Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Perselingkuhan Masa Lalu (Pak Tono-Siti-Bu Dewi)
*Disarankan baca saat malam*
"Ardi tetap jadi cadangan, Bu. Kalau aku gak dapatin Bang Bul, ya balik lagi ke Ardi." Jawab Rasti dengan entengnya.
"Lah, kapan hari kamu berantem katanya bilang pengin putus dari Ardi?"
"Buktinya Ardi juga masih beberapa kali jalan sama aku, Bu. Sudah, ibu gak perlu pusing. Aku masih pengin seneng-seneng sama Ardi. Tapi kalau buat dijadikan calon suami, Bastian lebih oke. Hehe..."
"Terserah kamu lah. Yang penting kita harus lebih unggul dari Seruni-anak pembantu itu!"
"Pastinya, Bu. Aku juga gak mau kalau kita di bawah dia,"
Ibu dan anak satu ini memang punya sifat yang tak jauh berbeda. Di mata mereka hanya ada ketamakan akan harta maupun milik orang lain seperti pasangan.
Jika sedang kesal, mereka berdua pasti mengumpati Seruni-si anak pembantu.
Ya, faktanya ibu kandung Seruni yakni mendiang Siti adalah seorang pembantu yang bekerja di rumah orang tua Pak Tono, kakek-nenek Seruni.
Siti adalah wanita desa asli yang lahir di wilayah Tapal Batas. Gadis yatim piatu sejak usianya sepuluh tahun. Orang tua nya meninggal karena mendapat kecelakaan saat mengantar hasil pertanian ke kota.
Karena kasihan, orang tua Pak Tono pun mempekerjakan Siti sebagai pembantu di rumahnya. Siti bekerja dengan baik di rumah orang tua Pak Tono.
Paras cantik alami Seruni dominan berasal dari Siti, ibu kandungnya. Banyak pria yang naksir pada Siti. Namun, orang tua Pak Tono sudah terlanjur jatuh hati pada Siti dan berniat sejak lama hendak menjodohkan dengan putra semata wayang mereka.
Desa tempat tinggal mereka masih menganut tradisi pernikahan dini atau usia muda di mana pasangan kita dari perjodohan keluarga.
Ketika Siti sudah cukup umur yakni usia delapan belas tahun, ia menikah dengan anak majikannya sendiri karena dijodohkan. Usia Pak Tono dengan Siti berjarak tiga tahun.
Dua tahun setelah keduanya menikah, Siti dinyatakan hamil. Orang tua Pak Tono tentu senang bukan kepalang akan mendapatkan cucu. Namun sayang, kejadian prahara tak terduga datang saat usia kehamilan Siti menginjak delapan bulan.
Siti sempat curiga dengan gelagat suaminya beberapa waktu belakangan. Para buruh tani keluarga mereka sudah pulang kerja siang hari. Akan tetapi, suaminya sering pulang dari ladang sore hari bahkan terkadang sampai menjelang Maghrib.
Siti juga pernah diberi peringatan oleh salah seorang tetangga tentang Pak Tono.
"Aku bukannya mau nak mengadu domba hubungan kau sama suamimu, Sit." Ujar si tetangga yang usianya tak jauh beda dengan Siti.
"Ada apa?"
"Aku pernah lihat suamimu jalan sama janda desa seberang,"
"Di mana?"
"Pas ke pasar malam di desa seberang. Kemarin aku lihat mereka jalan ke ladang pas awak mau cari beki_cot," jawabnya. "Kamu harus segera bun_tuti suamimu. Jangan sampai tuh janda ngambil laki orang !"
☘️☘️
Kala itu Siti tak terlalu mempercayai ucapan tetangganya. Ia masih berusaha percaya bahwa suaminya tak berselingkuh.
