"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Busuk Dara
Benar dugaan Arimbi, jika sertifikat Apartemen mewah itu disimpan Dara. Tapi sekarang sudah ada di tangannya, untuk dikembalikan pada Dira. Sehingga dia tidak perlu melunasi hutang yang nilainya mencekik leher. Arimbi tidak hanya mengambil sertifikat, tapi ada buku tabungan dan atm yang atas nama Agung. Serta uang dari tas Dara.
Setelah mengamankan apa yang menjadi tugasnya, Arimbi pun langsung buru-buru menyusul Dira ke Kantor. Setelah itu, dia akan terbebas dari hutang yang telah menjeratnya. Tapi bukan berarti hidupnya aman. Karena Dira tidak mungkin berbelas kasih sampai begitu baik padanya. Tunggu saja bagaimana Dira mengembalikan luka hatinya pada Agung sekeluarga.
Mengabaikan Agung yang sedang bercinta di kamar tamu, Ibu Arumi tetap memasak untuk sarapan keluarganya. Tidak peduli jika anak laki-lakinya sedang menumpuk dosa zina. Sementara Ambar, gadis kecil itu pun tidak ada yang tahu. Bagaimana sepak terjangnya di kampus, demi nilai dan uang saku. Tidak jauh berbeda dengan Arimbi.
Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, pasti perilakunya menurun. Ibu Arumi dengan segala kebobrokannya, tidak mampu mendidik ketiga anaknya supaya berbeda dengan sifat buruknya. Justru dia membiarkan anak-anaknya hidup dengan kebusukannya sebagai manusia. Tidak ada kebaikan yang diturunkan, Ibu Arumi definisi perempuan yang gagal sebagai Ibu dan Istri.
Arimbi naik ojek online menuju kantor, berharap cepat bertemu Dira. Sebelum Dara dan Kakaknya sadar jika satu-satunya aset mereka sudah lenyap ulah adiknya sendiri. Sesampainya di Kantor, Arimbi berlari masuk ke ruangan milik Dira.
Braakkk
Pintu dibuka dengan kasar, saat di sana ada seseorang yang sedang melihat adegan live.
"A... Apa yang kalian tonton? Astaga... Ja... Jadi di rumah itu ada kamera CCTV?" Tanya Arimbi dengan bibir bergetar tidak percaya jika kebusukan keluarganya terbongkar.
"Tentu saja ada, bahkan di setiap pojok ruangan sudah terpasang kamera yang tak terlihat. Kamu pikir aku bodoh." Ucap Dira.
"Jadi kamu tahu, Mas Agung..."
Arimbi berdiri dengan tubuh yang semakin dingin, mulutnya langsung terkunci.
"Yah... Lihat saja mereka mirip kucing liar yang suka kawin. Dara ini... Semangatnya luar biasa, bagaimana jika kamu jadi aku? Saat suami yang kamu percayai justru main kuda-kudaan dengan perempuan sundal yang tidak sebanding denganmu dari segi mana pun."
Dira menghela nafas, perlahan rasa sesak itu sirna berganti dengan hati yang pasrah menerima takdirnya.
"Sudahlah... Gak perlu dibahas lagi. Mana sertifikat apartemen yang kamu bilang, aku akan membebaskanmu dari hutang dan aku anggap kamu tidak melakukan kesalahan saat bekerja." Ucap Dira menengadahkan tangan kanannya.
"Ini... Ada buku tabungannya juga."
Arimbi menyerahkan semua yang telah dia ambil dari kamar Dara. Sekarang dia pasrah dengan keadaannya, andai Dira menceraikan Kakak lelakinya. Mungkin hidupnya tidak akan bahagia.
"Baiklah, sekarang tanda tangani berkas. Aku akan menghapus seluruh hutangmu, tapi masih ada yang kurang. Perhiasan Ibu Arumi sisanya kamu harus ambil segera, atau kamu..."
"Penjara akan menjadi tempat tinggalmu. Aku tidak main-main Arimbi." Ucap Dira menatap tajam iparnya.
"Sekarang pulanglah, lakukan tugasmu secepatnya. Dan jangan beri tahu Kakakmu jika aku sudah mengetahui kebusukannya. Karena saat ini belum saatnya. Aku masih ingin bermain-main, tidak afdol jika hanya diam. Dara hanya seonggok daging busuk."
