NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Sengaja Diciptakan

Pagi setelah badai semalam, rumah itu terasa jauh lebih dingin. Bukan karena embusan pendingin ruangan, melainkan karena kata-kata yang terucap semalam telah membekukan sisa-sisa harapan di hati Arini. Arini bangun saat fajar baru saja menyingsing. Ia tidak ingin duduk di meja makan, menunggu pria yang secara terang-terangan menyesali pernikahan mereka. Setelah menyiapkan sarapan, ia membawa cangkir tehnya ke taman belakang, duduk di kursi rotan sambil menatap embun yang masih bergelayut di daun mawar yang mulai layu.

​Ia baru menyadari satu hal yang menyakitkan: selama ini ia terlalu keras mencoba mendobrak pintu yang kuncinya sudah dibuang oleh pemiliknya. Jika Aris menganggap pernikahan ini adalah beban, maka Arini tidak ingin lagi menjadi pemberat di pundak pria itu. Ia akan menjalankan perannya—sebagai istri kontrak yang profesional, tanpa setitik pun melibatkan perasaan.

​Suara gesekan pintu kaca memecah lamunannya. Aris berdiri di sana, sudah rapi dengan setelan kantornya yang kaku. Wajahnya pucat, matanya sedikit merah—mungkin sisa alkohol semalam atau memang dia tidak tidur sama sekali. Ia menatap punggung Arini, ada keraguan yang tidak biasa di matanya yang tajam.

​"Arini," panggilnya, suaranya parau.

​Arini tidak menoleh dengan antusias. Tidak ada lagi binar yang biasanya mencari pengakuan dari suaminya. Ia perlahan meletakkan cangkir tehnya, berdiri, dan berbalik dengan wajah setenang air di sumur tua. "Selamat pagi, Mas. Sarapan sudah siap di meja. Aku sengaja tidak menunggumu karena kupikir kamu butuh waktu lebih lama untuk istirahat setelah... kejadian semalam."

​Aris mengerutkan kening. Nada bicara itu... sangat formal, seperti seorang asisten yang bicara pada atasannya. "Tentang semalam... aku bicara terlalu banyak karena pengaruh minuman," ucap Aris, sebuah usaha canggung untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum paham.

​"Tidak perlu dijelaskan, Mas. Aku mengerti," potong Arini dengan senyum tipis yang terasa hambar. "Kamu jujur, dan aku menghargai itu. Mulai sekarang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Di depan Ibu Sofia dan publik, aku akan tetap menjadi istri yang baik. Tapi di rumah ini, kamu punya ruangmu sendiri. Kamu bebas menemui siapa pun, termasuk Clara. Aku tidak akan bertanya lagi."

​Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun sebenarnya itu adalah cara terakhir Arini menyelamatkan harga dirinya yang sudah compang-camping. Aris terdiam. Seharusnya ia merasa lega. Bukankah kebebasan ini yang ia inginkan sejak awal? Namun, saat melihat Arini berjalan melewatinya begitu saja, Aris justru merasakan sebuah lubang kosong yang aneh mulai menganga di dadanya.

​Sepanjang hari, Arini menyibukkan diri. Ia menata ulang perpustakaan mini dengan sangat hati-hati, memastikan tangga lipatnya terkunci rapat tanpa perlu ada pria yang mengawasinya. Ia juga mulai menghubungi teman-temannya, mencari lowongan penerjemah lepas. Ia sadar, ia harus punya pijakan sendiri jika suatu saat kontrak ini berakhir dan ia didepak dari rumah mewah ini.

​Sore harinya, Aris pulang lebih cepat. Ia membawa kotak kecil berwarna biru tua dari toko perhiasan ternama. Ia masuk ke kamar dan menemukan Arini sedang serius di depan laptop dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya.

​"Ini untukmu," Aris meletakkan kotak itu di dekat tangan Arini.

​Arini melirik kotak itu sebentar tanpa minat. "Apa ini, Mas?"

​"Permintaan maaf. Untuk kata-kataku semalam," jawab Aris kaku. Ia tidak terbiasa meminta maaf, dan baginya, barang mewah adalah penebusan yang paling praktis.

​Arini melepaskan kacamatanya, menatap Aris dengan pandangan yang benar-benar datar. Ia bahkan tidak menyentuh kotak itu. "Terima kasih, Mas. Tapi perhiasan tidak akan mengubah apa yang sudah terucap. Simpan saja uangmu. Aku tidak butuh bayaran untuk kejujuranmu."

​"Arini, jangan mulai lagi. Aku mencoba memperbaiki suasana," suara Aris mulai meninggi, egonya mulai tersentuh.

​"Aku justru sedang menjaganya, Mas," jawab Arini pelan. "Bukankah kamu bilang jangan mencampuradukkan perasaan? Jadi, jangan merasa perlu menyogokku. Aku akan tetap melakukan tugasku sebagai istrimu di luar sana. Bukankah itu yang paling penting bagimu?"

​Aris terperangah. Ia merasa seperti berhadapan dengan orang asing. Arini yang ia kenal adalah wanita yang selalu berusaha menyenangkannya, yang akan tersenyum lebar hanya karena hal kecil. Tapi wanita di depannya sekarang telah membangun dinding yang jauh lebih tebal dan lebih tinggi daripada dinding miliknya.

​"Terserah kamu kalau begitu!" geram Aris. Ia menyambar kembali kotak perhiasan itu, melemparnya ke dalam laci dengan kasar, lalu keluar kamar dengan perasaan kesal yang tidak ia mengerti dasarnya.

​Di kamar yang kembali sunyi, Arini menghela napas panjang. Ia menutup laptopnya, dan perlahan air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga. Bersikap tidak peduli ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada mencintai secara sepihak. Namun, ia tahu ini satu-satunya jalan agar ia tidak hancur berantakan saat hari perceraian itu benar-benar tiba nanti. Ia sedang belajar melepaskan, tepat di saat ia merasa baru saja ingin memiliki.

1
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!