"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Di Antara Dua Serigala
Bab 29: Di Antara Dua Serigala
Pukul delapan pagi, Anindya sudah duduk rapi di mejanya. Ia sengaja datang lebih awal untuk menghindari interaksi yang tidak perlu dengan rekan-rekan kantornya yang masih memandangnya sebagai "si pembuat masalah". Dari balik monitornya, ia mengawasi Pak Arman yang baru saja masuk ke ruangan dengan langkah tegap, membawa tas kulit hitam yang selalu terkunci.
"Anindya, masuk ke ruangan saya sebentar," panggil Pak Arman lewat interkom.
Anindya merapikan kemejanya, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya, lalu melangkah masuk. Pak Arman tampak sedang memeriksa beberapa cetakan denah bangunan di meja besarnya.
"Saya ingin kamu mulai mengaudit laporan keuangan dari proyek renovasi dermaga tahun lalu.
Ada beberapa ketidaksinkronan data yang ditinggalkan Herman," ucap Pak Arman tanpa mendongak. "Gunakan akses tingkat dua yang saya berikan semalam. Tapi ingat, data ini bersifat sangat rahasia. Jangan sampai keluar dari sistem perusahaan."
Anindya mengangguk. "Baik, Pak. Apakah ada folder spesifik yang harus saya prioritaskan?"
Pak Arman berhenti sejenak, matanya menatap Anindya dengan tajam—sebuah tatapan yang sulit dibaca. "Fokus saja pada vendor pengadaan baja. Itu saja."
Anindya keluar dari ruangan itu dengan perasaan curiga yang semakin kuat. Kenapa Pak Arman sangat spesifik tentang vendor baja? Apakah itu cara untuk mengalihkannya dari sesuatu yang lain?
Begitu kembali ke mejanya, Anindya mulai bekerja.
Namun, ia tidak hanya memeriksa vendor baja. Sambil tangannya seolah sedang memilah angka-angka akuntansi, otaknya yang tajam mulai mencari file dengan kata kunci "09" atau "Hitam". Ia menggunakan teknik pencarian root yang ia pelajari dari forum peretas saat ia masih bekerja di warnet dulu.
Selama dua jam, ia tidak menemukan apa pun. Sistem keamanan tingkat dua Pak Arman sangat ketat. Namun, Anindya teringat satu hal: Pak Arman seringkali meninggalkan catatan kecil di dalam laci mejanya atau menggunakan password yang berkaitan dengan sesuatu yang personal.
Tepat saat jam makan siang, ketika kantor mulai sepi, Anindya tidak beranjak. Ia melihat Pak Arman keluar untuk janji temu di luar. Dengan keberanian yang nekat, Anindya menyelinap masuk ke ruangan bosnya. Ia tidak menyentuh meja; ia hanya memandangi bingkai foto keluarga Pak Arman. Di sana ada foto Pak Arman bersama seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam basket dengan nomor punggung 09.
"Anindya?"
Suara itu membuat jantung Anindya nyaris copot. Ia berbalik dan melihat Meta berdiri di ambang pintu dengan wajah curiga.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan Pak Arman saat beliau tidak ada?" tanya Meta dengan suara meninggi.
Anindya segera memasang wajah tenang. "Saya hanya ingin meletakkan laporan ini, tapi saya tidak tahu di mana Pak Arman ingin saya menaruhnya. Saya baru akan keluar."
Meta menyipitkan mata. "Jangan macam-macam, Anindya. Aku tahu kamu sudah menjatuhkan Herman, tapi jangan pikir kamu bisa melakukan hal yang sama pada Pak Arman. Beliau orang baik."
Anindya hanya tersenyum tipis dan berlalu pergi.
Namun, di dalam hatinya, ia sudah mendapatkan potongan puzzle-nya. Nomor punggung itu adalah kuncinya.
Sore harinya, Anindya berhasil menembus folder tersembunyi di server pusat menggunakan kombinasi kode tanggal lahir anak Pak Arman dan nomor punggung tersebut. Sebuah folder bertajuk "PH-09" terbuka.
Isinya membuat darah Anindya berdesir dingin.
Proyek Hitam 09 ternyata bukan proyek konstruksi biasa. Itu adalah catatan tentang pemberian "uang jasa" atau suap dari Wijaya Group kepada PT Mega Konstruksi untuk memenangkan tender-tender fiktif di daerah terpencil. Namun yang paling mengejutkan adalah: tanda tangan yang menyetujui aliran dana itu bukan hanya milik Herman Prasetyo, melainkan juga tanda tangan Pak Arman.
Anindya terduduk lemas. Jadi, penyelamatnya hanyalah serigala lain dalam pakaian domba. Pak Arman menjatuhkan Herman bukan karena kejujuran, melainkan untuk menutupi jejaknya sendiri dan menjadikan Herman sebagai tumbal tunggal.
"Tidak ada orang suci di gedung ini," gumam Anindya pahit.