Setelah Arimbi pulang, Dira menelpon agen properti untuk menjual Apartemen. Sedangkan buku tabungan itu akan dia bekukan dan sementara menjadi bukti untuk kasus korupsi Agung. Tunggu Pengacaranya mengurus dua kasus, perceraian dan tindak kriminal Suaminya.
"Bagaimana Pak, apa Anda sudah punya bukti masa lalu Dara yang menunjukkan kelainan orientasi seksualnya?"
"Ada, dia memang pasien poli psikiatri di Rumah Sakit X. Kejadian ini sudah lama sekali, tapi menurut saksi dari tetangganya dulu Dara sudah dua kali hamil saat masih sekolah SMA. Makanya dia tidak lulus karena dia sudah diDO dari Sekolahannya." Ucap Detektif itu sambil menyerahkan satu dokumen berisi foto-foto.
Sepulang dari kerja, Dira menuju kantor agen properti untuk menyerahkan sertifikat kepemilikan Apartemen yang dijual. Karena lokasinya yang sangat strategis dengan pusat kota, Apartemen itu langsung laku meskipun harganya selisih. Keempat mobil juga sudah laku, sekarang tinggal menunggu hari H. Maka Dira siap pergi dari kota Jakarta yang penuh luka.
Sementara itu di rumah Dira, sudah seperti lubang neraka jahanam. Dara dan Agung tanpa henti melakukan hal sangat tidak beretika.
"Mas... Kapan kamu menikahi aku, dan mengakui aku sebagai istri. Aku tidak suka terus diperlakukan sebagai pembantu di rumah ini, aku maunya dianggap sebagai Nyonya. Istri yang berhasil memberimu keturunan."
"Aku akan menikahimu secepatnya Dara, kamu tahu semalam Dira memintaku tanda tangan surat pengalihan kekuasaan. Jadi, sebentar lagi kamu akan dipanggil Nyonya Besar Istri CEO. Dan anak kita, dia akan hidup mewah terjamin masa depannya." Ucap Agung dengan wajah bahagia.
"Apa kamu akan menceraikannya. Aku tidak mau dijadikan yang kedua." Dara semakin terlihat sisi serakahnya, harusnya dinikahi jadi yang kedua saja sudah banyak-banyak bersyukur. Ini malah ngelunjak tidak jelas.
"Tidak! Aku tidak akan menceraikan Dira, karena perusahaan dan rumah semua masih atas nama pribadinya. Sudahlah, yang penting aku menikahimu. Jadi kita tak perlu sembunyi, Dira bisa menerimamu sebagai madunya."
Dara nampak tak pernah puas, ini bukan yang dia inginkan. Hanya jadi yang kedua, sama saja tetap menjadi Istri simpanan.
"Tidak... Bagaimana pun caranya, aku harus bisa menyingkirkan Dira secepatnya. Aku bisa memanfaatkan kehamilanku ini, karena aku tahu Mas Agung sangat menginginkan punya anak bagaimana jadinya jika Dira ketahuan mencelakaiku."
Rencana busuk Dara mulai disusun, skenario basi yang dia pikir sudah hebat karena bisa mengelabui Agung, adik-adiknya dan Ibunya.
Dara... Biar Author bisikan rahasia. Jika diibaratkan otak Dira segede gunung Semeru, sedangkan otakmu hanya senasi tumpeng basi. Jadi kalau mau susun rencana... yang lebih pinter, biar tidak diketawain Readers.
Menjelang sore, Dara baru keluar kamar tamu dengan wajah sumringah. Jelas karena sudah tidak gatal, sudah ada pawang tukang garuk. Agung pun tak kalah bahagia, karena otak dangkalnya berfikir dia sudah menang punya dua wanita. Kaya raya, seorang CEO yang akan dihormati oleh banyak orang. Tapi benarkah nasibnya sebagus itu?
Sementara Dira sudah mengumpulkan kembali uang yang selama ini dicuri. Meskipun sebenarnya rasa sakit itu tidak sepadan dengan kembalinya hartanya. Setidaknya Dira tidak akan membiarkan mereka bersenang-senang lebih lama. Karena dua minggu lagi, sidang perdana perceraiannya sudah ada jadwalnya. Dan Perusahaan dia sudah ada calon pembeli yang membayar mahal.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