NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20.

"Lah, bokap gue ngasih uang belanja sehari sejuta. Lo korupsi banyak banget, beras premium palingan sekilo berapa? Paling cuman 40 ribuan. Padahal nasi yang buat lo masak sekarang itu bukanya nasi sisa kemarin," tuduh Natan.

"Apa sejuta sehari? Banyak sekali, wah gue bisa jadi cepet kaya," sahut Qiara tidak nyambung.

Natan hanya menepuk jidatnya.

"Lo gak tau, kalau uang belanja lo itu sebanyak itu?" tanya Natan.

Qiara menggeleng.

"Soalnya gue makai uang pribadi, yang dulu gue dapatkan waktu kerja sampingan."

"Astaga Qiara, kenapa lo gak makai kartu ATM itu. Setiap hari bakal di isi bokap gue," ucap Natan tidak percaya dengan kepolosan Qiara. Bukan ... Bukan, lebih tepatnya kebodohan Qiara.

"Itu cuman kartu tipis, mana bisa keluarin uang dari sana." sahut Qiara polos.

Tak, Natan yang sudah tidak tahan menjitak kepala Qiara.

"Bodoh ... Bodoh ... Bodoh," kata Natan dengan nada geram.

"Awh, Natan. Sakit," titah Qiara.

Natan yang sudah selesai makan, dengan geram mencubit pipi Qiara yang gembul.

Qiara semakin berteriak dan mengomel tidak jelas ada Natan.

"Ehhem." Suara deheman akhirnya menghentikan interaksi ke duanya.

"Kak Nolan," kata Natan lirih, reflek ia pun menjauhkan tangannya dari Qiara.

"Udah siang, kenapa gak segera berangkat sekolah? Nanti kalian berdua itu telat," kata Nolan, wajahnya sekarang ini terlihat begitu pucat.

"Qiara, kenapa gak ganti baju sekolah?"

"Gue mau merawat lo, kan tugas gue di rumah ini memang sebagai pengasuh," sahut Qiara kaku.

"Ya dah, rawat kakak gue dengan baik Qiara." timpal Natan.

"Kalau gitu gue berangkat sekolah dulu, Kak Nolan. Qiara ..." Natan terlihat pamit.

Qiara dan Nolan sama sama diam, larut dengan pikiran masing masing.

Bahkan setelah kepergian Natan, suasana benar benar menjadi hening.

"Qiara ... Maaf," kata Nolan.

"Iya gak papa, gue tahu. Habis dari rumah sakit lo itu sakit kan? Dah, gak perlu merasa bersalah." Qiara berbicara tanpa berani melihat ke arah Nolan.

Sebenarnya Nolan dari tadi sudah memperhatikan percakapan random yang di lakukan Qiara dan juga adik kembarnya Natan.

Bahkan Nolan juga merasa gemas dengan tingkah laku Qiara yang sangat sangat polos.

Melihat Nolan yang mematung, Qiara pun memilih untuk pamit pergi ke kamarnya.

"Nolan ... Nolan, gue balik ke kamar dulu. Kalau ada yang lo butuhkan, panggil gue saja," titah Qiara buru buru melangkah kan langkah kakinya untuk menjauh dari Nolan.

"Tunggu!" Nolan nampak mencekal tangan Qiara.

Sontak membuat Qiara menoleh, dan pandangan ke duanya saling beradu.

Tiba-tiba bayangan surga dunia malam itu muncul di pikiran Nolan maupun Qiara.

Qiara terlihat gusar, buru-buru melepaskan tangan Nolan dari genggaman tangannya.

Sementara Nolan, ia malah merasa penasaran, seolah ada dorongan di dalam dirinya yang ingin mengeksplorasi lebih jauh.

Namun, dengan segala upaya, Nolan berusaha menjaga kesadaran nya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Qiara memilih berlari kecil untuk segera menjauh dari Nolan.

Rasa takut mulai merayapi hatinya, membuatnya ingin segera mengakhiri situasi ini.

Namun, tak sadar akan kehadiran tembok, Qiara menabraknya dengan keras saat ia berusaha keluar dari ruang makan.

"Bagaimana bisa aku salah mengambil arah ini?" gumamnya dalam hati sebelum akhirnya ia pingsan karena tabrakan tersebut.

"Qiara!" teriak Nolan khawatir, berjalan cepat ke arahnya yang tergeletak tak berdaya.