Saat ia sedang menyalin data tersebut ke flashdisk rahasianya, ponsel pemberian Satria bergetar di saku roknya. Sebuah panggilan dari Satria. Anindya ragu sejenak, namun akhirnya mengangkatnya.
"Nin, dengarkan aku," suara Satria terdengar sangat cemas. "Ibuku sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar intimidasi. Dia sudah menghubungi pengacara keluarga untuk menuntutmu atas pencurian dokumen rahasia negara melalui data proyek Sukasari. Mereka akan menggunakan polisi pusat untuk menjemputmu malam ini."
"Kenapa kau memberitahuku?" tanya Anindya ketus.
"Karena aku ingin kau pergi dari Jakarta sekarang juga! Ambil bapakmu, pergi ke Jawa Tengah, aku sudah siapkan tempat di sana. Aku tidak bisa melindungimu lagi jika polisi sudah turun tangan."
"Aku tidak akan lari, Satria. Jika aku lari, aku akan selamanya dianggap pencuri," Anindya mematikan teleponnya.
Ia menatap flashdisk di tangannya. Ia sekarang memegang bukti kejahatan dua kubu: Wijaya Group dan bos barunya sendiri, Pak Arman. Ini adalah senjata yang sangat kuat, namun juga sangat berbahaya. Jika ia menggunakannya secara salah, ia akan hancur.
Malam itu, saat Anindya baru saja sampai di depan apartemennya, ia melihat dua mobil sedan hitam terparkir di lobby. Beberapa pria berpakaian sipil namun dengan potongan rambut cepak sedang berbicara dengan petugas keamanan.
Anindya segera bersembunyi di balik pilar parkiran. Mereka sudah di sini, pikirnya.
Ia harus membuat keputusan cepat. Jika ia tertangkap sekarang, semua bukti yang ia kumpulkan akan disita. Ia harus menitipkan bukti ini kepada seseorang yang bisa ia percaya, atau setidaknya seseorang yang memiliki kepentingan yang sama.
Anindya teringat pada Clarissa, tunangan Satria yang menemuinya . Clarissa membenci keluarga Wijaya dan memiliki kekuatan media.
Anindya segera memesan ojek daring dan menuju ke kediaman Clarissa di kawasan perumahan elit lainnya. Di tengah hujan yang mulai turun, Anindya berdiri di depan gerbang megah Clarissa. Setelah melalui pemeriksaan ketat, ia akhirnya dipersilakan masuk.
Clarissa menyambutnya di ruang perpustakaan pribadinya, tampak anggun dengan gaun tidur sutranya. "Kau datang lebih cepat dari yang kuduga, Anindya. Ada apa? Satria menyakitimu lagi?"
Anindya menggeleng, ia mengeluarkan dua buah flashdisk. "Saya butuh perlindungan media, Nona Clarissa. Saya punya bukti korupsi lintas perusahaan yang melibatkan Wijaya Group dan petinggi PT Mega Konstruksi. Jika saya ditangkap malam ini, saya ingin Anda memastikan berita ini menjadi halaman utama di semua media milik keluarga Anda besok pagi."
Clarissa mengambil flashdisk itu, matanya berkilat penuh minat. "Kau tahu risikonya, kan? Kau sedang mencoba membakar seluruh kota untuk menyelamatkan dirimu sendiri."
"Saya tidak sedang menyelamatkan diri sendiri," jawab Anindya tegas. "Saya sedang memastikan bahwa siapa pun yang menghancurkan hidup keluarga saya tidak akan bisa tidur nyenyak lagi, meski saya harus berada di balik jeruji besi untuk sementara."
Clarissa tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan ambisi. "Aku suka keberanianmu. Tapi ingat, di dunia ini tidak ada makan siang gratis. Jika aku melakukan ini, aku ingin kau memberikan satu kesaksian khusus tentang Satria saat sidang nanti."
Anindya terdiam. Ia baru menyadari bahwa Clarissa juga memiliki agenda sendiri. Clarissa ingin menghancurkan Satria agar ia bisa lepas dari perjodohan tanpa kehilangan aset bisnis keluarganya.
"Kesepakatan," ucap Anindya lirih.
Malam itu, Anindya tidak kembali ke apartemennya. Ia membiarkan polisi mencarinya di sana. Ia menginap di sebuah hotel murah dengan identitas palsu yang pernah diberikan Suroso. Di dalam kegelapan kamar hotel, Anindya memeluk lututnya.
Ia merasa sangat kesepian. Di kota sebesar Jakarta, dengan jutaan orang, ia tidak tahu siapa yang benar-benar berdiri di sampingnya.
Satria? Pak Arman? Clarissa? Semuanya hanyalah lapisan-lapisan pengkhianatan.
Namun, di tengah kesunyian itu, Anindya teringat pada ayahnya. Ia teringat alasan kenapa ia memulai semua ini. Ia tidak sedang mencari teman; ia sedang mencari keadilan. Dan keadilan seringkali adalah jalan yang sunyi.