak, yang melarang karyawannya mewarnai rambut. Saya sudah cek buku pedoman karyawan tadi pagi sebelum masuk. Yang penting rapi dan kerjanya beres, kan?"

Abian terdiam. Dia mencoba mencari celah untuk memprotes, tapi secara teknis Nana benar. Tidak ada larangan tertulis soal warna rambut selama tidak mengganggu performa kerja.

"Tapi tetap saja, kamu jadi terlihat sangat... berbeda," gumam Abian, suaranya sedikit mengecil sambil matanya tak lepas dari rambut pirang Nana.

"Berbeda itu bagus, Pak! Daripada saya kelihatan oon terus di mata Bapak, mending saya kelihatan keren begini. Hidup blonde!" seru Nana sambil mengepalkan tangan ke udara.

"Terserah kamu saja. Sekarang cepat duduk dan jelaskan jadwal saya hari ini, Blonde" sindir Abian.

Nana tertawa renyah. "Siap, Pak Bos"

1
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
partini
KA Bali pakai paspor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!