Namun suatu hari, perasaan tak enak itu semakin menguat. Siti akhirnya memutuskan pergi ke ladang milik keluarga suaminya saat menjelang sore hari. Di mana Pak Tono belum juga pulang, tapi anehnya para buruh tani sudah pulang.
Siti melihat area ladang dan sawah begitu sepi. Ada tiga pondok di area lahan yang begitu luas dan rimbun pepohonan tersebut.
Mengapa rimbun ?
Dikarenakan ladang di sana berada di tengah-tengah hutan kecil yang mengitari.
Siti tak melihat motor khusus berladang milik sang suami di pondok pertama dan kedua. Siti melanjutkan langkah masuk lebih dalam ke hutan kecil menuju ke pondok ketiga yang cukup jauh.
Setibanya di pondok ketiga, Siti bernafas lega karena melihat motor milik Pak Tono.
"Mungkin apak masih nyenyak tidur di sana sampai udah mau Maghrib begini belum juga pulang," gumam Siti yang masih berusaha berpikiran positif tentang sang suami yang kelelahan bekerja di ladang. Walaupun ketika berangkat dari rumah, terbesit rasa curiga di benak Siti.
Langkah kaki Siti kian mendekat ke pondok sederhana yang berbahan dari bilik bambu dan kayu.
Pondok tersebut hanya ada satu kamar yang biasa digunakan beristirahat dan dapur kecil yang berisi tungku tradisional. Tak ada pintu utama di bangunan pondok sederhana tersebut. Hanya ada satu pintu yakni pintu kamar terbuat dari kayu, tanpa kunci.
Sebab, pondok ketiga lokasinya sangat jauh dari pemukiman warga. Bahkan kamar sederhana di sana tak ada ranjang atau lemari. Hanya ada sebuah tikar sederhana dengan satu bantal saja.
Tiba-tiba langkah kaki Siti terhenti kala kedua matanya melihat ada alas kaki lain yang berada di samping sandal suaminya. Alas kaki yang diyakini biasa digunakan oleh seorang wanita jika melihat bentuk dan modelnya.
Pikiran Siti semakin kalut dan semrawut. Tak berselang lama, telinganya mendengar suara-suara aneh, namun tampak familiar. Suara ero_tis kegiatan ranjang antara pria dan wanita yang sedang mende_sah serta menge_rang nikmat bersama deru nafas memburu penuh naf_su.
"Ough, goyanganmu mantap Wi."
"Dewi gitu loh, Mas. Kamu pasti dijamin puas,"
"Kamu bikin aku makin gila, Wi. Pinter banget nyenengin aku,"
"Gimana kehebatanku ketimbang istrimu?"
"Hebat kamu lah, Wi. Siti mana bisa goyang begini di kasur. Ah...ah...ah..."
"Gantian, Mas. Kamu di atas, aku pengin di bawah."
"Oke, Sayang..."
Keduanya dengan cepat membalikkan posisi di atas tikar sederhana yang menjadi saksi bisu perselingkuhan keduanya.
"Lebih dalam lagi, Massh..."
"Begini kah, Sayang..."
"I_ya, Massh..." ucap Dewi dengan suara terbata-bata karena di bawah sana dirinya berulang kali dibuat keluar melenakan oleh kejan_tanan Pak Tono.
Sungguh, hati ibu kandung Seruni sudah tak berbentuk lagi. Dalam kondisi hamil tua dan linangan air mata, ia melangkah cepat untuk masuk ke dalam pondok tersebut. Rasanya Siti ingin sekali menggere_bek pasangan lak_nat itu.
BRAKK !!
Bersambung...
🍁🍁🍁
hei laki-laki inget baik baik ya wanita modal ngangkang merebut suami orang bukan wanita baik2 sehina hina nya wanita adalah modelan begitu semoga para pelaku perselingkuhan kalau tidak bertobat azab dunia dan akhirat menimpanya dengan sangat tragis Aamiin
Sungguh ngeri kalo baca sepak terjang pelakor zaman ini....,,