bekerja di sebuah perusahaan besar tentunya sebuah keinginan setiap orang. bekerja dengan nyaman, lingkungan kerja yang baik dan mempunyai atasan yang baik juga.
tapi siapa sangka, salah satu sorangan karyawan malah jadi incaran Atasannya sendiri.
apakah karyawan tersebut akan menghindar dari atasan nya tersebut atau malah merasa senang karena di dekati dan disukai oleh Atasannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Dua Puluh Tiga
***
Maxim tidak langsung pergi setelah kembali mengantarkan Laudya dan Ibu nya pulang, ia masih berada di sana karena sedang membantu Laudya Makan.
kenapa tidak bukan ibu nya? Karena kebetulan Bu Mayang sedang pergi ke rumah salah satu tetangga nya untuk melayad.
“Mas, aku bisa sendiri kok.” Ucap Laudya.
“Udah jangan protes, tubuh kamu ini lagi lemas. Gimana mau sendiri, pedang sendok aja tadi kaya gemeteran.” Balas Maxim.
Maxim kembali menyuapi Laudya Makan, walaupun sedang sakit dan lidah terasa pahit. bukan berarti Laudya tidak nafsu makan, menurut Ibu nya. Dia itu beda sama yang lainnya.
Dimana orang kalau lagi sakit pasti susah untuk Makan, pasti akan pilih-pilih dan ujungnya cuma makan Bubur Ayam.
Tapi berbeda dengan Laudya, setiap sakit selalu tidak ada masalah dengan Makanan yang ia makan.
Seperti sekarang, biasanya orang kalau lagi sakit makannya Bubur.nah kalau Laudya sekarang lagi sarapan dengan sayur bening dengan di tambah Ikan kembung.
“Mas baru liat orang sakit tapi makannya lumayan lahap.” Kekeh Maxim.
Laudya menatap malas, “Kalau gak lahap makin lemas dong.”
“Tapi ya, Mas juga kalau lagi sakit sebenarnya pengen banget bisa kaya kamu gini, tapi tetap aja susah. cuma Bubur yang masuk.”
Laudya tidak membalas lagi ucapan nya Maxim, ia tidak begitu semangat kalau bicara.
“Nah Habis juga, sekarang tinggal minum Obat.” Ucap Maxim.
Setiap pergerakan Maxim tidak luput dari pandangan Laudya, Laudya masih tidak menyangka Maxim akan melakukan nya dengan suka rela.
Bos mana coba yang mau membantu Bawahan nya Makan dan menyiapkan Obat nya.
“Mas sudah sarapan belum?” Tanya Laudya. Ia menerima Obat dan minum dari Maxim.
“Gampang, nanti bisa sarapan di kantor.” Jawab Maxim. ia mengambil gelas di tangan Laudya setelah melihat Laudya selesai Meminum Obat nya.
“Jangan telat nanti sakit, lebih baik sekarang Mas sarapan dulu sana.” Titah Laudya.
“Nanti aja lah, gak enak numpang sarapan di saat Ibu kamu gak ada.” Tolak Maxim.
“Kalau gak mau sarapan sekarang, jangan kesini lagi.” Ancam Laudya.
Maxim menatap Laudya, kemudian Maxim menghela nafas. Maxim akhirnya mau Sarapan setelah mendapatkan ancaman dari Laudya.
Ia tidak mau kalau harus di larang untuk datang lagi menjenguk Laudya, Makanya sekarang terpaksa sarapan.
“Makannya disini biar keliatan kalau Mas benar-benar sarapan.” Ucap Laudya.
“Bukan kamu yang mau di temenin Mas?” Tanya Maxim dengan senyum ledek nya.
Laudya menatap sinis Maxim. “Bukannya, meding sekarang sana Mas ambil sarapannya.”
“Kalau gitu Mas keluar dulu.” Maxim membawa piring dan gelas bekas Laudya makan.
Sebelum keluar, Maxim lebih dulu mengecup kening Laudya. Setelah itu baru keluar.
Sementara yang di kecup, sebenarnya dari tadi Laudya menahan rasa gugup nya. Bahkan wajahnya saja terasa panas.
“Jangan sampai Merah.” Gumam Laudya.
Tak lama kemudian, Maxim sudah kembali membawa Piring yang berisi Nasi dengan menu yang sama seperti Laudya tadi. Ia juga Mambawa Minum nya sekalian.
Selama Maxim sarapan, Laudya terus menatapnya. Yang di tatap sih malah biasa aja, tapi entah kenapa Laudya merasa kalau kuping Maxim seperti memerah pasti agak panas.
