Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Anatomy of Obsession
Bagi Leo Alexander Caelum, rasa penasaran adalah penyakit. Dan Liora Elowyn adalah virus yang mulai menggerogoti logika bisnisnya.
Setelah malam di mana ia ditinggalkan di mulut gang, Leo tidak bisa kembali ke kehidupannya yang teratur. Di ruang rapat yang dingin, di tengah presentasi bernilai miliaran, ia justru teringat pada jemari Liora yang gemetar saat menyentuh buku. Ia benci kenyataan bahwa seorang "hama" bisa menyita ruang di kepalanya sesering itu.
"Jacob," panggil Leo suatu pagi, suaranya terdengar lebih lelah dari biasanya.
Jacob masuk dengan waspada. "Ya, Tuan?"
"Cari tahu siapa pemilik toko buku 'The Vintage Page'. Beli gedung itu jika perlu, tapi jangan atas namaku," ucap Leo sambil memutar pena Montblanc-nya. "Dan... aku ingin laporan harian. Jam berapa dia datang, jam berapa dia pulang, dan dengan siapa dia bicara."
Jacob tertegun. "Tuan, bukankah Anda bilang dia tidak lebih dari sekadar sampah?"
Leo menatap Jacob dengan kilat mata yang mematikan. "Sampah yang hilang bisa menimbulkan bau, Jacob. Aku hanya ingin memastikan dia tidak merencanakan sesuatu untuk mendekati Ibuku lagi. Itu saja."
Jacob mengangguk patuh, meski ia tahu bosnya sedang berbohong pada dirinya sendiri.
Sore harinya, Leo melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia memarkir mobilnya di seberang jalan, cukup jauh agar tidak mencolok, namun cukup dekat untuk mengawasi pintu kayu toko buku itu.
Ia duduk di sana selama berjam-jam. Dari balik kaca mobil yang gelap, ia melihat Liora sedang memasang papan pengumuman di depan toko. Gadis itu mengenakan celemek cokelat tua.
Rambutnya yang biasanya lepek kini diikat asal-asalan, memperlihatkan tengkuknya yang putih dan ringkih.
Leo melihat Liora tersenyum kecil pada seorang anak kecil yang lewat. Senyum itu... senyum yang memunculkan lesung pipi yang dulu pernah ia injak-injak dengan kata-kata kasarnya.
"Sial," umpat Leo pelan. Dadanya terasa sesak melihat senyum itu bukan ditujukan untuknya—bukan berarti ia menginginkannya, setidaknya begitulah pembelaan egonya.
Ia memperhatikan bagaimana Liora mengangkat kardus-kardus berat dengan tenaga yang sepertinya hampir habis. Leo ingin turun, ingin membentaknya karena melakukan pekerjaan kasar seperti itu, atau mungkin ingin menyuruh asistennya membantunya. Namun, egonya menahan tangannya di kemudi.
Kenapa aku masih di sini? tanya Leo pada dirinya sendiri. Dia hanya karyawan biasa yang malang. Dia membenciku, dan aku membencinya. Harusnya ini selesai.
Namun, saat ia melihat seorang pria asing salah satu pelanggan toko mencoba membantu Liora mengangkat kardus dan tangan mereka bersentuhan, rahang Leo mengeras. Ada api panas yang membakar ulu hatinya. Ia merasakan dorongan impulsif untuk menghancurkan pria itu, menghancurkan toko itu, dan menyeret Liora kembali ke dunianya, meski hanya untuk ia hina kembali.
Leo menyadari sesuatu yang mengerikan: kebenciannya pada Liora telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap. Ia tidak ingin Liora bahagia, tapi ia juga tidak tahan melihat Liora menderita di tangan orang lain.
"Kau tidak berhak tersenyum di sana, Liora," bisik Leo dengan nada penuh dendam. "Jika aku tidak bisa bernapas dengan tenang karena bayanganmu, maka kau juga tidak boleh merasa damai di tempat sampah itu."
Leo menyalakan mesin mobilnya, melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Ia pergi, namun matanya tetap tertuju pada spion, mengunci sosok Liora hingga gadis itu hilang ditelan tikungan. Leo benci fakta bahwa ia telah menjadi penguntit bagi gadis yang dulu ia sebut tidak berharga. Ia benci karena ia mulai haus akan eksistensi Liora, seperti pecandu yang membenci racunnya namun tetap mencarinya di kegelapan.
"Bagi Leo, mengawasi Liora adalah cara untuk meyakinkan dirinya bahwa ia masih memegang kendali, padahal sebenarnya, dialah yang kini sedang berlutut di bawah kaki takdir."
"Kebencian Leo telah berubah bentuk ia tidak lagi ingin menghancurkan Liora, ia ingin menjadi satu-satunya orang yang berhak melakukannya."
"Liora bernapas dalam ketenangan yang semu, tidak menyadari bahwa di seberang jalan, ada mata yang siap menelan seluruh kedamaiannya sekali lagi."