Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Jarak yang Sengaja Diciptakan
Pagi setelah badai semalam, rumah itu terasa jauh lebih dingin. Bukan karena embusan pendingin ruangan, melainkan karena kata,kata yang terucap semalam telah membekukan sisa,sisa harapan di hati Kiki. Kiki bangun saat fajar baru saja menyingsing. Ia tidak ingin duduk di meja makan, menunggu pria yang secara terang,terangan menyesali pernikahan mereka. Setelah menyiapkan sarapan, ia membawa cangkir tehnya ke taman belakang, duduk di kursi rotan sambil menatap embun yang masih bergelayut di daun mawar yang mulai layu.
Ia baru menyadari satu hal yang menyakitkan, selama ini ia terlalu keras mencoba mendobrak pintu yang kuncinya sudah dibuang oleh pemiliknya. Jika Fikar menganggap pernikahan ini adalah beban, maka Kiki tidak ingin lagi menjadi pemberat di pundak pria itu. Ia akan menjalankan perannya, sebagai istri kontrak yang profesional, tanpa setitik pun melibatkan perasaan.
Suara gesekan pintu kaca memecah lamunannya. Fikar berdiri di sana, sudah rapi dengan setelan kantornya yang kaku. Wajahnya pucat, matanya sedikit merah, mungkin sisa alkohol semalam atau memang dia tidak tidur sama sekali. Ia menatap punggung Kiki, ada keraguan yang tidak biasa di matanya yang tajam.
“Kiki,” panggilnya, suaranya parau.
Kiki tidak menoleh dengan antusias. Tidak ada lagi binar yang biasanya mencari pengakuan dari suaminya. Ia perlahan meletakkan cangkir tehnya, berdiri, dan berbalik dengan wajah setenang air di sumur tua. “Selamat pagi, Mas. Sarapan sudah siap di meja. Aku sengaja tidak menunggumu karena kupikir kamu butuh waktu lebih lama untuk istirahat setelah... kejadian semalam.”
Fikar mengerutkan kening. Nada bicara itu... sangat formal, seperti seorang asisten yang bicara pada atasannya. “Tentang semalam... aku bicara terlalu banyak karena pengaruh minuman,” ucap Fikar, sebuah usaha canggung untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum paham.
“Tidak perlu dijelaskan, Mas. Aku mengerti,” potong Kiki dengan senyum tipis yang terasa hambar. “Kamu jujur, dan aku menghargai itu. Mulai sekarang, aku tidak akan mengganggumu lagi. Di depan Ibu Sofia dan publik, aku akan tetap menjadi istri yang baik. Tapi di rumah ini, kamu punya ruangmu sendiri. Kamu bebas menemui siapa pun, termasuk Clara. Aku tidak akan bertanya lagi.”
Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun sebenarnya itu adalah cara terakhir Kiki menyelamatkan harga dirinya yang sudah compang,camping. Fikar terdiam. Seharusnya ia merasa lega. Bukankah kebebasan ini yang ia inginkan sejak awal? Namun, saat melihat Kiki berjalan melewatinya begitu saja, Fikar justru merasakan sebuah lubang kosong yang aneh mulai menganga di dadanya.
Sepanjang hari, Kiki menyibukkan diri. Ia menata ulang perpustakaan mini dengan sangat hati,hati, memastikan tangga lipatnya terkunci rapat tanpa perlu ada pria yang mengawasinya. Ia juga mulai menghubungi teman,temannya, mencari lowongan penerjemah lepas. Ia sadar, ia harus punya pijakan sendiri jika suatu saat kontrak ini berakhir dan ia didepak dari rumah mewah ini.
Sore harinya, Fikar pulang lebih cepat. Ia membawa kotak kecil berwarna biru tua dari toko perhiasan ternama. Ia masuk ke kamar dan menemukan Kiki sedang serius di depan laptop dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya.
“Ini untukmu,” Fikar meletakkan kotak itu di dekat tangan Kiki.
Kiki melirik kotak itu sebentar tanpa minat. “Apa ini, Mas?”
“Permintaan maaf. Untuk kata,kataku semalam,” jawab Fikar kaku. Ia tidak terbiasa meminta maaf, dan baginya, barang mewah adalah penebusan yang paling praktis.
Kiki melepaskan kacamatanya, menatap Fikar dengan pandangan yang benar,benar datar. Ia bahkan tidak menyentuh kotak itu. “Terima kasih, Mas. Tapi perhiasan tidak akan mengubah apa yang sudah terucap. Simpan saja uangmu. Aku tidak butuh bayaran untuk kejujuranmu.”
“Kiki, jangan mulai lagi. Aku mencoba memperbaiki suasana,” suara Fikar mulai meninggi, egonya mulai tersentuh.
“Aku justru sedang menjaganya, Mas,” jawab Kiki pelan. “Bukankah kamu bilang jangan mencampuradukkan perasaan? Jadi, jangan merasa perlu menyogokku. Aku akan tetap melakukan tugasku sebagai istrimu di luar sana. Bukankah itu yang paling penting bagimu?”
Fikar terperangah. Ia merasa seperti berhadapan dengan orang asing. Kiki yang ia kenal adalah wanita yang selalu berusaha menyenangkannya, yang akan tersenyum lebar hanya karena hal kecil. Tapi wanita di depannya sekarang telah membangun dinding yang jauh lebih tebal dan lebih tinggi daripada dinding miliknya.
“Terserah kamu kalau begitu!” geram Fikar. Ia menyambar kembali kotak perhiasan itu, melemparnya ke dalam laci dengan kasar, lalu keluar kamar dengan perasaan kesal yang tidak ia mengerti dasarnya.
Di kamar yang kembali sunyi, Kiki menghela napas panjang. Ia menutup laptopnya, dan perlahan air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga. Bersikap tidak peduli ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada mencintai secara sepihak. Namun, ia tahu ini satu,satunya jalan agar ia tidak hancur berantakan saat hari perceraian itu benar,benar tiba nanti. Ia sedang belajar melepaskan, tepat di saat ia merasa baru saja ingin memiliki.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.