Laudya terkekeh pelan melihat itu, mulai sekarang seperti nya ia akan terus menatap Maxim, kalau kupingnya seperti itu. berarti maxim sedang salting atau sedang gugup.
“Iya tahu Mas itu ganteng, tapi gak usah di tatap terus dong.” Ucap Maxim.
“Kuping Mas pasti panas ya? soalnya kelihatan merah.” Kekeh Laudya.
Maxim langsung memegangi kupingnya, memang ia merasa panas. Rasanya Maxim ingin merendam kuping nya pakai es baru saking panasnya.
Maxim melanjutkan Sarapan nya, setelah selesai ia berpamitan untuk menaruh bekas makannya. Dan ia juga tidak lupa mencuci nya karena tidak etis rasanya ketika numpang sarapan tapi tidak mencuci piring bekas Makan nya.
Sebelum kembali ke kamar Laudya, Maxim lebih dulu mengirimkan pesan kepada Ibu nya kalau Laudya sedang sakit tipes. Dan ia Juga sekarang sedang berada di Rumahnya.
.
Maxim berada di rumah Bu Mayang sampai jam setengah delapan pagi, setelah Bu Mayang Pulang.
Sebenarnya Maxim masih ingin berada disana, tapi ia terus di telepon Nanda dan mengatakan kalau hari ini jadwal Meeting nya cukup Banyak.
Laudya juga sudah beberapa kali meminta Maxim untuk segera berangkat kerja, tapi Maxim malah terus menolaknya dan memberikan alasan.
Laudya baru saja bangun dari tidurnya, ternyata sudah waktu nya Makan siang. pantas saja perutnya terasa lapar.
Tapi pendengarannya Tidak sengaja mendengar suara Ibu nya sedang berbicara dengan seseorang, dan suara nya itu tidak asing di telinga Laudya.
“Seperti suaranya Tante Arumi.” Gumam Laudya.
Laudya ingin melihatnya langsung, tapi ia tidak begitu bertenaga untuk berjalan keluar kamarnya. Ke kamar mandi saja ia harus jalan pelan-pelan.
Bukan Kakinya sakit, tapi tubuhnya itu sangat lemas. Bahkan otot-otot nya saja seperti tidak ada tenaganya, walaupun tidak ada kesulitan dalam Makan. tapi tetap saja tidak memberikan pengaruh yang baik untuk otot-otot tubuh nya.
Laudya mengubah posisi nya menjadi Duduk dan bersandar pada Headboard, pintu kamarnya terbuka.
Dan benar saja, ada Bu Arumi di Rumahnya.
“Loh udah bangun ternyata, Ibu kira masih tidur.” Ucap Bu Mayang. Di belakang nya ada Bu Arumi.
“Baru bangun, Bu.” Balas Laudya.
“Ini ada Bu Arumi, katanya mau jenguk kamu.” Ucap Bu Mayang pada Putrinya.
Bu Arumi mendekat dan duduk di samping Laudya. “Tante dapat kabar dari Maxim, katanya kamu lagi sakit tipes. Makanya Tante kesini pengen lihat langsung keadaan kamu.” Ucap Bu Arumi.
“Maafin Maxim ya, pasti gara-gara Maxim waktu kemarin nyuruh Kamu langsung kerja jadi Drop gini, padahalkan baru pulang dari jepang.” Lanjut Bu Arumi.
“Memang waktu masih di Jepang juga sudah mulai merasa gak enak badan. mungkin karena cuaca disana sama di sini beda, jadi butuh adaptasi. Kalau di suruh langsung kerja, sebenarnya udah sempat di larang kok. tapi Laudya nya gak enak sama yang lainnya kalau gak masuk kerja.” Ucap Laudya.
“Untuk kedepan nya, kalau tubuh udah kerasa Capek. lebih baik di istirahatkan, jangan masuk kerja dulu. Jangan terus di paksa, karena tubuh kita juga butuh istirahat yang cukup. Nah sekarang lebih baik ambil Cuti panjang dulu aja, jangan ngerasa gak enak atau apapun itu. Nanti biar Tante yang urus.” Ucap Bu Arumi.
Laudya hanya bisa mengiyakan, memang ia juga ngerasa butuh Istirahat. tapi kalau terlalu lama bahkan sampai ngambil cuti panjang, kalau takutnya nanti akan bosan atau malah keenakan gak kerja-kerja.
Apalagi selama kerja di perusahaan nya keluarga Maxim, ia belum pernah mengambil Cuti sama sekali.
Jadi jatah Cuti nya lumayan banyak, dan seperti nya bisa saja Laudya mengambil Cuti tidak masuk kerja selama satu atau dua Minggu.