NovelToon NovelToon
Sistem Peningkatan Kekayaan

Sistem Peningkatan Kekayaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Harem / Kaya Raya
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Gu Yanqing hidup miskin, tanpa latar belakang, tanpa peluang.
Hingga suatu hari, Sistem Peningkatan Kekayaan aktif—memberinya kesempatan untuk naik kelas, selama semua yang ia peroleh masuk akal dan sah.

Dari nol ke kaya, dari diremehkan ke dikelilingi orang-orang yang terlihat tulus.
Tapi di dunia uang dan status, kepercayaan punya harga.

Dan saat harga itu terlalu mahal, tidak semua orang sanggup membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Berita yang Menyimpang (1)

Pagi itu, layar ponsel Gu Yanqing menyala lebih awal dari biasanya.

Notifikasi berita muncul berurutan. Judulnya singkat, tetapi cukup untuk membuatnya berhenti mengancingkan manset kemeja.

Linhai Daily.

Gu Yanqing tidak langsung membuka tautannya. Ia duduk di tepi tempat tidur, wajahnya tenang, napas stabil. Ia sudah memperkirakan momen ini akan datang. Setelah sidang awal kemarin, perkara tidak lagi berada di ruang hukum semata. Ia telah melewati pintu pengadilan. Artinya, konflik kini memiliki dimensi publik.

Ia menyentuh layar.

Judul artikel itu tercetak tebal:

“Pengusaha Muda Gugat Dongkou Port Group, Tuntut Kompensasi Fantastis.”

Tidak ada kata “dugaan pelanggaran.”

Tidak ada frasa “proses hukum berjalan.”

Yang ada hanya “tuntut kompensasi fantastis.”

Gu Yanqing membaca perlahan.

Artikel itu ditulis oleh Qin Meilin. Nama wartawan tersebut tercantum jelas di bawah judul. Bahasa yang digunakan tampak netral di permukaan, tetapi setiap kalimat mengarah pada satu sudut pandang.

“Klaim kerugian diajukan dengan nilai yang dinilai sejumlah pengamat sebagai tidak proporsional.”

“Perusahaan menyatakan komitmennya terhadap hukum dan menyayangkan upaya litigasi yang dapat mengganggu stabilitas industri pelabuhan.”

“Beberapa sumber internal menyebut gugatan ini sebagai bentuk tekanan terhadap korporasi besar.”

Sumber internal.

Tanpa nama. Tanpa jabatan.

Gu Yanqing berhenti di paragraf ketujuh.

Namanya disebut penuh: Gu Yanqing, pengusaha muda yang baru beberapa tahun bergerak di sektor logistik. Kata “baru” tidak berdiri sendiri. Ia ditempatkan berdampingan dengan frasa “menantang perusahaan dengan sejarah puluhan tahun.”

Kontras itu sengaja dibangun.

Individu kecil melawan institusi mapan.

Bukan korban menuntut hak.

Gu Yanqing mematikan layar, lalu menyalakannya kembali. Ia membaca untuk kedua kalinya, kali ini dengan pola pikir analitis.

Struktur artikel terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama: sorotan terhadap nilai tuntutan.

Bagian kedua: pernyataan perusahaan.

Bagian ketiga: komentar “pengamat.”

Komentar itu berbunyi:

“Dalam situasi ekonomi yang sensitif, tindakan seperti ini bisa menciptakan preseden yang tidak sehat.”

Tidak ada satu kalimat pun yang menjelaskan detail gugatan secara lengkap. Tidak disebutkan tentang kontrak yang dilanggar. Tidak dijelaskan soal kewajiban operasional yang tidak dipenuhi. Tidak ada pembahasan mengenai kronologi yang melatarbelakangi perkara.

Yang ada hanya angka tuntutan.

Angka selalu memancing emosi.

Gu Yanqing berdiri, berjalan ke jendela apartemennya. Dari lantai atas, pelabuhan terlihat sebagai garis samar di kejauhan. Di balik kabut pagi, kontainer bergerak seperti potongan catur.

Ia tidak marah.

Ia mencatat.

Narasi media tidak pernah berdiri di atas kebohongan total. Ia dibangun di atas seleksi fakta. Fakta yang diambil, fakta yang dibuang, dan urutan penyajian.

Qin Meilin tidak menuduhnya secara eksplisit memeras.

Ia hanya membangun konteks yang membuat pembaca menyimpulkan sendiri.

Itu lebih efektif.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Zhao Haoran.

“Sudah baca?”

Gu Yanqing membalas singkat.

“Ya.”

Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di kantor Zhao Haoran. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara pendingin udara yang stabil.

Zhao Haoran mendorong cetakan artikel ke hadapannya. Beberapa bagian sudah ditandai stabilo kuning.

“Framing-nya rapi,” kata Zhao pelan. “Tidak menyerang langsung. Tapi cukup untuk membentuk opini.”

Gu Yanqing mengangguk. “Mereka menempatkan nilai tuntutan di paragraf pertama.”

“Angka selalu menarik perhatian.”

“Dan mereka tidak menulis dasar perhitungannya.”