Tapi, justru pandangan Nolan teralih pada bagian tubuh Qiara yang menonjol, yang seharusnya tidak menjadi fokus saat itu.

"Astaga!... Gak... Ini gak boleh terjadi," kata Nolan sambil berusaha keras menjaga kesadarannya dan kembali memusatkan perhatian pada kondisi Qiara yang pingsan. Ia mencoba mengendalikan dirinya dan mengesampingkan rasa penasaran dan dorongan yang tak terduga itu.

Namun, karena Nolan memang dalam posisi demam. Tubuhnya terasa begitu sangat panas.

"Aku harus membawa Qiara ke kamarnya," ucap Nolan dalam hati. Ia merasa bertanggung jawab untuk menggendong gadis yang baru saja pingsan itu ke tempat tidurnya agar dapat beristirahat.

Nolan mengangkat tubuh Qiara dalam posisi bridal style, seakan ia adalah pengantin baru yang sedang membawa pasangannya ke kamar pernikahan mereka.

Namun, ketika tiba di depan kamar Qiara, Nolan menemukan bahwa pintu kamar itu terkunci.

"Sial, ternyata kamar Qiara itu di kunci," gumam Nolan, yang sebenarnya sudah tidak tahan dengan situasi ini.

Nolan merasa dilema, apakah ia harus mencoba membobol pintu kamar Qiara ataukah membawa gadis ini ke kamar pribadinya. Sejenak ia berbicara pada dirinya sendiri, "Apa Qiara aku bawa ke kamar ku dulu saja?"

Nolan mencari jawaban dalam hatinya, hingga akhirnya ia memutuskan, "Iya, lebih baik aku rebahkan dia ke kasur kamar ku."

Nolan berjalan dengan langkah kaki tergesa-gesa, khawatir melihat bagian tubuh Qiara yang terbuka.

"Memang aku akui, Qiara memiliki tubuh yang sangat seksi," gumam Nolan dengan nafas yang berat.

Setelah beberapa langkah, Nolan berhasil mencapai kamarnya. Saat ingin meletakkan tubuh Qiara di atas ranjang miliknya.

Tiba-tiba, perasaan bersalah dan kekaguman bercampur menjadi satu dalam pikiran Nolan, membuat matanya terbelalak dan ia berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sejenak Nolan berbicara dalam hati, "Aku harus melindunginya, dan aku tidak boleh menjadikan keadaan ini sebagai pelampiasan hasratku sendiri."

"Astaga!" kata Nolan yang tak sengaja membuat baju Qiara tersingkap setelah dirinya berhasil meletakkan tubuh Qiara, membuat tubuh bagian atas Qiara terlihat begitu jelas.

Nolan terlihat menarik turunkan jakunnya.

Nolan berusaha tidak melihat, saat ingin mengembalikan baju Qiara. Namun, hal yang terjadi di luar dugaan. Tangan nya yang di jadikan topangan malah oleng, akhirnya membuat dirinya menindih tubuh Qiara.

***

Sementara itu di sekolah SMA Taruna. 

Natan terlihat tersenyum senyum sendiri seperti orang gila, kala teringat kebodohan Qiara.

"Gue baru sadar, kalau Qiara itu sebenarnya sangat cantik," gumam Natan, terdiam sejenak.

"Gue bingung mengapa baru sekarang gue itu menyadarinya?"

Bayang-bayang Qiara muncul terus menerus di benaknya, dengan tingkah polos dan kecantikannya yang memikat.

Bahkan kepolosan yang Qiara miliki, sungguh membuat hiburan tersendiri bagi Natan.

Natan mencoba menyingkirkan pemikiran itu, tapi sia-sia saja. Sejenak kemudian, seseorang memegang jidat Natan.

"Gak panas, tapi kok..." ujar Rasya, sahabatnya. Natan mengerutkan dahi,

"Apa sih, Rasya? Kenapa tiba-tiba pegang jidat gue?" tukas Natan.

"Ya, lo dari tadi senyum-senyum gak jelas. Gue mikir, apa ada yang salah?" Rasya membalas.

Natan tersadar dari lamunannya, dan ekspresi wajahnya berubah.

"Gue mau tanya, menurut lo, gadis di foto ini cantik gak?" ia bertanya sembari menunjukkan foto Qiara kepada Rasya.

Rasya melirik sebentar ke foto itu dan menjawab, "Gak, item dekil." Natan merasa tidak setuju, namun ia juga menahan rasa terkejut karena pemikiran dan perasaannya yang berubah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!