Aluza, seorang Office girl cantik di Bandara, terjebak dalam kenangan Ivan mantan kekasihnya yang sudah lama meninggal.
Namun di hari pertama Aluza bekerja ia di pertemukan kembali dengan seorang pilot bernama Bara yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Ivan
Tapi Bara yang mirip Ivan itu ternyata memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dia kasar, angkuh, dan tidak peduli dengan perasaan orang lain.
Aluza terjebak dalam dilema, apakah dia bisa melupakan Ivan dan jatuh cinta dengan Bara, atau justru Bara akan menjadi racun yang menghancurkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elzaluza2549, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Yang Tertunda
Malam ini keluarga Diva di undang makan malam di rumah Bara. Sekalian keluarga itu membahas tentang pertunangan Diva dan Bara.
Diva dan keluarganya telah berkumpul bersama Keluarga Bara di ruang makan tanpa kehadiran Bara.
Dua keluarga itu nampak resah, apalagi Vina yang mulai cemas karena Bara belum kunjung datang juga.
Mama Diva mulai berbisik di telinga Diva.Ia mengatakan apakah Bara tak ingat jika hari ini ada pertemuan penting.
Diva mulai merasa tidak enak, dia juga mulai khawatir tentang Bara. "Mama, mungkin ada sesuatu yang terjadi," dia berbisik kembali, mencoba untuk menenangkan mamanya.
Vina yang duduk di sebelah suaminya, mengatupkan bibirnya. "Aduh maaf yah Jeng Ayu, padahal tadi saya udah bilang sama Bara untuk kembali jam 6 sore”
Ayu, mama Diva, yang duduk di seberang mereka, mulai terlihat tidak sabar. "Mungkin jeng Vina harus coba menghubungi Bara lagi,"
“Tidak usah Tante biar aku saja yang hubungi Bara..”Titah Diva, sambil berdiri lalu berjalan menjauhi keluarga itu.
Dalam seminggu sekali Bara melakukan rutinitas olahraga di tempat gym
Kedatangannya ke pusat gym terbesar di kotanya mengundang perhatian para wanita yang memperhatikan dirinya tanpa berkedip terutama para wanita yang berada di sana.
Bara selalu bersikap dingin, ia terlihat cuek melewati para wanita yang menatapnya seperti kucing yang kelaparan.
Bahkan olahraga yang menjadi favoritnya adalah mesin chest press, alat gym untuk melatih kekuatan dada.Bara memang memiliki tubuh yang atletis dan kuat, dan tidak heran jika dia menarik perhatian para wanita di gym. Tapi Bara sepertinya tidak terlalu peduli dengan perhatian itu, dia hanya fokus pada latihan dan mencapai targetnya.
Mesin chest press memang salah satu alat gym yang efektif untuk melatih kekuatan dada, dan Bara terlihat sangat nyaman menggunakannya. Dia melakukan gerakan yang stabil dan terkontrol, menunjukkan bahwa dia memiliki teknik yang baik.
Para wanita di sekitarnya tidak bisa tidak menatap Bara dengan kagum, tapi Bara hanya tersenyum kecut dan terus melatih dirinya. Dia sudah terbiasa dengan perhatian seperti ini, dan dia tahu bagaimana cara mengabaikannya.
...****************...
Diva berjalan ke arah taman, mencoba untuk menghubungi Bara. Dia merasa sedikit gelisah, apa yang terjadi dengan Bara Kenapa dia tidak datang
Diva menekan tombol panggilan, tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, tapi hasilnya sama. Diva mulai merasa khawatir, apa yang terjadi dengan Bara. Bukan kah pertemuan siang tadi Bara sudah mengiyakan jika mau datang.Diva mulai sedikit kesal dan dia mulai marah.
...****************...
“Ayo Diva kita pulang saja, keluarga ini mempermainkan kita!”Perintah papa Diva yang saat ini menarik tangan Diva untuk keluar dari rumah milik keluarga Bara di ikuti oleh mamanya.
Diva merasa seperti terseret oleh papanya, dia tidak bisa menolak perintahnya. "Tapi Papa, Bara..."diva mencoba untuk membela, tapi papanya tidak mendengarkan.
"Tidak ada Bara, kita pulang!" papanya berkata dengan tegas, sambil menarik Diva keluar dari rumah itu.
Diva melihat ke belakang, berharap Bara akan muncul dan menjelaskan apa yang terjadi, tapi Bara tidak ada di sana. Dia merasa seperti ditinggalkan, dan hatinya terasa sakit.
Mereka keluar dari rumah itu, meninggalkan keluarga Bara yang terlihat tidak berdaya. Diva merasa seperti mimpi buruk, dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
“Lihatlah anak itu kalau dia pulang, maka aku akan memarahi dia habis-habisan. Astaga Bara kamu mempermalukan mama di depan keluarga terpandang itu!”