Zhao bersandar di kursi. “Sentimen publik akan bergerak cepat. Kita belum punya ruang klarifikasi. Sidang baru tahap awal.”

Gu Yanqing menatap teks itu lagi.

Kalimat tentang “pengusaha muda” diulang dua kali. Kata “menantang” muncul sekali. “Stabilitas industri” muncul tiga kali dalam konteks berbeda.

Ia memetakan pola itu dalam pikirannya.

Dongkou Port Group tidak perlu membantah di pengadilan saat ini. Mereka cukup menggeser persepsi publik. Jika publik melihat gugatan sebagai tindakan oportunistik, maka tekanan sosial akan bekerja tanpa perlu instruksi langsung.

Ia menutup map.

Di sudut pandang hukum, posisi mereka tidak berubah. Proses tetap berjalan sesuai prosedur. Namun reputasi bukan perkara hukum semata. Ia adalah modal sosial.

Tiba-tiba, panel sistem muncul di hadapannya. Tampilan itu bersih dan tenang, seperti biasa.

Status Perkara: Litigasi aktif

Analisis Sentimen Publik Awal: Negatif 62%

Gu Yanqing menatap angka itu tanpa ekspresi.

Enam puluh dua persen.

Itu bukan kehancuran.

Tapi cukup untuk membentuk arus.

Panel itu tidak menawarkan solusi. Tidak ada opsi “klarifikasi publik.” Tidak ada rekomendasi instan.

Hanya data.

Ia menghargai itu.

“Enam puluh dua persen negatif,” katanya pelan.

Zhao Haoran menatapnya. “Kita belum melakukan survei resmi.”

“Tidak perlu. Rasanya sudah terlihat.”

Zhao menghela napas. “Kita bisa mengeluarkan pernyataan resmi.”

“Belum.”

Zhao terdiam.

Gu Yanqing berdiri, berjalan perlahan ke rak dokumen. “Jika kita merespons sekarang, kita terlihat defensif. Artikel itu tidak menyerang secara eksplisit. Jika kita membalas terlalu keras, justru menguatkan narasi bahwa kita sedang tertekan.”

Zhao mengangguk pelan. “Jadi?”

“Kita diam.”

“Media akan menganggap itu pengakuan.”

“Tidak,” jawab Gu tenang. “Media akan mencari lanjutan. Jika tidak ada konflik terbuka, mereka akan beralih sementara. Kita fokus ke berkas. Ke bukti. Ke prosedur.”

Zhao menatapnya beberapa detik. “Tekanan reputasi bisa memengaruhi saksi.”

Nama itu melintas dalam benak Gu Yanqing.

Liu Haifeng.

Komitmennya belum sepenuhnya stabil. Jika ia membaca artikel ini, jika lingkungan sekitarnya mulai menganggap gugatan sebagai tindakan tidak etis, tekanan psikologis bisa bekerja lebih efektif daripada ancaman langsung.

Itulah tujuan sebenarnya.

Bukan memenangkan opini publik sepenuhnya.

Cukup membuat saksi ragu.

Gu Yanqing kembali duduk.

“Perusahaan tidak perlu menyerang kita di ruang sidang,” katanya. “Mereka cukup membuat kita terlihat salah di luar ruang sidang.”

Zhao membuka laptopnya. “Qin Meilin bukan wartawan sembarangan. Ia sudah lama meliput sektor industri.”

“Artinya ia tahu konsekuensi setiap kata.”

“Dan ia memilih kata-kata itu dengan sadar.”

Gu Yanqing memandang jam dinding. Waktu berjalan seperti biasa. Dunia tidak berhenti hanya karena satu artikel.

Namun sesuatu telah berubah.

Kemarin, ia berdiri sebagai pihak penggugat dalam sistem hukum.

Hari ini, ia berdiri sebagai figur publik yang dipertanyakan niatnya.

Perang telah melebar.

Ia tidak mengeluh. Ia sudah menghitung kemungkinan ini sejak awal.

“Jangan hubungi wartawan itu,” katanya.

Zhao mengangkat alis. “Tidak ada klarifikasi?”

“Tidak ada konfrontasi.”

“Setidaknya kita bisa meminta ruang hak jawab.”

Gu Yanqing menggeleng tipis. “Belum. Kita lihat pergerakan berikutnya.”

Ia berdiri, merapikan jasnya.

Reputasi bisa tergerus perlahan, seperti logam yang terkena air asin. Tidak terlihat dalam sehari, tetapi dampaknya nyata dalam jangka panjang.

Namun hukum memiliki ritme sendiri. Dokumen, bukti, prosedur—itu yang ia kendalikan. Opini publik adalah medan berbeda, dan ia tidak akan memasuki medan itu tanpa perhitungan.

Panel sistem menghilang perlahan.

Enam puluh dua persen negatif.

Ia mengingat angka itu, bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai parameter awal.

“Ini baru gelombang pertama,” katanya pelan.

Zhao tidak membantah.

Di luar jendela kantor, kendaraan melintas seperti biasa. Kota Linhai tidak peduli pada konflik pribadi seseorang dengan korporasi besar. Namun narasi telah dilepas ke ruang publik.

Dan narasi, sekali bergerak, jarang berhenti dengan sendirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!