NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal Hal Yang Tak Pernah Kita Bicarakan

Aku pulang dengan langkah pelan malam itu.

Bukan karena capek, tapi karena rasanya tidak ada tujuan yang benar-benar menunggu di rumah.

Rumahku sepi.

Bukan sepi yang menakutkan, tapi sepi yang sudah terlalu akrab sampai aku lupa kapan terakhir kali merasa kesepian itu aneh.

Lampu ruang tamu masih sama seperti dulu—satu lampu kuning yang sering berkedip kalau hujan deras. Aku belum sempat menggantinya. Entah karena malas, atau karena sebagian diriku masih ingin rumah ini tetap terlihat seperti waktu orang tuaku masih ada.

Aku menaruh kunci di meja kecil dekat pintu. Meja itu sedikit miring. Dulu ayah pernah bilang mau memperbaikinya, tapi tidak pernah sempat.

Seperti banyak hal lain.

Aku duduk di sofa dan menatap dinding kosong.

Biasanya aku menyalakan TV, cuma buat ada suara. Tapi malam ini tidak. Aku ingin rumah ini diam. Aku ingin tahu seberapa kuat aku menghadapi sunyi tanpa bantuan apa pun.

Ternyata tidak kuat-kuat amat.

Aku ingat Nara bilang di kafe tadi:

“Kehilangan orang tua jauh lebih sepi, ya.”

Iya.

Sepi karena tidak ada orang yang benar-benar bisa menggantikan posisi mereka.

Teman bisa datang. Pasangan bisa pergi. Tapi orang tua… mereka satu-satunya.

Aku masih ingat suara ibuku setiap pagi.

“Jangan lupa sarapan, nanti lambungmu sakit.”

Dulu aku sering jawab, “Iya, Bu,” tanpa benar-benar peduli.

Sekarang aku bangun pagi tanpa siapa pun yang peduli apakah aku makan atau tidak.

Lucu ya.

Kita sering bosan dengan hal-hal yang justru paling akan kita rindukan.

Aku berdiri dan membuka kulkas. Isinya tidak banyak. Air minum, telur, dan satu kotak nasi sisa kemarin. Aku menutupnya lagi. Tidak benar-benar lapar.

Aku lebih lapar pada sesuatu yang tidak bisa dimakan.

Aku ambil ponsel, buka kontak, lalu berhenti di satu nama.

Nara.

Aku sempat ragu.

Takut mengganggu. Takut terlihat terlalu cepat ingin dekat.

Padahal sebenarnya aku cuma ingin memastikan… dia baik-baik saja.

Aku ketik:

Kamu sudah sampai rumah?

Beberapa menit tidak ada balasan.

Aku menaruh ponsel, lalu mengambilnya lagi. Kebiasaan buruk.

Akhirnya notifikasi muncul.

Sudah. Aku juga nggak ngapa-ngapain, cuma duduk.

Aku tersenyum kecil.

Jawaban yang terasa… mirip denganku.

Kamu sering mikir tentang orang tuamu? tulisnya lagi.

Aku menatap layar cukup lama sebelum membalas.

Setiap hari. Tapi aku pura-pura nggak.

Capek ya, pura-pura terus.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Karena entah kenapa, aku merasa dia benar-benar tahu rasanya.

Kamu sendiri? balasku.

Aku sering mikir mantanku masih bahagia nggak tanpa aku. Terus aku kesel sendiri karena kenapa aku masih peduli.

Aku tertawa kecil, tapi pahit.

Itu manusia banget.

Iya. Dan aku benci itu.

Kami berhenti mengetik beberapa detik.

Percakapan kami tidak pernah terlalu ramai, tapi selalu terasa… tepat.

Aku lalu menulis sesuatu yang sebenarnya tidak aku rencanakan.

Kadang aku takut dekat sama orang, karena aku nggak mau kehilangan lagi.

Balasannya tidak langsung datang.

Aku sempat berpikir aku terlalu jujur.

Lalu ponselku bergetar.

Aku juga. Tapi aku lebih takut sendirian.

Kalimat itu sederhana.

Tidak puitis. Tidak dramatis.

Tapi entah kenapa, dadaku terasa lebih sesak dari semua metafora yang pernah kubaca.

Aku merebahkan diri di sofa, menatap langit-langit.

Aku sadar satu hal malam itu:

aku dan Nara tidak sedang saling jatuh cinta.

Kami sedang saling mengenali luka.

Dan mungkin itu lebih berbahaya.

Karena mencintai orang yang utuh itu mudah.

Tapi dekat dengan orang yang sama-sama retak…

itu seperti dua orang berenang sambil sama-sama takut tenggelam.

Kalau suatu hari kamu pergi dari kota ini lagi, tulis Nara,

kabarin aku ya.

Kenapa?

Biar aku nggak kaget kehilangan orang lagi tanpa pamit.

Aku memejamkan mata.

Aku nggak janji bakal selalu tinggal. Tapi aku janji nggak bakal menghilang tanpa bilang.

Itu sudah cukup buat sekarang.

Kami berhenti di situ.

Tidak ada “selamat malam”.

Tidak ada emotikon.

Hanya dua orang yang sama-sama menatap layar, memikirkan hal yang tidak mereka tulis.

Aku mematikan ponsel dan membiarkan rumah kembali sunyi.

Tapi kali ini berbeda.

Sunyinya tidak terasa kosong.

Lebih seperti… ada seseorang di luar sana yang sedang duduk dengan rasa yang mirip.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama,

aku tidak merasa sendirian sepenuhnya.

Bukan karena aku sudah sembuh.

Tapi karena aku bertemu seseorang yang juga belum.

Dan mungkin,

itulah awal dari sesuatu yang tidak pernah kami rencanakan,

tapi diam-diam kami butuhkan.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!