Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter⁵ — Kesabaran Dianggap Kelemahan.
Lastri pernah berpikir bahwa kesabaran adalah cara paling sopan untuk bertahan hidup. Ia mengingat tujuh tahun pernikahannya seperti orang mengingat musim kemarau yang terlalu panjang. Tidak selalu panas, tapi cukup untuk membuat tanah retak perlahan.
Dulu saat ia baru saja lulus SMA, Surya meminangnya dengan cara terhormat. Datang ke rumah orang tuanya, berbicara tentang masa depan desa, tentang perempuan yang pantas mendampingi seorang kepala desa. Saat itu Lastri percaya, barangkali cinta memang bisa tumbuh setelah pernikahan.
Nyatanya, yang tumbuh lebih dulu adalah tuntutan. Ia diminta diam saat rapat, dipaksa tersenyum saat difoto. Diminta memaklumi saat Surya pulang larut dengan alasan urusan desa, dan diminta bersabar ketika ia tak pernah diajak berkompromi dalam keputusan apapun.
“Seorang istri itu, tugasnya hanya melayani dan menjaga wibawa suami.” Kata Surya suatu malam saat Lastri bertanya kenapa suaminya pulang sangat larut, ucapan itu ringan tapi menusuk.
Saat itu Lastri hanya bisa mengangguk, bukan karena setuju melainkan karena ia lelah terus berdebat. Ia membersihkan rumah, menyiapkan makan, menemani acara desa, bahkan menutup mata saat melihat beberapa perempuan menggoda suaminya. Baik menggoda secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Kesabarannya dianggap kelemahan, diamnya dibaca sebagai persetujuan.
Sampai akhirnya batas kesabarannya sudah diujung tanduk, dan ia melihat sendiri apa yang selama ini hanya ia rasakan— perselingkuhan suaminya. Dan ketika ia memilih bicara, seluruh desa menganggapnya... pengkhianat.
Lastri menghela napas panjang di kamarnya malam itu. Ia tak pernah merasa menyesal, tak pernah sedikitpun.
“Kalau terus sabar berarti harus mengubur harga diri, aku lebih memilih jujur... meski harus dikucilkan seperti sekarang.”
Pagi itu, Lastri hendak mengantar ayahnya ke puskesmas. Tetapi sang Bapak memilih memaksa dirinya kembali ke ladang.
“Kita nggak boleh kelihatan lemah, Bapak harus kerja,” kata sang ayah.
Lastri menggenggam tangan ayahnya erat. “Kuat itu bukan berarti harus memaksakan diri, Pak. Kalau Bapak sayang sama Lastri, Bapak harus mau berobat.”
Di puskesmas, Lastri berdiri mengurus semuanya sendiri. Mengisi formulir lalu membayar obat. Semula ia mengira segalanya akan dipersulit, dan ia sempat bersiap menghadapinya. Tapi anehnya, tak satu pun hambatan muncul—semuanya terasa terlalu lancar.
Meski begitu, di dalam hati Lastri kemarahan mulai menemukan bentuk. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan tekad yang dingin. Jika mantan suaminya ingin menghancurkannya lewat orang tuanya, maka ia harus berdiri lebih tegas.
Lantas, perubahan-perubahan itu datang tanpa pengumuman. Selain berobat sang Bapak yang berjalan lancar, kini pupuk yang selama ini sulit didapat tiba-tiba tersedia. Hasil panen ayahnya yang biasa ditawar murah, kini dibeli dengan harga pantas. Ada pembeli baru, katanya dari luar desa.
Tak ada yang menyebut nama.
Lastri curiga, tapi ia tak langsung bertanya.
Di kejauhan, Malvin mengatur semuanya dengan rapi. Ia tak langsung datang membawa kekuasaan, hanya membuka akses untuk Lastri.
“Biarkan mereka bisa menjalani hidup dengan baik lagi,” kata Malvin pada asistennya. “Keadilan... tidak selalu harus diumumkan.”
Malvin memilih mengamati dari kejauhan. Ia paham, Lastri adalah perempuan yang berdiri di atas kakinya sendiri. Wanita teguh, dan perlu diberi kesempatan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Dan itu cukup, bagi pria itu.
Namun, Lastri akhirnya tahu.
Suatu sore, ia bertemu Malvin di pematang sawah. Seperti biasa, suasana di antara mereka tetap kaku. Tak ada basa-basi berpanjang-panjang, hanya percakapan tentang padi dan sawah.
“Terima kasih,” kata Lastri lugas.
Malvin menoleh, jelas terkejut. “Aku tidak melakukan apa pun. Jadi… untuk apa kau berterima kasih?”
Lastri tersenyum kecil, suaranya sempat tertahan sebelum akhirnya keluar. “Saya sendiri tidak tahu kenapa Anda menolong saya. Kita bahkan jarang berbicara… saya pun tidak benar-benar mengenal siapa Anda.”
Wanita itu menarik napas sejenak, “Tapi saat semua terasa berat dan sepi, kebaikan sekecil apa pun terasa sangat berarti. Jadi… terima kasih. Saya bersungguh-sungguh.”
Malvin terdiam. Rahangnya mengeras sesaat, seolah ada banyak hal yang ingin ia ucapkan, namun tak satu pun menemukan jalan keluar. Tangannya yang sejak tadi bertaut di depan dada kini terlepas, lalu kembali menggenggam ujung jaketnya—kebiasaan kecil setiap kali ia gugup.
Ia mengalihkan pandangan ke arah sawah, menghela napas pelan. “Aku hanya… melakukan apa yang seharusnya,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. Tak berani menatap Lastri terlalu lama, seolah takut ketulusan itu akan terbaca terlalu jelas.
