Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Gus Azkar tertawa puas di luar kamar mandi. Ia bersandar di pintu sambil mendengarkan suara gemericik air dari dalam. "Mas tunggu penampilannya, Nyonya Azkar," gumamnya pelan.
Sembari menunggu Rina, Gus Azkar menyiapkan segalanya. Ia mengeluarkan speaker bluetooth miliknya dan menyimpannya di studio mini samping kamar. Ia juga menyiapkan sajadah untuk mereka salat Magrib berjamaah terlebih dahulu sebagai bentuk syukur atas rumah baru mereka.
Pintu kamar mandi terbuka, mengeluarkan aroma wangi sabun lily yang menyerbak. Rina keluar dengan penampilan yang jauh berbeda dari biasanya. Ia mengenakan daster biru muda sebatas lutut dengan potongan yang cukup pas di tubuhnya, memperlihatkan betapa "berisi" dan indahnya lekuk tubuh yang selama ini tersembunyi di balik gamis longgar.
Rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang dibiarkan terurai bebas, membingkai wajah cantiknya yang kini tampak segar merona.
Gus Azkar yang sedang duduk di atas sajadah setelah zikir Magrib sempat tertegun lama. Ia menelan ludah melihat pemandangan di depannya. Istrinya benar-benar terlihat sangat menggoda hanya dengan daster rumahan sederhana.
Setelah melaksanakan salat Magrib berjamaah dan berdoa untuk keberkahan rumah baru mereka, Rina berdiri dengan ragu. Ia menatap Gus Azkar yang sudah duduk bersandar di sofa kamar, melipat tangan di depan dada sambil menatapnya penuh antisipasi.
"Janji tetap janji, kan, Sayang?" tanya Gus Azkar dengan nada suara yang berat.
Rina menghela napas, mencoba mengusir rasa malunya. Ia mengambil ponsel, menyambungkannya ke speaker, dan sedetik kemudian intro lagu yang sangat familiar terdengar.
"Bang Toyib... Bang Toyib... mengapa kau tak pulang-pulang..."
Rina mulai menggerakkan tubuhnya. Awalnya ia tampak malu-malu, namun seiring irama musik yang asyik, bakat terpendamnya mengambil alih. Pinggulnya bergoyang lincah, gerakannya luwes mengikuti dentuman bass. Rambut bergelombangnya ikut bergerak liar saat ia memutar tubuh.
Ingat akan kebiasaan di videonya, Rina menatap Gus Azkar dengan pandangan sayu dan secara spontan menggigit bibir bawahnya sambil menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya. Gerakan itu sangat menggoda, apalagi daster selutut itu sesekali terangkat saat ia menggoyangkan pinggulnya dengan lincah.
Gus Azkar yang awalnya berniat hanya menonton, kini merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis.
Napasnya memburu. Melihat secara langsung ternyata seribu kali lebih "berbahaya" daripada melihat lewat layar ponsel. Keindahan tubuh Rina yang berpadu dengan gerakan menggoda itu meruntuhkan pertahanan sang Gus.
"Rina... sudah," suara Gus Azkar terdengar serak, menahan gejolak yang hebat.
Rina yang masih asyik bergoyang menoleh sambil tersenyum nakal. "Katanya mau lihat, Mas? Kok disuruh berhenti?"
"Mas sudah tidak kuat kalau hanya menonton!"
Tanpa aba-aba, Gus Azkar bangkit dari sofa dengan gerakan cepat seolah sedang memburu mangsanya. Sebelum Rina sempat menghindar, tangan kokoh Gus Azkar sudah melingkar di pinggangnya. Ia langsung mengangkat tubuh montok istrinya itu ke dalam gendongan bridal style.
"Mas! Lagunya belum selesai!" pekik Rina sambil tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Lagunya biar berhenti, tapi kita lanjut ke 'acara' yang lebih penting," bisik Gus Azkar tepat di depan bibir Rina.
Gus Azkar melangkah lebar menuju ranjang king size mereka. Ia merebahkan tubuh Rina di atas kasur yang empuk, lalu mengunci posisi istrinya dengan kedua tangannya. Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Gus Azkar menatap Rina dengan tatapan penuh rasa lapar dan cinta yang mendalam.
"Ternyata kamu lebih nakal dari yang Mas bayangkan, Sayang," gumam Gus Azkar sebelum ia menunduk untuk menyatukan bibir mereka, membungkam tawa Rina dengan ciuman yang penuh gairah.
Malam itu di rumah pojok sawah, hanya ada suara angin dan detak jantung dua insan yang sedang tenggelam dalam lautan asmara, tanpa ada lagi rahasia atau rasa malu yang menghalangi.