Pak Bayu dengan langkah santai mendekati istrinya yang masih ngomel-ngomel sendiri.“Sudahlah ma lupakan saja, seperti tidak ada wanita lain saja untuk bersanding dengan Bara”
“Papa bilang tidak ada wanita lain, pa...apa papa tidak tau kalau mereka itu keluarga yang setara dengan keluarga kita!”
“Terus ma tadi saja papa nya kak Diva marah-marah sampai segitunya maka sudah di pastikan mereka tidak akan setuju melanjutkan hubungan Kak Diva dengan Kak Bara”Sahut Keyla yang masih dengan Santai nya memasukan potongan daging steak ke dalam mulutnya.
Mama Vina terlihat sangat marah, dia menatap Keyla dengan tajam. "Kamu tidak perlu ikut campur, Keyla. Ini urusan orang dewasa," dia berkata dengan nada yang keras.
Namun Keyla nampak acuh, dan kembali melanjutkan makan malamnya.
Tak lama setelah itu Bara kembali ke dalam rumah nya dengan tubuh di penuhi keringat.Ia bertanya tanpa rasa bersalah.
"Apa yang terjadi? Kenapa semuanya terlihat kacau?" Bara bertanya dengan nada yang santai, sambil mengambil handuk untuk mengusap keringat di wajahnya.
Mama Bara menatapnya dengan mata yang membesar. "Kamu berani bertanya apa yang terjadi?! Kamu yang mempermalukan kami di depan keluarga Diva!" dia berkata dengan nada yang keras.
Bara terlihat sedikit terkejut, tapi dia masih mencoba untuk tetap tenang. "Apa yang aku lakukan?" dia bertanya, sambil melihat sekeliling ruangan.
Mama Bara menghempaskan tangannya ke udara. "Kamu tidak datang ke pertemuan dengan keluarga Diva! Mereka datang ke sini, dan kamu tidak ada! Apa yang mereka pikir tentang kita!" Vina berkata dengan nada yang semakin keras.
Bara mengangkat bahu. "Aku lupa," dia berkata dengan nada yang santai.
Mama Bara menatapnya dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya. "Kamu lupa?! Kamu lupa pertemuan yang sangat penting ini?! Bara, apa yang salah dengan kamu?" Vina berkata dengan nada yang hampir menjerit.
Bara tetap tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. "Aku bilang aku lupa, Ma. Gak perlu dibesar-besarkan," dia berkata dengan nada yang santai, sambil berjalan ke arah kulkas untuk mengambil minuman.
Mama Bara semakin marah. "Gak perlu dibesar-besarkan ! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?! Kamu mempermalukan kami di depan orang lain!" dia berkata dengan nada yang semakin keras.
Bayu dan Keyla yang berdiri di sudut ruangan, saling menatap dengan ekspresi yang tidak nyaman. Mereka tahu bahwa Bara tidak akan mudah untuk ditekan.
Bara membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral. "Aku sudah bilang aku lupa, Ma. Gak ada gunanya terus-terusan membahas ini," dia berkata dengan nada yang masih santai, sambil membuka botol air dan minum.
Mama Bara hampir meledak. "Kamu tidak peduli sama sekali, kan?! Kamu hanya memikirkan diri sendiri!" dia berkata dengan nada yang sangat keras, sambil menunjuk Bara dengan jari.
..
Bara berkata dengan nada yang tegas, sambil menatap mamanya dengan mata yang tajam. "Mama sendiri tahu kalau aku tidak setuju dengan perjodohan itu. Kenapa masih dipaksa?" dia berkata dengan nada yang sedikit emosi, sambil meletakkan botol air di atas meja.
Mama Bara terlihat sedikit terkejut, tapi dia tidak mundur. "Itu karena Mama tahu apa yang terbaik untuk kamu! Diva adalah gadis yang baik, dan kamu akan bahagia dengan dia," dia berkata dengan nada yang masih keras, tapi sedikit lebih lembut.
Bara menggelengkan kepala. "Mama tidak tahu apa-apa. Aku tidak mau dipaksa untuk menikah dengan siapa pun. Aku ingin memilih sendiri," dia berkata dengan nada yang tegas, sambil berjalan keluar dari ruangan.
Bayu menghampiri istrinya dan meletakkan tangan di bahu istrinya, mencoba untuk menenangkannya. "Sudahlah, Ma. Bara masih muda, dia butuh waktu untuk memahami apa yang terbaik untuknya," dia berkata dengan nada yang lembut.
Mama Bara menatap suaminya, masih terlihat marah. "Tapi pa, kita sudah membuat kesepakatan dengan keluarga Diva. Kita tidak bisa membatalkan begitu saja," dia berkata dengan nada yang sedikit lebih tenang.
Bayu mencoba untuk membujuk istrinya. "Kita bisa bicara dengan mereka, menjelaskan situasi Bara. Mereka pasti akan memahami," dia berkata dengan nada yang persuasif.
Mama Bara menghela napas, mulai merasa lelah. "mama tidak tahu, pa.mama hanya ingin yang terbaik untuk Bara," dia berkata dengan nada yang sedikit lembut.