Lastri menangkap kecanggungan itu. Ada sesuatu di sikap Malvin yang membuat dadanya terasa hangat. Ia menunduk, dalam hati Lastri tahu… ia tak sedang menunggu siapa pun untuk menyelamatkannya. Tapi perhatian yang datang tanpa tuntutan, terasa seperti pengakuan kecil bahwa perjuangannya terlihat.
Senyumnya kembali terbit, kali ini lebih tenang. Bukan senyum terima kasih lagi, melainkan senyum seseorang yang merasa tak sepenuhnya sendirian, meski harus tetap berjalan sendiri.
Angin sore berembus pelan, meredakan sedikit kecanggungan diantara mereka.
“Tadi kamu bilang, kamu merasa belum benar-benar mengenalku,” ujar Malvin pelan. Tatapannya tertahan pada wajah Lastri, seolah memberi ruang agar kalimat berikutnya tak terdengar memaksa.
Pria itu menarik napas singkat, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih jujur daripada berani. “Kalau begitu… maukah kamu memberiku kesempatan? Supaya kamu bisa mengenalku, dan aku... bisa mengenalmu lebih dalam.”
Hening, Lastri tampak serius berpikir.
Malvin terdiam setelahnya. Ia tidak menyela keheningan itu, hanya menunggu. Menunggu jawaban Lastri, apa pun bentuknya.
“Apa Anda sungguh tidak mengetahui latar belakang saya?” suara Lastri terdengar tenang, tapi ada getar halus yang tak bisa ia sembunyikan. “Bukankah… desas-desus buruk tentang saya sudah beredar di desa ini?”
Malvin menatapnya sesaat, lalu mengangkat bahu ringan—gerakan yang sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran, apalagi penilaian. Wajahnya tetap datar, nyaris santai.
“Desas-desus itu? Tentu saja, aku dengar.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya kini lebih tajam, namun hangat. “Tapi aku... tidak hidup dari cerita orang lain. Aku lebih tertarik pada apa yang terlihat, aku dengar langsung, dan aku rasakan sendiri.”
Malvin berhenti sejenak, memberi jeda yang sengaja ia ciptakan. “Dan sejauh ini, yang aku lihat... kamu bukan perempuan seperti yang mereka bicarakan.”
Lastri menarik napas dalam-dalam, seolah menahan sesuatu yang hampir lolos dari dadanya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis—senyum yang lebih mirip perisai daripada kelegaan.
Ia tidak sebodoh itu untuk langsung percaya pada kata-kata seorang laki-laki kembali, tidak lagi untuk saat ini. Sekali saja ia pernah menyerahkan kepercayaannya sepenuhnya, dan yang ia terima hanyalah pengkhianatan serta kekecewaan yang membekas dalam pernikahan.
Lastri belajar satu hal, kata-kata bisa terdengar hangat, tapi luka mengajarkannya untuk tetap waspada. “Terima kasih atas niat baik Anda, tapi mengenal seseorang bukan soal keberanian bicara… melainkan soal kesediaan untuk bertahan. Dan untuk saat ini, saya belum siap mempercayai siapa pun.”
Ia menatap Malvin dengan rasa hormat di matanya, dia tidak ingin terlihat sedang merendahkan laki-laki itu. “Saya tidak menutup diri, saya hanya belajar berhati-hati. Dulu, saya percaya sepenuh hati pada mantan suami… dan itu hampir menghancurkan saya.”
Malvin tersenyum kecil, senyum yang lahir bukan dari kekecewaan, melainkan dari pemahaman. Ia bisa melihatnya dengan jelas—tembok itu. Tembok yang Lastri bangun perlahan, lapis demi lapis, untuk melindungi diri dari luka yang pernah merenggut perempuan itu terlalu banyak.
“Saya mengerti, kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta begitu saja. Kalau waktunya belum sekarang, saya bisa menunggu. Kalau begitu... saya pergi dulu.“
Malvin melangkah pergi, dan ia sengaja mempercepat langkah seolah jarak bisa meredam sesuatu yang mulai terasa tak nyaman di dadanya. Angin sore menyapu wajahnya, namun pikirannya justru dipenuhi satu hal yang tak seharusnya ia bawa pulang.
Ia berhenti sejenak, menoleh tanpa benar-benar berniat menatap. Dari sudut matanya, Lastri masih berdiri di tempatnya. Perempuan itu begitu tampak tenang, tegak, seperti seseorang yang sudah terlalu sering belajar bertahan tanpa berharap.
Perempuan itu… terlalu kuat. Pikirnya.
Malvin menghembuskan napas panjang, menggeleng pelan seakan ingin menertawakan dirinya sendiri. Sebenarnya ia tak membutuhkan keterikatan apa pun dengan Lastri, tidak sekarang.
Apa yang ia rasakan barusan hanyalah rasa hormat. Kekaguman pada perempuan itu, tidak lebih. Itu lah... yang ia pikir. Namun, langkahnya kembali melambat. Ada getaran kecil yang tertinggal di dadanya, karena kenyataannya ia mulai peduli pada Lastri. Dan itu… justru yang paling ingin ia sangkal.
Malvin melanjutkan langkahnya, memilih menatap lurus ke depan. Tapi kini ia sadar, beberapa perasaan tak lahir dengan suara keras. Mereka datang diam-diam. Dan sering kali, menetap lebih lama dari yang diinginkan.
Dan diantara mereka berdua, mungkin belum ada cinta. Yang ada adalah saling menghormati, dan itu jauh lebih berbahaya bagi orang-orang yang terbiasa meremehkan perempuan seperti Lastri.